Sukar untuk mendeskripsikan film Para Perasuk (2026) hanya dalam satu lontaran kata saja. Dari detik pertama hingga adegan pamungkas, ada rasa gentar serentak takjub–terpesona, tremendum et fascinosum.
Itu terjadi akibat perpaduan yang magis antara ide cerita, visual, musik latar, semesta yang dibangun, serta proses tiap-tiap karakter, terutama Bayu (Angga Yunanda), menerima dan menjalani takdirnya.
Judul ulasan ini tidak lain dan tidak bukan diambil polanya dari film kenamaan karya Kim Ki-duk berjudul Spring, Summer, Fall, Winter … and Spring (2003). Judul tersebut menyiratkan suatu gerak musim, atau masa, atau fase hidup manusia yang membentuk garis spiral atau perjalanan jiwa yang berjalan maju-mundur-maju, berjibaku menyelaraskan diri.
Dengan mengikuti pola tersebutlah, yaitu “Rasuk, Rakus, Rusak, Kuras … dan Rasuk”, saya coba menuliskan refleksi dari pengalaman menyaksikan film layar lebar ketiga Wregas Bhanuteja ini.

Bagian I: Rasuk
Dalam alam pikiran tertentu, kerasukan tidak selalu sama dan sebangun dengan tragedi. Begitu pula pesta sambetan yang hidup di tengah-tengah Desa Latas. Tradisi itu hadir sebagai sarana warganya mengekspresikan rasa syukur dan merayakan hidup. Peristiwanya bisa bermula dari keberhasilan panen, khitanan (sunat), ataupun momen-momen penting lainnya.
Bukan hal yang asing bagi sebagian besar penonton di seantero Nusantara. Pengalaman ndadi atau kerasukan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya dan dinamika hidup sehari-hari, apapun nama acaranya.
Bagi sebagaian masyarakat, roh adalah teman yang asyik untuk diajak bersenang-senang. Yang menarik dari Para Perasuk, pesta sambetan kali ini difokuskan untuk mencegah salah satu rumah atau tanah serta mata air warganya yang hendak diokupasi oleh PT Wanaria.
Para pelamun (para penari yang siap dirasuki roh) berada di suatu bidang lapang, membiarkan diri larut dalam alunan musik, menari selepas-lepasnya mengikuti gerak roh dan tuntunan sang perasuk. Perasuk bertugas membawa para pelamun masuk ke dalam alam sambetan, tempat mereka dapat merasakan dunia yang sama sekali lain dari apa yang kita sebut kenyataan. Dalam beberapa penggambaran para pelamun berbaring di hamparan bunga, misalnya. Setidaknya ada 20 macam roh binatang yang coba dihadirkan perasuk.
Bayu, dengan slompretnya, adalah satu dari sekian kru (pemusik) yang mengiringi upacara tersebut. Ndilalah, sanggar pusat sedang mencari perasuk baru. Itu posisi yang diidamkan-idamkan Bayu. Perlahan tapi pasti, penonton film akan melihat gambar-demi-gambar, drive terdalam apa yang membuat Bayu begitu obsesif untuk menjadi perasuk.

Poin penting dari bagian ini adalah apa yang diartikulasikan oleh Bu Guru Asri (Anggun C. Sasmi) dengan penuh wibawa (lengkap dengan bonang di tangannya) dalam “sesi temu psikolog” yang dimunculkan Wregas di tengah-tengah audisi perasuk baru.
Sebelum memasukkan para pelamun ke dalam alam sambet, perasuk mesti memastikan alam yang dibangun pada budi dan batinnya sendiri adalah alam yang menyenangkan. Selama masih ada luka di masa lalu, seseorang tidak mampu menyalurkan kebaikan atau kesenangan kepada orang lain. Sebelum membuka business baru, seseorang perlu menyelesaikan unfinished business-nya terlebih dahulu.
Dari sini terkuak, Bayu terbelenggu trauma–terutama dalam relasi dengan Bapaknya (Indra Birowo); dan ini celaka.
Bagian II: Rakus
Mencoba lagi itu baik, tapi jika bensinnya adalah obsesi yang tidak terkendali dan rasa lapar akan validasi, titik-titik api akan menjelma kebakaran. Bayu belum sadar akan hal itu.
Roh bulus dan roh kutu, pada akhirnya berhasil dikendalikan, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Bayu terus mengejar, bahkan dengan menepikan persahabatannya dengan Pawit (Chicco Kurniawan), Ananto (Bryan Domani), termasuk pelamun baru dari Jakarta, Laksmi (Maudy Ayunda).
Dua roh tadi tidak cukup membuat Bayu mendapat pengakuan. Bayu kemudian berusaha memimik perilaku lintah yang melata sepanjang waktu–suatu laku tapa yang dilakukannya dengan mati-matian demi menjinakkan binatang penyedot darah itu. Senjata terakhir yang ia maksudkan untuk mengubah takdirnya.
Dalam beberapa siniar, Wregas Bhanuteja menyampaikan sendiri–yang akhirnya menjadi petunjuk arah pesan dari film ini–pengalamannya terombang-ambing dan terdorong menjadi pribadi yang gas-gasan akibat obsesi.
Seiring dengan perjalanan Bayu itu pun, cermin obsesi yang membabi buta ditampilkan lewat usaha PT Wanaria menancapkan patok-patok kuasa di Desa Latas dengan janji-janji kehidupan yang lebih baik. Tapi apakah ‘kehidupan yang lebih baik’ itu?
Bagian III: Rusak
Upaya Bayu menjadi perasuk membawanya pada hal-hal di luar batas. Metafora roh lintah memang menjadi cukup jelas di sini. Bayu menyedot darah sesamanya bahkan dirinya sendiri. Pesta sambetan, perasuk, pelamun, roh, tidak lagi jadi sarana, melainkan berhala.
Kerakusan adalah jalan tercepat menuju kerusakan. Bapaknya membulatkan tekad pergi ke kota, Laksmi yang tadinya merasa nyaman dan memiliki teman, lari. Audisi perasuk baru gagal, menyisakan Bayu seorang bak sekeping puzzle yang terlempar dari kawanannya, kesepian.
Bagian IV: Kuras
Ada harga yang harus dibayar. Kalau boleh meminjam triad Dialektika Hegel tesis, antitesis, sintesis, situasi yang dialami oleh Bayu adalah sebuah alienasi. Dengan minggat ke “negeri yang jauh”, Bayu terasing dari dirinya sendiri. Di batas nadir, di hadapan Laksmi yang terkapar dan PT Wanaria yang merangsek masuk ke kediaman Bu Guru Asri, Bayu pelan-pelan mencapai titik baliknya.
Selaras dengan salah satu original soundtrack yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda, saya teringat suatu perkataan: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya (jiwanya)?”
Apa yang dialami Bayu relate dengan kehidupan dewasa ini. Mengejar jabatan, kemewahan tertentu, followers, respek, apapun itu, tidak selalu berakhir selebrasi. Apa yang dianggap kebenaran dinegasi kenyataan dan hanya jika seseorang cukup bijak memilah tegangan kreatif inilah, ia mampu menemukan apa-apa yang sejati. Beruntung, Bayu menyadari.
Bagian V: dan Rasuk
Menanggalkan sejenak predikat perasuk, anak bapak, kegagalan-kegagalan, Bayu menguras dan mengurasi semuanya. Bayu menjadi Bayu, bukan siapa-siapa lagi. Bayu dirasuki roh baru yaitu roh penerimaan, roh ugahari. Apa-apa yang tadinya kabur, blur, jadi terang benderang. Kita tidak pernah benar-benar mengerti. Tragedi, kalau bukan berakhir dengan mati, mestinya mampu melahirkan kita sekali lagi.
Sebuah Catatan
Sejujurnya, saya datang ke bioskop dengan membawa film pendek Wregas Lemantun (2016) di kepala. Bisa jadi itu langkah yang keliru, tapi mari kita lanjutkan dulu. Simbolisme dalam karya tugas akhir Wregas tersebut begitu kuat. Lemari, dalam bahasa Jawa halus berarti lemantun. Setiap anak memiliki hartanya sendiri-sendiri.
Dengan deskripsi pada tiap lemari yang menunjukkan kuasa yang dimiliki oleh saudara-saudaranya (termasuk lemari milik Antok yang katanya dulu berisi keris keramat dan roh naga), Tri meringkuk di ruang mungil dalam warisan Ibunya, lemari nomor 3. Ia memilih untuk tidak begitu saja menukar identitas asalinya sebagai “putra” dengan apa-apa saja yang dihormati oleh dunia. Tidak butuh embel-embel pendongkrak harga diri, lemari serupa rahim, memberikannya kemewahan paling purba dalam hidupnya yang sederhana.
Berbekal Lemantun tadi, saya tanpa sadar mencari tanda serupa di sepanjang menit Para Perasuk dimainkan. Dan apa? Saya gagal, atau, ya, tidak berhasil sepenuhnya. Kali ini, rasanya, Wregas tidak membawa simbol khusus untuk membagikan perspektifnya kepada penonton. Atau, kalaupun ada dan sengaja dimaksudkan, mengingat banyaknya jenis roh dan benda-benda unik yang sulit diabaikan kehadirannya, simbol-simbol ‘tersebut’ rasanya tidak lebih utama ketimbang keutuhan refleksi, suasana, dan sensasi.

Para Perasuk tidak datang dengan intensi menggurui. Sekalipun bertebaran hal-hal fundamental yang punya urgensi untuk hari-hari sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) (obsesi versus relasi, masifnya pembangunan versi penguasa kontra usaha masyarakat lokal yang melakukan perlawanan, merawat kehidupan), Para Perasuk punya perayaannya sendiri.
Tanpa sadar saya seorang pelamun, Para Perasuk adalah sang perasuk, dan Wregas Bhanuteja Cum Suis (CS) hadir sebagai warga Latas ataupun kru pemusik sanggar pusat dalam sebuah pesta sambetan di bioskop.
Pesta, mantra, roh-roh binatang, ‘sesi konsultasi dengan psikolog’, kasur, telur gulung, puasa, gitar listrik flying v warna merah, rumah, mata air, trauma, voucher, ‘tossa’, hujan, konflik agraria, soto ayam, slompret, manusia silver, rasa cukup, galon, dan 0817-2385-7533.
Visual, scoring, karakter, jalan cerita, semuanya itu kombinasi berbagai roh yang membangkitkan “sesuatu” dalam alam sambet kita masing-masing. Terkesima, tanya, tangis, memori, tawa, haru. Menurut keyakinan saya sebagai reviewer atau pengulas pemula, adalah angin segar, katalog gres untuk khazanah perfilman kita.
Saya hampir tidak dapat mengendalikan di titik mana roh akan mendorong untuk ngakak atau mengumpat a*u! karena kaget, tergelitik, atau ngeri. Salah satu bagian favorit saya adalah adegan kasur. Dengan roh kutu, Bayu membuat para pelamun melompat lebih tinggi. Kapan lagi melihat seorang Maudy Ayunda yang identik dengan “Oxford” dan “Stanford”-nya, tiba-tiba cosplay menjadi kutu-kasur, yang dalam bahasa Jawa tinggi. Yang bikin skrip lagi “tinggi” juga kali, ya.
Pada scene lain, saya menitikkan air mata tepat di momen yang tidak saya duga adegan pesta sambetan yang bergulir berkilat-kilatan bersama dengan adegan ketika Bayu dan saudara-saudaranya berada di sebuah klub malam. Tanpa kata. Dalam. Nyata.
Penutup
Menarik sekali melihat bagaimana Wregas lihai menutup sebuah cerita. Pada adegan sebelumnya, tampak warga Desa Latas mengadakan pesta sambetan karena berhasil bahu-membahu menjaga mata air roh dari invasi PT Wanaria. Sejurus kemudian, penonton diajak menyaksikan Bayu yang berangkat ke kota, menerima keluarga barunya, termasuk mendukung Bapaknya membuka bisnis isi ulang air galon.
Terlepas dari vitalnya momen Bayu dan bapaknya yang memilih meletakkan soto ayam dan menandai momen rekonsiliasi itu dengan pesta sambetan mini, roh kadal, ada hal kontras yang menarik perhatian saya, yaitu mata air dan air galon.
Tentu saja, usaha yang khas dengan lampu neon warna biru itu tidak bisa seketika melepas dahaga seluruh warga (Latas). Namun, bukankah dengan seonggok galon yang penuh–terisi serta tindakan memastikan diri sendiri tidak “haus” (cukup) terlebih dahulu dapat membantu seseorang untuk tidak merampas air galon bahkan mata air milik manusia lain?
Maaf kalau masih ngotot untuk menemukan ‘simbol’, ya. Hehehe. Proficiat, Para Perasuk!.
Editor: Agustinus Rangga Respati
Foto Sampul: Rekata Studio
