Di Bawah Mimbar: Kumpulan Puisi Dimas Sanubari

Kumpulan puisi ini: Di Bawah Mimbar, Lapang, dan Ibu Surgawi ditulis oleh Vincentius Dimas Sanubari.


Di Bawah Mimbar

Tuhan
sering kali berbicara
dengan kata-kata panjang
dan tak selalu
kutangkap maknanya.

Kadang itu
hanya membuatku ingin
menunduk,
mengantuk,
atau menahan kepala
agar tak jatuh
ke meja.

Namun di saat-saat tertentu,
ada kalimat yang bisa menampar pelan,
mencabik-cabik,
dan tak sedikit yang bikin
menelanjangi diri.

Begitukah
cara-Mu tinggal bersamaku?

Lapang

Aku pernah datang ke tempat suci
yang sunyi di tengah malam,
hanya karena ingin menuruti
perkataan orang saleh.

Katanya,
doa di saat
orang-orang tertidur
bisa melapangkan jalan.

Aku coba.

“Dalam nama Bapa,
Putra,

dan Roh Kudus.

Bu,
aku kesel.
Amin.”

Lalu pulang,
dan kubiarkan angin
mengeringkan wajahku.

Ibu Surgawi

Kepada,
Ibu Surgawi.

Maaf untuk
segala tanda kasih sayang
yang sederhana,
dan keterbatasanku.

Barangkali juga
aku tak pernah
cukup waktu untuk
menunjukkan cinta
sebagaimana mestinya.

Namun harapku,
Ibu Surgawi tahu
bahwa kita berdua
tak hanya menjalani cinta
tapi saling menghidupi.

Sebab, Jean Marais sempat bilang kepada Minke:
“Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan
yang mungkin membuntutinya.

Karena itu,
aku ingin: m-e-n-g-h-i-d-u-p-i.


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Rienaldy Bagas

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Yes No Wave Music: Siasat Desentralisasi Bunyi, Arsip, dan Ilmu Pengetahuan

Next Article

Dari Tanam Paksa ke Ketahanan Pangan, Jubah Baru Kolonialisme?

Related Posts