EP ‘Harapan’ The Cottons: Berbanggalah dengan Harapan

Lewat EP ‘Harapan’ The Cottons, saya seperti diingatkan kembali untuk  berbanggalah dengan harapan yang dipegang.

Indonesia, di tengah pertengahan bulan Februari tahun 2025 sedang berada di situasi “panas” dan demo yang sedang bergemuruh melihat berbagai kebijakan pemerintah yang absurd. Mulai dari kesenian yang kian dikebiri baik seni lukis, pertunjukan, bahkan musik yang baru-baru ini menghampiri grup musik Sukatani yang menyuarakan fakta lapangan.

Belum lagi munculnya kelakar-kelakar akan istilah “Neo Orba” atau “ORPABA (Orde Paling Baru)”, fenomena mengkritik yang kini mulai diberi stigma negatif, manipulasi kekuasaan, kerusakan alam yang menjadi bukti betapa isu lingkungan bukan menjadi prioritas, esensi pendidikan yang hanya menjadi aspek pendukung bukan prioritas karena yang utama dan hakiki di mata pejabat adalah faktor perekonomian yang sudah berlangsung-langsung.

Carut-marut betul bukan? Sampai ada sebuah postingan story di aplikasi Instagram yang isinya kurang lebih, jika saya parafrasekan, yakni negara tidak memberikan harapan, hanya The Cottons lewat lagu Harapan.

Dari narasi tadi, apa kaitan saya dengan lagu tersebut? Ada apa dengan lagu tersebut? Apa korelasi dari narasi awal saya yang mengangkat tentang isu nasional dengan lagu tersebut? Semua itu bermula pada tahun 2024.

Saya lupa persis di bulan apa, pastinya saya mengetahui tentang The Cottons ketika melihat postingan story dari Aprilia Apsari, vokalis White Shoes & the Couples Company yang menggunakan lagu latar Harapan pt. 3. Melalui ANABEL (Analisis Gembel) saya, lagu Harapan pt. 3 sekilas mirip ketika mendengarkan lagu-lagu Chrisye di album-album pertama sebut saja Juwita, Smaradhana, Kehidupanku, Percik Pesona, dan sebagainya.

Sebuah tempo disko ala-ala dengan synthesizer yang membuat orang yang menyimak dengan betul minimal menggerakan kepalanya mengikuti tempo sembari joget tipis-tipis. Ya, sekali lagi itu adalah analisis gembel saya, sangat terbuka untuk dievaluasi. Lagu Harapan pt. 3 ini menjadi pintu gerbang saya untuk tenggelam dalam grup yang digawangi Yehezkiel Tambun dan Kaneko Pardede.

The Cottons memiliki dua EP (Extended Play) bertajuk “It’s Only a Day” (2016) yang memiliki dua lagu yakni Yesterday is Gone dan It’s Only a Day yang sama dengan judul EP tersebut. Berikutnya ada “Harapan” (2024) yang berisi lagu Harapan yang terbagi menjadi bagian satu, dua, tiga, dan kemudian dilanjut dengan lagu Ashes of Hope. Ketiga lagu Harapan ini ditulis dengan bahasa Indonesia dan meskipun judulnya sama, tampak sebuah grafik kehidupan yang penuh lika-liku disimbolkan dengan nyata dalam lagu ini.

EP ‘Harapan’ karya The Cottons (dok. Bramantyo Yamasatrio Kumoro)

Dari lagu-lagu tersebut, saya akan memulai pembahasan ini melalui lagu Ashes of Hope. Saya bahas terlebih dahulu karena lagu ini cocok untuk sepasang kekasih yang sedang berjuang merajut harapan bersama. Romantika-romantika kecemburuan, memahami sebuah fakta kalau meskipun menjalin relasi, tetap ada waktu untuk sendiri. Nyatanya bukan sebuah perkara besar, tetapi itu adalah hal biasa yang harus dijalani individu baik dengan atau tanpa pasangan sekalipun.

Ketika sudah berpasangan, hidupilah relasi tersebut dengan sehat! Untuk apa kita berkomitmen menjalin hubungan kalau kita masih sadar balas dendam kepada pasangan saat melakukan kesalahan baik sengaja atau tidak sengaja? Untuk apa kita berkomitmen untuk menjalin hubungan kalau kita sendiri menyepelekan relasi itu dengan sadar mengulangi kesalahan yang sama dan tidak ada rasa bersalah? Ashes of Hope bisa menjadi refleksi bagi kalian yang sedang mempersiapkan diri menuju hubungan yang serius namun tetap asyik dalam menjalankannya.

Selanjutnya, ketiga lagu Harapan dapat merembet kepada cara pandang kita sebagai manusia dalam menanggapi kehidupan. Manusia mengalami yang namanya siklus kehidupan. Kehidupan itu dapat kita lihat dengan respons kita terhadap emosi akibat situasi sosial yang kita alami.

Seperti Harapan pt. 1 dengan aransemen yang menggebu-gebu, lirik optimisme menguatkan pendengar kalau harapan itu benar nyata adanya; bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, ini merupakan aspek yang biasa dalam hidup kalau ingin mengejar harapan kita. Sampai-sampai semua itu dipertanyakan kembali. Makna harapan itu sendiri dipertanyakan oleh kita. Apakah benar harapan itu nyata adanya? Mengapa lingkungan sekitar kita menolak harapan kita? Mengapa lingkungan sekitar kita menganggap kita sebagai anak kecil dengan berpegang penuh pada harapan? Elo ya elo! Gw ya gw!

Itu adalah realita yang suka tidak suka harus kita hadapi, harus kita jalani baik di lingkungan sekolah, lingkungan kerja, lingkungan keagamaan, dan lingkungan-lingkungan lain. Ada momen tarik ulur ketika kita ingin melepas harapan kita. Apakah jati diri atau karakter kita juga ikut terlepas secara tidak sadar? Apakah saya sudah menyerahkan diri sebagai manusia sesuai dengan standar masyarakat yang tidak mau mengenal atau tidak mau memberi ruang pada individu yang ingin menghidupi pilihannya?

Apakah manusia yang menghidupi pilihannya akan dinilai sebagai manusia yang akan menghambat laju perekonomian negara, menghambat kinerja dunia akademik yang menganggap kesenian adalah sebuah formalitas belaka? Fenomena gaslighting makin kemari terlihat makin dihidupi di tengah masyarakat, hal ini dapat dilihat di kutipan lirik Harapan pt. 2:

“Tak terukur dalamnya rasa pilu, saatku kehilangan harapan”

Bait yang direpetisi ini seakan-akan mengajak pendengar untuk merenung bagaimana jika betul kita melepas harapan tersebut? Rasa sakit apa yang muncul baik yang sudah dibayangkan atau tak terbayangkan sama sekali melalui pelepasan harapan ini? Bagaimana bisa kita mempertanggungjawabkan diri kita kepada kita sendiri terhadap pribadi kita yang kosong? Lagi-lagi, masyarakat yang secara natural menikmati atau melanggengkan fenomena gaslighting adalah manusia hina yang tidak sah untuk diberikan celah mencari pembenaran atas sikapnya.

Sampai-sampai, mungkin yang namanya fenomena manusia adalah sebuah siklus manusia yang penuh dengan misteri akan pencarian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan refleksi. Mungkin diwakilkan dari lagu Harapan pt. 3.

EP ‘Harapan’ karya The Cottons (dok. Bramantyo Yamasatrio Kumoro)

Sebuah tempo yang familier seperti menandakan kalau saya sudah (berusaha) berdamai dengan situasi tersebut. Seperti kata Spike Spiegel, tokoh utama dalam cerita Cowboy Bebop, “Whatever happens, happens.

Kita tidak mengetahui kejahatan apa saja yang akan disuguhkan masyarakat dalam merespons idealisme kita. Namun, berbahagialah kita baik yang berjalan sendiri atau menemukan rekan sejawat dalam satu frekuensi yang sama. Kita tidak sendiri. Kita hanya dicap aneh saja oleh masyarakat dan itu hal yang wajar karena kita juga bisa mengembalikan keanehan tersebut kepada mereka. Sekali lagi jangan gelisah, kutipan pembuka berusaha untuk menguatkan diri para pendengarnya:

“Lamunan mimpi hari yang t’lah kudamba, kan datang.
Bahagia di khayalku. Terlukis angan indah nan persada.
Harapan, akan slalu bersama”

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Yehezkiel Tambun dan Kaneko Pardede. Melalui karya ini, saya dan para pendengar lainnya diingatkan kembali untuk  berbanggalah dengan harapan yang kita pegang. Sebuah harapan akan perubahan keluarga yang lebih harmonis, harapan untuk mengejar nilai sekolah yang lebih baik, harapan untuk memperjuangkan seseorang yang benar-benar penting di hidup kita, harapan untuk menempuh jenjang pendidikan yang diinginkan.

Atau harapan untuk bisa memanusiakan manusia lain, harapan untuk menggeluti apapun yang kita yakini meskipun masyarakat atau negara tidak menganggap itu sebagai cuan, dan harapan-harapan lain yang sepele atau penting.

Kalaupun saat kita hidup ternyata tidak sempat atau tidak bisa menikmati harapan tersebut, setidaknya kita sudah berusaha untuk menjadi lebih baik dengan berproses mengejar harapan itu dengan sehat dan menghidupi! Apakah ada amin? Panjang umur segala hal baik untuk kita semua!


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Bramantyo Yamasatrio Kumoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Pameran Poster Propaganda Visual 'Habis Gelap Terbitlah Gelap’: Lupakan Etika, Tugas Seni adalah Menciptakan Ketakutan bagi Penguasa

Next Article

#IndonesiaGelap: Sudah Waktunya Bunga Mekar dan Akarnya Lesak Memberontak

Related Posts