“Fuck toxic masculinity, fuck genocide,
dan jangan lupa hargai hak hidup orang lain”
Itulah yang dilontarkan vokalis Enjoy Drink disela-sela penampilannya di Chili Stage, Cherrypop 2026. Performa band asal Kulon Progo malam itu membuatku menjadi lebih peduli dan mengerti, bahwa tak menjadi masalah jika laki-laki menunjukkan ekspresi kesedihan. Dengan mengeluh, bercerita, dan mungkin menangis.
Ini adalah catatan bagaimana lagu-lagu Enjoy Drink yang dibawakan pada 22 Agustus lalu, mampu mendobrak tembok maskulinitas yang selama ini menghantui laki-laki.
Sore itu, mungkin sekitar pukul 16.00 WIB, matahari masih cukup terik ketika kakiku pertama melangkah masuk ke area Cherrypop 2026. Meski sore itu panasnya masih cukup terik, anehnya tak membuat semangatku kendor untuk menikmati festival tahunan ini.
Dentum sound dari Cherry Stage, riuh sorak dan tawa dari penonton, menyambut. Bermacam suara bercampur dengan udara hangat dan debu yang berterbangan membuat semua indra dipaksa untuk bangun.
Sebelum matahari terbenam, aku bersama teman-teman menghabiskan waktu untuk berkeliling. Mengunjungi dari sudut ke sudut area lapangan Candi Prambanan. Hampir semua stage yang berdiri di sana sudah kami kunjungi, namun ada satu stage yang belum kami hampiri. Itu adalah Chili Stage.

Kesempatan memasuki datang ketika band asal Wates, Kulon Progo unjuk gigi perdana di Cherrypop. Mereka adalah Enjoy Drink. Kurang lebih sekitar pukul 21.00 kurang, aku masuk ke Chili Stage. Di dalam sudah banyak teman-teman lain yang juga dari Kulon Progo.
Satu persatu dari mereka aku salami dan bertegur sapa. “Loh nonton juga mas?” ujarku ketika menyapa salah satunya. “Iyalah, wong Kulon Progo wajib nonton Enjoy Drink”. Semua orang yang datang di barisan depan memang sering aku temui ketika nongkrong di Wates. Memang sudah lama tidak ada band asal Kulon Progo yang bermain di festival, dan mungkin ini bentuk kerinduan dan support langsung dari cah-cah.
Aku menunggu Enjoy Drink naik panggung sambil mengobrol dan bercanda. Lambat laun ketika menolehkan kepala ke belakang, ratusan orang sudah memadati Chili Stage. “Rame cok ternyata,” ucapku kepada teman di sebelah.
Sepuluh menit kemudian, para personil Enjoy Drink naik ke atas panggung disambut riuh penonton yang datang malam itu. “Love of My Life” milik Queen diputar sebagai pembuka, diikuti sing along hampir semua orang yang ada di dalam Chili Stage.

Lagu pertama, andalan mereka, “Rachel” dimainkan. Aku menoleh ke belakang, karena kebetulan berdiri di barisan depan, puluhan gawai diangkat untuk mengabadikan salah satu lagu fenomenal ini. Di lagu yang dirilis sebagai single ini, ada spoken word tentang trauma dan sakit hati. Spoken word dinyanyikan oleh Yansoy.
Aku masih ingat hari dimana kau berkata akan pergi
Kau ludahi diriku seperti kau ludahi “pendahuluku”
Ternyata kau diciptakan dihatiku bukan di hidupku
Lihatlah, lihatlah aku hancur secara perlahan
Kala bagian itu dinyanyikan, sebagian penonton dengan seksama merebut mic yang dipegang dan meneriakkan bait demi baitnya secara emosional. Bahkan sesekali penonton melakukan crowd surf sambil melontarkan liriknya.
“Rachel” menjadi semacam pemanasan untuk penonton dan Enjoy Drink untuk lagu-lagu setelahnya. Lagu demi lagu terlalui, aku kemudian berujar kepada temanku: “Lagunya soal cinta dan kehilangan semua ya,”. “Hooh, tapi menarik karena mereka tetap moshing dan crowd surf walaupun isinya sedih-sedih”.

Tibalah lagu terakhir–kalau tidak salah ingat–berjudul “Teenage Blue”. “Teenage Blue” menjadi salah satu rilisan terbaru dari Enjoy Drink yang dirilis 27 April lalu. Bagi sebagian orang dan penulis liriknya, lagu ini paling emosional daripada karya-karya lain.
Benar saja, ketika lagu ini dinyanyikan, temanku mencolek dan berkata: “di depan ada yang menangis”. Salah seorang penonton menunduk di depan sambil tangannya berpangku sound di atas panggung dan menitihkan air mata. Sesekali, dia bernyayi sambil mengusap pipi yang basah.
Why are you still holding on to me?
you’ll find better fish out in the sea
we’re just too far too complicated
please face it we’ll never be
Pada bagian lirik di atas, aku melihat beberapa penonton juga menyanyikannya dengan penuh emosional. Mungkin, kisah yang tertulis di dalam lagu itu, terlampau sedih dan mungkin juga dirasakan setiap orang yang menyanyikan.

Setelah penampilan Enjoy Drink selesai, aku keluar dari Chilli Stage sambil berpikir bahwa memang laki-laki sering merasa kuat, walaupun sedih, karena takut dicemooh ketika menunjukkan ekspresinya.
Ucapan-ucapan seperti: “laki-laki kok nangis” atau “laki-laki itu tidak boleh sedih” menjadi runtuh dalam penampilan Enjoy Drink malam itu. Sebab, laki-laki juga manusia yang berhak untuk menangis, mengeluh, dan meluapkan kesedihannya.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto Sampul: dok. @rawstage_

Tinggalkan Balasan