Biografi, atau Untuk Apa Film ‘Tanah Sabrang’ Dibuat?

Film ‘Tanah Sabrang’ tidak saja mendokumentasikan proses reclaiming biografi Koudijzer bersaudara, tetapi juga turut menjelaskan bagaimana biografi tersebut bertaut dan tercerabut dari rumahnya.

Simin dan Moestari: dua lembar kartu identitas tertempel pada dinding sebuah loss di lantai tiga Pasar Beringharjo. Kartu itu dikeluarkan oleh Algemeen Delisch Emigratie Kantoor sebagai tanda identitas “pekerja kontrak” Jawa yang diburuhkan oleh Netherlands Handel Maatschappij (NHM, sebuah perusahaan yang terafiliasi dengan Kerajaan Belanda) di perkebunan tebu dan pabrik gula di Marienburg, Suriname. Di kiri-kanan kedua kartu, terpampang arsip dan foto-foto keseharian generasi kedua, ketiga, atau keempat dari para pekerja kontrak dari Jawa tersebut.

Instalasi foto ini adalah bagian dari The Sugarcoated Venture, sebuah inisiasi yang digulirkan oleh Sebastian dan Tyler Iksan Koudijzier untuk mendokumentasikan proses penelusuran biografi keluarga mereka yang terjalin dengan sejarah kolonialisme. BackLog sebagai program dari In-progress Initiative, menjadi ruang bagi bergulirnya inisiasi ini di Pasar Beringharjo. 

Hari pertama pembukaan pameran diisi dengan pemutaran film Tanah Sabrang yang bercerita tentang bagaimana Sebas dan Tyler menyusuri biografi keluarganya, pada saat yang sama, juga kolonialisme dan kapitalisme perkebunan, melalui kunjungan mereka ke Suriname.

Kartu identitas Simin & Moestari (dok. Ashari Muhammad)

Film diputar di bagian dalam lantai tiga Pasar Beringharjo. Orang berjubel mencari tempat buat menonton, duduk dan berdiri, di lantai dan tumpukan peti besi. Film mulai diputar, dan terik yang turun dari langit siang ikut lesap ke dalam layar. Gambar-gambar bergerak: lanskap kolonial dan kapitalisme gula yang pecah ke dalam darah dua bersaudara tersebut. 

Kedua kakek buyut mereka, Simin dan Moestari, adalah salah dua dari 32.956 orang Jawa yang dilayarkan, secara sadar atau kurang sadar, oleh perusahaan gula dan kolonialisme. Pikiran akan kemungkinan bahwa mereka dibawa dalam keadaan kurang sadar muncul dari dalam film, melalui cerita dari kakek Koudijzer bersaudara. Ada semacam pasal guna-guna; bahwa banyak dari para pekerja kontrak ini merasa “gelap” dan begitu saja telah mendapati dirinya berada di dalam kereta menuju pelabuhan. 

Rasa “gelap” tersebut, diterjemahkan oleh para pekerja sebagai akibat dari guna-guna atau ilmu hitam atau hipnotis. Namun, kemungkinan lain yang terbuka dari perasaan “gelap” tersebut disebabkan oleh mabuk alkohol yang membuat mereka, para pekerja ini, berada dalam keadaan kurang sadar dan begitu saja menyetujui kontrak untuk dibawa ke Suriname, ke ladang tebu di sana. 

Sebagaimana yang film ini utarakan, mereka berdua, Sebas dan Tyler, menjumpai banyak hal dalam kunjungan mereka di Suriname: kakek mereka yang masih di sana, para sepupu, juga situs-situs: tanah bekas perkebunan dan sisa-sisa pabrik gula. 

The Sugarcoated Venture (dok. Sebastian Koudijzer)

Semua yang mereka berdua jumpai di sana memberikan fragmen-fragmen cerita, bukan saja tentang bagaimana bayangan besar kolonial-kapitalisme yang mengharuskan leluhur mereka ke Marienburg, tetapi juga tentang bagaimana mereka bertahan dalam situasi tersebut: tentang bagaimana para pekerja melakukan pengabaian atas tugas kerja mereka, dan sebaliknya bekerja sedemikian keras di waktu yang lain; bagaimana mereka, dalam rombongan-rombongan kecil, mencuri berkilo jeruk dari perkebunan Belanda; berbagi makan dan sumber daya dengan yang para pekerja lain. Cerita-cerita resiliensi yang diwariskan melalui tutur dan memori, yang juga kuat tertambat pada lahan-lahan bekas perkebunan tebu dan mayat bangunan pabrik gula.

Dalam Tanah Sabrang, Sebas dan Tyler juga berkunjung ke Nationaal Archive Suriname, di Paramaribo; tempat di mana keduanya menjumpai kartu identitas buyut mereka, Simin dan Moestari, di antara berbundel kartu identitas pekerja kontrak Jawa lain. 

Montase arsip yang menyusun film ini mengajak penonton melakukan perjalanan ulak-alik antara memori keluarga Koudijzier dengan arsip-arsip kolonial yang disimpan oleh Lembaga Arsip Nasional Suriname juga The Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV). Maka, meski Tanah Sabrang diupayakan Sebas dan Tyler dalam rangka untuk melacak ulang biografi mereka, pada titik ini film tersebut juga secara langsung terhubung dengan, apa yang dalam caption poster film ini sebut sebagai, history of displacement; sebuah bayangan panjang kolonialisme yang dibocorkan ke dalam darah.

Suasana pemutaran film Tanah Sabrang (dok. Amos Ursia)

Pada 1880, NHM menjadikan Marienburg sebagai perkebunan gula terbesar mereka di Suriname. Menjadikan daerah itu sebagai mesin dimana kemakmuran dapat terus direproduksi. Jumlah lahan yang ditanami terus meningkat. Pada tahun 1933, Koloniale Verslagen mencatat luas total perkebunan mencapai 2.223 hektar. 

Enam tahun sebelumnya, tepat pada September 1928, Simin telah sampai di Suriname; sementara Moestari tiba tujuh bulan kemudian, pada Maret 1929. Mereka berdua bekerja dan tinggal di tanah sabrang ini selama sisa usia mereka. Jawa tertinggal di belakang kepala dan mereka kini musti menapaki Marienburg. Bekerja dan tinggal di dalam “ghetto” dari hari ke hari untuk bertahan demi penghidupan layak. Penghidupan yang pernah dijanjikan oleh NHM, satu dari sekian korporasi maha kaya yang menyokong kemakmuran Kolonial Belanda.

Barangkali, alasan penghidupan pula yang membawa Iksan, kakek dari Koudijzer bersaudara, untuk meninggalkan tanah kelahirannya di Suriname menuju Belanda. Atau mungkin tidak. Apapun itu, lebih dari 50 tahun kemudian Sebas dan Tyler yang lahir dan tumbuh di Belanda mengunjungi Suriname untuk menyusuri cerita panjang tersebut. Sebuah upaya untuk menghubungkan ulang patahan-patahan biografi mereka. 

In-progress Initiative (dok. Ashari Muhammad)

Upaya ini pula yang pada akhirnya mengaruskan Sebastian Koudijzier sampai ke Jawa. Melalui perjumpaan-perjumpaannya di sini dan di sana, ia dapat mengunjungi tanah kelahiran salah seorang dari kakek buyutnya, Simin, di desa Semawung, Kutoarjo, Purworejo. Ia mengunjungi puing-puing pabrik gula tempat Simin bekerja di Kutoarjo sebelum ia dilayarkan ke Marienburg. 

Kembali ke Tanah Sabrang. Film ini tidak saja mendokumentasikan proses reclaiming biografi Koudijzer bersaudara, tetapi juga turut menjelaskan bagaimana biografi tersebut bertaut dan tersusun dari konteks ruang-ruang lain, dalam kasus ini, oleh tubuh-tubuh yang tercerabut dari rumah mereka karena kolonial-kapitalisme. 

Ketercerabutan ini meninggalkan semacam “lubang yang dalam” pada biografi Sebas dan Tyler; dan pada titik ini, The Sugarcoated Venture berupaya untuk menambalnya. Namun, menambal kedalaman merupakan sebuah proses panjang dan tidak mudah. Kedalaman yang sama, saya jumpai pada sepenggal kalimat keluar dari mulut Kakek Koudijzer di dalam penggalan film ini: “The Sugar is sweet, but history is bitter”.


Editor: Zhafran Naufal Hilmy 
Foto sampul: Amos Ursia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Melacak Bangunan Saksi Bisu Kelahiran Gerwani

Related Posts