Paket | Cerita Pendek Kristophorus Divinanto

Kurir mengetuk pintu rumah tepat di tengah hari. Tiga kardus yang dibawanya kuminta untuk diletakkan di meja ruang tamu. Setelah menerima tip, ia langsung beranjak dan kembali ke mobil angkutannya yang terparkir tidak jauh dari pagar rumahku. Dapat kulihat ketergesa-gesaan dari sorot matanya. 

Barangkali insting kurir telah melarangnya untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan basa-basi, seperti menanyakan isi paket atau menanyakan bau busuk yang berasal dari paketku. Sebuah keputusan yang bijaksana ketika kurir tidak bertanya  macam-macam, sekalipun hanya untuk basa-basi. Suatu hari, kurir itu akan menyadari bahwa kebiasaan basa-basi bisa mendekatkan dirinya pada maut.

Kuambil silet dari meja kerja dan mengerat lakban pada permukaan kardus. Kukerat ketiga permukaan kardus hingga dapat kulihat jelas isinya. Bau busuk mengalahkan wewangian kering yang kuletakkan pada setiap sudut rumah. Namun, aku tidak peduli dan terus mengamati isi paket yang baru saja aku terima. Tubuh istriku telah terpotong menjadi tiga bagian, ke dalam tiga kardus yang berbeda.

Kardus pertama berisi potongan tubuh istriku pada bagian atas, dimulai dari kepala hingga bagian pundak atau lebih tepatnya bagian tulang selangka dan tulang belikat. Otak, lidah, dua bola mata, dan organ-organ pernapasan pun telah dipisahkan dengan rapi dalam satu plastik tersendiri. Kardus kedua berisi potongan tubuh bagian payudara hingga pinggul. Ginjal, usus halus, usus besar, pankreas, hati, dan rektum, telah dipisah dalam bungkusan plastik tersendiri seperti halnya pada kardus pertama. Kardus ketiga berisi potongan kaki dan tangan. Dapat kulihat cincin pernikahan kami masih terpasang di jarinya. Kuambil cincin itu dengan selembar selampai. Aku masih bisa menjualnya dengan harga tinggi mengingat cincin ini adalah emas tua dan surat pembeliannya masih kusimpan dengan baik.

Kuambil gawai dari saku celanaku dan kupotret tubuh istriku yang telah tersebar dalam tiga bagian pada masing-masing kardus. Setelah kupastikan bahwa tidak ada gambar yang buram, terlalu gelap, atau terlalu terang, kukirimkan ketiga potret itu ke tiga kontak yang berbeda. 

Pak Anwar, Pak Burhan, dan Pak Gunarso. 

Nah, mari kita lihat, sayang. Bagaimana ekspresi ketiga kekasih gelapmu ini, ketika mengetahui bahwa bukan hanya cintamu yang terbagi tiga, melainkan tubuhmu yang juga terbagi menjadi tiga? 

Masing-masing dari mereka tinggal memilih bagian tubuh yang ingin dimiliki. Habis mau bagaimana lagi? Tubuhmu hanya satu dan hanya ini satu-satunya cara agar semua kekasih gelapmu kebagian. Bukankah ketiga kekasih gelapmu ini semuanya ingin memiliki tubuhmu?

Seharusnya ketiga kekasih gelapmu berterima kasih kepadaku, sayang. Aku telah meminta pembunuh bayaran langgananku untuk membagi tubuhmu menjadi tiga bagian sama rata. Meski aku yakin tiga kekasih gelapmu telah merasakan seluruh jengkal tubuhmu, tapi kali ini mereka harus belajar untuk berbagi. Sama seperti aku yang harus belajar menerima bahwa cintamu telah terbagikan.

Kutoarjo, 08 April 2021

 

Penyelaras Aksara: Agustinus Rangga Respati
Ilustrasi: Dark Connection – The Kribs (@the.kribs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts
Read More

Sipele Begu

Air dan sampan menari-nari mengikuti arahan dayung yang digenggam Sari. Gelombang danau Toba turut mengombang-ambingkan jiwa Sari yang…