‘Diogenes’ Menuntunku kepada Kebebasan: Membaca Album Ketiga The Kick melalui Filsuf dari Sinope


Delapan lagu dalam album “Diogenes” The Kick terasa seperti sebuah perjalanan yang melewati berbagai pertanyaan.


Perkenalanku dengan album terbaru The Kick tidak datang ketika tombol play pertama kali kutekan. Justru sebaliknya, aku sengaja menahan diri untuk tidak mendengarkannya sejak hari pertama dirilis. Aku ingin mengenalnya pertama kali bukan melalui headphone atau speaker kamar, melainkan di tengah panggung dan orang-orang yang menyanyikan lagu mereka bersama-sama. 

Kesempatan itu datang di Mentalita Fest beberapa bulan lalu. Malam itu, panggung kecil tempat The Kick tampil dipenuhi tubuh-tubuh yang saling berdesakan. Aku ikut masuk ke dalam keramaian tersebut. Sesekali terdorong ke sana kemari, sesekali bernyanyi sekeras mungkin, lalu membiarkan diri tenggelam dalam atmosfer yang mereka bangun. 

Di antara lagu-lagu lama yang sudah akrab di telinga, beberapa lagu dari album terbaru mereka akhirnya diperkenalkan. Itulah pertama kalinya aku mendengar Diogenes.

Sepulang dari sana, tubuhku membawa sisa-sisa malam itu. Bahu yang pegal, kaki yang lelah, dan rasa sakit yang justru terasa menyenangkan. Namun ternyata bukan hanya itu yang kubawa pulang. Ada satu hal lain yang terus menetap di kepala.

Sebuah nama yang terdengar asing. 

Di-o-ge-nes.

Semakin sering kuucapkan, semakin besar rasa penasaranku. Siapa Diogenes? Mengapa The Kick memilih nama tersebut sebagai judul album ketiganya?

Pertanyaan itulah yang kemudian membawaku mengenal seorang filsuf Yunani Kuno dari Sinope, dan tanpa kusadari, mengubah caraku mendengarkan album ini.

Filsuf Yunani Kuno “Diogenes” digambar oleh Jean-Léon Gérôme (Public Domain)

Diogenes dikenal sebagai sosok yang memilih hidup sederhana, menolak kemewahan, serta berani mempertanyakan nilai-nilai yang dianggap biasa oleh masyarakat zamannya. Baginya, manusia sering kali kehilangan kebebasan karena terlalu bergantung pada sesuatu di luar dirinya seperti harta, status, pengakuan, dan berbagai hal yang membuat seseorang lupa memahami apa yang benar-benar ia butuhkan.

Pemikirannya kemudian dikenal melalui aliran Cynicism. Sebuah istilah yang hari ini sering dipahami sebagai sikap sinis terhadap kehidupan, padahal bagi Diogenes persoalannya bukanlah dunia itu sendiri. Ia justru mempertanyakan mengapa manusia sering menjadi budak dari keinginan yang tidak pernah selesai.

Tentu tulisan ini bukan upaya membedah filsafat Diogenes secara mendalam. Aku pun baru mengenalnya karena album ini. Namun, mengenal sosok di balik nama tersebut membuatku tidak lagi melihat Diogenes sebagai sekadar judul album.

Album “Diogenes” The Kick

Sebuah nama memang terkadang tidak memberikan jawaban, tetapi menawarkan cara baru untuk mendengarkan.

Maka kuputar kembali album baru ini. Bukan untuk mencari Diogenes di setiap liriknya, melainkan untuk melihat apakah keresahan seorang filsuf yang hidup lebih dari dua ribu tahun lalu masih menemukan gaungnya dalam musik yang lahir dari Kotagede hari ini.

Tentu terlalu jauh jika menganggap album ini sebagai buku filsafat yang dinyanyikan. The Kick tidak sedang mengutip pemikiran Diogenes secara langsung. Namun, dari Sinope menuju Kotagede, dua tempat yang dipisahkan jarak ribuan kilometer dan perjalanan waktu yang panjang, ada satu hal yang terasa mempertemukan keduanya, yaitu kegelisahan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup.

Diogenes adalah seorang filsuf yang mempertanyakan kemapanan zamannya. Sementara The Kick melalui album ketiganya menghadirkan gambaran tentang manusia hari ini—tentang ketakutan, keterlambatan, pencapaian, kehilangan arah, dan usaha menemukan ruang untuk tetap bertahan.

Delapan lagu dalam album Diogenes terasa seperti sebuah perjalanan. Bukan perjalanan menuju jawaban, melainkan perjalanan melewati berbagai pertanyaan.

Album ini dibuka dengan “Void“, sebuah ruang kosong yang menjadi pintu masuk menuju tujuh lagu berikutnya. The Kick tidak memulai perjalanan ini dengan sesuatu yang besar, melainkan dengan perasaan kehilangan arah.

Lewat atmosfer yang gelap dan penuh tekanan, “Void“ menggambarkan manusia yang berhenti sejenak di tengah dunia yang terus bergerak. Ada harapan yang perlahan hilang, ada kebingungan tentang arah, dan ada perasaan ketika seseorang tidak lagi tahu harus berjalan ke mana.

The Kick

Menariknya, lagu ini tidak ditutup dengan kesimpulan. Jiwe, sang vokalis, menghadirkan sebuah narasi di bagian akhir yang terasa seperti puisi. Bukan menjadi jawaban, melainkan memperpanjang ruang pertanyaan yang sejak awal dibangun.

Seolah The Kick ingin mengatakan bahwa perjalanan mencari makna memang sering kali dimulai dari ruang kosong.

Dari ruang kosong itu, The Kick kemudian membawa pendengar melihat dunia yang lebih luas melalui “Dunia ke-3“. Jika “Void“ berbicara tentang kekacauan di dalam diri, lagu ini seperti membuka mata terhadap kekacauan di luar diri manusia.

Dengan atmosfer musik yang agresif, “Dunia ke-3“ menghadirkan gambaran dunia yang penuh konflik, ketimpangan, dan ancaman. Pengulangan kalimat “Aku, aku dalam bahaya” menjadi titik yang paling terasa. Sebuah kalimat sederhana, tetapi menggambarkan keadaan ketika rasa terancam bukan lagi sesuatu yang datang sesekali, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jika “Void“ adalah manusia yang kehilangan arah, maka “Dunia ke-3“ adalah kesadaran bahwa ia hidup di dunia yang juga sedang tidak baik-baik saja.

Perjalanan kemudian bergerak menuju “Barat“. Lagu yang sebelumnya pernah dirilis oleh Untitled Joy ini hadir kembali dalam tubuh baru bersama The Kick. Di album Diogenes, lagu tersebut terasa seperti bagian penting dari perjalanan mencari arah.

Namun menariknya, arah yang ditawarkan bukan sesuatu yang terang. Sejak awal, “Barat“ justru menghadirkan bayangan yang suram.

“Lihat ke barat, tampak sangat suram.”

Ada perjalanan, tetapi juga keraguan. Ada keinginan bergerak maju, tetapi juga rasa tersesat. Hingga akhirnya muncul pengakuan:

“Aku terjebak hujan.”

Namun lagu ini tidak berhenti pada keterjebakan. Di bagian akhir, The Kick menghadirkan sebuah gagasan sederhana 

”berputar arah tidak selalu berarti kalah.”

Sebab, terkadang manusia tidak kehilangan tujuan hanya karena memilih jalan yang berbeda.

Di tengah perjalanan album, The Kick membawa kembali “Badai di Selatan“, lagu lama yang sebelumnya hadir dalam album kedua mereka, Rangsang. Kali ini ia datang dengan aransemen baru yang membuat lagu tersebut terasa lebih luas dan kaya.

Secara lirik, keresahan yang dibawa masih sama, soal kehidupan yang keras, keadaan yang timpang, dan manusia yang harus terus bertahan.

Namun cara The Kick membungkusnya membuat lagu ini seperti mendapatkan kehidupan kedua.

“Badai di Selatan“ menjadi pengingat bahwa beberapa keresahan tidak benar-benar hilang. Waktu bisa berjalan, tetapi beberapa luka tetap menemukan cara untuk kembali terdengar.

Setelah melihat dunia yang penuh konflik dan jejak masa lalu, “Ambang Batas“ membawa pendengar lebih dekat kepada kehidupan sehari-hari.

Tentang seseorang yang pulang setelah bekerja, membawa lelah yang tidak selalu terlihat, lalu kembali mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya.

Bagian “Gila dan terus dipaksa, jengah mulai dipelihara” terasa seperti gambaran manusia yang terlalu lama berdiri di batas kemampuannya. Bukan karena ingin menyerah, tetapi karena hidup sering kali menuntut seseorang untuk tetap berjalan.

Namun lagu ini tidak sepenuhnya gelap. Masih ada doa yang disampaikan, masih ada harapan yang coba dipertahankan. Sebab ambang batas bukan hanya tempat seseorang hampir runtuh, tetapi juga tempat seseorang membuktikan bahwa ia masih bertahan.

Dari kelelahan tersebut, The Kick kemudian membawa energi berbeda melalui “Brigade“. Lagu ini terasa seperti ruang bagi orang-orang yang sama-sama berada di tengah kekacauan.

Ada kota yang berisik, percakapan, tawa, minuman murah, dan manusia-manusia biasa yang mungkin tidak sempurna, tetapi tetap mencoba menikmati sedikit ruang untuk bernapas.

“Brigade“ menghadirkan bentuk kebebasan yang sederhana: kebebasan untuk bersama, tertawa, dan menjadi manusia di tengah dunia yang tidak selalu ramah.

Jika sebelumnya album ini berbicara tentang beban yang dipikul sendirian, lagu ini seperti mengingatkan bahwa terkadang manusia bisa bertahan karena menemukan orang lain yang memahami keresahannya.

Setelah berbicara tentang dunia dan cara bertahan hidup, “Isme-Isme“ membawa perjalanan kembali ke dalam diri.

Judulnya sendiri menarik karena “isme” biasanya berkaitan dengan gagasan atau paham tertentu.

Namun lagu ini terasa bukan tentang mencari sebuah paham baru, melainkan tentang manusia yang mencoba memahami dirinya sendiri.

Ada usaha untuk tetap waras, menghadapi kesunyian, dan mencari arti dari perjalanan hidup.

Penyebutan “semiotika” dan “andromeda” terasa seperti simbol bahwa manusia selalu berusaha membaca tanda-tanda dalam hidupnya. Memberi makna pada pengalaman, luka, dan perjalanan yang tidak selalu mudah dipahami. 

Akhirnya, Diogenes ditutup dengan “Durhaka“—lagu yang menurutku menjadi salah satu titik paling personal dalam album ini.

Judulnya membawa kesan tentang kesalahan seorang anak kepada orang tua. Namun The Kick justru menghadirkan sesuatu yang lebih dalam. Tentang ketakutan seorang anak yang tidak ingin kehilangan hubungannya dengan orang yang telah membesarkannya.

“Aku tak bisa, aku tak rela.”

Kalimat sederhana itu membawa banyak perasaan. Mulai dari rindu, penyesalan, kehilangan, sekaligus cinta.

Setelah sepanjang album berbicara tentang dunia yang besar dengan segala kekacauannya, The Kick memilih menutup perjalanan dengan sesuatu yang paling dekat yaitu keluarga. 

Mungkin di situlah album Diogenes menemukan maknanya.

Album ini tidak sedang berbicara tentang kebebasan sebagai usaha untuk melepaskan segala sesuatu. Justru melalui delapan lagu ini, The Kick menunjukkan bahwa manusia selalu memiliki sesuatu yang melekat padanya.

Ada tuntutan hidup yang harus dilepaskan. Ada pengakuan yang tidak perlu dikejar. Ada hal-hal yang selama ini membelenggu manusia tanpa disadari.

Namun ada pula hal-hal yang tidak perlu ditinggalkan. Seperti hubungan, kenangan, dan kasih sayang. Sang filsuf Diogenes mengajarkan manusia untuk tidak menjadi budak dari hal-hal yang berada di luar dirinya.

Sementara The Kick melalui album ini memperlihatkan bentuk-bentuk belenggu manusia hari ini, ada sistem yang melelahkan, pencarian makna, ketakutan akan masa depan, hingga pergulatan dengan dirinya sendiri.

Namun Durhaka memberikan satu kemungkinan lain bahwa tidak semua ikatan adalah belenggu. Ada sesuatu yang justru membuat manusia tetap bertahan.

Mungkin itulah kebebasan yang dibicarakan Diogenes. Bukan hidup tanpa memiliki apa pun, melainkan keberanian untuk memilih apa yang benar-benar layak dibawa dalam perjalanan hidup.

Pada akhirnya, Diogenes bukanlah album tentang seorang filsuf Yunani Kuno. Ia adalah album tentang manusia hari ini.

Manusia yang hidup di tengah kota yang berisik, tuntutan yang tidak selesai, dunia yang penuh ketidakpastian, dan pertanyaan yang terus bertambah.

Dari Sinope menuju Kotagede, dari seorang filsuf yang hidup ribuan tahun lalu menuju delapan lagu yang lahir hari ini, The Kick menunjukkan bahwa jarak waktu tidak selalu memisahkan manusia.

Sebab selama manusia masih bertanya tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup, percakapan itu tidak pernah benar-benar selesai.


Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto Sampul: Public Domain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *