Antek Asing: Kumpulan Puisi Aryatama

Kumpulan puisi ini: indo dead poets society, sa(m)bung, antek asing, dan melihat api gagal bekerja. Ditulis oleh Kevin Aryatama, seorang pengasuh Lingkar Diskusi Gender, kolektif feminis yang beraktivitas di dua kota di Pulau Bangka: Pangkalpinang dan Sungailiat.


indo dead poets society

John Keating:Medicine, law, business, engineering, these are all noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love… these are what we stay alive for.”

Mein law, business

are noble pursuits

but poetry, man…

these are what for

sa(m)bung

     usia mulai lansia menurut senjakala pasar tenaga kerja

       (tanganku disambung manga dan manhwa dari situs warna-warni iklan judol)

                                  hidup di fase prosesnya akrobat tapi progresnya mangkrak

(kakiku disambung serial drakor donlot dari situs rawan ranjau iklan pop up bokep)

                berita menyiarkan dunia yang terbakar dengan manusia dan alam sebagai bensinnya

(kepalaku disambung yutub gratisan yang kian sering mengiklankan dongeng masa depan gen ai)

     rupiah tewas setelah terjun bebas dari puncak monas sambil berteriak, merdeka!

        (jeroanku disambung buku puisi yang dulu dibeli ketika sastra masih muat dalam kas)

                                 baskara bernyanyi, ku hanya mampu menyambung hidup hari per hari

                                    meski entah apa yang layak kita sambung di sabung kehidupan ini

antek asing

ya kami emang antek asing / karena kami penghuni suatu negeri dari puing-puing negara yang mengasingkan kami / negeri yang belum tapi bakal / negeri di luar negara /

kau kepala negara ya pasti asing dengan negeri yang cakrawalanya ga bisa dipatok pake batok palak kau / kau kepala negara ya pasti ngeri membayangkan ngarai longsor tempat pantat kau lengser //

melihat api gagal bekerja

membaca “melihat api bekerja” dari m aan mansyur

kapan-kapan bibir kita akan tabrakan dahsyat / menciptakan ciuman yang paling basah nan suci / arus liur kita akan merontokkan jiwa kita yang mampet, memandikan jiwa kita yang jorok /

kita pun terlahir kembali dan untuk pertama kalinya merasa percaya / lantas bibir kita adu tumbuk lagi hingga menggenangi dunia yang tengah kebakaran apokaliptik /

kita akan berciuman sambil melihat api gagal bekerja //


Penyelaras aksara: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Bima Chrisanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Di manakah Letak Regulasi di Tiap-Tiap Jalan yang Kita Lewati?

Related Posts