Dokumenter ‘1989’ (2014): Miklós Németh dan Jalan Sunyi Revolusi di Hungaria 

Film dokumenter ‘1989’ menempatkan Miklós Németh dan Hungaria sebagai simpul penting dalam peristiwa runtuhnya komunisme di Eropa Timur. 

Apa yang Anda pikirkan mengenai Revolusi 1989 di Eropa Timur yang menandai jatuhnya komunisme? Apakah itu runtuhnya Tembok Berlin? Eksekusi diktator Rumania Nicolae Ceaușescu beserta istrinya? Atau mungkin Revolusi Beludru di Cekoslowakia yang berjalan nyaris tanpa kekerasan? 

Kalau berbicara tokoh-tokoh dari Blok Timur yang berkontribusi dalam terjadinya Revolusi 1989 pun, maka yang diingat adalah seperti Lech Wałęsa (Polandia), Václav Havel (Cekoslowakia), bahkan mungkin Mikhail Gorbachev (Uni Soviet). 

Namun, sebagaian lannya mungkin lupa bahwa di Hungaria, Miklós Németh juga menjadi salah satu tokoh penting dalam Revolusi 1989. Namanya mungkin sejajar dengan Lech Wałęsa, Václav Havel, dan Mikhail Gorbachev. 

Film dokumenter 1989 (2014) yang disutradarai oleh Anders Østergaard dan Erzsébet Rácz ini membahas Revolusi 1989 dari perspektif Hungaria. Film ini juga membahas kiprah Miklós Németh sebagai Perdana Menteri Hungaria komunis terakhir. Németh diangkat menjadi perdana menteri pada usia yang relatif muda, yakni 40 tahun.  

Németh memiliki reputasi sebagai ekonom di dalam Partai Pekerja Sosialis Hungaria atau Magyar Szocialista Munkáspárt (MSZMP). Németh dilantik oleh partai untuk menjadi perdana menteri pada 24 November 1988 dengan tujuan membentuk pemerintahan teknokratis. Németh sendiri diberi tanggung jawab menyelamatkan Hungaria dari ancaman kebangkrutan. 

Legitimasi Tinggi, Kekuasaan Rendah 

Sebagai seorang ekonom, tugas Németh diawali dari memangkas anggaran untuk hal-hal yang baginya tidak perlu. Németh menghapus anggaran untuk S-100, pagar listrik di perbatasan Hungaria dengan Austria sepanjang 240 km. Hal ini membuat kesal Károly Grósz, Sekretaris Jenderal Partai. 

Sebagai seorang perdana menteri di negara komunis dan negara dengan sistem partai tunggal, kekuasaan Németh terbilang cukup rendah karena kekuasaan tertinggi ada di tangan Sekretaris Jenderal Partai. Hal itu terlihat ketika Németh harus menandatangani dokumen yang menyatakan dirinya telah mengetahui bahwa Hungaria ditanami hulu ledak nuklir sejak 1970-an yang bekerja sama dengan Uni Soviet. 

dok. Magic Hour Films

Dokumen itu disodorkan langsung oleh Károly Grósz dan Menteri Pertahanan Ferenc Kárpáti. Németh pun mau tidak mau harus menandatangani dokumen itu. 

Németh adalah tokoh yang —meminjam ungkapan Stephen Sherlock— mewakili kombinasi yang aneh antara kekuasaan yang terbatas dan legitimasi yang tinggi (represents the odd combination of limited powers and high legitimacy).  

Di satu sisi, kehadiran Németh memiliki legitimasi yang tinggi karena ia dilantik oleh partai untuk menyelamatkan Hungaria dari ancaman kebangkrutan. Namun, di sisi lain, kekuasaan Németh dalam memimpin negara termasuk rendah karena para pejabat partai saling “memainkan kartunya sendiri”. 

Membongkar Perbatasan 

Di bawah kepemimpinan Németh, pemerintah Hungaria membongkar perbatasan Hungaria dengan Austria pada April-Agustus 1989. Pada Agustus 1989 selama Piknik Pan-Eropa di perbatasan Hungaria dengan Austria, terdapat banyak warga Jerman Timur yang kabur ke Hungaria lalu menuju ke Austria dan kemudian menuju Jerman Barat. 

Hal ini membuat marah para pejabat di Jerman Timur. Belum lagi, Uni Soviet juga tidak mau ikut campur dalam urusan ini. Dari banyaknya warga Jerman Timur yang kabur dari negaranya, ada pasangan suami-istri yakni Gundula Schafitel dan Kurt-Werner Schulz dengan putra mereka yang berusia 6 tahun. Ketika kabur, keluarga kecil ini harus selalu waspada karena tetap harus menghadapi patroli di perbatasan Hungaria. Perjalanan mereka menjadi sangat berbahaya dan menegangkan. 

Rehabilitasi Politik Imre Nagy 

Imre Nagy (1896-1958) yang menjabat sebagai Perdana Menteri Hungaria pada 24 Oktober 1956-4 November 1956) adalah tokoh reformis yang dijatuhkan oleh Uni Soviet pada Revolusi Hungaria 1956. Sebagai Perdana Menteri Hungaria, Imre Nagy berada di pihak rakyat yang menginginkan reformasi Hungaria dan mendesak Uni Soviet untuk keluar dari Hungaria. 

Namun, itu tidak terjadi. Dengan kekuatan militer yang besar, Uni Soviet berhasil menguasai Hungaria dan mengukuhkan dominasinya di Eropa Timur. Imre Nagy kemudian dieksekusi dengan cara digantung pada bulan Juni 1958 dan dimakamkan secara rahasia dengan identitas palsu di Pemakaman Umum Baru, Budapest. 

Sejak saat itu, nama Imre Nagy menjadi tabu untuk dibicarakan di Hungaria, tetapi ingatan rakyat tentang usaha Imre Nagy mereformasi Hungaria tetap tidak bisa hilang. 

Pada 16 Juni 1989, Imre Nagy direhabilitasi dan jenazahnya dimakamkan kembali secara kenegaraan di Pemakaman Umum Baru. Ketika pemerintahannya memutuskan untuk hadir di upacara pemakaman itu, Németh harus sangat berhati-hati karena bisa saja menjadi target pembunuhan, terutama setelah sebelumnya diancam oleh Károly Grósz. Upacara pemakaman Imre Nagy itu sendiri dihadiri 150.000-200.000 orang dan menjadi faktor penting runtuhnya komunisme di Hungaria. 

Penggunaan Arsip Lama yang Kreatif 

Anders Østergaard sebagai sutradara memanfaatkan penggunaan arsip-arsip lama secara kreatif dalam film berdurasi 1 jam 37 menit atau 97 menit ini. Arsip tersebut misalnya adalah rekaman video lama dialog antara Miklós Németh dan Mikhail Gorbachev di Moskow yang direkonstruksi dengan dimasukkan dubbing yang mengikuti gerak mulut dalam video lama itu. 

Namun demikian, tidak semua kejadian di masa lalu bisa digambarkan melalui arsip berupa video lama. Ada juga yang hanya menggunakan foto dan dubbing. Hal ini terlihat ketika scene Miklós Németh menyatakan di depan Komite Sentral Partai Pekerja Sosialis Hungaria bahwa pemerintahannya akan hadir di pemakaman kembali Imre Nagy dan kemudian mendapat ancaman pembunuhan dari Károly Grósz. 

Bagi penonton, mungkin penggabungan arsip-arsip lama dengan dubbing yang tidak orisinal tidak akan menjadi masalah. Namun, bagi yang sudah mendalami sejarah, hal ini akan menghilangkan orisinalitas dari arsip-arsip lama dan dikhawatirkan bahwa penggabungan itu akan membuat penonton percaya bahwa arsip-arsip lama itu benar-benar demikian adanya. Terutama jika arsip lama itu berbentuk video. 

Pada akhirnya, film dokumenter berjudul 1989 ini tetap layak untuk ditonton. Film dokumenter ini cocok ditonton sebagai pengantar untuk memahami Revolusi 1989 dan runtuhnya komunisme di Eropa Timur secara lebih dalam. 

Satu poin penting, film dokumenter ini menggunakan perspektif Hungaria yang cukup underrated dalam Revolusi 1989 yang biasanya dilihat dari perspektif Jerman Timur, Polandia, Cekoslowakia, bahkan Uni Soviet. 


Editor: Agustinus Rangga Respati
Foto Sampul: Magic Hour Films

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Imaji Revolusi dalam Album 'Luciferian Towers' karya Godspeed You! Black Emperor

Next Article

'Dōke no Hana' (1935) Osamu Dazai: Selamat Datang di Kesedihan, Penduduk Satu

Related Posts