Penulis: Oktavius Ekapranata

Di Bawah Bayang Ulin: Kumpulan Puisi Oktavius Ekapranata
Kumpulan puisi ini: Di Bawah Bayang Ulin, Neptunus, Tarian Ngerangkau, dan Seperti dalam Suatu Masa. Ditulis Oktavius Ekapranata, seorang penyair muda dari Kalimantan. Di antara tungku batu yang tinggal bara, seorang ibu memintal sunyi seperti mengenang kekasihnyadi dalam keluasan desir rimba aku tak dapat menjelajahi kesedihannya. Ibu genggamlah mandau tua itu, bukan untuk perang,tetapi untuk menahan gemetar hatimuyang rapuh seperti akar menjelang…

Amfibi | Cerita Pendek Oktavius Ekapranata
Sekarang ini kalau ada yang bertanya padaku, kampung manakah yang paling banyak memberikan pelajaran dalam hidup? Dengan mendongakkan kepala dan tanpa ragu-ragu, aku akan menjawab kampungku, Kampung Seribu Sungai. “Kampungmu? Kenapa kampungmu, Nat?” tanya Bintang dengan raut wajah penasaran dan bersungguh-sungguh. Sekembalinya aku menyelesaikan liburan akhir semester di kampung halamanku, Kalimantan. Aku mengundang Bintang ke…

Memorabilia; Kumpulan Puisi Oktavius Ekapranata
Empat puisi ini; Kehidupan, Surat dari Ananda, Memorabilia, dan Melukis Rimba ditulis Oktavius Ekapranata, seorang penyair muda dari Kalimantan. Kehidupan Kita adalah setetes embun yang jatuh pada dedaunan muda Sesaat lalu tetes demi tetesnya terserap oleh tanah basah Sebelum sempat bertanya tentang hidup menghidupi Matahari pagi telah menyinari Kala itu kita telah terserap oleh akar…

Menyimak Deru Gurung Tajak | Cerita dari Kalimantan Barat
Dari kenyataan ini dapat diketahui, paling mudah memang berucap janji, tetapi sulit untuk menepatinya. Mereka hanya menemui Gurung Tajak untuk memperoleh suara, tanpa benar-benar menyimak deru Gurung Tajak. Jumat (4/12/20), Romo Paulus (57) dan Bang Fran (29) duduk menyila di dalam perahu menghadap ke haluan. Mereka tampak santai dan tersenyum di dalam perahu yang akan…

Seumpama Kita; Kumpulan Puisi Oktavius Ekapranata
Tiga puisi ini; Menumbuk Kisah, Memo Rerumputan, dan Seumpama Kita, ditulis Oktavius Ekapranata, seorang penyair muda dari Kalimantan. Menumbuk Kisah Keningmu lesung kayu panjang yang senantiasa mengundang para petani menumbuk padi. Dadamu menahan hunjam lekuk siku berselang-seling menghempaskan sekam dalam desakan alu para piatu. Kupandang kau melipat tangan, kau telah kenyang bayang-bayang malang. Orang-orang tersayang…

Manusia Lumpur
HARI-HARI selalu merundungku dalam kecemasan. Bagaimana tidak cemas bila biaya untuk melamar calon istri saja belum berhasil aku kumpulkan. Begitulah kata sahabatku saban hari setalah kami meneguk beberapa gelas arak. “Jadi, minggu depan kau melamar kekasihmu?” Sahabatku tersenyum. Tatapannya buyar. “Aku sudah berjanji akan datang minggu depan untuk melamarnya.” Ia merangkulku lalu memberi segalas arak…





