Dari Nitisemito hingga Pramoedya Ananta Toer: Membaca Sejarah dan Budaya Kretek di Kudus

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar yang membaca dan mencatat sejarah-budaya industri rokok kretek di Kudus, Jawa Tengah.

Pada suatu sore di sebuah warung kecil di sudut Kota Kudus, aroma tembakau dan cengkeh yang terbakar bercampur dengan obrolan ringan para pelanggannya. Seorang lelaki tua, dengan jemari yang menguning karena nikotin, mengisap dalam-dalam sebatang kretek, lalu mengembuskan asapnya dengan pelan. 

“Dulu, sebelum ada pabrik-pabrik besar ini, kretek masih dilinting tangan di rumah-rumah,” katanya, mengenang masa ketika industri rokok khas Indonesia ini baru mulai berkembang.

Di balik kepulan asapnya, tersimpan kisah panjang tentang inovasi seorang pengusaha bernama Nitisemito, industri yang membangun perekonomian Kudus, serta catatan seorang sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer yang menyaksikan bagaimana kretek menjadi bagian dari sejarah sosial, budaya, dan ekonomi di Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer bukan hanya seorang sastrawan besar Indonesia, tetapi juga seorang saksi sejarah yang mencatat perubahan sosial, ekonomi, dan budaya dalam karya-karyanya. Salah satu aspek kehidupan yang menarik perhatian Pram adalah industri rokok kretek, terutama di Kudus, Jawa Tengah.

Dalam kata pengantar buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes karya Mark Hanusz, Pram berbagi kisahnya tentang kretek, baik dari perspektif sejarah industri maupun pengalamannya sendiri selama masa pengasingan di Pulau Buru.  

Buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes (dok. Threads.net/hestekbuku)

Industri rokok kretek di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Nitisemito, seorang pengusaha asal Desa Jagalan, Kudus, yang lahir pada tahun 1874. Ia dikenal sebagai “Radja Kretek” karena perannya dalam mengembangkan industri rokok kretek hingga menjadi komoditas yang sangat berpengaruh secara ekonomi.  

Kudus, yang hingga kini dikenal sebagai pusat industri kretek, mengalami lonjakan pertumbuhan ekonomi berkat inovasi Nitisemito. Ia mendirikan merek rokok terkenal, Bal Tiga, menjadi salah satu pionir dalam bisnis kretek. Dengan metode pemasaran modern pada masanya, seperti penggunaan agen distribusi dan strategi branding yang kuat, Nitisemito berhasil mengembangkan perusahaannya hingga berskala nasional.  

Keberhasilan Nitisemito bukan hanya mengubah Kudus menjadi kota industri, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan orang. Para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik kretek, baik sebagai pelinting rokok maupun pengolah tembakau dan cengkeh, menjadi bagian dari roda ekonomi yang terus berputar.

Dalam skala yang lebih luas, bisnis kretek juga melibatkan petani tembakau dan cengkeh di berbagai daerah di Indonesia, menciptakan rantai ekonomi yang menghubungkan berbagai sektor.  

Pramoedya, Kretek, dan Ekonomi di Masa Pengasingan  

Bagi Pramoedya Ananta Toer, kretek bukan hanya sekadar produk industri, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Ia mengenang pengalaman pribadinya dengan rokok kretek sejak kecil, ketika pertama kali mengisap klobot—rokok yang dibungkus dengan kulit jagung dan diikat dengan benang katun merah. Merek yang diingatnya adalah Bal Tiga, produk dari Nitisemito.  

Namun, hubungan Pram dengan kretek tidak berhenti di sana. Ketika ia diasingkan di Pulau Buru oleh rezim Orde Baru, kretek menjadi bagian dari kesehariannya. Dalam kesaksiannya, Pram menuturkan bagaimana para tahanan politik menggunakan rokok sebagai alat barter.

Mereka yang memiliki uang bisa membeli rokok di pelabuhan, sementara yang tidak mampu akan menanam tembakau sendiri untuk mencukupi kebutuhan mereka. Bibit tembakau didapatkan dari penduduk setempat maupun dari penjara Nusakambangan.  

Catatan Pramoedya Ananta Toer tentang kretek dan pengasingan (dok. Threads.net/hestekbuku)

Sistem barter ini menggambarkan bagaimana ekonomi bisa tetap berjalan meskipun dalam kondisi yang serba terbatas. Dalam tahanan, Pram bahkan menukar telur ayam peliharaannya dengan rokok kretek, sebuah gambaran kecil tentang bagaimana rokok menjadi alat tukar yang bernilai dalam lingkungan yang penuh keterbatasan.  

Selain itu, Pram juga menyoroti bagaimana pemerintah pada masa kolonial mengambil keuntungan dari industri kretek melalui pajak. Ia menulis bahwa pada masa itu, yang ada bukanlah ekonomi nasional, melainkan ekonomi kolonial, di mana setiap keuntungan yang dihasilkan oleh para buruh dan petani sebagian besar jatuh ke tangan penguasa. Kretek, dalam perspektif Pram, bukan hanya produk konsumsi, tetapi juga cerminan dari sistem ekonomi yang menindas rakyat kecil.  

Kretek sebagai Warisan Budaya dan Ekonomi Nasional  

Hingga kini, industri kretek masih menjadi bagian penting dari ekonomi Indonesia. Kudus tetap menjadi pusat industri rokok kretek, dengan merek-merek besar yang terus berkembang. Meskipun industri ini juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk regulasi ketat dan kampanye kesehatan global, kretek tetap memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia.  

Kretek bukan hanya sekadar rokok, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Seperti yang dicatat oleh Pramoedya, kretek menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari rakyat, baik sebagai hiburan, alat tukar, maupun simbol dari ketahanan ekonomi masyarakat kecil.

Melalui kisah Nitisemito, kita melihat bagaimana inovasi dan strategi bisnis bisa mengubah wajah industri dan mengangkat perekonomian daerah. Sementara itu, melalui kesaksian Pram di Pulau Buru, kita memahami bahwa di balik sebatang kretek, ada kisah perjuangan dan ketahanan hidup.  

Sejarah kretek di Kudus yang dibentuk oleh tokoh seperti Nitisemito dan disaksikan oleh Pram, menunjukkan bahwa industri ini lebih dari sekadar bisnis—ia adalah bagian dari sejarah sosial, ekonomi, dan budaya di Indonesia.

Pada akhirnya, kretek bukan hanya soal tembakau dan cengkeh yang terbakar dalam bara api kecil, melainkan kisah panjang tentang inovasi, kerja keras, dan dinamika sosial yang mengiringinya. Di sudut-sudut Kudus, warung kopi dan pabrik-pabrik pelintingan masih menjadi saksi bagaimana industri ini terus bertahan melewati zaman. Dari tangan-tangan terampil para pelinting hingga strategi bisnis yang diwariskan dari generasi ke generasi, kretek tetap memiliki denyut nadi yang menghubungkan masa lalu, kini, dan nanti.  

Seperti yang dicatat oleh Pramoedya, kretek bukan sekadar kebiasaan atau candu, tetapi juga sebuah peristiwa ekonomi dan budaya yang menyentuh kehidupan banyak orang.

Di balik kepulan asapnya, ada petani yang menggantungkan harapan pada panen tembakau, ada buruh pabrik yang menghidupi keluarganya dari setiap lintingan yang dibuat, dan ada pengusaha yang terus mencari cara agar kretek tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Sejarah telah membuktikan bahwa meskipun regulasi dan tantangan terus berdatangan, kretek tak serta-merta lenyap dari kehidupan masyarakat.  

Kisah Nitisemito yang membangun bisnisnya dari nol hingga menjadi “Radja Kretek” menunjukkan bahwa inovasi dan ketekunan dapat mengubah nasib seseorang dan bahkan suatu kota. Sementara itu, kesaksian Pramoedya di Pulau Buru mengingatkan bahwa kretek juga bisa menjadi simbol ketahanan di tengah keterbatasan. Dua tokoh ini, meskipun berbeda latar belakang, sama-sama mengajarkan bahwa industri kretek bukan sekadar urusan dagang, melainkan cermin dari perjuangan dan dinamika sosial di Indonesia.  

Dan begitulah, di setiap kepulan asap kretek yang melayang ke udara, terselip jejak sejarah yang terus diceritakan ulang. Dari sudut warung kopi di Kudus hingga ke buku-buku yang ditulis oleh para pemikir bangsa, kretek tetap memiliki tempatnya—sebagai warisan budaya, sebagai penggerak ekonomi, dan sebagai pengingat bahwa di balik sebatang rokok, ada kisah panjang yang tak bisa dilupakan.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Buku “Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Membayangkan Pasca-Mooi Indie dari Karya Theresia Agustina Sitompul dan Pidi Baiq

Next Article

Album 'Membabi Buta' B.O.A.R: Umpatan Vulgar Atas Karut-marut Negara

Related Posts