Seniman Bernama “Nadin Amizah”


Melacak puing-puing kemanusiaan dan sisi lain Nadin Amizah di tengah belantika yang penuh dengan myth-making.


Yang tidak masuk ke dalam rilisan pers ‘Laika, Yang Ditinggalkan’. Barangkali, yang lebih menarik.

“You need a break, Mbak?” tanya saya.

Di depan saya, layar memampang sebuah wajah familiar: Nadin Amizah, perempuan dengan pendengar paling banyak di salah satu gerai digital saat ini. Dia sesenggukan, membicarakan father-issue miliknya—hal yang beberapa kali ia sampaikan secara publik.

“Aman, Mas. Udah dan harus biasa cerita ini,” balasnya sambil menata napas.

Melihatnya demikian, saya rada kikuk. Namun interviu harus tetap berjalan. Apalagi sebelumnya saya sudah bilang kepadanya, “Solo-an itu kan melagukan kisah hidupmu sendiri.” Ya masa saya mau mundur?

Never.


Sebuah pengakuan: saya jarang mendengarkan Nadin Amizah, bahkan setelah menulis ini semua.

Namanya memang sering saya dengar. Cuitan-cuitannya juga kerap menghiasi linimasa saya. Namun secara musik, saya cuma ingat lagu “Bertaut” dan liriknya yang cadas itu, “Bun, hidup berjalan seperti bajingan.” Kalimat barbar yang telak benar.

Kala mendengarkannya tahun 2020, saya langsung berpikir, “Nih orang hidupnya gimana sih?” sebelum menemukan fakta bahwa penulisnya—saat itu—masih berusia 20 tahun. (Baru ngeh kalau dialah rekan duet Sal Priadi di “Amin Paling Serius”).

“Wow, this Nadin-girl must be crazy.”

Tiga tahun setelahnya, saya baru mendengar kabarnya lagi. Kali ini ia merilis sebuah single. Judulnya provokatif: “Rayuan Perempuan Gila”. Sedari awal, akustik-jazzy yang mengingatkan saya pada musik Indonesia 50-an itu begitu memikat saya. Sampai kemudian, suaranya masuk dan membisikkan tanya ini: “Menurutmu, berapa lama lagi kau kan mencintaiku?”

Saya terdiam. Bergumam, “Okay, where will you go?” sebelum melanjutkan sesi dengar itu dengan menyimak lirik-liriknya. Nadin seakan memuntahkan apa saja yang ada di kepalanya. Tentang menjadi perempuan dengan dunia berikut segala keriuhannya sendiri—sesuatu yang jelas mustahil saya pahami. “Tak pernah ada yang lama menungguku sejak dulu. Yang terjadi sebelumnya, semua orang takut padaku.” Semua itu ia rangkum dalam sebuah chorus sebrengsek ini:

“Memang tidak mudah mencintai diri ini
Namun, aku berjanji akan mereda seperti semestinya.”

“Sialan! Ini mah anthem cegil (cewek gila) se-antariksa,” batin saya.

Hidup punya caranya sendiri. Menggenapi trilogi triwarsa tadi, jalan kami bersilang tahun ini. Mbak-mbak ini meminta saya menuliskan rilisan pers album ketiganya, Laika, Yang Ditinggalkan. Untuk keperluan ini, saya menyita waktunya. Buat berbincang. Panjang-panjang.

Cuplikan press release Laika, Yang Ditinggalkan (dok. Randy Levin Virgiawan)

Saya cuma menyiapkan 7 pertanyaan untuknya. Sisanya, saya mencatat apa saja yang dia sampaikan. Bagi saya ini cukup refreshing; sudah lama saya tak mengorek-orek isi kepala musisi, apalagi dengan clout sebesar dirinya.

“Fix, ncen wong gendeng iki,” batin saya.

Hal pertama dan utama yang saya lakukan sebelum interviu adalah mendengarkan diskografi sang begawan. Seluruhnya, dari “Rumpang” sampai album Untuk Dunia, Cinta, & Kotornya. Tentu termasuk dengar-dulu album ketiganya, Laika, Yang Ditinggalkan (yang rilis 28 Agustus 2026). Ini penting untuk mengetahui visi artistik sang seniman, bahkan sebelum duduk berhadapan dengannya.

“Hi, Mas. Aku Nadin. Makasih banget udah mau kurepotin.”

“Halo, Mbak Nadin. Aku Kempel dan lu anjing! Asli.”

Kata “anjing” banyak terucap dari mulut saya karena beberapa hal: kiprah keseniannya, stance-stance-nya, hingga kelantangannya menyuarakan isu-isu di linimasa. Termasuk, pendapat saya bahwa “Rayuan Perempuan Gila” adalah salah satu lagu terbaik yang pernah dirilis di Indonesia. Well, tentu saja kami membicarakan lagu viral notok jedog itu.

“Aku tuh gak terima, Mas, kalo ‘Rayuan Perempuan Gila’ dibilang lagu pop,” tuturnya tegas, “Itu lagu gak pop sama sekali!”

Saya melihat ada ego seniman di situ—sesuatu yang tentu saja wajib dimiliki oleh siapa pun yang menjebloskan diri ke lapas kebudayaan. Dari Nadin, terpancar penolakan untuk dipandang shallow.

Dangkal. Hanya butuh beberapa menit untuk membuat kesimpulan: dia jauh dari kata tersebut.

Pendapat itu didukung oleh kesaksian beberapa orang. Sebelum dan sesudah perbincangan, saya bertanya kepada beberapa kawan: penyiar, Music Director (MD) radio, hingga teman-teman media tentang bagaimana pengalaman mereka mewawancarai puan kelahiran Bandung ini.

“Aku inget wawancara dia tahun 2019. (she’s) Fun to talk with,” kata kawan saya Grace Siena, seorang eks-penyiar radio asal Malang, “Dia tuh surprisingly dewasa untuk anak seumurannya. Di saat yang sama, dia kayak punya ‘dunia’ sendiri.” Hal yang sama diamini oleh Jeff Winanda, seorang kawan eks-MD radio dari Surabaya.

“Kayaknya karena terkenal aja sih, jadi dia dipandang begitu (dangkal),” pungkas kawan saya itu. Sebuah jawaban yang juga saya utarakan waktu dia “mengeluhkan” viralitas “Rayuan Perempuan Gila”.

“Ya salah sendiri, lu ‘Nadin Amizah’,” jawab saya atas keheranannya tadi.


Nadin Amizah (dok. Vony Wong)

Harus diakui, kesungkan-engganan saya menulis tentang Nadin Amizah berakar pada satu hal: saya laki-laki. Sekali waktu, saya pernah mengulas lagu brengsek tadi lalu langsung meng-cancel diri saya sendiri.

“Sialan, male-gaze banget!” kata saya kepada diri sendiri.

Sebabnya sederhana: karya-karyanya memang begitu “perempuan”. Saya asing. Satu-satunya hal yang bisa saya amati adalah nuansanya: kadang manis, seringnya sadis. Semua itu, katanya, adalah hasil pemrosesan perasaannya kala menyaksikan sesuatu. Amalgamasi tadi lantas dibalut dalam bahasa yang cenderung baku dan efektif. Alumnus Ilmu Komunikasi (Ilkom) itu kuliah beneran, rupanya.

“Aku malah jarang baca (buku), Mas,” terangnya.

Secara tata bahasa, saya menyebut lirik-lirik Nadin sebagai puitika-copy: sebuah titik temu antara keindahan puitis Sapardi Djoko Damono dan efektivitas teks ala anak agensi periklanan.

(Menurut kesaksian Reda Gaudiamo, Sapardi memang pernah jadi copywriter).

Penggambarannya lugas, metaforanya jelas, bahkan kadang kelewat telanjang. Ciri khasnya adalah keberadaan banyak one-liner yang menarik dikutip; macam teks-teks iklan yang butuh hook dalam ruangan serba terbatas.

Latar belakang Ilkom tadi jelas berpengaruh pada artistry-nya. Saya membayangkan di semesta lain, dia bertugas di agensi multinasional sebagai pekerja-teks-komersial. Lagu “Reservasi Untuk Dua” misalnya, langsung memercikkan api sekam; amarah nan tumpat, pedat, dan pekat yang membalur sekujur album ketiganya:

“Jika tempatku neraka, maka ku kan temu kau di sana.”

Kurang in-your-face apa coba?

Warna suara Nadin juga mendukung intensitas lirik-liriknya. Ada semacam kesenduan di dalamnya. Hal itu bahkan kentara ketika ia menyanyikan “Kala Sang Surya Tenggelam”, magnum opus Guruh Sukarnoputra. Sejauh ini, cuma dia yang berhasil membawakannya. (Maaf Amerta dan D’Masiv. Saya tak punya masalah personal dengan kalian).

“Credit sepenuhnya ya ke Mas Ricky (Lionardi), produsernya,” Nadin merendah, waktu membahas rendisinya yang jadi Original Soundtrack (OST) serial Gadis Kretek itu.

“Ya nggak dong!” Saya ngotot, “You gotta take credit juga-lah. Kan suara lu, Mbak.” Kami pun membahas versi pertama lagu tersebut, yang dirilis Chrisye tahun 1978 dalam album Sabda Alam.

Hal lain yang saya cermati dari Nadin Amizah adalah kematangan visi artistiknya. Dia sudah tahu lagu ini mau diapakan, bahkan sejak tahap songwriting.

“Sebagai singer-songwriter, aku udah tahu gimana sonik lagu-laguku. Termasuk, orang-orang yang bakal membantu aku mencapainya,” ungkap Nadin.

Sekali lagi, kita (Anda, bukan saya) sepertinya kelewat meremehkan solois satu ini.

“Eh, aku tertarik banget tau buat eksplor musik-musik di luar (musikku) biasanya!” kata Nadin antusias.

“Ya coba main indie-rock’an, Mbak,” balas saya. Saya pun merekomendasikan album The Rabbit Habit, Malady Soup. Di kepala saya, Nadin-indie-rock seperti melihat Thurston Moore & Eli Fraser ketemu di bar murah dengan ampli seadanya. Album obskur tadi mungkin bisa jadi referensinya kalau emang mau nylentang.

Entah kapan.


Nadin Amizah (dok. Vony Wong)

Dari situ, Nadin Amizah sebagai seniman adalah sesuatu yang menarik. Dia gelap tapi kanak-kanak. Gemulai meski kebak lunglai. Semacam remaja yang dipaksa matang oleh dukacita masa dan massa.

Sensitivitas ini memuncak ketika Nadin berbicara soal father-issue-nya—momen yang membuat sesenggukan di awal cerita. Saya rasa album Laika, Yang Ditinggalkan sendiri adalah representasi dari luka, duka, dan amarah tersebut.

“Menggunakan tokoh ‘Laika’ sebagai pengandaian, apakah kamu secara sadar mengkritik antroposentrisme? Paham bahwa manusia adalah pusat dari segala hal di dunia,” tanya saya.

“Mungkin ya, mas. Kayak tahu gak sih, Laika tuh dipilih terbang karnea dia yang paling nurut. Aku mengandaikan kalau dia berlaku seperti itu supaya disayang dengan genuine.”

“… Ternyata enggak.”

“Iya, ternyata enggak. Jadi kalau ditanya apakah album ini sebuah kritik, mungkin iya. I mean, aku tahu ada banyak ketidakberesan di sekitarku. Tapi untuk bikin lagu-lagu yang emang lantang politis gitu, kayaknya enggak sih. Aku harus belajar banyak lagi soal itu.”

“I see.”

“Lagi-lagi, ini murni proses pengolahan perasaanku aja,” tuturnya.

Okay, kenapa saya repot-repot bertanya demikian? Begini, menulis rilisan pers adalah satu hal. Namun menulis rilisan pers sembari mendalami apa yang sedang ditulis adalah hal lain. Saya tipe yang kedua. Bagi saya, menulis musik adalah berempati kepada sang seniman, lewat apapun yang dibuatnya. 

“Wah, (aku) butuh riset lanjutan nih,” gumam saya dalam hati setelah adegan sesenggukannya tadi. Itulah yang saya lakukan. Dua hari setelah interviu, saya mengirim pesan ke tiga kawan bernasib sama: punya bapak bajingan. Saya memberikan draf kasar tulisan tadi dengan pesan serupa:

“Aku gak pernah ngrasain punya bapak brengsek. So, Tell me yours.”

Tentu kelewat banyak umpan balik soal ini. Dari yang bapaknya cuek bebek sampai hobi “jajan”. Saya pun menggali riwayat saya sendiri dan mengingat ayah kandung saya. Sepertinya dia juga bisa masuk kategori “brengsek”. Dia tinggalkan mama waktu saya masih janin. Beruntungnya, saya dibesarkan oleh sosok laki-laki lain; seorang virgoan paling sabar yang lagi tenguk-tenguk di rumah as we speak.

Semua itu jelas tak bisa masuk ke dalam tulisan. Namun, saya belajar banyak. Banyak sekali. Hal-hal tadi bikin saya akhirnya bisa berempati pada album ini, sesuatu yang saya cari sedari awal.

Kesimpulan saya:  Laika, yang Ditinggalkan bukanlah album untuk semua orang.

Bahkan jika kamu merasa “mengenal” Nadin—via hubungan parasosial, rilisan penuh ini punya potensi pelatuk yang tinggi. Hati-hatilah, perempuan-sinting itu sedang menunjukkan dari mana kegilaannya berasal.  Jika album adalah utas, maka ‘Laika’ adalah rangkaian yang harus diawali dengan hardikan:

TW – Father Complex.


Album Laika, Yang Ditinggalkan (2026) Nadin Amizah

Segala hal tadi membuat saya heran. Kenapa kultur pop (masih) menahbiskan Nadin sebagai sosok yang indah, anggun, hangat, berikut adjektiva-adjektiva lainnya. Kelewat banyak yang menyimpan harap dalam lagu-lagunya. Pada akhirnya, Nadin seperti sosok “penyambung lidah” generasi yang besar di era paska-kemapanan internet. Barangkali, warganet-warganet yang terus mencari cara mencintai dirinya sendiri.

“Mungkinkah dukacita adalah bahasa ibu kita?” Tanya.

Gelombang pop-eksistensial macam ini jelas tak hadir dari ruang hampa. Nadin, Hindia, dan lusinan artis seangkatannya banyak berhutang pada satu orang: Kunto Aji. Album Mantra Mantra membuka pintu baru bagi pop Indonesia; ia membolehkan kita untuk “tidak baik-baik saja”. Sesuatu ini pun lantas menjadi pisau bermata dua: empati kepada sesama atau ke-aku-an yang merajalela.

Efeknya makin besar kala pageblug menghantam. Dalam isolasi, Anda (lagi-lagi, bukan saya) mendadak butuh teman bicara. Musik dan penciptanya berubah jadi sosok yang paling paham arti kesepian. Riuh dunia nyata resmi mengungsi ke jagat maya dan sepertinya, kerumunan selalu butuh nabi-nabinya.

“Lu lelah gak dicap ‘ibu peri’, Mbak?” tanya saya. Pembaca, sila kira-kira sendiri jawaban Nadin. Ya, sebuket kesedihan untuk anda.

Di akhir sesi, saya blak-blak’an kepadanya. Misalnya, saya bilang kalau mewawancarai musisi yang tidak saya kenal adalah hal yang saya hindari. Ada beberapa pengalaman tidak menyenangkan soal ini. “Gue tuh paling males berurusan sama musisi. Apalagi pop,” kata saya kepadanya.

“Kenapa mas, kalau boleh tahu?”

“Pernah ketemu yang belagu. Sering denger juga dari temen.”

Tentu itu bias saya—atau mungkin Nadin adalah pengecualian. Apalagi di ruang publik, dia juga pribadi yang relatif terbuka. Dalam satu jam pembicaraan, saya tahu mendapatkan cukup banyak hal tentang dirinya, tentang musiknya, hingga satu-dua hal personalnya.

Interviu tuntas. Saya mendapatkan seluruh hal yang saya butuhkan. Terutama jawaban atas pertanyaan personal: bagaimana ia berdamai dengan status “menjadi Nadin Amizah”? Sebagai manusia, seniman, juga persona di bawah sorot panggung? Di tengah belantika yang penuh dengan myth-making, saya selalu tertarik melacak puing-puing kemanusiaan yang tercecer di baliknya.

Dalam kasus Nadin Amizah, saya sarankan Anda untuk menaruh curiga dan mulai bertanya:

“Bagaimana jika ‘Nadin Amizah’ yang selama ini kita kenal… tak pernah ada?”


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto Sampul: Vony Wong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *