“… kau katakan padaku pesan terakhir: bawakan keindahan dan kemudaan selalu.” — Toeti Heraty lewat puisi “Suatu Departemen” (1973).
Di suatu sore itu, pada sebuah sudut Pasar Beringharjo, Yogyakarta, empat sampai lima seniman muda duduk-duduk santai, lesehan begitu saja. Pasar yang sibuk sejak pagi hari memang sudah lowong—selasar kosong, lapang parkir kendaraan melompong, dan para pedagang sudah terlanjur pulang.
Walaupun, pada pagi atau tengah hari sekalipun, lantai ketiga dari blok Timur Pasar Beringharjo satu ini memang sepi—seolah mati enggan, hidup tak mau. Blok Timur yang sepi ini dulunya sempat ramai karena penjualan alat elektronik bekas, buku-buku bekas, dan kini hanya dipenuhi tumpukan benda terbengkalai dan teronggok tiap-tiap sudutnya.
Tepat pada sudut Beringharjo itulah, para seniman muda yang duduk-duduk santai menghelat pameran seni secara berkelompok. Mereka adalah Kelompok Ceting. Usianya berkisar awal 20-an tahun, rata-rata masih berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Berbeda sekali dengan teman-teman di kampusnya, mereka justru menginisiasi pameran seni di sudut terbengkalai Pasar Beringharjo.
Pameran berjudul “Negosiasi” dilakukan dari tanggal 31 Oktober sampai 6 November 2026 di Bangunan Timur lantai 3 Pasar Beringharjo. Dari kejauhan, sebuah partisi putih, kain putih melintang, tumpukan kardus, dan karya-karya seni di antaranya.
Dari luar arena pameran, panel putih tampak mencolok dengan sebuah kerangka manusia berwarna kuning emas, dan mohawk, menyandar di sisi pojokannya. Tulisan panjang dicoretkan di salah satu pilar dekat jalan masuk.
Di atas kerangka mohawk, beberapa karya 2 dimensi digantung di muka panel. Adalah Januar Azmi. Agaknya seluruh karya Januar berangkat dari berbagai temuan di kesehariannya: papan larangan, anime Naruto, drum minyak, meme Hitler (atau Soeharto), kartun Spongebob dan figur wayang semar, rajah dari aksara arab, atau juga karya seniman lain macam Eko Nugroho atau Yunizar. Januar memplesetkan berbagai temuannya melalui painting, printing dan sablon. Gestur peyoratif dalam karya-karya ini merupakan sejenis komedi satir yang mungkin garing, atau bahkan lebih jauh, meleset.
Namun betapapun demikian, pada dirinya, ia adalah sebentuk kritik atas sesuatu: pada nilai-nilai yang agaknya perlu untuk mulai dicurigai, posisi-posisi yang telah mapan, atau petuah-petuah yang telah kering.

Sepanjang paruh akhir 2026 ini, apalagi semenjak program Makan Bergizi Gratis (MBG), harga bahan pangan naik. Beberapa diantaranya adalah harga cabe, daging-dagingan, hingga beras, dan hal itu direkam dalam teks-visual soal keluhan, gestur, dan figur para pedagang di Beringharjo—tertempel sebagai drawing pada jaring yang dibentang, jaring oranye bekas karung cabe, kentang atau bawang, bertaut dengan kardus yang terisi penceritaan visual soal keseharian warga pasar. Karya ini adalah karya Kukuh Arya, merekam kuat imaji visual soal pasar dan bagaimana siasat dan resiliensi warga hidup dari hari ke hari di dalamnya.
Masalahnya, struktur politik sehari-hari yang membentuk lanskap sosial sekitar kita lahir oleh sejarah yang panjang. Cabe yang harganya naik itu butuh lahan untuk tumbuh, dan di Yogyakarta membicarakan lahan adalah membicarakan sejarah kekuasaan feodal. Lahan, tanah, dan sang pemiliknya, seringkali jadi alasan politik mengapa kedudukan seorang lebih tinggi dari yang lainnya.
Perkara kedudukan, tentang siapa yang dianggap penting dan tidak penting, tentang siapa yang diingat dan dilupakan, nampak disinggung secara visual oleh Afrizal Bilal. Endapan feodalisme akut ini membuat gerak tubuh kita sering disusupi gerak kuasa feodal—gestur kepatuhan yang didorong lewat norma, budaya lokal, atau klaim-klaim soal tradisi.
Jika sebuah “kereta kencana” lewat tepat di depanmu, sementara tetanggamu tak bisa mendapatkan hak hidup yang layak, apa yang tersisa untuk dilakukan? Pada sosok manakah, wajah dan tubuh masyarakat yang disusupi feodalisme akut ini, akan berpaling?

Sejarah membawa kita memahami bagaimana penguasa dan kiat-kiatnya menyusupi ruang hidup orang-orang biasa. Lalu, segera kita tahu, bahwa fragmen terburuk dalam sejarah terjadi ketika penguasa menggerakkan mesin politiknya untuk membasmi nyawa warga.
Tepat pada titik itu, kita langsung bisa melihat jelas sebuah bangunan dari jarak pandang lantai tiga Pasar Beringharjo—dari jarak yang hanya sepelemparan kerikil. Bangunan itu bernama Societet Militaire dan Benteng Vredeburg, ia menjadi ruang bagi penahanan para tahanan politik komunis, atau tertuduh simpatisan partai komunis, tepat pada momen setelah 1 Oktober 1965.
Karya Ahrul Loesmanna sedang menghadirkan ulang fragmen yang hilang dalam rangkaian pembantaian massal 1965-1969, terutama soal wajah dari sosok-sosok yang menjadi korban pelanggaran HAM. Nama dan sosok korban kekerasan politik itu tercatat dalam arsip negara dan militer sebagai “daftar nama” semata.
Namun dalam karya ini mereka adalah wajah—baik secara literal atau metaforis, wajah sosok-sosok yang perlu dicari entah di mana, wajah yang bertumpuk dalam kotak-kotak arsip negara, wajah dalam endapan ingatan bersama yang perlahan ditelan pelupaan massal.

Pameran ini punya ragam bentuk karya seni—dari stencil, printmaking, drawing, dan lainnya—dalam pemilihan material karya yang juga responsif pada situs Beringharjo. Ragam praktik yang fleksibel semacam itu betul-betul mengandalkan kepekaan dan sensibilitas, terlebih untuk memilih material, merangkai, dan memasangnya, dalam dudukan keruangan yang jauh berbeda dari ruang pameran konvensional.
Pameran ini saya alami dan rasakan sebagai exercise, sebagai “latihan kolektif”, yang didorong Kelompok Ceting sendiri untuk meluaskan jangkauan dan kepekaan dalam praktik seninya.
Sebagaimana bisa diketahui, bahwa selama beberapa tahun ini (2023-2026), Kelompok Ceting lebih banyak menajamkan dimensi praktik seni melalui lokakarya, aktivitas relasional, dan sesi-sesi menongkrong sambil bebikinan.
Tercatat dalam catatan pameran ini, posisi yang sedang dilatih bersama dalam Kelompok Ceting: “Melalui pameran ini, Ceting tidak sedang berupaya sepenuhnya masuk ataupun tetap berada di luar ekosistem seni rupa (…). Pameran ini membuka ruang bagi Ceting untuk merumuskan kembali posisinya: bersedia berhadapan, berdialog, dan bergerak bersama kemungkinan-kemungkinan baru.”
Sebagai exercise, pameran ini mengisi sebuah lanskap generasi baru di Yogyakarta, sebuah generasi yang tumbuh kesadarannya dalam era moda gerakan rimpang: yang praktiknya tumbuh sebagai uji coba dan akal-akalan, yang ruang berkaryanya diikat erat dalam ruang bermain dan berkawan, yang ingin mengejar suatu capaian artistik sembari tidak ingin terlalu disedot sirkuit berlaju turbo ala medan seni rupa Yogyakarta.
Sebagai exercise bersama, Ceting terasa menggarisbawahi pentingnya kolektivisme sebagai cara kerja, sebagai upaya bersama untuk mewujudkan hal-hal ideal yang dibayangkan bersama—meski apa yang ideal dan tidak hanyalah soal proses untuk menavigasi diri dalam sirkuit kesenian, untuk menggugat hal-hal dalamnya, untuk berselancar dalam ombak, atau sekedar merangkak dalam gorong-gorong.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto Sampul: dok. Amos Ursia
