Nomor Lima

Nomor lima
Ilustrasi: Reymond Ujan

Aku sudah lama tidak melihatnya, perempuan berambut ikal yang selalu menggendong tas kuning dan memakai sepatu merah. Ini sudah hampir memasuki bulan ketiga sejak kali terakhir aku melihatnya.

Aku masih ingat ketika pertama melihatnya. Ia tampak bingung dan sedikit ragu. Tersirat jelas dari padangan matanya yang mengedar. Aku ingat bagaimana ia menyusuri seluruh tubuhku dengan tatapannya. Waktu itu dipilihnya kursi di pojok kanan belakang yang kemudian menjadi kursi favoritnya.

“Bandara.” Ucapnya ketika ditanya hendak turun dimana.

Esoknya, aku melihat perempuan itu lagi. Raut bingungnya masih ada, namun tidak sejelas sebelumnya. Ia melempar senyum tipis kepada Banu, sahabatku. Ia melihatku sekilas, tidak seperti kemarin.

Di hari ketiga, berturut-turut aku melihatnya. Aku menduga ia mempunyai jadwal dan tujuan yang tetap. Sebelum pukul enam lewat lima menit, ia pasti sudah berada di halte. Banu pun sudah mulai mengingatnya.

“Bandara?” Tanya Banu kepadanya.

Ia mengangguk sambil tersenyum.

Ternyata dugaanku salah. Pada hari keempat, aku tidak melihatnya. Entah mengapa aku merasa aneh. Padahal, di sini ramai dan penuh hingga beberapa orang harus berdiri, tapi serasa ada yang hilang. Seperti ini terus hingga tiga hari berikutnya.

Senin pagi yang mendung menghadirkannya kembali. Langit yang mendung tidak menutupi senyumnya yang cerah. Kepada Banu.

“Mbak Gisa?”

Pada hari ini, akhirnya aku mengetahui namanya. Gisa. Perempuan berambut ikal yang selalu menggendong tas kuning dan memakai sepatu merah itu bernama Gisa.

“Eh, Lintang! Kok baru ketemu ini?”

“Iya, Mbak, kesiangan. Biasanya naik nomor empat.”

Aku sudah lama tidak melihatnya, perempuan berambut ikal yang selalu menggendong tas kuning dan memakai sepatu merah. Ya, Gisa. Ini sudah hampir memasuki bulan ketiga sejak kali terakhir aku melihatnya.

Aku juga sudah lama tidak melihat banyak orang. Sebelum tiga bulan lalu, aku selalu merasa penuh, sesak, panas, dan kadang keberatan. Apalagi ketika pagi hari sebelum jam tujuh, tengah hari setelah jam dua belas, dan menjelang jam enam sore.

Dulu, aku sering mengeluh. Banu adalah yang paling sering memarahiku ketika aku banyak mengeluh. Sekarang aku rindu rasa itu. Rasa penuh, sesak, panas, dan kadang keberatan.

Sesungguhnya aku senang. Aku bangga pada diriku yang bisa menahan semua itu selama bertahun-tahun setiap hari. Aku bangga, aku bisa mengantar banyak orang ke tujuan yang dikehendakinya. Aku senang mendengar cerita-cerita mereka. Tentang sekolahnya, tentang pekerjaannya, tentang dagangannya di pasar.

Sekarang aku hanya melihat satu dua orang. Saling menjaga jarak. Saling menutup mulut. Saling diam. Hampir tidak pernah lagi terdengar cerita satu sama lainnya. Rasanya sunyi dan hampa.

Aku rindu. Aku rindu orang-orang. Aku rindu keramaian. Aku rindu cerita sehari-hari kehidupan umat manusia yang penuh perjuangan membanggakan. Aku rindu Gisa. Gisa yang selalu menemaniku dan Banu di pagi hari selama tiga tahun, namun tidak pernah kulihat lagi sejak kurang lebih tiga bulan lalu. Aku rindu pada keadaan yang tampak baik-baik saja dan menyenangkan.

Aku si Nomor Lima, angkutan umum dalam kota.

Aku rindu.

 

 

Editor: Endy Langobelen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts
Read More

Solipism

Maksudku, percaya atau tidak percaya hanyalah sekian dari sekian yang lebih banyak pilihan hidup yang mesti dipilih. Misalnya,…