Mengangkat Gangguan Bipolar pada Sebuah Karya

bipolar manic

Pada hakikatnya manusia diciptakan sebagai makhluk yang lebih sempurna dibanding makhluk hidup lainnya. Sebagai manusia, kita dapat berpikir dan mengendalikan emosi kita. Namun, bagaimana jika ada beberapa orang memiliki gangguan dalam mengendalikan emosinya. Salah satu dari gangguan tersebut adalah gangguan bipolar.

Bipolar adalah gangguan emosional dengan dua kutub yang bertolak belakang. Dua kutub dalam gangguan ini adalah depresi dan manik. Depresi merupakan keadaan di mana penderita mengalami kesedihan, rasa bersalah yang berlebihan, dan menarik diri dari orang lain. Sedangkan manik merupakan keadaan emosi yang ditandai dengan kegembiraan yang berlebih, mudah tersinggung, dan berbicara lebih banyak dari biasanya.

Penderita gangguan bipolar hidup dengan perubahan mood baik depresi ke manik atau sebaliknya. Hal ini dialami dengan mood yang bertolak belakang, sehingga gejala naik-turun mood yang dialami penderita menjadi pengalaman tersendiri bagi mereka. Beberapa risiko yang dialami oleh penderita bipolar kebanyakan adalah menarik diri dari lingkungan sosialnya hingga percobaan bunuh diri, sehingga sangat perlu pengawasan dengan baik oleh beberapa orang terdekat.

Hidup sebagai seorang bipolar adalah hal yang sulit karena harus menjalani hidup yang penuh dengan tekanan. Dengan tekanan-tekanan yang dihadapi, penderita bipolar sangatlah membutuhkan dukungan dalam upaya penerimaan diri sebagai penderita bipolar. Hal ini dapat kita lihat dari pengalaman seorang pengidap bipolar di Indonesia, Marshanda.

Penderita bipolar tidak hanya berperang dalam penerimaan dirinya sendiri, namun juga dalam hubungannya dengan orang lain. Tidak mudah bagi mereka yang memiliki pasangan seorang bipolar. Perlu kesabaran dalam menghadapi perpindahan emosi yang muncul dan berakhir secara tiba-tiba.

Salah satu band lokal pendatang baru di Jogja, Saturia, mengangkat gangguan bipolar tersebut pada sebuah musik. Single terbarunya yang berjudul Manic merupakan sebuah keresahan yang mereka angkat dari beberapa orang yang memiliki pasangan yang terdiagnosa gangguan tersebut. Lirik pada single Manic juga mengungkapkan bagaimana tidak enaknya hidup dengan pasangan sebagai penderita gangguan bipolar dan menjadi hal yang sulit untuk mengambil keputusan yang tepat, salah sedikit bisa berakibat fatal.

Dengan adanya single terbaru dari band Saturia, pendengar diharapkan dapat lebih peka terhadap gangguan bipolar. Dukungan sosial dari orang sekitar sangat dibutuhkan bagi para penderita gangguan bipolar untuk upaya penerimaan diri. Menjalani hidup sebagai penderita bipolar dan sebagai pendamping penderita bipolar bukanlah hal yang mudah.

Teruntuk kalian yang mengidap gangguan bipolar, kalian tidak sendiri karena kalian didampingi orang-orang yang kuat yang siap menemani kalian dalam menjalani hidup. Cintailah orang terdekat yang setia mendukung kalian apapun kondisi kalian.

Untuk kalian yang memiliki pasangan penderita bipolar, tanggung jawab dalam menjalani sebuah hubungan dapat diwujudkan dengan menerima pasangan kalian apa adanya termasuk kebipolarannya. Oleh karena itu, dampingilah dia untuk dapat menerima dirinya sebagai seorang bipolar.

Dan teruntuk siapa pun yang membaca tulisan ini, merupakan sebuah pelajaran yang penting bagi kita untuk tidak mudah mengatakan ‘Bucin’ kepada satu pasangan yang tidak kita ketahui latar belakangnya. Dukungan sosial dari kita akan membantu mereka dalam melewati masa-masa sulit daripada memberi cap yang menjatuhkan mereka.

Editor: Endy Langobelen

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts