Obituari Untuk Kekasih

Teleponnya mati. Keduanya terputus. Satu di antaranya merasakan mati. Lelaki itu berjalan menyusuri malam yang susut kelabu.

Gema genta gereja berbunyi. Membelah buncah dingin kedangkalan kota tengah malam. Embun melengketkan debu. Langit membawa riwayat hari purnama. Gereja mulai ditutup. Penjaga itu merokok, sambil menambatkan rantai pada pagar yang sudah mulai berkarat. Temboknya pun juga mulai lapuk, walau bergaya Barok. Ia lekas mengeluarkan sepedanya, rumahnya tak jauh, hanya di remang gang di belakang gereja. Sangat baik untuk pekerjaan di masa rentanya.

“Sudah malam, nak. Baiknya kau pulang,” kata penjaga itu.

“Aku sedang menunggu seseorang.”

“Tuhan?”

“Akan lebih baik jika Ia juga hadir.”

“Ini, ambillah,” disodorkannya sigaret kretek.

“Tidak, terima kasih.”                                                     

“Akhir-akhir ini kulihat banyak orang pergi ke gereja,” sambil ia menarik jagang sepedanya. “Entah sekedar mengadukan masalah hidupnya, atau bahkan menyesalinya.”

“Itu bagus.”

“Kuharap itu juga terjadi padamu, nak,” katanya. “Sekarang aku harus pulang. Punggungku sakit belakangan ini. Mungkin salah tidur atau entah. Selamat malam, Tuhan memberkati, nak.”

“Tuhan memberkati juga.”

Pemuda itu masih duduk di kursi taman depan gereja. Malam makin lisut, dan rautnya makin murung. Matanya bagai saga. Ia menatap lurus kaku pohonan. Sambil menunggu telepon dari wanita yang amat dicintainya di luar kota. Ada yang harus dibicarakannya, juga diselesaikannya. Bak mendamba Juruselamat, telepon itu akhirnya bunyi.

“Agram?”

“Hai, Rilke. Apa kabarmu?”

“Sedikit membaik walau tidak akan pernah. Kamu?”

“Tak pernah merasa lebih baik selepas hujan 6 September.”

“Agram.”

“Ya?”

“Aku mohon. Kita sudah membicarakan hal ini berulang-ulang.”

“Aku mengerti.”

Mereka terdiam. Keheningan mereka cipta berdua. Padahal rindu sudah sedekat depa.

“Tuhan hanya mempertemukan kita, Agram. Tidak dengan menyatukannya.”

“Bila memang demikian artinya, aku ingin pertemuan itu abadi.”

“Tidak, Agram. Kamu sungguh tak mengerti. Kita berbeda. Orang tuaku tak pernah menyukaimu. Kamu tahu itu.”

“Bagiku keyakinan adalah kehampaan masing-masing,” kata Agram.

“Agram, tolonglah. Mereka tak pernah setuju. Dengar, ada yang ingin kukatakan.”

“Katakanlah,” kata Agram sambil berdiri, bersandar di lampu taman. “Jangan sangsi.”

“Berat untuk mengatakan ini kepadamu.”

“Lalu?”

“Kita sudah berpisah lima bulan. Aku telah bertunangan. Ia adalah orang yang baik. Dan kami akan menikah di Januari.”

“Selamat.”

“Agram, aku sungguh meminta maaf. Aku berlaku demikian, lantaran sejak lima bulan yang lalu, tak terdengar kabar darimu. Aku tak mengerti di mana keberadaanmu. Maafkan aku yang memang keji. Tapi aku tak tega memberitahukanmu. Nanti kau hancur sendiri.”

“Biar hancur, hancurlah aku sendiri.”

“Agram, aku tahu delapan tahun bukanlah hal yang mudah untuk mengubur semua ini. Mengertilah, menepilah.”

“Tak perlu meminta maaf. Aku berterima kasih atas semuanya. Atas cinta kita yang melawan ombak, di deru dan gemuruhnya. Atas angan yang lekat di langit. Atas kau yang kini di daratan seberang daratan. Atas kau yang kini tak tercapai. Dan atas kita yang kini dibalut tilam sunyi.”

“Aku sedih,” kata Rilke sambil menangis.

“Kau adalah wanita yang baik. Jadilah kelak ibu yang baik. Kau akan menyayangi lakimu, anakmu, keluargamu. Kau akan berbahagia siang dan malam. Kau akan menghabiskan masamu di pembaringan yang hangat, dengan kain rajut yang kau bikin. Dan pada akhirnya menua dan menyerah dengan sentosa.”

“Hentikan.”

“Aku meminta maaf atas cintaku padamu. Hidupku adalah angin. Hidupku tak pasti. Hidupku singkat seperti malam. Dan perempuan sepertimu, tidak pantas jika merelakan hidupmu hanya untuk merawat angin. Merawat angin musti merelakannya,” katanya sambil badannya terhuyung di remang lampu taman.

“Aku selalu mencintaimu. Apapun yang terjadi.”

“Kau harus bahagia. Dan harus tetap bahagia.”

“Kamu harus bahagia, Agram.”

“Masing-masing dari kita telah memilih jalan.”

“Tidak. Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku,” kata Rilke, nafasnya nyengal setengah.

“Tidak akan. Baik-baiklah Rilke. Aku mencintaimu. Tuhan tahu itu.”

“Agram!” teriak Rilke keras.

Teleponnya mati. Keduanya terputus. Satu di antaranya merasakan mati. Lelaki itu berjalan menyusuri malam yang susut kelabu. Ia menyatu, menjadi satu dengan sudut malam kota. Ditemani kerikil yang menggigil. Ia meninggalkan gereja.

“Rumah Tuhan sudah ditutup ya,” katanya sendiri.

Hanya kelengangan yang tiba. Sekali-sekali sirine ambulans membunyi pekik, dibuatnya mendamprat keheningan kota. Dan tetap ia pacu kencang laju meradang, segegas diri membelah buncah malam. Meski jalanan masih menggenang kubangan air selepas hujan. Ia berteriak keras-keras, selagi ia tersadar bahwa lampu-lampu kota tak lagi berjaga.  

Ia berantakan. Matanya merah. Serupa domba di penghabisan jagal. Kehidupan benar-benar mengalahkannya. Kini ia berjalan, badannya kalah, kadang terkoyak trotoar jalanan. Sampailah ia di jembatan penghubung antar kota, penghubung kehidupan matinya. Di sinilah kutub hidupnya. Ia memandang ke bawah jembatan, memandang deras sungai yang menggerus batu-batu kali. Ia hampa. Dan kini ia menengadah ke langit.

“Ya Bapa! Ampunilah dosa-dosaku yang berkarat! Ampunilah bebalku yang kepada-Mu aku berkhianat!”

 Maka dilemparnya buku puisi yang sudah usang. Kemudian melempar arloji dan juga teleponnya.

“Eli! Eli! Lama sabakhtani!”

Sampailah ia. Tangannya dirasai dingin jelma beku. Udara juga bertuba. Menunggu ajal mengkhianati kemalangannya.

“Perjalanan gerimis sudah selesai.”

Maka terjunlah ia menerjang batu kali. Tubuhnya pecah, ditemukan besok sore. Darahnya mengandung doa. Sungguh tahun yang jahat baginya. Sudah ia temukan caranya mati. Ia mati muda dan kalah. Ia abadi dalam cintanya. Ia menjadi tuhan atas pilihan matinya. Atas kehampaannya.

Dan jika untung malang menghamparkan
aku dalam kuburan dangkal.
Ingatlah sebisamu segala yang baik
Dan cintaku yang kekal.

penggalan puisi Huesca karya John Cornford (terjemahan Chairil Anwar)

Berbahagialah mereka yang mati muda.


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Gita Dananjaya

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts