Usaha untuk banyak mendengar, melihat, dan memahami ide dan rencana karya para seniman menjadi fokus perhatian saya pada pekan kedua menjalani program residensi MTN (Manajemen Talenta Nasional) Lab di Denpasar, Bali. Setelah sepekan belajar berbagai materi seputar kesenirupaan dan kekuratoran dalam format kelas, kesempatan untuk melakukan eksperimentasi praktik kerja kurator secara langsung menemui momentumnya.
Kami sepuluh kurator dari berbagai wilayah dan kota di Indonesia mengadakan pertemuan awal untuk mendiskusikan tentang gagasan kuratorial dan pembagian tugas. Ketika itu, beberapa dari kami masih sebatas saling mengenal nama dan asal, jadi kami mulai secara bergantian menceritakan pengalaman terkait kerja-kerja kesenian, pameran, penelitian, dan ketertarikan disiplin ilmu. Ada yang sudah memiliki pengalaman mengkuratori sebuah pameran, sebagian lainnya belum pernah—namun sudah merasa akrab dengan praktik-praktik kurasi.
Setelah saling mengenal latar pengalaman satu sama lain, kami mulai mengidentifikasi dan memetakan spektrum isu berdasarkan ide karya yang diajukan para seniman. Proses ini kemudian melahirkan empat fokus tema yang mengemuka: tradisi, ekologi, identitas, dan kritik pariwisata. Sebenarnya pengkategorian tema ini awalnya hanya untuk kepentingan para kurator dalam melakukan pembagian pendampingan kelompok seniman, kemudian berkembang menjadi alur cerita (stroyline) pameran. Dari situ kami membentuk empat tim kurator dengan formasi dua hingga tiga kurator per tim. Setelah tim kurator terbentuk, barulah kami berpencar—berfokus pada masing-masing kelompok seniman.
Pertanyaan mendasar mulai menggelayuti pikiran saya: bagaimana seharusnya berperan sebagai kurator untuk delapan seniman sekaligus?
Pada sisi lain, saya mengingat materi kelas seputar kekuratoran, bahwa kerja-kerja kurator itu kompleks, meliputi hal-hal detail, spesifik, dengan uji kompetensi tertentu. Dalam konteks residensi, mungkin yang sederhana dapat langsung dipraktikkan adalah berperan sebagai kurator, berarti berperan sebagai teman diskusi seniman, namun tidak asal diskusi.
“Kalau dalam olahraga tinju, kurator dan seniman itu seperti partner sparing,” kira-kira begitu kata salah satu narasumber kelas. Saya menerjemahkan kesempatan ini dengan memposisikan diri sebagai fasilitator sekaligus mediator dengan penyesuaian-penyesuaian tertentu.
Saya mulai berdaptasi bersama seniman yang baru kenal: mendengar ide rancangan karyanya dan sesekali memantulkan pertanyaan pemantik sekaligus menawarkan sudut pandang lain. Pada kasus tertentu, seperti karya yang bersifat personal, saya menggiringnya untuk mengingatkan pada kerangka wacana program residensi Denpasar yaitu Reinvented Tradition agar tidak melambung jauh keluar dari arena. Perihal kemungkinan produksi karya dengan pertimbangan tenggat waktu juga saya garis bawahi.

Mengingat durasi produksi karya hingga persiapan pameran kurang lebih sepekan, maka seniman yang membutuhkan waktu penelitian dan bereksperimen—tentu perlu berpikir taktis dari segi perencanaan dan kemungkinannya. Sementara itu, kurator lebih banyak diuji dari segi manajerial, teknis, dan administratif untuk persiapan pameran.
Sebenarnya tidak ada panduan atau format khusus mengenai apa yang harus kami lakukan sebagai kurator. Mungkin yang bisa disebut sebagai panduan adalah materi kelas yang telah kami pelajari seputar kekuratoran, serta gambaran program residensi serupa yang telah terlaksana di kota lain: Yogyakarta, Jakarta, dan Gorontalo. Dua kota terakhir yang disebutkan menjadi semacam referensi sandingan untuk model ‘kuratorial’ kami di Denpasar.
Pada sisi lain, residensi ini memberikan semacam keleluasaan untuk menentukan model kuratorial seperti apa yang kami ingin terapkan. Mungkin karena itu juga program ini menggunakan kata “Lab” sebagai “laboratorium” untuk arena bereksperimen. Sederhananya, laboratorium ini menjadi wahana pembelajaran dan kolaborasi antara sesama kurator dan seniman melalui praktik residensi dengan output presentasi bernama pameran.
***
Pameran MTN Lab Residensi Denpasar berlangsung pada 25 Desember 2025 – 2 Januari 2026 di Rumah Tanjung Bungkak, Kota Denpasar, Bali. Pameran ini mengusung tajuk “Pulang ke Palung” dimaknai sebagai upaya untuk meninjau, menggali kembali ‘dasar’ tradisi, dan memaknainya pada kondisi kini dan situasi mutakhir. Upaya ini diharapkan dapat menghadirkan suatu pembacaan, tafsir, dan penemuan-penemuan baru yang mewujud dalam berbagai bentuk dan medium seni.
Upaya-upaya ini kemudian dapat kita lihat dalam karya-karya para seniman yang menampakkan pembacaan-pembacaan atas fenomena, tinjauan sejarah, eksprementasi, hingga refleksi pergulatan dalam diri dan luar diri seniman terhadap kondisi sekitarnya.
Pada Pameran Kolonial Internasional Paris 1931, Paviliun Belanda menghadirkan pusparagam representasi kebudayaan negeri jajahannya. Salah satu di antaranya arsitektur gapura Bali yang megah dan detail sebagai pintu masuk ke dunia kolonialisme Hindia Belanda (Indonesia). Representasi kebudayaan Bali, baik secara arsitektur maupun orang-orang yang mewakili kelompok kesenian Bali di pameran ini, dimaknai sebagai bagian dari lintasan (trajectory) promosi pariwisata Bali di kancah global. Proses dalam menghadirkan representasi ini juga dinilai melalui tahap pengumpulan, penyeleksian, dan penyajian objek budaya sebagai pembuktian kekuatan dan kecakapan Belanda dalam memamerkan negeri koloninya.

Peristiwa di balik Pameran Kolonial Paris inilah yang menjadikan Bali sebagai salah satu etalase terseleksi—dipilih berdasarkan pandangan eksotisme kolonial merupakan pembacaan gejala dalam Beyond the Pavilion, sebuah karya kolaborasi Helmi Yusron, I Gede Ari Widia Utama Pucangan, Ni Putu Kiti Muliadewi, Nuraisah Maulida Adnani, dan Muhammad Ferdy Ramadanur. Mereka memilih Tukad Badung (Sungai Badung) sebagai ‘etalase’ tandingan dalam menyigi konsep estetika berbasis material kenyataan melalui praktik kolaboratif. Tukad Badung merupakan salah satu sungai utama yang membelah Kota Denpasar, menghubungkan kawasan hulu dengan pusat perdagangan seperti Pasar Badung dan Kumbasari. Dalam dua dekade terakhir, sungai ini mengalami transformasi signifikan, dari ruang air yang sarat beban ekologis dan limbah urban menjadi koridor publik yang ditata untuk rekreasi, estetika kota, dan infrastruktur wisata.
Kelima seniman memulai siasatnya dengan menjelajahi Tukad Badung dan sekitarnya—menyebar ke berbagai titik di sekitar sungai dan pasar; mengamati, mencatat, menggambar, merekam suasana, hingga mengobrol dengan orang-orang yang ditemuinya. Untuk memperkaya konteks pengetahuan tentang lokus penelitiannya, mereka membaca jurnal dan esai seputar sejarah perkembangan kota Denpasar dan sungai. Hasil dari penjelajahan dan referensi bacaan itu kemudian menjadi bahan material utama dalam praktik berkaryanya.
Dari segi teknis, para seniman berbagi gambar di atas kertas. Bahan material lapangan seperti sketsa, cetakan foto, dan jurnal dihampar di sekeliling kertas gambar. Dengan durasi tertentu, lima kertas digilir selama lima kali putaran—diiringi soundscape rekaman lapangan sebagai medium perangsang artistik dan keputusan visual. Dalam hal ini, “bunyi berfungsi sebagai lapisan tak terlihat yang menyusup ke dalam gambar”.
Hasilnya, sebuah belantara visual fragmen-fragmen kompleksitas Tukad Badung dan sekitarnya: acak, padat, dan ambigu, namun sarat petunjuk dari kata-kata kunci yang dihadirkan melalui teks. Penggambarannya menawarkan pembacaan yang lebih luas tentang ruang hidup di perkotaan dan hubungannya dengan sejarah konteks wilayah serta peran kolonial Belanda bagi dinamika pariwisata Bali.
Selain menyajikan pembacaan kritis terhadap isu ekologis dan sosial di sekitar Tukad Badung, Beyond the Pavilion juga menghadirkan gagasan seleksi berbasis ruang sekaligus kritik estetis terhadap gagasan otonomi seniman dan hierarki medium. Karena itu, mereka memadukan unsur-unsur karakter visual yang beragam di atas kertas bersama sebagai metode kerja. Ada lima pasang tangan yang bergerak menjejalkan persepsinya. Tangan-tangan itu menghasilkan jejak-jejak amatan, rangsangan suara-suara sekitar, dan perasaan.
Setiap kertas tidak mewakili individu, melainkan hasil kerja kelompok. Proses ini merupakan bagian “riset artistik”, kata Helmi Yusron. Dengan demikian, secara praktik karya ini dapat dilihat penekanannya pada artikulasi proses artistik yang bersifat relasional dan kolaboratif.

Pengalaman terkait ruang hidup di Bali juga dimunculkan Putu Dika Pratama, seniman asal Bali, menyajikan dua karya berjudul: Problematika Masyarakat Agraris dan Bertahan. Tertahan. Ia menyoroti isu perubahan lahan pertanian dan kelindannya dengan pariwisata di Tabanan, kawasan lumbung padi Bali. Berdasarkan kesaksiannya, lahan-lahan pertanian di kawasan itu perlahan berubah rupa—ditumbuhi perumahan, vila, dan kedai kopi yang menawarkan pemandangan sawah.
Sebagai generasi muda yang diwarisi lahan pertanian, ia mengalami kebingungan sekaligus kekhawatiran akan masa depan sektor pertanian di tanah asalnya. Karena itu simbol ‘jineng’ (lumbung padi), hama tanaman, giat petani, simpul pariwisata, hingga pertapaan seorang diri dihadirkan melalui prasi—mengilustrasikan representasi pergulatan dalam diri dan luar diri-nya sebagai bagian dari masyarakat agraris. Ia meneropong keprihatinannya bila kelak lahan pertanian semakin berkurang, orang muda semakin berjarak dengan tanah asalnya, dan jineng hanya dapat dikenang sebagai simbol penanda suatu kawasan.
Dari timur Indonesia (Jayapura), Wangi Tafakkur, membawa karya berjudul Melawan Lewat Pangan Lokal. Melalui karya foto bercerita, ia menuturkan kisah Usilina Epa, perempuan kelahiran Sentani, Jayapura, melawan gempuran produk makanan instan dengan membuka usaha kuliner berbasis pangan lokal dan merintis kebun pangan di halaman rumahnya. Dalam narasi fotonya, ia menegaskan bahwa di tengah arus zaman yang mengalihkan perhatian kita dari pangan warisan leluhur, maka kembali ke kebun dan dapur sebagai ruang kultural adalah upaya untuk merebut kedaulatan pangan, pengetahuan, dan hubungan kita dengan tanah.

Dari pulau Kalimantan, Zakaria Pangaribuan dengan karya instalasi The Collision of Memory and Progress, menghadirkan citra masyarakat adat dan dampak kerusakan ekologis. Ia menampilkan perisai Dayak fragmen fauna terancam punah, menanggung beban berlapis dari material industri, perampasan tanah, dan luka-luka ekologis.
Sementara itu, Muhammad Ferdy Ramadanur menampilkan representasi karya individunya melalui The Spirit of Baleganjur. ia mencoba menerjemahkan energi Baleganjur (musik Gamelan Bali) melalui pendekatan yang disebutnya visual-aural. Mengajak kita untuk melihat ‘spirit’ dari percikan bunyi yang merangsang tubuh, emosi, dan jiwa dalam konteks ritual maupun sosial. Karya individu lainnya dihadirkan Nuraisah Maulida Adnani, perihal relasi tubuh kedirian yang Mengambang dalam bingkai, sosok dan simbol-simbol personal sebagai kata kunci, dengan terinspirasi pendekatan cerita adegan Kamasan, lukisan tradisional naratif Bali. Ia memadukan soal ketubuhan manusia, anatomi serangga, dan eksplorasi konsep Kamasan.

Dari gagasan, isu, dan representasi karya yang dihadirkan kedelapan seniman ini mengakar pada proses selama residensi, yang tentu mereka juga membawa pembacaan dan pengalaman dari tempat dan lingkungannya masing-masing. Karena itu, karya-karya ini lahir dari berbagai persilangan antara pengalaman, wacana, perspektif dan pendekatan, dengan kompleksitasnya masing-masing.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Made Virgie Avianthy
