Penulis: Angela Ardhika Sinthawati

Waktu: Kumpulan Puisi Angela Ardhika Sinthawati
Kumpulan puisi ini: Terlambat, Terjadi, dan Terhenti ditulis Angela Ardhika Sinthawati. Satu bahkan tiga atau lima tahun yang akan datangMungkin saja kita akan berpikir tentang andai yang tak tersampaikanBarangkali hari itu kita lakukan, barangkali kita bisa melawan, dan banyak lagi lainnyaNamun semua itu hanya menjadi angan yang tak pernah dilakukan Tak ada yang tahu perihal kejadian…

Pekan Raya Konflik: Kumpulan Puisi Angela Ardhika Sinthawati
Kumpulan puisi ini: Festival Cinta Pertama, Perlombaan Id, Ego, dan Superego, dan Si Tuan Pemenang Hati. Ditulis oleh Angela Ardhika Sinthawati. Romansa cilik yang membara kala ituDua tokoh pijaraya yang mematung semuTangan-tangan kecil sudah mulai saling menyatuMereka saling beradu rayu dalam kelambu Sintingnya mereka saling memisahkan diriMelepaskan kisah mereka pada frasa takdir yang fanaTahunan menuju puluhan sudah tak lagi…

Dialog Langit: Kumpulan Puisi Angela Ardhika
Kumpulan Puisi berjudul Dialog Langit memiliki beberapa teman di sekelilingnya. Antara lain Angin Tanpa Topan, Badai, dan ada beberapa memori Hujan Bulan Agustus. Dialog Langit Terasa seperti mimpi Menjulang tinggi di atas angkasa sana Sedalam-dalamnya sanubari Menusuk sirna seperti api yang membara Hujan dan badai Berawan dan cerah Dia terlihat seperti sebuah perisai Terkadang terlihat…

Suatu Pembodohan
Suatu pembodohan Kadang kala ada seseorang yang menggenggammu erat Kadang kala ada seseorang yang memelukmu hangat Kadang kala ada seseorang yang mengajarkanmu tuk taat Kadang kala pun ada seseorang yang membuatmu sesat Kau harus tahu bahwa hal itu ia lakukan saat ia kesepian Menjadikanmu sebagai rumah pelarian Ketika rumah pertamanya tak memiliki tuan…

Pulang; Kumpulan Puisi Angela Ardhika Sinthawati
Kumpulan puisi ini; Ironi Hati, Pergi, dan Pulang, ditulis oleh Angela Ardhika Sinthawati. Gemar menulis dan sedang studi di SMA Strada Bhakti Wiyata. Ironi Hati Kukira kau rumah yang menetap Kukira kau kain yang mendekapku halus Kukira kau kaca yang akan selalu kutatap Dan kukira kau itu kompas yang memanduku berjalan lurus Nyatanya kau hanya…




