Copet Itu Berengsek dan Gigs Tak Butuh Sampah Sepertimu!

Copet di gigs adalah bentuk yang menjijikkan dari manusia yang kehilangan arah.

Ada kalanya dalam hidup terasa sesak dan satu-satunya hal yang kita butuhkan hanyalah ruang untuk bernafas. Setelah berbulan-bulan dikejar tuntutan, dikurung di depan layar, dan bahkan dipaksa memikirkan ”masa depan” yang belum sepenuhnya kita mengerti, maka barangkali hiburan sesekali menjadi hak yang sah untuk kita ambil.

Bagi sebagian orang ruang untuk bernafas itu bisa berupa liburan, pergi ke pantai atau naik gunung, ngopi di kafe, atau sekadar tidur seharian. Namun bagiku, malam itu, aku memilih gigs sebagai ruang bernafasku.

Aku datang ke gigs dengan niat yang sangat manusiawi yaitu hanya ingin sebatas bersenang-senang setelah menyelesaikan sidang skripsi. Sesederhana ingin merasa sedikit bebas tanpa revisi, tanpa tekanan, tanpa bayang-bayang dosen pembimbing, dan hanya ada musik juga teman-teman yang sama -sama bersenang-senang. Namun rupanya tak semua yang datang ke sana dengan alasan yang sama.

Malam itu line-upnya benar-benar memanjakan telinga. Band-band yang tampil adalah band yang masuk ke daftar playlist favoritku dan ada satu band yang sudah lama kutunggu untuk kutonton live perform-nya. Musik-musik mereka banyak menemaniku menulis, mengerjakan revisian dan begadang panjang selama masa skripsi, maka rasanya menyenangkan sekali akhirnya mendengarkan lagu-lagu itu tidak hanya dari Spotify, tidak di bawah tekanan, tapi di tengah panggung yang riuh.

Gigs kali ini menyuguhkan empat band yang semuanya kusukai. Band pertama selesai kutonton dengan aman, meski aku datang sedikit terlambat. Satu lagu terlewat tapi tak masalah karena atmosfernya masih terasa hangat.

Aku menyaksikan band ini dari belakang karena memang crowd sudah sesak, sementara di depan panggung riuh terlihat. Crowd surf, moshpit, dan gemuruh terlihat menyenangkan. Aku pikir semuanya akan berjalan aman seperti biasanya, maka saat jeda pergantian band satu ke band selanjutnya aku memutuskan untuk mendekat ke panggung dengan harapan bisa merasakan riuh dan melepaskan penat yang selama ini tertahan. Namun ternyata, mulai dari sini nasib punya kejutan yang berengsek.

Band kedua naik ke panggung, band ini adalah band yang paling kuincar karena aku memang belum pernah sekalipun melihat live perform-nya. Begitu memainkan lagu opening, aku dan teman-temanku sudah mulai terhanyut dalam riuhnya.

Lagu kedua langsung memainkan lagu yang paling kutunggu, aku berhasil menikmati lagu itu dari jarak paling dekat, suara vokalisnya terdengar langsung masuk ke telingaku, dan aku seketika tenggelam dalam riuh keramaian.

Ya, aku berhasil tenggelam namun sialnya tenggelam dalam arti yang salah. Lagu belum selesai berjalan, aku sadar ada sesuatu yang hilang dari celanaku. Ponselku raib, berengsek! Seketika rasa senang yang sedari tadi kurasakan berubah menjadi panik dan kacau tak karuan. Aku berhenti melompat, berhenti bernyanyi, hanya bisa berdiri dengan kepala yang berputar dan tangan yang gemetar.

Seketika aku menarik teman-temanku dan mengabari mereka, temanku lantas berteriak di tengah riuh, mengabarkan ada hp yang hilang. Saat lagu selesai, corwd memang sempat terbelah dan teman-teman ikut membantu mencari dengan dibantu senter yang mencoba menembus ribuan kaki yang berdesak-desakkan.

Belum sedikit pun kami mendapatkan petunjuk, lagu ke tiga sudah mulai dinyanyikan dan seketika crowd kembali pecah. Aku dan teman-teman memutuskan untuk keluar dari crowd karena merasa mustahil mencari benda sekecil hp yang sudah disambar oleh tangan-tangan yang lebih cepat dari distorsi gitar.

@faridstevy

Kami mundur dari crowd dan mencoba untuk melacak hp, dengan perasaan yang panik aku coba melacak hp lewat fitur find my phone dan memasukan akun yang beberapa kali sempat gagal karena salah memasukan passsword, sementara temanku mencoba menelfon hpku memastika hpku tidak offline. Namun tak lama setelah berhasil melacak hp dan memastikan hp masih di area gigs, tiba-tiba status hpnya berubah menjadi offline. HP seketika tak bisa dilacak dan nonaktif saat dicoba ditelfon.

Aku masih tak puas hati, lalu coba kucari security atau keamanan yang memang ada di area panggung, setelah kutemui mereka hanya melemparku ke sekretariat panitia untuk melaporkan kejadiannya. Aku coba melaporkannya di ruang panitia, ternyata di depan ruang panitia, banyak orang yang juga berkerumun untuk melaporkan keluhan yang sama.

Lalu aku dan teman-temanku menghabiskan gigs di depan sekretariat panitia dengan berbagi keluhan yang sama dengan korban-korban lainnya sambil berharap hp kami menemui titik terangnya, meski pun mulai tumbuh rasa ikhlas dan pasrah karena merasa hampir tidak mungkin tiba-tiba copetnya berbaik hati dan mengembalikan jarahannya ke panitia.

Gigs mendekati ujung acara, panita dan pihak keamanan berkoordinasi dan mencoba mengupayakan pencegahan kaburnya copet itu dari ruangan gigs, kami hanya bisa menyerahkan ini kepada mereka meskipun sempat kesal mendengarkan satu steatmen dari oknum keamanan yang menormalisasikan situasi ini seolah sudah terbiasa.

Dia dengan enteng bilang, ”Wah, kecopetan ya, mas? Ya biasa mas, namanya juga gigs.”

Biasa katanya? Sejak kapan keberengsekan jadi hal yang biasa? Sejak kapan mencuri jadi bagian dari kultur musik yang katanya independen? Yang katanya alternatif? Yang katanya mengedepankan solidaritas satu sama lain?

Gigs seharusnya menjadi ruang aman untuk semua orang yang ingin bersenang-senang, baik aman dari pelecehan, pencurian, mau pun tindakan-tindakan lainnya yang merugikan. Bukan untuk saling sikut dan nyolong seenaknya bahkan di tengah dentuman musik yang lantang menyuarakan lagu-lagu kebebasan dan perlawanan masih saja ada kebusukan yang bisa bersuara dengan pelan lalu menyelinap, menjilan dan merampas.

Meski pun begitu, aku masih tetap berterima kasih kepada orang-orang yang masih peduli dengan kanan-kiri dan selalu berusaha saling menumbuhkan gigs yang sehat.

Juga kepada panitia juga pihak keamanan yang masih mengupayakan berbagai cara untuk mencegah sebagai bentuk tanggung jawab.

Untuk orang-orang yang memilih menjadi sampah dengan mengambil barang milik orang lain, kamu itu berengsek! Orang-orang sepertimu tak akan pernah menjadi bagian dari skena. Kamu itu cuma parasit yang bisanya hanya menempel pada kebisingan, pengecut yang memilih menyaru dan berpura-pura jadi bagian dari perayaan. 

Aku tak peduli dengan kerasnya hidupmu atau seberapa sulit uang yang kamu kejar. Copet tetaplah copet. Copet di gigs adalah bentuk yang menjijikkan dari manusia yang kehilangan arah, karena kamu bukan cuma mencuri barang, tapi juga merampas rasa percaya di tempat yang seharusnya paling jujur.

Jika copet membaca tulisanku ini—meski pun aku yakin orang-orang sepertimu tidak pernah membaca apalagi refleksi diri—semoga tanganmu yang terbiasa menggapai saku orang lain suatu hari nanti mendapatkan kesadaran, kalau pun tidak tanganmu itu akan kami paksa menuliskan permintaan maaf di neraka nanti. Sebab tak ada yang lebih menyedihkan dari seseorang yang datang ke gigs bukan untuk bersenang-senang atau menikmati musik, tapi untuk menjadi sampah di tengahnya.

Aku akhirnya pulang dengan kepala yang penuh dengan distorsi yang bukan berasal dari gitar, melainkan dari riuh ramai kekesalan yang menyebalkan. Langkahku terasa berat meski tak ada lagi handphone di sakuku. Tubuhku lemas bukan karena mosh pit, atau crowd surf, melainkan karena kecewa. Padahal niatnya cuma ingin sedikit merayakan setelah melewati perjuangan panjang bersama skripsi, namun malam itu justru yang kudapat adalah pelajaran bahwa di balik niat sederhana untuk mencari kebahagiaan, selalu saja ada tangan-tangan berengsek yang mengotorinya.

Untuk copet, sekali lagi kamu benar-benar berengsek!


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Freepik/teksomolika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Titik-Titik: Kumpulan Puisi Faza Nugroho

Next Article

Teater Manekin: Ketika Tubuh-Tubuh Bebas itu Mati di Ruang Rias

Related Posts