Album S/T yang digarap oleh band Zekzek bergerak dari pertanyaan bagaimana jika sebuah ledakan suara bertransformasi menjadi arsip paling jujur tentang sebuah generasi yang berusaha memaknai kemarahan, ruang, dan tubuhnya sendiri?
Album S/T menyusun serpihan-serpihan intensitas yang pendek, cepat, dan gelap yang kemudian menjadi sebuah pernyataan sosial yang lebih luas.
Akademisi cum musisi Eric James Abbey mengatakan bahwa masyarakat membutuhkan musik yang agresif, keras, dan vulgar untuk mewakili perasaan sebenarnya dari skena underground.
Menurut dia, ritme agresif bukan bentuk pelarian, melainkan perangkat untuk mengungkap tekanan sosial yang sering tak terbahasakan dalam ruang publik. Musik ekstrem menjadi medium untuk menyalurkan emosi kolektif yang tidak mendapat tempat dalam budaya dominan.
Dengan cara itu, hardcore tidak hanya menyuarakan kemarahan, tetapi juga memvalidasi pengalaman hidup kelompok-kelompok yang terpinggirkan.
Zekzek adalah band hardcore punk yang lahir di masa-masa keterpurukan era pandemi Covid-19 2021 dengan formasi Aday pada gitar, Kamil pada drum, dan Warik pada vokal. Zekzek berangkat dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur.
Band ini berdiri di persimpangan dua pengaruh. Pertama yaitu energi fastcore yang liar, spontan, dan tidak sabaran selayaknya DS13 dari Swedia. Selain itu, Zekzek juga dipengaruhi Ss Decontrol hardcore Boston awal yang lebih terarah, berat, dan berbasis etos resistensi urban. Dua kutub inilah yang membuat Zekzek memiliki karakter cepat, sadar struktur, kasar, impulsif, tetapi tetap membawa narasi visi sosial yang terbaca.
Somatic Rage: Hardcore Adalah Bahasa yang Paling Jujur
Musik mereka menghidupkan apa yang disebut Ahern sebagai somatic politics, tubuh sebagai ruang artikulasi kritik. Setiap snarling vocal, hentakan drum, dan riff rapat bergerak bukan sebagai estetika, tapi sebagai tindakan.
Inilah perlawanan yang tidak menunggu legitimasi kultural. Ia langsung meledak melalui tubuh. Haenfler menyebut mekanisme ini sebagai embodied resistance atau perlawanan yang dijalankan melalui kedekatan fisik, energi, dan benturan.
Zekzek mempraktikkannya dalam setiap track, menjadikan tubuh sebagai instrumen analisis sosial.
Dalam konteks antropologi hardcore, perpaduan di atas bergerak mirip analisis Dropkick Murphys yang menggunakan cultural stereotypes… “to create a new cultural space within punk rock and national identity”.
Bedanya, band ini tidak sedang menegosiasikan identitas diaspora. Mereka menegosiasikan kekerasan struktural Indonesia khususnya Pamekasan pada masalah kontemporer yaitu diskriminasi, maskulinitas toksik, dan ruang ruang sosial yang mencekik.

Pada trek pertama: Intro [Z], Zekzek membuka dengan hentakan drum yang menjamin tempo tetap konstan dari awal hingga akhir trek. Dengan komposisi D-beat yang memadat, bass yang menabrak semua ruang antara ketukan.
Sebagai pembuka, melalui trek ini Zekzek menghadirkan legitimasi untuk mengizinkan pendengar merenung terlalu lama. Rasis di Wajahmu dengan lirik seperti “TAKKAN ADA HABISNYA MEMBUDAYA!” memperlihatkan bagaimana band ini memposisikan praktik rasisme sebagai warisan sosial, bukan insiden.
Selanjutnya, energi tengah album adalah titik ketika seluruh tema album seperti represi ruang, ketakutan, dan dorongan untuk meledak kian mengerucut.
Track 5 (Revolt!) penuh dengan narasi kebangkitan “ENGKAU BELUM LELAH MENENTANG / UNTUK TIDAK TUNDUK MELAWAN!” Suara-suara ini memperlihatkan bagaimana band ini mengartikulasikan “where you’re from” dan “where you’re at” sebagai proses menemukan diri di tengah tekanan sosial yang nyata. Selain itu, trek ini adalah manifestasi kemarahan publik kepada negara yang padat, sempit, dan represif.
Ruang Sempit dan Klaustrofobia Sosial
Pada nomor selanjutnya, Cage menjadi titik tempat album ini benar-benar menunjukkan taringnya. Di sini Zekzek tidak hanya teriak soal ruang sempit. Mereka melempar tubuh pendengar langsung ke dalamnya.
Lirik seperti “LIVE IN THIS PLACE THAT HAS NOTHING / ONLY FEAR, ONLY PAIN” bukan sekadar deskripsi. Itu adalah warta dari generasi yang tumbuh di kota kecil yang bising, padat, panas, tapi tetap saja dianggap aman oleh mereka yang punya kuasa.
Zekzek menutup lagu dengan “THIS AIN’T A CITY, THIS IS A CAGE!”. Rasanya ini bukan metafora semata, melainkan tuduhan.
Gerfried Ambrosch bilang suara keras adalah cara hardcore menduduki ruang ketika negara tidak hadir dalam ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Zekzek mencoba mewakilinya.
Dengan begitu, Cage bukan hanya soal ruang fisik. Ini soal cara hidup di tempat yang mengaku kota, tetapi budaya konservatif masih merajalela. Di sinilah gagasan Fox tentang ruang urban stagnan masuk. Ruang yang tidak bergerak akhirnya melahirkan identitas baru. Sekali lagi, Zekzek menjawabnya.
Namun demikian Cage tidak berdiri sendiri. Jika ditarik garis ke trek sebelumnya, album ini sebenarnya membangun peta tekanan yang makin rapat.
Rasis di Wajahmu membuka rotasi kekerasan struktural yang membudaya bukan insiden, tetapi pola. Saat mereka menjerit “TAKKAN ADA HABISNYA MEMBUDAYA!”, kita langsung tahu bahwa album ini sedang memetakan penyakit sosial yang menjalar dari generasi ke generasi.
Sementara Cage dengan ketukan drum yang seperti pukulan bertubi-tubi, riff yang berputar ketat, dan vokal yang dipaksa keluar sampai ambang batas itu bukan sekadar gaya. Itu cara tubuh memprotes ketika kata-kata tidak lagi cukup bermakna.
Lalu lagu Pedophile menambahkan lapisan jijik terhadap moral palsu yang sering muncul dari institusi yang mengaku suci. Zekzek menolak norma-norma yang mengatur tubuh, perilaku, dan ekspresi, tetapi sialnya tak pernah berhasil menjaga orang-orang yang katanya harus dilindungi.
Saat dibandingkan dengan tensi lagu Revolt!, posisi lagu Cage berdiri akan lebih terlihat. Ini bagian tengah album yang paling menekan, titik di mana seluruh dinding sosial terasa makin menciut. Revolt! memang lagu perlawanan, penuh harapan keras kepala seperti “ENGKAU BELUM LELAH MENENTANG. Di sinilah relevansi teori Ahern tentang somatic politics bekerja.
Cage juga menjadi gerbang menuju karakter album di trek akhir seperti Konservatif dan Kuda Liar. Setelah terjebak di ruang sempit, dua lagu itu adalah pintu pelarian.
Konservatif menampar budaya stagnan yang memaksa semua orang tetap di tempat yang sama. Sedangkan Kuda Liar melanjutkan dengan energi yang lebih bebas, tapi bukan kebebasan yang utopis. Kalau Cage adalah kamar pengasingan, Kuda Liar adalah tembok yang akhirnya retak.

Kebisingan sebagai Kritik: Kekuatan Sonik yang Menolak Rapi
Performa panggung hardcore adalah alat kritik politik yang diwujudkan melalui tubuh dengan cara berdiri, cara melompat, suasana crowd. Semuanya membentuk proses penolakan terhadap sistem yang timpang.
Energi yang sama muncul di album ini. Ada ketegangan yang membangun dari intro lagu pertama sampai ke tengah album yang bertumpuk seperti bangunan kota yang terus menghimpit. Hardcore menjadi bahasa fisik yang melawan tata ruang sosial yang menindas.
Trek Teror dengan durasi 01:37 ini tidak memberi ruang bagi pendengar untuk masuk perlahan juga tak luput dari tawaran kesadaran akan marabahaya ketakutan struktural yang memiliki probabilitas akan menjadi pengalaman somatik.
Hal ini persis seperti teori Ahern tentang somatic politics yang kurang lebih berbunyi bahwa kekuasaan dirasakan pertama kali melalui tubuh.
Saat vokalis setengah menjerit, “DIBUNGKAM TAK DAPAT MELAWAN”, itu bukan metafora. Itu pengalaman reformasi sosial di kota kecil yang ketat moralnya.
Sedangkan pungkasan trek yang berbunyi “KEPARAT ITU HARUS DIHANCURKAN!” menggema sebagai deklarasi moral, bukan sekadar sumpah serapah. Sebab, sekali lagi dalam wilayah hardcore, kata-kata kasar bukan vulgaritas, melainkan bahasa politik kelas bawah.
Album ini memanfaatkan hal itu sepenuhnya. Setiap hentakan drum, riff rapat, dan vokal yang dilepas habis-habisan terasa seperti performativitas kritik yakni sebuah praktik sosial yang bergerak melalui fisik, bukan hanya lirik. Album ini terhubung dengan cita-cita bahwa hardcore bukan hanya musik cepat dan berteriak, tetapi mode kritik yang berakar pada tubuh dan ruang.
Permainan tone gitar yang menusuk, drum yang lebih keras dari standar produksi modern, dan vokal yang pecah adalah strategi kritik. Kebisingan menjadi bahasa politik yang menolak kompromi.
Distorsi yang tajam, tempo ekstrem, dan vokal yang tidak rapi adalah cara hardcore mengganggu norma dominan yang memuja ketenangan, keteraturan, dan kesopanan.
Mereka mengutarakan bahwa ekstremitas musikal dengan tempo yang membabi buta, distorsi yang berlebihan, adalah strategi sonik yang membalikkan norma-norma adab publik.
Kekerasan suara adalah cara hardcore mengembalikan dunia kepada pendengarnya, kepada dunia yang bising, tidak stabil, dan tidak rapi. Itu sama seperti realitas sosial yang mereka hadapi.

Harapan Sebagai Ruang yang Direbut, Bukan Diberikan
Erich Fromm melalui bukunya yang berjudul The Revolution of Hope menuliskan bahwa harapan bersifat paradoks. Harapan bukanlah menunggu secara pasif juga bukan pemaksaan yang tidak realistis terhadap keaadan yang tidak bisa bisa dilakukan.
Demikian pula, harapan dalam album ini tidak hadir sebagai slogan manis. Harapan muncul sebagai ruang yang direbut dari dunia yang terlalu sempit untuk dihuni. Harapan yang dimaksud Fromm bukan lamunan lembek. Itu menuntut tindakan, keberanian, dan kemampuan menahan ketidakpastian.
Ketika harapan dipahami sebagai sesuatu yang harus direbut, bukan ditunggu, logikanya langsung bertemu dengan dunia hardcore. Di sinilah gagasan Fromm mengalir ke analisis Butz & Winkler yang berbunyi harapan yang aktif itu membutuhkan ruang.
Ketika ruang sosial nyata terlalu sempit, hardcore menciptakan ruang tandingannya sendiri. Seperti yang ditunjukkan Butz & Winkler dalam Hardcore Research, hardcore bekerja dengan menciptakan counter-spaces, ruang tandingan tempat tubuh dan suara dapat hidup tanpa tuntutan moralitas publik yang konservatif.
Pada akhirnya, album ini bukan hanya kompilasi lagu pendek. Album ini adalah peta perlawanan generasi baru Madura. Harapan versi mereka bukan janji tentang masa depan yang rapi, tetapi tindakan untuk tidak berhenti bergerak meski dunia memerintahkan diam.
Moshpit, crowd surf, stompin dan twostep bahkan teriakan yang serampangan menjadi bagian dari ritual resistensi. Album ini terasa seperti rekonstruksi dari ruang alternatif. Ruang yang intens, padat, tapi terbuka bagi gerakan, lompatan, dan tubuh yang ingin keluar dari kemapanan struktur sosial.
Itulah mengapa bagian tengah album ini begitu kuat. Ruang soniknya dipadatkan, seolah ingin menekan dada pendengar. Namun justru dari tekanan tersebut akritiknya muncul.
Musik hardcore di sini tidak sedang menyampaikan kritik melalui argumentasi logis. Ia melakukannya melalui kompresi ruang melalui getaran, kebisingan, dan ritme yang memaksa pendengar menyadari bahwa mereka sedang diajak merasakan klaustrofobia sosial yang menjadi tema.
Selain itu, yang menarik dari album ini adalah proses pembacaan terhadap kondisi sosial yang berjalan dibayang-bayang ketakutan dan keterasingan. Di satu sisi, ia terlihat mengisahkan suatu kronologi tertentu beserta detailnya. Namun di sisi lain, pendengar dituntun untuk memintasi alur berpikir mereka hingga tanpa sadar sudah ada pada narasi makro.
Album ini tidak hanya keras, tidak hanya marah. Album Zekzek ini memahami bahwa kemarahan bisa menjadi bahasa politik. Ia mengandung pesan untuk menjadi lebih kuat secara personal dan kolektif, lebih bijaksana melawan kuasa dan lebih berani menantang tirani.
Karya Warik dan kawan-kawan ini seolah menjadi cermin yang relatif baru bagi pegiat musik underground, khususnya wilayah Madura.
Editor: Agustinus Rangga Respati
Foto Sampul: @dees.villtur_._
