Unit stoner doom asal Yogyakarta, Deathgang, kembali dengan single terbaru berjudul “Fog Planet, Consumed”. Single terbaru mereka bagai sebuah mars lambat yang menyesakkan di tengah kehancuran kosmik.
Terbentuk sebagai stoner pelebur batu setan dari skena musik underground, Deathgang menggali lebih dalam riff rendah, fuzz kotor, dan kabut tebal yang mengubur sekaligus melahap dunia yang sekarat.
“Fog Planet, Consumed” dipenuhi gambaran planet runtuh, imperium bintang yang melebur, dan ruang astral yang berubah menjadi makam. Lagu ini bergerak seperti prosesi kematian di kosmos-doom yang datang perlahan, menekan tanpa ampun, lalu meledak sebelum akhirnya menghabiskan segalanya tanpa jalan keluar.
Lagu ini berbicara tentang kehancuran yang disadari. Sebuah dunia yang tahu dirinya sedang dilumat, namun tak memiliki kuasa untuk melawan. Ia adalah entitas kosmik yang datang, disembah, dan menghabiskan segalanya secara sistematis.
“Fog Planet, Consumed” Dikemas dengan Artwork Ritual Kosmik dan Beracun
Artwork “Fog Planet, Consumed” menampilkan dunia asing yang terasa seperti mimpi buruk panjang. Bukan gambaran masa depan yang bersih atau modern, melainkan ruang kosmik yang berat, berkabut, dan menekan. Sosok makhluk raksasa di bagian tengah gambar memperkuat kesan bahwa manusia tidak lagi memiliki kendali, hanya kehancuran yang tersisa dan akan datang perlahan. Visual ini melumat gambaran dunia secara pelan-pelan dalam versi doom yang berat.
Secara visual, artwork pada single ini menampilkan sosok makhluk asing raksasa yang berada di tengah komposisi, seolah menjadi pusat dari seluruh dunia di sekitarnya. Tubuhnya yang gemuk, berat, dan penuh detail mekanik yang organik selaras dengan karakter musik stoner doom: lambat, menekan, dan penuh beban. Mata kosong dan mulut terbuka penuh gigi yang mengarah langsung ke bawah, seolah siap melahap planet kecil dan manusia yang tak berdaya. Sebuah karya yang sangat khas dari Nekrobonbon (Bonifasius Bagas Kodrat Wicaksoni), yang juga dikenal sebagai vokalisDeathgang.

Artwork ini seperti visualisasi dari sebuah ritual kosmik yang tidak instan. Sosok sentralnya bukan sekadar monster, melainkan entitas purba, dewa atau penguasa astral yang berdiri di tengah lingkaran pemanggilan. Lingkaran simbol di belakangnya memperkuat kesan bahwa makhluk ini dipanggil, atau sedang dimanifestasikan. Menandakan bahwa ada kehancuran bertahap, dan dunia yang ditelan oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari manusia.
Di sekelilingnya terdapat simbol-simbol seperti lingkaran portal, sementara latar belakangnya dipenuhi planet-planet, kabut, dan ruang angkasa gelap. Warna-warna yang digunakan cenderung pekat keunguan, merah gelap, hijau kusam, memberi kesan beracun dan menimbulkan kesan sama sekali tidak ramah. Kemudian di bagian bawah tampak sosok figur manusia kecil dengan pakaian astronot yang terlihat tak berdaya, seolah sedang jatuh atau terseret ke dalam kekacauan kosmik. Secara keseluruhan, artwok ini memberi kesan ancaman, kehancuran, dan dunia yang sudah tidak aman lagi bagi manusia.
Evolusi Formasi: Deathgang Bertemu Kadal
Di balik perjalanan perilisan single “Fog Planet, Consumed”, Deathgang bergerak dengan formasi yang berbeda dari sebelumnya. Formasi terbaru ini merupakan pertemuan dua entitas doom asal Yogyakarta: Deathgang dan Kadal. Dua personal Kadal yang berposisi di bass dan gitar, kini resmi menjadi bagian dari Deathgang. Mereka membawa karakter dari band sebelumnya, yang dikenal dengan slogan “DOOM CREATURES! Instrumental Stoner Desert Heavy Doom.”
Kadal bukanlah nama yang asing di lingkaran doom lokal. Sebagai band instrumental dengan pendekatan desert doom yang kental, Kadal dikenal mengedepankan repetisi berat dan tekanan lambat yang membangun atmosfer tanpa perlu vokal.

Masuknya dua pioner Kadal ke dalam Deathgang bukan sekadar penambahan personel, melainkan persilangan dua pendekatan doom yang berbeda: narasi vokal kosmik ala Deathgang bertemu dengan fondasi instrumental berat yang telah lama ditempa oleh Kadal. Hasilnya, musik yang bergerak lambar, sesekali meledak, dan terus menekan sepanjang menit, berhasil membuka ruang eksplorasi baru di “Fog Planet, Consumed”.
Penambahan personel dan formasi ini menandai fase baru dalam perjalanan Deathgang. Alih-alih merombak identitas, mereka justru memperdalamnya. Meleburkan dua kekuatan doom yang lahir dari skena yang sama. Di titik ini, Deathgang tidak sekadar merilis single baru, melainkan menunjukkan arah baru yang relevan untuk mempertebal bobot musiknya baik secara struktural maupun konseptual.
Melebur bersama Fog Planet, Consumed
“Fog Planet, Consumed” terasa seperti sebuah komposisi yang dibangun untuk menekan perlahan tiap menitnya. Dengan durasi mencapai 10 menit, lagu ini tidak terburu-buru menuju klimaksnya.
Alih-alih menggunakan struktur verse-chorus yang konvensional, lagu ini lebih terasa seperti perjalanan satu arah. Riff dan ritme tidak datang untuk menghibur, tapi menciptakan situasi kondisi mental yang berat, pekat, dan sedikit menyesakkan. Ini menandai perbedaan penting dari karya-karya Deathgang sebelumnya. Pendekatannya kini lebih atmosferik, lebih sabar, dan lebih berani membiarkan durasi menjadi bagian dari narasi.
Cobalah dengarkan single terbaru Deathgang ini dalam suasana tenang dan tanpa gangguan. Lagu ini menuntut perhatian penuh untuk benar-benar masuk ke dalam atmosfer kehancurannya. Perhatikan dengan seksama menit 07:13-08:02, bagian itu bukan sebagai selingan, melainkan menjadi titik poros naratif. Pada titik itu, lagu seakan berhenti menjadi musik dan berubah menjadi transmisi. Setelahnya, apapun yang yang terdengar hanyalah sisa-sisa seperti reruntuhan, sampai pada akhirnya benar-benar hancur dalam perjalanan dan Consumed itu terjadi!
Secara keseluruhan, kesan yang muncul setelah mendengarkan “Fog Planet, Consumed” ini adalah bahwa Deathgang sedang bergerak menjauh dari pendekatan langsung dan menuju eksplorasi yang lebih konseptual. Ini bukan lagu yang meminta pendengar untuk mengangguk atau berteriak, tapi untuk bertahan di dalam durasinya. Sebuah langkah yang menegaskan fase baru, fase yang lebih berat, namun bukan karena volumenya. Akan tetapi perjalanan menuju kehancuran.
Beware!
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: @nastydeathgang
