Browsing Category
RESONANSI
153 posts
Berisi esai dan opini yang menjadi gema dari cara pandang penulis dalam merespons isu, kejadian, atau fenomena yang menggugah pikiran.
Ketika Warga Melawan dengan Arsipnya Sendiri: Catatan-Catatan dari Thailand
Warga selalu punya cara merawat ingatannya, punya cara sendiri terhadap pemeliharaan—tentu tidak dengan kaidah konservasi ala lembaga resmi, kaidah pengarsipan ala otoritas.
Persepsi: Beban Kontrol Wacana
Persepsi adalah bagian kecil peristiwa bahasa, tetapi sudut pandang jauh memahaminya lewat artian peta yang memberi keleluasaan untuk melihat praktik aksi-reaksi.
Di Negeri yang Takut pada Lagu dan Buku, Bob Marley dan Pram Masih Terus Hidup
Belajar dari Bob Marley dan Pramoedya Ananta Toer, netral sering kali cuma nama lain dari ketidakpedulian.
Partikelir: Bahasa Tanda Zaman
Saat bahasa tak lagi mengantar pengetahuan dan memberi kelegaan, kita mesti bertanya: mengapa?
‘Broken Strings’ dan Refleksi atas Ranah Publik
Melalui fenomena “Broken Strings”, ranah publik kontemporer tidak lagi melulu bergerak dari pertukaran argumen rasional, melainkan justru dimulai dari afeksi yang personal, rapuh, dan sering kali dianggap tidak sah secara deliberatif.
Setelah 2025 Usai: Persoalan dan Gejala Seni Berbasis Arsip
Gelombang seni berbasis arsip kini berhadapan dengan masalah konkret, yakni kejahatan epistemik. Apa yang gelombang seni berbasis arsip bisa lakukan?
Dari Tanam Paksa ke Ketahanan Pangan, Jubah Baru Kolonialisme?
Ketahanan pangan tak ubahnya bentuk dari tanam paksa gaya baru: masyarakat dipaksa untuk menanam komoditas yang mungkin tak ada dalam pengetahuan pangan lokal mereka.
Kretek dan Cara Kota Kecil Menulis Sejarahnya Sendiri
Melihat kota Kudus lebih jauh bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi belajar tentang cara bertahan.
Sumatra: Krisis Global di Kapitalisme Pinggiran
Bencana yang terjadi di Aceh dan Sumatra membuka mata kita bahwa yang terjadi bukan saja tentang bencana alam.
Atas Nama Estetika: Paranoid Reading, Biennale di Periferi Dunia, dan Motif Kritik Kita
Mungkinkah kita mengoperasikan bentuk biennale yang lebih relasional?
Curhat Colongan dari Lantai Pameran Biennale Jogja 18 di Monumen Bibis
Sebuah catatan berproses di Biennale Jogja 18 tentang infrastruktur yang tak pernah benar-benar siap.
Dari Kios Diorama ke Omah Samin: Melepas Bentuk dan Tumbuh Bersama
Dalam perhelatan Biennale Jogja 18, kami berusaha membuka kemungkinan karya seni “untuk” dan “bersama” publik—sebuah lelaku yang mungkin tak tampak secara visual, tetapi justru membuka pintu pengetahuan lebar-lebar untuk dirayakan dan dialami bersama.