Jala dan Jana: Ketika Boneka, Sungai, dan Cara Kita Memahami Alam

Pertunjukan “Jala dan Jana” Flying Balloons Puppet menghidupkan kembali pertanyaan lama tentang bagaimana manusia memperlakukan sungai, alam, dan sesamanya.

Ada pertunjukan yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan. Ada pula pertunjukan yang justru baru dimulai ketika penonton berjalan pulang, membawa bayangan-bayangan yang terus bekerja di dalam kepala. Jala dan Jana karya Flying Balloons Puppet Yogyakarta, yang dipentaskan 18 Agustus lalu termasuk dalam jenis yang kedua, sebuah pengalaman estetik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengaktifkan ingatan, mengusik cara berpikir, dan mengajak tubuh penonton kembali merasakan hubungan yang lama terlupakan dengan alam.

Selama tiga puluh menit, panggung di Kampung Budaya Piji Wetan (KBWP) berubah menjadi lanskap yang sunyi sekaligus hidup. Boneka-boneka, kain, kertas, bunyi, dan gerak tubuh saling menyusun makna tanpa perlu bergantung pada dialog. Tidak ada tokoh yang menjelaskan apa yang harus dipahami, sehingga penonton dibiarkan memasuki ruang tafsirnya sendiri. Dalam keheningan itulah justru lahir percakapan yang paling panjang antara pertunjukan dan ingatan setiap orang.

Manusia tidak hidup hanya melalui bahasa verbal. Sejak masa prasejarah, tubuh, gerak, simbol, dan ritus telah menjadi medium utama untuk menyampaikan pengetahuan antargenerasi. Sebelum ada buku dan sekolah, manusia belajar melalui cerita yang dipentaskan, melalui mitos yang diwariskan, dan melalui benda-benda yang diberi makna bersama. Jala dan Jana menghidupkan kembali cara lama itu, ketika pengetahuan hadir bukan sebagai ceramah, melainkan sebagai pengalaman yang dialami bersama.

Pertunjukan ini menarik, karena memilih sungai sebagai pusat narasi. Sungai tidak hanya diperlakukan sebagai bentang alam, melainkan sebagai ruang budaya yang menyimpan memori kolektif masyarakat. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, sungai selalu menjadi tempat lahirnya permukiman, jalur perdagangan, ruang ritual, hingga sumber cerita rakyat. Ketika sungai berubah, sebenarnya yang ikut berubah bukan hanya lingkungan, melainkan juga cara manusia mengingat dirinya sendiri.

dok. Imam Khanafi

Mitos tentang ular berkepala kerbau dan buaya putih yang diangkat dalam pertunjukan menjadi contoh bagaimana masyarakat membangun hubungan dengan alam melalui cerita. Selama ini mitos sering dipandang sekadar kisah mistis yang harus dibantah oleh nalar modern. Padahal, dalam kajian antropologi, mitos diposisikan sebagai perangkat budaya yang berfungsi mengatur perilaku sosial sekaligus menjaga keseimbangan ekologis. Ia bekerja bukan melalui ancaman hukum, melainkan melalui rasa hormat, imajinasi, dan kesadaran kolektif.

Masyarakat tradisional memahami bahwa tidak semua aturan harus ditulis dalam undang-undang. Sebagian aturan hidup disimpan dalam cerita yang terus diceritakan kepada anak-anak sejak mereka kecil. Larangan bermain di sungai tertentu, menebang pohon sembarangan, atau merusak mata air sering kali dibungkus dalam kisah makhluk gaib yang menjaga tempat tersebut. Dari sudut pandang antropologi lingkungan, cara ini merupakan bentuk pendidikan ekologis yang diwariskan secara kultural.

Flying Balloons Puppet tampaknya membaca kembali lapisan makna tersebut dengan pendekatan yang lebih reflektif. Mereka tidak sedang menghidupkan kembali ketakutan terhadap makhluk-makhluk mitologis, tetapi mengajak penonton memahami mengapa cerita itu pernah lahir. Di balik sosok ular atau buaya putih, sebenarnya tersimpan kecemasan manusia terhadap rusaknya keseimbangan alam. Ketika manusia mengabaikan sungai, bencana tidak lagi datang sebagai kutukan, melainkan sebagai konsekuensi dari tindakannya sendiri.

dok. Imam Khanafi

Menariknya, seluruh gagasan itu disampaikan tanpa satu pun dialog. Pilihan ini bukan sekadar keputusan artistik, melainkan strategi untuk mengembalikan fungsi imajinasi kepada penonton. Kata-kata sering kali memberi batas yang tegas terhadap makna, sedangkan visual membuka kemungkinan tafsir yang jauh lebih luas. Penonton akhirnya tidak sedang menerima informasi, tetapi ikut menyusun maknanya sendiri melalui pengalaman yang ia miliki.

Pengalaman semacam ini disebut sebagai proses konstruksi makna. Otak manusia tidak bekerja seperti kamera yang hanya merekam kenyataan secara pasif. Ia selalu menghubungkan apa yang dilihat dengan memori, pengalaman hidup, dan pengetahuan yang telah tersimpan sebelumnya. Karena itulah setiap orang mungkin menyaksikan pertunjukan yang sama, tetapi pulang dengan cerita yang berbeda.

Anak-anak menjadi penonton yang paling menarik dalam konteks tersebut. Mereka belum memiliki begitu banyak batasan konseptual tentang bagaimana sebuah pertunjukan harus dipahami. Ketika melihat selembar kain berubah menjadi sungai atau seekor ikan, mereka menerimanya sebagai kemungkinan yang wajar. Imajinasi mereka bekerja lebih cepat dibanding kebutuhan untuk mencari penjelasan logis.

Pandangan sutradara Rangga Dwi Apriadinnur dalam diskusi tentang pentingnya mempercayai imajinasi anak sesungguhnya sejalan dengan berbagai penelitian mengenai perkembangan kognitif. Anak belajar memahami dunia melalui permainan simbolik, bukan semata-mata melalui penjelasan verbal. Sebuah sendok dapat berubah menjadi kapal, kardus menjadi rumah, dan kain menjadi lautan tanpa kehilangan maknanya. Kemampuan itulah yang perlahan memudar ketika orang dewasa terlalu bergantung pada definisi dan penjelasan.

Pertunjukan ini juga menawarkan cara pandang yang berbeda terhadap boneka. Dalam tradisi teater boneka modern, pemain sering dituntut menghilang agar perhatian sepenuhnya tertuju pada objek yang dimainkan. Flying Balloons Puppet justru memperlihatkan bahwa hubungan antara pemain dan boneka merupakan dialog yang hidup. Tubuh manusia dan benda saling menghidupkan, seolah keduanya sama-sama memiliki kehendak untuk bercerita.

Gagasan tersebut mengingatkan pada pemikiran antropolog Tim Ingold mengenai hubungan manusia dengan benda. Benda bukan sekadar objek mati yang menunggu digunakan manusia. Setiap benda membawa jejak material, sejarah, dan pengalaman yang terus berubah ketika bersentuhan dengan manusia. Dalam Jala dan Jana, boneka tidak menjadi alat, melainkan mitra yang membantu menghadirkan dunia lain di atas panggung.

dok. Imam Khanafi

Hubungan antara manusia dan benda sesungguhnya juga merupakan hubungan antara manusia dan memori. Sebuah kain dapat mengingatkan seseorang pada rumah masa kecilnya. Sebuah suara gemericik air mampu membawa orang kembali kepada sungai yang pernah menjadi tempat bermain ketika kecil. Pertunjukan ini bekerja melalui mekanisme semacam itu, memanggil kembali ingatan-ingatan yang selama ini diam di dalam diri penonton.

Dalam masyarakat modern, hubungan manusia dengan sungai semakin banyak dimediasi oleh teknologi. Sungai dipahami sebagai saluran air, sumber irigasi, atau bagian dari infrastruktur perkotaan. Nilai-nilai simbolik yang dahulu melekat perlahan menghilang bersama berubahnya cara hidup masyarakat. Akibatnya, manusia kehilangan sebagian cara untuk merasakan bahwa alam adalah bagian dari dirinya sendiri.

Karena itu, Jala dan Jana terasa penting bukan hanya sebagai karya seni pertunjukan. Ia hadir sebagai ruang untuk mengembalikan sensitivitas ekologis melalui bahasa yang lembut. Tidak ada ceramah tentang lingkungan, tidak ada slogan yang dipaksakan, dan tidak ada ajakan yang terdengar menggurui. Justru melalui keheningan, pertunjukan ini membuat penonton menyadari bahwa hubungan manusia dengan alam sesungguhnya telah lama retak.

Kesan serupa tampak ketika banyak penonton memilih diam beberapa saat setelah pertunjukan usai. Keheningan itu bukan tanda kebingungan, melainkan ruang bagi pikiran untuk menyusun kembali apa yang baru saja dialami. Dalam antropologi pertunjukan, momen semacam ini sering disebut sebagai ruang liminal, yakni wilayah peralihan ketika seseorang belum sepenuhnya kembali ke kehidupan sehari-hari. Di ruang itulah kemungkinan perubahan cara pandang mulai tumbuh.

Barangkali inilah mengapa Jala dan Jana terasa begitu membekas. Ia tidak menawarkan jawaban yang selesai, melainkan menghidupkan kembali pertanyaan-pertanyaan lama tentang bagaimana manusia memperlakukan sungai, alam, dan sesamanya. Pertunjukan ini mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknologi atau kebijakan, tetapi juga persoalan memori budaya yang perlahan hilang. Ketika manusia kehilangan cerita tentang alam, pada saat yang sama ia juga kehilangan alasan untuk menjaganya.

Pada akhirnya, Jala dan Jana menunjukkan bahwa seni masih memiliki kemampuan yang jarang dimiliki medium lain. Ia dapat menyentuh perilaku melalui emosi, menghidupkan memori melalui simbol, dan membentuk kognisi melalui pengalaman yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin karena itulah pertunjukan ini tetap tinggal setelah panggung dibongkar, karena yang sesungguhnya dipentaskan bukan sekadar kisah tentang sungai, melainkan cara manusia belajar kembali menjadi bagian dari alam yang selama ini menopang kehidupannya.


Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto Sampul: Imam Khanafi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Anggaran Perpustakaan Cupet, Akses ke Pengetahuan jadi Macet

Related Posts