Menyaksikan RIKMA, Ruang Perempuan Bertutur dalam Tarian

Pengalaman menyaksikan MAD Laboratory: RIKMA (Ruang, Inisiatif, dan Karya Bersama) yang hadir sebagai ruang eksplorasi bertutur dalam tarian.

Berkisah atau menceritakan sesuatu kerap bisa kita simak dalam literatur tulisan baik berupa buku dan catatan lainnya. Dalam alternatif lainnya, sajian alur sebuah kisah ditunjukkan dalam bentuk visual seperti film ataupun teater. Kemudian bagaimana jika menuturkan kisah melalui sebuah pertunjukan yang menyajikan beragam kisah perempuan dalam bentuk rangkaian seni tari?

Seorang perempuan yang kerap dikenal dengan semangat hidupnya tak patah arang dalam passion menari, Mila Rosinta Totoatmojo, founder Mila Art Dance School dan seluruh timnya berhasil berkisah dalam tarian. Tepat satu bulan lalu pada Minggu, 13 Maret 2023 di Studio Banjarmili, Yogyakarta Mila Rosinta melalui MAD Laboratory menggelar RIKMA (Ruang, Inisiatif, dan Karya Bersama).

Berbasis pada laboratorium inilah membuat kita akan menerka sejenak. Apakah ini upaya mendobrak cara pandang sembrono? Seperti, perempuan kan lebih menggunakan perasaannya, bukan logika? Saya pikir bisa jadi, mengingat betapa melelahkannya stigma tersebut melekat, seolah perempuan tak mampu memberdayakan akal pikirannya sebagai anugerah dari Sang Pencipta dalam hidupnya.

Dari situlah, saya akan berbagi pandangan saya sebagai penonton setelah menyaksikan pertunjukan seni tari hasil proses Mad Laboratory: RIKMA ini dalam uraian berikut.

Tradisi Leluhur yang Tak Dilupakan dalam Pertunjukan Tari 

Sejak pembawa acara mulai mengajak seluruh penonton untuk menyimak pertunjukan RIKMA dengan sebaik-baiknya, kita sebagai penonton seolah dirangkul untuk masuk ke dalam energi yang sama. Energi yang sama ini maksudnya adalah bahwa rangkulan bukan berarti harus dengan sentuhan tangan di bahu kita, melainkan pentingnya mengomunikasikan ajakan dengan persuasif. Hal ini agar kita sebagai penonton menciptakan kondisi yang khusyuk dalam menyaksikan setiap sesi tarian serta obrolan pembawa acara.

Mengapa harus begitu?

Sebab setiap koreografer berhasil menciptakan sebuah kisah dalam setiap sajian pertunjukan tari mereka yang minim kata melainkan bahasa tubuh. Saya sedikit membayangkan (maaf sebelumnya) jika ada saudara kita yang mengalami bisu dan tuli sejak lahir pasti juga bisa lekas paham pula jika ada yang menyaksikan pertunjukan ini. Dalam sajian pertunjukan RIKMA, ada 5 koreografer yang juga membawa 5 hal yang menjadi garis besar yang tertangkap dalam ingatan yang diawali dalam tulisan ini dan subbab seterusnya. 

Pertunjukan Tari O’Tina oleh Melly Thalika (dok. @adith_thaariq)

Pertama ditampilkan oleh Mellyana Thalika Agustien dengan judul O’Tina yang terinspirasi dari tari tradisi Lulo di Sulawesi Tenggara. Dalam pertunjukannya, Melly mengajak penonton naik ke atas panggung dan melingkar di depan tali tambang yang disiapkan dalam bentuk lingkaran. Semua penonton yang ikut ke panggung turut serta menyaksikan lebih dekat, begitu pula saya. Saya merasakan energi tanpa sekat antara penari dan penonton.

Dalam tarian yang mengadopsi tradisi masyarakat adat, saya jadi teringat nenek saya seorang keturunan adat Dayak Benuaq yang menarikan ritual penyembuhan saya ketika sakit di masa kecil. Dalam masyarakat adat, kesenian dan kebudayaan itu sendiri tidak bisa lepas dari pola sosial yang terjalin hingga mereplika bentang alam yang tersedia di setiap tempat. Termasuk pola yang hadir dalam kain-kain, ada yang berbentuk lekukan seperti bunga dan masih banyak lagi. Pola sosial yang teraktualkan dalam tarian bukan berarti tanpa makna, melainkan penuh dengan arti yang tentu tafsirannya tidak bisa tunggal. 

Sebagaimana alam mengajarkan kita tentang keanekaragaman hayati, begitu pula keberagaman tradisi. Sajian penampilan tari yang pertama mengingatkan memori saya akan hubungan sosial dalam masyarakat adat dan tradisinya. Adapun yang perlu diingat bahwa seluruh tradisi ritual baik itu dalam bentuk pertunjukan apapun, bukan berarti itu kemunduran pola sosial dalam masyarakat melainkan ciri khas di setiap tempatnya. Ketika di panggung, kita juga bisa merasakan energi yang diperoleh dari ketukan musik dalam tarian yang cepat sebagai tanda semangat yang berkobar dalam memaksimalkan kemampuan menampilkan hasil rancangan seorang koreografer. 

Melly, dalam pertunjukan pertama ini menuangkan beberapa keresahan perihal beban yang dihadapi perempuan akibat sistem patriarkis yang masih ada di zaman ini. Memang benar, ketimpangan yang dirasakan perempuan akan menimbulkan ketidaknyamanan perempuan dalam menjalani hidup. Ketidaknyamanan ini ditunjukkan Melly dengan raut wajah yang murung dan tatapan mata yang tajam. Ekspresi semacam ini menjadi gambaran betapa beratnya hidup sebagai perempuan dalam belenggu patriarkis. Oleh karenanya, kesetaraan antar manusia sangat perlu diaktualkan di manapun dan kapanpun.

Menari sebagai Bentuk Kebebasan Ekspresi

Rumah yang selama ini dikenal dalam identitas adalah bentuk wujudnya secara material saja seperti di mana lokasi geografisnya ataupun bagaimana bentuk bangunannya. Padahal ada rumah dalam cara pandang lain yang kita butuhkan, salah satunya kondisi yang ada di dalam rumah tersebut. Seperti pada penampilan kedua oleh Fransisca Kumala yang menyajikan penampilan tari dengan judul The Birth of Lotus. Tarian ini kisah kondisi orang tua yang riuh mencengkramnya kondisi rumah. Alhasil, kondisi ini memengaruhi ke semua anak-anak mereka.

Kumala sebagai koreografer dan tim tarinya berperan sebagai anak-anak yang seolah sedang di posisi kehilangan kebebasan ekspresi itu sendiri. Kita sebagai penonton harus memperhatikan dengan baik karena tiap adegan dalam tarian tak mudah ditebak. Dari iringan musik terkesan ceria suasana masa kanak-kanak, tiba-tiba musik menjadi riuh menunjukkan suara pecahan piring tanda kondisi rumah yang rumit hingga eksplorasi adegan bertumbuhnya anak-anak yang sedang mencari jalan keluar.

Pertunjukan Tari The Birth of Lotus oleh Fransisca Kumala (dok. @adith_thaariq)

Pasalnya tidak bisa dipungkiri lagi, adanya relasi kuasa antara orang tua dan anak membuat anak-anak enggan menyampaikan keresahannya jika si orang tua tidak membuka pintu kesempatan membicarakannya. Nah, ketika pintu kesempatan itu tidak ada, maka anak-anak itu akan mencari tempat mengekspresikan keresahannya.

Di sinilah Kumala berhasil menyajikan cara terbaiknya dalam mengekspresi kisah ini, yaitu dengan menunjukkan hasil tarian yang mengadopsi kisah tersebut. Adapun yang menarik, pertunjukan kedua ini ditutup kembali dengan nuansa kanak-kanak yang menyiratkan kerinduan hidup tanpa beban. Sebuah kondisi yang dirindukan orang dewasa kebanyakan di tengah kondisi begitu bertambahnya beban kehidupan.

Keberhasilan para perempuan dalam menghadirkan kebebasan berekspresi yang hampir hilang inilah tanda keberhasilan MAD Laboratory dalam mengaktualkan inisiatif setiap lakon yang berperan. Di sini kita mulai menangkap bahwa setiap perempuan memiliki kisahnya masing-masing yang ketika dia bersedia membagikannya dengan cara apapun termasuk menarikannya.

Dalam sajian penampilan Kumala dan tim tari, membuat kita sebagai penonton dengan kondisi rumah normal, sudah seharusnya mulai sadar. Tidak setiap anak memiliki kondisi ataupun nasib yang sama. Perbedaan inilah justru yang perlu digarisbawahi, bahwasannya setiap kondisi rumah bisa menjadi inspirasi penggalian ide dalam berkarya. 

Jebakan Memandang Lekuk Tubuh Perempuan dalam Sajian Pertunjukan Tari

Pertunjukan Tari Pointe oleh Jennifer Natasha Christabel (dok. @adith_thaariq)

Menantang diri sendiri? Agaknya di zaman sekarang dalam mengejar ataupun mempertahankan zona nyaman hampir mustahil dilakukan. Akan tetapi tidak bagi penampil ketiga dengan nama Jennifer Natasha Christabel, ia berhasil meretas zona nyaman itu dengan menguji nyalinya sendiri dengan menampilkan tarian yang disukai sejak kecil yaitu balet yang diberi judul Pointe. 

Dalam penampilannya, kita sebagai penonton bisa hampir gagal membayangkan balet dalam opera budaya barat, sebab Jennifer justru menyajikan sebuah plot twist yang tak disangka. Adapun dalam pertunjukan yang ketiga ini, sebuah aksi melepas atribut balet dan menunjukkan sebuah proses latihan yang didukung cermin di latar panggung. Proses tersebut tidak menunjukkan mulusnya sebuah proses dalam menempuh itu semua, melainkan jatuh-bangun berlatih menari. Di sini kita bisa menyadari, betapa pentingnya menghargai seluruh proses yang membentuk kehidupan kita masing-masing. 

Dalam sub-judul kali ini, saya mengangkat betapa bahayanya kita jika hanya menangkap nilai lekuk tubuh yang disajikan. Sebab jika kita hanya menangkap demikian, maka perempuan seolah barang yang beresensi digunakan sebagai ‘apa’. Padahal yang dibutuhkan adalah eksistensi manusia berupa good value perihal proses bertumbuh-kembang dirinya sebagai manusia.

Penonton tak baik jika terjebak dalam objektifikasi tubuh perempuan dalam sajian pertunjukan kali ini. Oleh karenanya, agar kita tidak terjebak dalam cara pandang tersebut maka penting menilik proses itu sendiri. Sang koreografer sekaligus penari ini dalam menyajikan pelepasan atribut itu bukan semata-mata ingin menunjukkan lekuk tubuh, melainkan betapa berharganya sebuah proses yang ditempuh sejak kecil hingga kini ia berani menampilkan pertunjukan balet pertamanya. Hal ini memberi kesan dan pesan untuk kita bahwa proses yang berani kita tempuh, meski telah jatuh bangun dalam segala halang rintangannya, tetap yakinlah akan ada hasil yang indah dan berarti di suatu hari nanti.

Beban Ganda Kehidupan Seorang Perempuan dalam Tarian

Pertunjukan Tari Ganda oleh Valentina Ambarwati (dok. @adith_thaariq)

Ada kisah perempuan di masyarakat yang terus berupaya menyuarakan sejumlah hal tentang beban ganda yang mereka pikul selama ini. Dalam penampilan ke-4, koreografer Valentina Ambarwati menampilkan kisah dengan judul Ganda. Tarian ini mengajak kita menilik bagaimana perempuan buruh gendong terus bertahan hidup di tengah beban lain yang harus dihadapi. Padahal, jika kita sejenak mengingat perempuan adalah penjaga peradaban (secara biologis) yang diberi kemampuan untuk menghadirkan nyawa dan jiwa baru antar generasi menjadi landasan utama kita. Akan tetapi perempuan seolah bertaruh nasib, bertahan hidup, seperti menjadi buruh gendong di pasar-pasar dalam bertahan hidup di masa kini.

Perempuan tentu termasuk makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri. Dalam sajian pertunjukan, koreografer dan penari lainnya menghadirkan sosok laki-laki sebagai teman hidup. Ini sungguh mengisahkan nilai yang menarik. Pasalnya, sebagaimana hal yang disuarakan perempuan tertindas karena kaum perempuan lainnya mengalami beban berlipat ganda. Memang penting menunjukkan bagaimana kondisi antar perempuan dan laki-laki yang lebih suportif sehingga beban ganda yang perempuan alami perlahan terkikis dengan kesetaraan yang lebih harmonis.

Sesungguhnya semua makhluk hidup memiliki kepentingan yang sama yaitu survival atau bertahan hidup. Dalam bertahan hidup, jika kita terus dilimpahkan beban yang berlipat ganda maka resikonya adalah hilangnya harapan hidup. Oleh karenanya dalam penampilan ini, membuat indera mata dan indera telinga kita menangkap gambaran yang terekam dalam memori kita. Penting untuk terus mengadakan ruang ekspresi seperti pertunjukan RIKMA ini agar kita semua terus memproduksi pengetahuan dan pemahaman tentang nilai kehidupan yang berjuta makna di dunia ini.

Warna-warni Kehidupan Rumah Setiap Perempuan di Dunia

Pertunjukan Tari Rumah oleh Bening Krisnasari (dok. @adith_thaariq)

Penampilan yang terakhir adalah tari Rumah yang membuat penonton semakin tergugah mata batinnya. Tulisan ini mencoba menunjukkan tentang kondisi rumah yang diharapkan. Intinya, tidak ada manusia yang mengharapkan hal buruk menimpa dirinya. Dalam penampilan terakhir, koreografer Bening Krisnasari mengajak penonton untuk menuliskan diksi hingga satu kalimat yang merepresentasikan rumah dalam bayangan mereka.

Koreografer sekaligus penari ini lalu menerima sejumlah kertas dan membacakannya. Ada hal yang menarik pula dalam penampilan kali ini: alat penunjang pertunjukan dengan air berwarna-warni berhasil menarik indera mata kita menyimak dengan konsentrasi penuh. Warna yang beragam itu sendiri merupakan simbol dan tanda dari warisan pengetahuan klasik yang telah ada sebelum era modern hadir. Nah, tarian terakhir ini menunjukkan pengetahuan klasik yang lekat dengan simbol warna. Saya menafsirkan dengan sederhana, bahwa menjalani hidup ini begitu berwarna. Jika hanya satu warna saja, sungguh betapa membosankannya kita menjalani hari.

Berdasarkan hal itulah semua warna-warni kehidupan kita dalam rumah masing-masing menghadirkan beragam kisah yang bisa kita dapat dalam pertunjukan ini. Kemasan yang menarik diperkuat dengan lagu karya Yura Yunita berjudul Tutur Batin membuat kita terus berupaya menghadirkan rumah senyaman mungkin. Meski tafsir tentang rumah berbeda-beda, tetapi inilah kekayaan cara pandang di dunia yang perlu kita ketahui agar mampu menerima apapun yang dimaksud dengan rumah.

Secara keseluruhan, Bening berhasil membuat banyak penonton larut dalam pertunjukannya. Rasa haru dan uraian air mata hadir sebagai respon para penonton yang menyimak seluruh kisah dalam tarian Bening. Beberapa penonton yang merantau ke Yogyakarta, merasakan kerinduan perihal rumah ataupun kampung halaman yang menguat di benak penonton. Mau bagaimanapun, manusia sungguh mendamba rumah sebagai tempat pulang dan tempat ternyaman untuk menikmati jeda dari dunia yang rasanya kira tergesa-gesa di zaman ini.

Kesetiaan adalah Kunci dalam Berkarya

Pada bagian ini, saya mengutip sebuah kata dari salah satu guru tari Mila Rosinta yang hadir dari Kota Solo, Melati Suryodarmo. Ada pilihan diksi yang menarik menurut saya soal penggunaan diksi ‘kesetiaan’ alih-alih ‘konsisten’. Kesetiaan yang saya tafsirkan sederhana bahwa kesetiaan sendiri adalah panggilan jiwa seseorang dalam melakukan sesuatu meski berulang-kali, termasuk menari. Kegiatan berulang kali, jika kita terka dengan instan nampaknya akan sangat membosankan. Tetapi tidak bagi yang terpanggil jiwanya untuk terus hidup dalam passion dan apapun passion-nya.

Potret Melati Suryodarmo dan performer (dok. @adith_thaariq)

Mengapa begitu? Untuk manusia yang berupaya terus hidup dalam passion, ia seolah mengimani dan terus yakin yang dilakukannya adalah penting bahkan sangat penting. Dalam seni tari, yang tentu menjadi fokus acara kali ini, tak lupa pula didukung oleh banyak pihak termasuk tim produksi hingga dua perempuan yang menuliskan jurnal khusus dalam proses pertunjukan RIKMA.

Hal ini mengingatkan kita tentang kisah nusantara yang memiliki jejak rekam yang jelas baik yang tertulis, lisan, maupun dalam ingatan turun-temurun. Sejak leluhur kita hidup di bumi nusantara ini tarian adalah sebuah kebudayaan ungkapan syukur hingga warisan tak benda. Dengan berlandaskan hal ini, maka penting kita terus mendukung setiap orang yang memiliki passion menari. Perihal bagaimana bentuk tariannya, apakah dalam bentuk tradisi, modern, atau kontemporer sekalipun. Semua itu bagian dari kekayaan pengetahuan yang ada di abad ini.

Jika kita semua bersolidaritas mendukung produksi pengetahuan dalam pertahanan kebudayaan seni tari, maka ciri khas bangsa ini tidak akan hilang sampai akhir zaman.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Potret Mila Rosinta and Team (Dok. @faiijo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts