Intimate Wedding: Kembali ke Makna atau Kapitalisme Gaya Baru?

Intimate wedding mencerminkan pergeseran makna pernikahan bagi generasi muda: dari perayaan kolektif menuju pengalaman yang lebih personal, meski tetap berada dalam bayang-bayang tekanan sosial dan budaya konsumsi

Beberapa pekan yang lalu, salah satu teman dekat menelepon saya. Kebetulan, ia tengah mempersiapkan pernikahannya yang tenggat beberapa bulan lagi. Sembari bercerita mengenai kesibukannya mempersiapkan ini-itu, ia mengatakan bahwa tamu undangannya sudah di locked hanya untuk 75 orang, sudah termasuk keluarga dan teman. Di Indonesia, jumlah tamu hingga 300 orang saja masih tergolong pernikahan kecil-sedang, apalagi 75 orang. Di sinilah ia menyebut bahwa pernikahannya akan dilaksanakan sederhana dan privat saja atau “intimate wedding”.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi yang saat ini memasuki fase pernikahan, yakni Milenial (lahir 1981–1996) dan Gen Z (lahir 1997–2012) meyakini bahwa sakral tidak selalu identik dengan kemewahan atau skala besar. Dalam konteks Indonesia, perayaan tersebut sering kali tidak hanya menjadi milik dua individu, tetapi juga keluarga besar, bahkan komunitas. Tidak heran jika resepsi dengan ratusan hingga ribuan tamu menjadi standar yang lazim.

Hal ini menunjukkan adanya pergeseran nilai, dimana tradisi kolektif perlahan-lahan berubah menjadi preferensi personal. Fenomena ini tentunya tidak muncul tanpa konteks. Generasi Milenial dan Gen Z cenderung lebih mandiri secara finansial, lebih terekspos terhadap tren global, dan memiliki preferensi personal yang lebih kuat. Sehingga, konsep pernikahan yang lebih kecil semakin diminati, terutama seiring dengan meningkatnya kecenderungan pasangan untuk membiayai pernikahan mereka sendiri.

Selain perubahan nilai yang menjadi fondasi, pandemi COVID-19 juga menjadi penggerak utamanya. Pembatasan sosial yang terjadi pada 2020–2022 memaksa banyak pasangan untuk mengurangi jumlah tamu secara drastis.

Tren intimate wedding melonjak pada periode tersebut karena keterbatasan kapasitas acara1. Menariknya, ketika pembatasan mulai dilonggarkan, tidak semua pasangan kembali ke format pernikahan besar. Sebagian tetap memilih konsep kecil karena dianggap lebih efisien, tidak melelahkan, dan lebih bermakna secara personal.

Dengan kata lain, pandemi tidak hanya mengubah perilaku sementara, tetapi juga mempercepat pergeseran nilai yang memang sudah mulai terjadi.

Intimate, Tapi Tidak Selalu Sederhana

Di sinilah paradoks mulai muncul.

Awalnya, intimate wedding identik dengan kesederhanaan dan efisiensi biaya. Tetapi dalam praktiknya saat ini, konsep tersebut justru berkembang menjadi bentuk baru dari konsumsi yang lebih halus, tetapi tidak kalah intens.

Alih-alih mengundang banyak orang, banyak pasangan kini mengalokasikan anggaran untuk dekorasi yang lebih artistik seperti untuk venue eksklusif atau boutique space, pengalaman makan yang lebih curated, serta dokumentasi visual yang sinematik. Banyak vendor pernikahan yang kini menawarkan paket intimate wedding dengan pendekatan all-in yang tetap berada pada kisaran puluhan juta rupiah, tergantung konsep dan lokasi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kapitalisme dalam pesta pernikahan tidak hilang, namun hanya bergeser. Dari sebelumnya berbasis kuantitas (jumlah tamu) menjadi kualitas (pengalaman dan estetika).

Di sisi lain, masih ada pasangan yang melangkah lebih jauh, yakni kembali ke makna paling dasar dari pernikahan itu sendiri. Beberapa figur publik di Indonesia menunjukkan pendekatan ini, seperti Suhay Salim atau Danilla Riyadi yang dikenal memilih perayaan dengan lebih personal di Kantor Urusan Agama (KUA).

Pilihan ini mencerminkan bahwa bagi sebagian generasi muda, validasi sosial tidak lagi menjadi prioritas utama. Pernikahan tidak harus ditonton banyak orang untuk dianggap bermakna.

Keinginan untuk Mendobrak Tradisi yang Masih Kuat

Meski demikian, memilih intimate wedding di Indonesia bukan tanpa tantangan. Sebagai masyarakat dengan budaya kolektif yang kuat, keputusan untuk membatasi jumlah tamu sering kali berhadapan dengan ekspektasi keluarga besar dan norma sosial.

Dalam banyak kasus, pernikahan masih dipandang sebagai: ajang silaturahmi, representasi status sosial, bahkan “utang sosial” yang harus dibalas. Di sinilah generasi muda berada dalam posisi yang unik, yaitu di antara menghormati tradisi dan memperjuangkan preferensi personal.

Pada akhirnya, intimate wedding bukan sekadar tren gaya hidup. Ia adalah refleksi dari perubahan cara pandang terhadap makna pernikahan itu sendiri.

Namun seperti banyak hal lain dalam budaya modern, konsep ini pun tidak luput dari komodifikasi. Ketika pengalaman personal menjadi standar baru, tekanan sosial tidak benar-benar hilang, melainkan hanya berubah bentuk.

Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, tetapi tidak mudah dijawab:

apakah pernikahan yang kita pilih benar-benar mencerminkan makna yang kita yakini, atau sekadar mengikuti standar baru yang terlihat lebih “personal”?

Sumber:

  1. Bridestory – Wedding Trend Survey Report 2025
  2. Kompas – “Tren Intimate Wedding Sudah Bergeser di 2024, Kenapa?”
  3. Kompas – “Intimate Wedding: Tren pesta Pernikahan Dampak Pandemi Covid-19”

1 Ryan Sara Pratiwi, Glori K. Wadrianto,Intimate Wedding: Tren Pesta Pernikahan Dampak Pandemi Covid-19”, Kompas.com, 2022

Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto Sampul:
Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

“Fog Planet, Consumed”: Ritual Kosmik Deathgang di Tengah Kehancuran

Related Posts