Superman Is Dead ‘Case 15’: Membaca Arketipe Setelah Tiga Puluh Tahun

Tiga puluh tahun setelah nyaris hilang dari ingatan, album ‘Case 15’ kembali ditemukan sebagai jejak untuk membaca arketipe Superman Is Dead.

Jika hari ini kita bisa melihat kembali sesuatu yang telah berjalan selama tiga puluh tahun, mungkin yang menarik bukan hanya bagaimana ia bertahan, tetapi seperti apa bentuknya ketika semuanya baru dimulai. Apa yang terlihat sebagai awal, barangkali baru bisa kita baca maknanya setelah tiga dekade berlalu, semacam arkatipe dari perjalanan yang kemudian terbentuk.

Ada masa ketika segala sesuatu masih berupa awalan. Panggung pertama, penonton pertama, bayaran manggung pertama, sampai album pertama yang kelak menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah band bernama Superman Is Dead. Belum ada yang tahu akan menjadi apa semua itu. Tidak ada jaminan apa-apa selain keyakinan yang barangkali terdengar sedikit tolol bagi orang lain: jalan aja terus, bro!

Dari gang ramai di seputaran Kuta hingga jalanan kota Denpasar, trio punk Superman Is Dead telah menghantam panggung underground sejak 1995 bahkan hingga ke banjar-banjar (wilayah administratif setingkat dengan Rukun Warga) di berbagai wilayah di Bali. Setahun kemudian, mereka merekam debut album berjudul Case 15.

Kelak, nama mereka kemudian semakin dikenal luas melalui album-album seperti Kuta Rock City (2003), Black Market Love (2006), atau Sunset di Tanah Anarki (2013). Namun sesekali kita perlu mundur lebih jauh, memeriksa kembali apa yang dilakukan Bobby Kool, Jon Eka Rock, dan Jrx ketika mereka masih menjadi tiga berandalan anak muda yang sedang mencoba membuat album pertama di tahun 1996.

Sebab jauh sebelum panggung besar, sebelum ribuan orang menyanyikan lagu-lagu mereka, sebelum nama Superman Is Dead menjadi salah satu nama besar dalam sejarah punk rock Indonesia, ada debut album Case 15. Sebuah album yang lahir dalam keadaan serba terbatas, direkam dengan waktu yang pendek, dan diedarkan dengan cara yang nyaris sepenuhnya mandiri.

Sesi temu media di Buku Akik (dok. @andreeatmana)

Sabtu, 26 September 2026, saya datang ke Buku Akik untuk menghadiri sesi temu-dengar album Case 15. Sebuah label penantang bahaya dari Surabaya, Bojakrama Press, datang ke Yogyakarta untuk menceritakan bagaimana dengan nekad mereka berusaha merilis ulang album pertama Superman Is Dead tersebut. Terlalu nekad. Kalau kata arek-arek, gendeng kon iku!

Acara sedikit terlambat dari jadwal yang tercantum di undangan. Namun tidak masalah. Ada waktu untuk menyapa beberapa teman lama, bercakap-cakap sebentar, dan membiarkan malam berjalan sebagaimana mestinya. Sekitar pukul tujuh malam, tiga berandalan asal Kuta itu datang. Tiga pesolek keparat ini memang tidak pernah main-main soal berdandan dalam setiap acara. Kecuali Bobby yang malam itu datang lebih kasual dan tidak terlalu formal. Sedangkan Eka dan Jrx, seperti menghadiri pesta makan malam bersama bandar dan mafia ibukota.

Malam itu, ruang tengah Buku Akik berubah menjadi ruang pertemuan yang hangat. Di antara rak-rak kayu dan beragam tumpukan buku, berkumpul personel Superman is Dead, lalu Dendy Ariza Putra dan Reno Surya dari Bojakrama Press, juga Tomi Wibisono.

Sebelum percakapan dimulai, diputar sebuah film dokumenter bertajuk Awakening The Past: 30 Years of Case 15. Film dokumenter tersebut menelusuri arsip dan cerita-cerita yang tercecer sepanjang perjalanan tiga puluh tahun Case 15: potongan-potongan kecil dari sebuah album musik yang pernah dibuat, beredar, lalu perlahan hampir menghilang dari ingatan.

Setelah film selesai, cerita tentang Case 15 mulai dibuka dari titik yang paling sederhana: apa yang Superman Is Dead lakukan dengan album ini waktu itu. “Selamat datang semua teman-teman,” ucap tuan rumah sekaligus juru pandu diskusi Tomi Wibisono lalu melirik ke Bobby, “Boleh diceritakan soal album ini, yang gak ada di film tadi.”

“[Case 15] album pertama yang kita buat di tahun 1996 dan proses rekamannya itu sangat singkat, jadi proses rekamannya itu hanya memakan waktu dua shift dua hari,” ucap Bobby Kool memulai diskusi.

Di masa itu, Superman Is Dead merekam Case 15 di Midi Quest Studio (Denpasar), sebuah studio yang dikelola komposer Jimmy Sila’a. Empat belas lagu diselesaikan hanya dalam dua shift studio selama dua hari. Mixing dan mastering bahkan dikerjakan pada hari yang sama.

Tidak ada kemewahan produksi yang bisa dibayangkan dari sebuah band yang kelak akan memiliki karier selama tiga puluh tahun lebih. Yang terjadi di tahun 1996 hanya waktu yang terbatas dan sejumlah lagu yang harus segera direkam. 

Arsip milik Yenny Prayogo

Eka Rock bercerita, album ini modalnya bukan datang dari kontrak rekaman atau suntikan label. Album ini didanai oleh uang hasil organisir gigs oleh Independent Entertainment di Tabanan, Bali dengan Superman Is Dead sebagai penampilnya. Harga tiket gigs kala itu dibanderol seharga 2.500 rupiah.

“Itu sebenernya hasil dari kita bikin konser di Tabanan, di Gedung Mario (Gedung Kesenian I Ketut Maria) dapat [profit] satu juta tujuh ratus. Kita masuk ke rekaman, dapatnya dua shift dua hari,” Eka Rock menimpali obrolan.

Barangkali begitulah cara kerja anak-anak muda yang belum punya banyak pilihan. Kalau tidak punya uang, cari uang. Kalau tidak punya label, ya cari jalan sendiri. Kalau waktu terbatas, ya rekam secepatnya. Eka Rock mengaku bahwa proses rekaman berlangsung singkat dan cenderung tergesa-gesa.

“Kita itu berpacu dengan waktu, ada yang rekaman live dan ada juga rekaman track,” sambung Eka.

Case 15 berisi empat belas lagu yang direkam ketika Superman Is Dead masih berada di masa mudanya. Seharusnya materi yang direkam berjumlah lima belas, sesuai dengan judul albumnya. Namun karena keterbatasan durasi kaset pita, maka yang tersalin dalam pita audio hanya empat belas lagu.

Pada saat Case 15 dibuat, personel Superman Is Dead baru mulai kuliah dan era Reformasi masih berada pada tahap awal. Secara musikal, mereka juga sedang menyerap banyak hal dari band-band yang mereka dengarkan seperti NOFX, Green Day, Bad Religion, AFI, dsb. Khusus bagian penulisan lirik, Eka Rock punya porsi yang lebih besar dibanding personel lainnya.

“Jadi di album ini, hampir sekitar delapan puluh persen liriknya [dibuat] Eka,” kata Jrx.

Latar belakang sebagai mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Udayana, membuat Eka Rock lebih luwes untuk menuliskan lirik berbahasa Inggris. Empat belas lagu ditulis penuh dalam bahasa Inggris. Meskipun kini hampir tak menemukan lagi artefak liriknya, Eka masih mengingat bahwa ia pernah menuliskannya di sebuah buku di rumah Jrx.

“Dulu saya sempat menulis di satu buku untuk [album] ini, buku yang kita pake di latihan, ada lirik Smash It,” cerita Eka mengenang masa lalunya, “Buku yang dipakai buat jualan kue di tokonya Jrx. Saya tulis liriknya di situ semua yang untuk persiapan rekaman ini dan kemudian ndak tau entah kemana.” 

Yang dilakukan Superman Is Dead ketika mengerjakan debut album barangkali tidak berbeda jauh dengan banyak musisi daerah lain yang merintis dan menggantungkan harapan hidup di dunia musik. Ada keberanian yang kadang nyaris menyerupai kebodohan. Ada semangat untuk berangkat lebih dulu, sementara urusan teknis bisa dipikirkan belakangan, atau tidak dipikirkan sama sekali.

Arsip milik Yenny Prayogo

“Waktu itu kita bisa dibilang kita hanya modal percaya diri dan kita waktu itu aku pribadi tidak tahu apa itu sound, effect, apa itu metronome, dan gitar pun masih pinjam,” cerita Bobby mengingat proses rekaman album.

Agaknya filosofi semacam do it yourself cukup relevan dengan apa yang dilakukan trio punk ini pada masa itu. Peduli setan dengan macam-macam pedal gitar. Lupakan metronome. Sikat saja apa-apa yang terjadi di sekitar menjadi barisan lirik. Toh, punk tidak pernah benar-benar lahir dari kondisi yang nyaman.

Mayoritas Case 15 hanya diedarkan di sekitaran Bali dan didistribusikan secara mandiri oleh masing-masing personel Superman Is Dead. Tidak ada jaringan distribusi besar yang menunggu di depan pintu studio. Tidak ada mesin promosi yang bekerja setelah master selesai. Tiga puluh tahun kemudian, dari ruang tengah sebuah toko buku di Yogyakarta, album itu kembali dibicarakan.

Mengingat Ulang Sebuah Zaman

Nyaris hilang dari sejarah. Rasanya itu ungkapan yang layak disematkan pada Case 15.

Hampir tidak ada yang tersisa dari masa itu dalam bentuk yang mudah diakses, selain dokumentasi foto-foto masa muda dan ingatan yang perlahan ikut aus bersama usia. Bahkan bagi orang-orang yang membuatnya, tidak semua bagian dari album ini masih tinggal utuh dalam kepala.

Yang tersisa dari Case 15 untuk kita dengarkan hari ini adalah empat belas lagu dengan suara khas anak-anak muda yang sedang terburu-buru. Lagu-lagu cepat, disruptif, dengan sesekali selipan groove yang aneh dan unik. Semacam energi yang terdengar seperti nggak peduli amat bisa main musik dengan benar atau tidak.

Tiga puluh tahun berlalu. Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana: bagaimana album ini menemukan relevansinya di masa kini? Atau jangan-jangan, ia memang tidak perlu mencari relevansi apa pun?

“Kalau aransemennya sih mungkin masih-masih [relevan] aja, tapi untuk lirik lagunya…,” Bobby Kool terhenti sambil menahan tawa dan melirik Eka Rock berusaha mengingat.

Bobby Kool, Jon Eka Rock, dan Jrx (dok. @andreeatmana)

Tawa kecil itu menjelaskan sesuatu di antara mereka. Ada jarak tiga puluh tahun antara orang yang menulis sebuah lagu dengan orang yang mendengarkannya hari ini. Kadang-kadang, orang yang menulisnya sendiri pun sudah tidak sepenuhnya ingat apa yang pernah ia tulis.

Di album ini, Eka Rock menjadi sosok yang bertanggung jawab mengerjakan banyak urusan teks dan lirik. Masalahnya, arsip lirik Case 15 juga ikut menghilang. Maka ketika mencoba mengingat kembali album tersebut, yang tersisa bukan hanya pertanyaan tentang bagaimana lagu-lagu itu terdengar, tetapi juga apa yang sebenarnya sedang mereka pikirkan ketika menulisnya.

Ingatan memang brengsek. Namun beberapa hal rupanya masih tertinggal. Salah satunya adalah Sleepers. Meskipun tidak banyak yang diingat Eka Rock karena arsip lirik yang telah hilang, ia mengakui ada bagian-bagian tertentu dari lagu tersebut yang terasa cukup dekat dengan konteks hari ini.

“Mungkin lagu ini relate sama sekarang seperti perlawanan seperti [lagu] Sleepers. Itu saya bikin waktu itu kan mulai demo tahun 1996. Saya sendiri di kampus mulai ikut demo,” ucap Eka Rock mengenang masa lalunya, “Jadi Sleepers ini seperti gimana caranya kita melawan tetapi tidak punya tenaga.”

Arsip milik Yenny Prayogo

Ada sesuatu yang menarik dari pengakuan tersebut. Eka mengatakan Sleepers berkaitan dengan pengalamannya mulai mengikuti demonstrasi pada 1996 ketika masih kuliah. Lagu itu lahir dari posisi seseorang yang merasa perlu melawan, tetapi tidak sepenuhnya tahu seberapa besar tenaga yang ia miliki untuk melakukannya.

Dalam Sleepers, terdapat penggalan lirik get the knife, start to burn, seperti yang dilontarkan Eka Rock setelahnya. Ketika didengarkan kembali hari ini, menurut Eka, lirik tersebut terasa punya gema dengan kemarahan yang masih mudah ditemukan di sekitar kita.

Selain Sleepers, ada satu lagu lain dari Case 15 yang menurut Jrx masih relevan dan berpotensi dimainkan kembali hari ini: F.T.W.

“Kalau saya lihat sih yang berpotensi dibawakan live [adalah] F.T.W,” celetuk Jrx.

Di antara empat belas lagu dalam Case 15, F.T.W memiliki sesuatu yang membuatnya sedikit berbeda. Lagu ini dibuka dengan sepenggal pidato Presiden Soekarno. Bagi Jrx, sikap politik Soekarno pada masa itu punya sudut pandang yang relevan dengan situasi politik dunia hari ini.

Yang melekat dan relevan dari Case 15 barangkali bukan tentang lagu-lagu yang dapat dibaca dalam konteks hari ini. Jrx justru menemukan sesuatu yang berbeda. “Yang masih relevan dari album ini, spirit untuk berani melakukan hal yang belum dilakukan orang lain,” pungkas Jrx.

Arsip Superman Is Dead

Mungkin bukan tentang bebunyian dan lirik Case 15 yang harus terasa relevan hari ini. Yang bertahan justru keberanian untuk melakukan sesuatu sebelum tahu apakah itu akan berhasil atau tidak.

Kalimat tersebut barangkali merupakan cara paling sederhana untuk membaca kembali Case 15. Tidak perlu menyiapkan ekspektasi tinggi tentang kualitas lagu dan musik dari sebuah debut album, tetapi mungkin yang perlu kita lihat adalah tentang sebuah band bernama Superman Is Dead yang peduli setan dengan aturan manapun untuk bikin album lalu memperdengarkannya ke khalayak yang lebih luas. Tentu saja, tidak ada yang bisa menjamin ke mana semua itu akan membawa mereka.

Kerja Keras Bojakrama Press Merestorasi Arsip Case 15

“Waktu itu ada ngobrol dengan Mas Tomi dan waktu itu juga ada Mas Dodix lagi ada di sini, akhirnya kami bilang mungkin gak ya kalau label kami ini untuk merilis [album] SID?” giliran Reno Surya masuk dalam obrolan.

Reno Surya bersama Dendy Ariza Putra (dok. @andreeatmana)

Sebuah pengakuan disampaikan Reno Surya ketika memulai cerita perjalanan Bojakrama Press bersalaman dengan Case 15. Dari sekian banyak album Superman Is Dead yang pernah dirilis, mengapa harus Case 15?

Pertanyaan itu barangkali yang paling tepat diarahkan kepada Bojakrama Press. Sebab jika yang dicari sekadar album Superman Is Dead untuk dirilis ulang, pilihan mereka sebenarnya cukup banyak. Ada beberapa album yang jauh lebih dikenal oleh para outSIDer dan Lady Rose (julukan penggemar Superman Is Dead).

“Kami sempat ngobrolin, [album] Kuta Rock City awalnya. Terus saya bilang, masternya punya Sony Music. Boleh saja silakan jika mau kontakan dengan mereka,” cerita Soundbwoy Dodix sebagai manager Superman Is Dead.

Pilihan merilis ulang album Kuta Rock City kemudian jadi opsi sekian sebab perlu siasat lebih untuk menjangkau manajemen Sony Music sebagai pemilik master album tersebut. Bojakrama akhirnya memilih album pertama: Case 15, rekaman yang justru paling jauh dari bayangan Superman Is Dead yang dikenal publik hari ini. Alasannya ternyata cukup sederhana, mereka ingin mendengar dari titik yang paling awal dari sebuah proses.

Keinginan sederhana itu kemudian berubah menjadi pekerjaan yang tidak sederhana. Bojakrama mulai menjalin komunikasi dengan manajemen Superman Is Dead lebih intens. Setelah pilihan terhadap Case 15 dimantapkan, pekerjaan berikutnya adalah mencari sesuatu yang mungkin sudah tidak dianggap penting oleh banyak orang: master rekaman Case 15.

Di sinilah persoalan sebenarnya dimulai. Bojakrama sempat menemukan beberapa artefak Case 15. Masalahnya, sebagian besar ternyata bootleg atau memiliki kualitas yang tidak bisa diselamatkan.

“Sepertinya kaset bootleg-nya beredar lebih banyak daripada kaset aslinya,” kata Reno.

Pencarian itu berlangsung persisten, Bojakrama sempat mendapatkan arsip dalam format DAT Audio milik I Made Koriarta, salah satu orang yang terlibat dalam konser di Tabanan yang menjadi sumber dana rekaman Case 15. Melalui perantara Gede Arya Satya Anandita Kori (anak Koriarta), Bojakrama memperoleh master album tersebut. Secara teoritis, arsip tersebut bisa menjadi pintu masuk menuju suara Case 15. Namun DAT tersebut tidak berhasil dipindai karena kondisinya yang sudah terlalu tua. Arsip tersebut gagal dipindai.

Untungnya, cerita belum selesai. Bojakrama kemudian mendapatkan kaset original dari Rio Tantomo, seorang jurnalis musik yang kini tinggal di Bali. Rio meminjamkan koleksinya untuk kemudian dipindai dan diproses kembali.

Di tangan Bojakrama, kaset tua itu tidak sekadar dipindahkan ke format yang lebih baru. Bojakrama melakukan proses pemindaian, balancing, remix, dan remaster untuk mendapatkan kembali kualitas rekaman yang masih mungkin diselamatkan.

“Kami kemudian restorasi ulang, balancing ulang, tapi tanpa merusak estetika raw yang seperti bagaimana ini pertama kali diterbitkan,” Reno.

Pada 30 September lalu, Case 15 resmi dirilis kembali oleh Bojakrama Press dalam dua format fisik analog: piringan hitam dan kaset pita. Hanya dalam hitungan jam, sesi pre order rilisan tersebut habis terjual. Apa yang kemudian hadir dalam rilisan fisik itu adalah hasil dari kerja berkali-kali untuk memoles kualitas musik Case 15, sembari mempertahankan karakter mentah yang menjadi bagian dari sejarah album tersebut.

Namun yang dicari Bojakrama tidak berhenti pada suara. Bersamaan dengan upaya menemukan master audio, cerita tentang Case 15 juga kembali ditelusuri lewat gambar. Maka dibuatlah sebuah dokumenter pendek berjudul Awakening The Past: 30 Years of Case 15, dikerjakan oleh Reno Surya bersama Dendy Ariza Putra.

Dokumenter Awakening The Past: 30 Years of Case 15

Film ini lebih dulu ditayangkan pada sesi awal diskusi di Buku Akik. Bagi Dendy, persoalannya bukan sekadar bagaimana merekam SID, tetapi bagaimana Bali kembali diceritakan tanpa mengulang gambaran yang selama ini terlalu sering ia temui.

“Waktu di Bali aku sempat diskusi sama Reno dan Bli Jrx juga, sama Mas Dodix juga, ada keresahanku tiap kali film-maker luar Bali gambarin Bali itu selalu mencoba pakai cara pandang barat, kayak Bali itu indah, orange warnanya, dan gini-gini-gini,” ujar Dendy.

Kegelisahan tersebut kemudian ikut menentukan cara mereka mengerjakan film ini. Bukan Bali yang dipoles menjadi kartu pos. Bukan Bali yang berhenti pada pantai, matahari terbenam, pura, atau warna-warna eksotis yang sudah terlalu sering dijual kepada penonton dari luar. Dalam konteks dokumenter Case 15, sudut pandang Dendy dan Reno menempatkan Superman Is Dead turun dari panggung: kembali menjadi anak-anak Bali yang hidup di tengah masyarakatnya sendiri.

“Kita mencoba untuk menghindari cara pandang seperti itu. Makanya akhirnya yang ditonton teman-teman barusan itu [adalah] aku mengenal Superman Is Dead seperti ini dan aku mengenal Bali itu seperti ini,” tambah Dendy.

Reno kemudian menambahkan bagaimana film tersebut mencoba melihat Superman Is Dead bukan hanya sebagai tiga orang yang berdiri di atas panggung.

“Dokumenter ini berupaya menampilkan activity-nya teman-teman Superman Is Dead yang sebenernya itu di bawah panggung ya warga biasa, warga yang warga, ya berjejaring dengan masyarakat lokal. Jadi pingin [kasih tau] kalau Superman Is Dead itu oke mereka rockstar di atas panggung, tapi di kehidupan biasa itu mereka bukan orang yang berjarak dengan masyarakat atau Bali,” ucap Reno.

Selain personel band, dokumenter berdurasi dua belas menitan itu juga menampilkan potongan obrolan Yenny Prayogo, sosok yang mengarsipkan berbagai artefak seperti foto, kliping koran, hingga tiket musik acara yang berkaitan dengan sepak terjang SID di masa muda. 

“Ya bantu-bantu, dulu kan susah cari cewek di acara-acara underground,” ungkap Yenny yang kini berperan sebagai Finance & Accounting Manager Superman Is Dead dalam potongan dokumenter, “Jadi makanya masih simpen koleksi-koleksi ini. Kalau kita zaman dulu kan belum ada handphone. [Jadi] masih terdata rapi [fisiknya].”

Dalam riset dan pengerjaannya, Bojakrama telah memulai obrolan sejak Januari 2026 untuk menyiapkan ini semua. Bukan hanya Dendy dan Reno saja, tetapi juga keterlibatan tim lainnya seperti Septian Dwi Satria, Agus Ega Pamungkas, M. Faiz Nurdiansyah, Amanda Putri Kinasih, dan rekanan I Gusti Ngurah Premananda. Mereka bahkan sempat membuka sayembara pencarian master Case 15 melalui jalur Instagram pada 30 Juni lalu. Dari perjalanan itu, arsip yang disimpan Yenny menjadi bagian penting dari upaya melengkapi potongan sejarah yang tidak lagi tersimpan dalam rekaman.

Bojakrama Press dan Superman Is Dead (dok. @andreeatmana)

Sebagai penghargaan atas rilis ulang Case 15, sebagian arsip tersebut kemudian dicetak dan digunakan kembali sebagai bagian dari artwork rilisan fisik. Superman Is Dead juga turut merayakannya dengan merilis merchandise kaos long sleeve dengan cover album yang sama.

Malam semakin larut ketika sesi diskusi selesai dan kami semua berhamburan di pekarangan Buku Akik. Beberapa teman masih bertahan, mengucapkan selamat kepada Superman Is Dead atas kembalinya Case 15. Ada yang membawa rilisan fisik koleksi pribadi untuk ditandatangani, ada yang sekadar ingin berbincang sebentar sebelum pulang. Cerita-cerita kecil kembali berpindah dari satu orang ke orang lain tentang masa lalu yang baru saja ditonton dan didengarkan bersama.

Di antara obrolan itu, rasanya agak lucu membayangkan bahwa tiga puluh tahun lalu, tiga anak muda dari Bali hanya punya waktu dua shift untuk merekam empat belas lagu. Mereka belum tahu ke mana lagu-lagu itu akan membawa mereka. Mereka juga belum tahu bahwa suatu malam, tiga dekade kemudian, orang-orang akan berkumpul untuk mencari kembali rekaman yang hampir hilang itu.

Mungkin memang bukan soal seberapa sempurna Case 15 terdengar setelah tiga puluh tahun. Bukan pula semata-mata tentang nostalgia terhadap Superman Is Dead ketika mereka masih muda. Jarak tiga puluh tahun justru memberi kita kesempatan untuk melihat kembali apa yang ada di dalamnya sejak awal: keberanian, kegelisahan, dan keyakinan untuk melakukan sesuatu ketika belum ada yang bisa menjamin hasilnya.

Barangkali di situlah Case 15 menemukan bentuknya sebagai arketipe. Bukan karena ia merupakan rekaman yang sempurna, tetapi karena dari empat belas lagu itulah kita bisa membaca bentuk awal Superman Is Dead sebelum mereka menjadi seperti yang kita kenal hari ini.

Tiga puluh tahun kemudian, ternyata mereka masih jalan juga.


Foto Sampul: Arsip Superman Is Dead

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Ketika Musik Jadi Arena Pengorganisiran Lelah: Catatan Tentang Stars and Rabbit di Cherrypop 2026 

Related Posts