Identitas Budaya Lokal dari Band Punk AMOK


Band punk asal Yogyakarta, AMOK, baru-baru ini merilis video musik yang dibantu oleh DUGTRAX RECORDS dan Piring Tirbing. AMOK tampil dengan suguhan budaya lokal yang dikemas dalam video berdurasi sekitar 20 menit.

Suatu waktu di awal tahun 2020, saya iseng-iseng membayangkan dan membuat semacam draft tidak tertulis dalam pikiran tentang hal-hal yang harus dilakukan pada tahun 2020. Ya harus! Salah duanya adalah menyaksikan pertunjukan musik dari Senyawa dan AMOK. Beruntung, bulan Maret lalu saya bisa menyaksikan Senyawa secara langsung di Sakatembi.

Baca juga: Pengalaman Menonton Senyawa: Kadang Tenang, Lebih Sering Mencekam

Sabtu (17/10) lalu, saya akhirnya bisa memenuhi angan-angan saya yang kedua; nonton AMOK! Ya walaupun nontonnya tidak secara langsung alias live streaming-an. Namun usai menyaksikan video yang ditujukan untuk memeriahkan festival tahunan di Tokyo bernama TERATOTERA, sedikit pun saya tidak menyesal menonton video musik mereka.

Rasa-rasanya, band punk asal Yogyakarta yang telah merilis album Babak Satu (2018) ini memang tidak pernah ingin melepas ketertarikan mereka akan nilai-nilai dari budaya lokal. Bayangkan saja, ketertarikan semacam ini secara konsisten hadir di setiap proses bermusik AMOK. Bahkan mereka pernah membawa semacam sesajen di atas panggung!

Meramu warna “punk” dengan rasa “budaya lokal” adalah semacam jamu yang mungkin tidak selalu disukai orang karena warna dan rasanya. Namun justru di situ, kita seperti diingatkan kembali akan sesuatu seperti rasa pahit, tradisi, masa kecil, atau mengenang penjual jamu keliling itu sendiri.

Dalam video musik TERATOTERA2020 Special Live (AMOK), sekali lagi Baratnaluri (vokal), Murakabi (gitar), Dos Hermanos (bas), dan Kalasamar (drum) tampil bergandengan dengan budaya di sekitar mereka, sebut saja budaya Jawa. Video diawali dengan scene berjudul Wiwitan (awalan/permulaan); seseorang duduk bersila, melantunkan tembang, lengkap dengan semacam sesaji di hadapannya. Disusul dengan scene aktivitas memasak di pawon.

Saya sedang membayangkan hadir di antara mereka di sebuah rumah joglo, lengkap disuguhkan Wedang Sinden (minuman khas Jawa Tengah). Syahdan, AMOK mengguncang dapur dengan lagu Nyanyian Amok. Ya tentunya dengan musik punk khas mereka, di tengah dapur pula. Tentu siapa saja akan merasa heran, persis seperti kebingungan ibu-ibu yang sedang memasak di dapur.

Sebelum memainkan lagu kedua berjudul Telanjang di Tengah Terang, terdapat scene AMOK memperkenalkan diri dan memberi salam. Mereka berjalan kembali ke sungai dan ladang. Ibu-ibu terlihat memetik cabai dan menyiapkan sehelai daun pisang. 

Seakan tidak ingin berjarak dengan realitas akan situasi pandemi, malam itu AMOK turut berbagi kisah cara mereka tetap hidup. Masing-masing saling bertukar cerita sembari menikmati hidangan Sego Takir (makanan khas Jawa). Istilah takir mungkin merujuk pada wadah atau tempat yang berbentuk mangkuk dari daun pisang yang kedua sisinya disemat dengan lidi. Di dalamnya ada nasi, tempe, telur, urap, dan sayuran lainnya.

Beberapa orang meyakini bahwa bentuk takir yang menyerupai mangkuk itu adalah lambang dari perahu. Boleh saya menebak, dari scene menutup hari dengan hidangan Sego Takir, adalah semacam ritual menjaga kerukunan dan ungkapan rasa syukur. Setiap orang patut hidup berdampingan dan berhak bersyukur atas pilihan-pilihan dalam hidupnya.

Bagian-bagian selanjutnya, AMOK tampil dengan membawakan tembang terakhir yaitu Jancok! yang dipadukan dengan tarian yang tak jarang terlihat seperti gerakan silat. Tidak ketinggalan, AMOK memberikan resep hidangan Wedang Sinden dan juga Sego Takir di bagian kredit penutup.

Kreativitas berkesenian tentu tidak berdiri sendiri. Ada hal yang cukup kompleks di dalamnya, seperti latar belakang seniman dan sosiokultural. Setiap budaya umumnya mengandung nilai-nilai budaya yang disepakati ataupun berlangsung di tengah masyarakat. Sehingga apapun bentuk karya seni tentunya merupakan hasil respon seniman terhadap nilai-nilai yang ada. Memanfaatkan unsur musik bergenre punk, yang juga memiliki sengkarut sejarah perlawanan, AMOK merespon realitas yang sedang terjadi dengan pisau-pisau budaya lokal.

Dari video musik ini saya menggarisbawahi bahwa AMOK mengangkat budaya lokal sebagai identitas berkesenian mereka. Budaya lokal ini, saya amini juga, sebagai “barang berharga”. Titik. Sesuatu yang harus disadari, dirawat, dan dipelajari. Sebab tentu pertanyaan-pertanyaan akan realitas kerap kali menghadang kita di tengah jalan. Sedangkan “barang berharga” ini tetap berjalan dengan tenang dan kelak akan menjadi identitas kita masing-masing.

 

Editor: Agustinus Rangga Respati


Leave a Comment