“Jarakita”; Kumpulan Puisi Muhammad Adinegoro Natsir

Jarakita
Ilustrasi: Daehyun Kim

“Lihatku Cahaya”

Adalah mata yang sungkan dusta

Adalah mata yang bising nyuara

Adalah mata yang membunuh kuasa

Adalah mata yang nolak melelap

Adalah mata yang manggil nemani

Adalah mata yang cahayai matahari

Adalah mata matakau matakau

 

Kekasih

Adakah matakau telaga yang kudayung pulang? Kekasih

Adakah matakau itu menyaksi mata mataku? O!

Maka jadilah jadi

Matakau jadilah mata mataku Matikau jadi mati matiku

 

Bekasi, 26 Agustus 2018

 

“Kejarlah Daku Kau Kukudap”

Aku mau setangkup kau

Dalam manis coklat

Dan gurih keju

Kekasih

Soal apa yang nanti ngembang

Biar itu jadi yang nanti

Tak perlunya kau hirau

 

Yakin pada panggang

Yakinlah Kita matang

 

16 Agustus 2018

 

“Ayo?”

Aku rindu pada apa-apa yang belum ada

Pada sebingkai senyum

Sapa jenaka

Tawa kita kemarin dan esoknya

 

Adakah lagi waktu yang bisa kucuri?

Biar apa-apa yang belum ada

Kujadi nyata

Soal kata kita berdua

 

Aku tidak takut pada jarak

Pada medan di depan

Aku takut pada jawabmu Soal tanya ku

Yang ingin selalu

 

Bekasi, 16 April 2018

 

“Jarakita”

Mampukkah kita melipat bumi?

Biar dipotongnya itu jarak

Digulung mendekat kemudian terikat

 

Ini benang yang menghalang raga

Jarum yang meluka sukma

Cepat kita pakai tuk jahit

Tempatmu

Tempatku

 

Untuk berselimutnya rindu

Yang gigil memohon temu

 

Manggarai, 1 April 2018

 

Ignorantia

Ada papan tulis buram

Yang kau gurat kapur

Sedikit

Sedikit

 

Itu putih yang buram

Mulai kau geser jadi merah

Yang begitu menyala

Nyata

 

Kau lukis itu mega

Dari bawah

Ke ujung

 

Sampai sesadarnya aku

 

Gurat-guratmu asing bersuara

Tadinya kututup telinga

Namun tak ada decit

Hanya suara nafas

Yang meminta Apa saja

Asal bukan

Kemarin

Asal bukan

 

Esok hari

 

Ada yang jatuh

Membercak lantai

Buram

Sewarna mega

Dan kutanya

 

“Jarimu kenapa?”

 

Bekasi, 27 Desember 2017

 

“Apa Kau Rindu?”

Aku rasa langkah ini sendiri

 

Benci aku rasa ramai semesta suguhi

Tak satu itu suara kutahu mengerti

Cuma riak dari kosong yang wangi

 

Satu hari kau juga pasti kutahu mengerti

Padamu selimut malam belum kembali kau curi

Sandar kembali cerita waktu yang tak mampu kita pahami

Sudikah kau tulis itu kata indah tak pula kau sudahi?

 

Aku rindu pada wangi malam kita janji untuk lupa

Kau aku bicara senja yang habis ditelan warna

Tertawa tentang bodoh yang semua manusia suka

Menangis pada tangga cerita bulan menyeka luka

 

Windu jadi candu mengingat matamu menatapku

Mengingat dunia yang sebenarnya tak satu tahu

Sempatlah bicara satu tanda kembali kau kepadaku

Karena nafasmu masih sesak terjebak di nafasku

 

Depok, 24 Februari 2016

 

 

Editor: Endy Langobelen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts