Musik punya peran besar dalam mengiringi hidup manusia hari ini. Mulai dari masa kecil hingga dewasa. Mulai dari lagu anak, hingga lagu kematian. Semuanya saling bertemu, menjadi rangkaian temporal yang menghidupi satu sama lain. Memang, hidup adalah rentetan kelelahan yang mungkin berakar dari hubungan antar manusia, bekerja, berpikir, atau ketika mencari sandara untuk tetap hidup dari segala tetek bengek yang menguras jiwa raga.
Siasat untuk tetap hidup dan menghidupi itu perlu, satu di antaranya yaitu mencoba terhubung dengan musik. Sebab, dalam penjalanan panjang kehidupan–pengulangkembalian lelah–ia mampu menjelma ramuan pereda kelelahan hari.
Itulah yang coba ditawarkan Stars and Rabbit pada penampilannya di panggung Nanaba Cherrypop 2026. Stars and Rabbit mengajak para penonton melakukan ritual pelepasan lelah. Menjelmakan musik sebagai arena pengorganisisan lelah, guna menenangkan bahkan meletakkan kesakitan yang menjadi benalu di punggung, hati, dan ubun-ubun. Sebab, esok hari kita akan ditempa hal yang sama lagi.

Catatan Ritual ‘I Don’t Wish to Carry You Anymore’
Hari itu adalah hari pertama helatan Cherrypop 2026. Festival digelar di area Lapangan Nandhi Candi Prambanan. Ada empat stage yang berdiri: Chilli, Cherry, Yayapa dan Nanaba. Tahun ini, Cherrypop mengajak 32 performer, beberapa nama yang muncul adalah band/grup/musisi yang lama tidak pentas. Salah satunya adalah Stars and Rabbit.
Mereka muncul pertama kali di postingan akun Instagram @cherrypopfest. Sontak, antusias jagad maya menjadi ramai, terbukti dari kolom komentar yang dipadati kerinduan. Stars and Rabbit menjadi satu nama yang ditunggu dan dirindukan oleh warga-wargi skena. Duo yang mulai menjejakkan nadanya pada tahun 2011 di Yogyakarta ini, dalam kurun beberapa tahun kebelakang jarang muncul kehadapan publik.
Tak ayal, Stars and Rabbit masuk dalam kategori mitos–sebutan bagi band/musisi yang masih aktif, namun sangat jarang manggung secara live. Dalam rundown yang diposting Cherrypop, Stars and Rabbit akan tampil di penguhujung acara, menjadi band penutup sebelum lampu-lmapu sisi selatan Candi Prambanan dimatikan.
Stars and Rabbit tampil di Nanaba Stage pada pukul 22.20 WIB sampai kurang lebih pukul 23.00 WIB. Malam itu, orang-orang mulai berjalan menuju penjuru barat lapangan Nandhi Candi Prambanan. Ada yang berjalan sambil kegirangan dan sedikit bernyanyi kala melewati panggung Yayapa yang sedang diramaikan oleh Dongker dan para Balada Dongkap. Ada pula yang nampak kelelahan, atau tergesa-gesa takut melewatkan pertunjukan band mitos itu.
Malam yang cukup cerah membersamai Stars and Rabbit tampil di Nanaba Stage. Duo mitos itu membawakan beberapa lagu, di antaranya: “Wind Song”, “Like It Here”, “Worth It”, “I,ll Go Along”, “Illusory Utopia”, “I Don’t Wish to Carry You Anymore”, “Catch Me”, “The House”, hingga “Man Upon The Hill”.
Dalam pertunjukan yang berlangsung satu setengah jam, Elda sang vokalis dengan gaya khasnya mengajak penonton untuk ikut menjadi bagian dari peristiwa malam itu. Elda mengajak penonton untuk menari, jingkrak-jingkrak, tertunduk sejenak dan kembali tegak. Penonton diajak untuk memasuki labirin perasaan yang kompleks, susah, sedih, senang, terangkum menjadi satu.
Perancangan visual panggung patut diacungi lima jempol. Asap, lighting, dan background visual sangat mendukung untuk membantu membalut peta perasaan yang ada dalam labirin tadi. Namun, sayangnya ada sedikit gangguan suara dari panggung Cherry yang tengah diisi para rombongan “The” (The Skit, The Jeblogs, The Kick). Ya, nampaknya festival dengan banyak panggung memang menawarkan banyak opsi, juga sekaligus dibarengi banyak gangguan. Ada solusi?
Dalam peristiwa tersebut ada salah satu momen yang cukup menarik untuk dibahas, yaitu sebuah ritus sebelum lagu “I Don’t Wish to Carry You Anymore” dimainkan. Saat itu, Elda menyebut moment ini sebagai sebuah ritual, mengajak audiens untuk memejamkan mata, lalu meletakkan kedua tangan di dada dan mengucap:
“Close your eyes. Hand on your chest.
Pikirkan satu hal yang ingin kamu lepaskan.
Follow what i say: Hey kamu, yang mau ku lepaskan.
I see you. I’m sorry. Please forgive. Thank you.
I love you, but I don’t wish to carry you anymore”
Serentak momen tersebut dilakoni sebagian besar orang yang ada di depan panggung Nanaba. Beberapa mengakhiri ritual ini dengan tangis, beberapa yang lain dengan hela nafas panjang atau dengan senyum yang lebih sumringah.
Musik Sebagai Pereda Kelelahan Hari, Hingga Siasat Melanjutkan Hidup
Hadirnya ritus tersebut dapat menjadi sebuah penanda bahwa kemelekatan adalah salah satu musabab kelelahan yang tak berujung. Melepaskannya bukan berarti kemudian membuang atau menolak penderitaan yang datang. Melepaskan bisa juga diartikan sebagai sebuah laku pengambilan jarak.

Seseorang tak bisa melangkah mundur dari sesuatu yang belum pernah dihadapinya dari dekat. Justru, karena kelelahan itu telah dialami, diakui keberadaannya, bahkan dicintai, maka melangkah menjauh darinya menjadi tindakan yang dilakoni secara sadar, bukan lagi menjadi tindakan menghindar yang reflektif.
Beberapa kawan dan penonton lain mengaku telah mempersiapkan banyak hal untuk hadir di lebaran musik Jogja ini, Cherrypop. Ada yang mengambil cuti kerja, menyisihkan gaji, dan bahkan merangkai kalimat izin yang jitu untuk orang tua. Semua dilakukan untuk sejenak melepaskan “penderitaan” yang dialami sehari-hari, entah dari tempat kerja atau rumah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa, bagi sebagian orang, musik memang ampuh menjadi satu siasat untuk melanjutkan hidup. Ia mampu menemani lelah-lelah yang tak kunjung sudah, ia mampu menjadi obat pereda lelah.
Lalu, dengan sorot lampu yang mengarah menuju Elda, terlantunkan lah:
“I shouldn’t be so surprised it’s too familiar //
All is working well, can’t do it wrong it seems unreal // I feel too sick to talk about it //
Our steps began to falter it seems // Leaves me exhausted”
Jika kalian sepakat bahwa musik mampu menjadi salah satu siasat untuk melanjutkan hidup, maka hidupilah ia.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto Sampul: dok. @ridhaikhwanul



