Waking Life: Hidup dan Kepastian dalam Mimpi


Menonton film Waking Life, kita semua akan dihidangkan adegan penuh nuansa surealis, seperti menonton lukisan, seperti dalam dunia fantasi, atau seperti sebuah dunia dalam mimpi. Dream is Destiny.


Untuk teman-teman yang entah di mana, tulisan ini kupersembahkan kepada kalian yang yakin terhadap satu hal yang kalian anggap sebagai kebenaran pasti. Entah itu cinta kepada seseorang, gagasan dan ideologi tertentu, sikap pada hidup, dan lain sebagainya. Terima kasih telah membuatku mengerti makna hidup. Jagalah mimpi kalian. 

Cerita ini dimulai dengan tokoh protagonis yang diperankan oleh Wiley Wiggins. Tokoh  yang berkeliaran, yang terus bertanya dalam dirinya apakah ia terjaga, atau masih bermimpi. Ia bertemu dengan banyak orang dan terlihat selalu cemas. Terlibat banyak dialog, atau dia hanya sebagai pendengar.

Semuanya mengalir. Kadang kalian tidak lagi dengan Wiggins. Kadang kalian akan dibawa ke sebuah kamar hotel dengan Ethan Hawke dan Julie Delpy sebagai karakter utama di film Before Sunrise (1995) yang tengah melangsungkan percakapan. Atau kita akan diajak mampir ke penjara di mana seorang narapidana mengutuk dan menyumpah serapahi sistem hukum dan oknum-oknum terkait. Lalu kita akan melihat seseorang dari dalam mobil dengan pengeras suara berbicara lantang mengkritik pemerintah dan sistem demokrasi.

Waking Life (2001), sebuah film animasi yang bisa dibilang lumayan berat, sebab film ini banyak sekali melontarkan dialog dari orang-orang yang ditemui oleh tokoh protagonis. Semacam penggalan fragmen yang disatukan hingga menjadi kesatuan yang utuh. Dengan dialog yang padat di sepanjang film, mungkin kalian akan terpukau dan berpikir film tersebut sangat memprovokasi.

Film Waking Life, agaknya tidak berlebihan jika saya mengatakan film ini berhasil merangsang penonton secara visual. Selain itu, dialog-dialog hadir dengan gaya filosofis, ide-ide tentang realitas, kehidupan dan cinta, lalu kematian dan mimpi.

Ini adalah film yang unik. Bukan animasi seperti Disney atau bahkan film yang menggunakan CGI seperti film-film superhero ala Marvel yang halus. Richard Linklater mengambil gambar langsung di lokasi nyata. Kemudian sederet seniman seperti: Jason Archer, Paul Beck, hingga Bob Sabiston dan Paul Sabiston, menorehkan cat di atas bingkai film.

Menonton film Waking Life, kita semua akan dihidangkan adegan penuh nuansa surealis, seperti menonton lukisan, seperti dalam dunia fantasi, atau seperti sebuah dunia dalam mimpi.

Tidak ada gambar yang terlihat diam; bangunan tampak bergerak, tanah tampak bernafas, dan warna-warna saling berkedip. Mungkin kalian bisa mematikan suara dan hanya menikmati gambar impressionisnya.

Tapi akan terasa tidak lengkap jika menonton film ini tanpa melibatkan audio. Sebab dialog-dialog yang hadir dalam scene sama menyenangkannya dengan visualnya. Keduanya, visual dan audio, hal yang saling melengkapi sehingga membangun kompleksitas simbol-simbol ketika muncul pada setiap scene. Inilah yang memberi rangsangan imajinatif saat menonton. 

Film yang ditulis dan disutradari oleh Richard Linklater ini juga menjadi salah satu bentuk imajinatif dari eksplorasi mimpi dalam mimpi. Kita bisa membayangkan seperti adegan dialog ketika berdiskusi dengan orang-orang yang mungkin asing ditemui dalam mimpi. Ada banyak dialog yang dihadirkan, di antaranya membahas tentang teori mimpi, kebebasan, paradoks penuaan, identitas dan fiksi, teori dan tindakan, proses evolusi individu, eksitensialisme, dan lain-lain.

Ada beberapa dialog yang mungkin menarik jika aku tuliskan ulang di sini.

1. Simbol-simbol Berkomunikasi

Protagonis mendengar uraian seorang wanita (Kim Krizan) tentang asal mula bahasa hingga simbol-simbol untuk berkomunikasi.

“Kreativitas keluar dari ketidaksempurnaan. Keluar dari perjuangan dan frustrasi. Di sinilah, kurasa, asal mula bahasa. Maksudku, itu datang dari keinginan kita untuk mengatasi keterbatasan kita dan membentuk beberapa koneksi dengan satu sama lain. Itu seharusnya mudah ketika hanya bertahan dalam hidup sederhana.

Misalnya “Air”. Kita mengucapkan seperti itu.

“Harimau di belakangmu!” Kita mengucapkan suara seperti itu.

Tetapi saat semua menjadi menarik, kurasa adalah ketika kita menggunakan sistem yang sama dari simbol untuk berkomunikasi pada semua yang abstrak dan mewujudkan hal yang kita alami. Apa itu “frustrasi”? Atau apa itu “marah” atau “cinta”?

Ketika aku katakan “cinta”, suara keluar dari mulutku dan sampai ke telinga orang lain, masuk ke saluran Byzantine dalam otak mereka melalui kenangan cinta pada mereka atau ketiadaan cinta pada mereka. Mereka bilang mengerti, tapi bagaimana aku tahu?

Karena perkataan tidak bisa memberi aksi. Mereka hanya simbol. Mereka mati. Kau paham?

Dan semakin banyak pengalaman kita tentang hal yang tidak dikatakan secara jelas. Maka semakin banyak kita rasakan hal yang tak bisa diekspresikan. Ini tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun, ketika kita berkomunikasi satu sama lain dan kita merasa kita telah terhubung dan berpikir kita mengerti aku rasa kita sudah membentuk perkumpulan yang hampir spiritual.

Perasaan itu mungkin hanya bersifat sementara, tapi itulah yang kita butuhkan untuk hidup.”

2. Dialog Evolusi Individu

Seseorang yang tampaknya ilmuan (Eamon Healy) menjelaskan tentang sebuah proses evolusi individu.

“…Sebuah evolusi baru berasal dari dua informasi: digital and analog. Digital adalah kecerdasan buatan. Analog adalah hasil dari molekul biologi dan kloning. Kau satukan keduanya dengan Neurobiology. Dalam peradigma lama, satu mati, yang lain mendominasi.

Pada paradigma baru, mereka ada sebagai pendukung pengelompokan non-kompetitif, independen berasal dari luar. Jadi evolusi sekarang menjadi individual. Proses yang berpusat dan berasal dari individu itu sendiri, bukan proses pasif individual pada kehendak kolektif tersebut. Jadi kau menghasilkan manusia baru dengan individu baru, itu adalah sebuah kesadaran yang baru. Itu hanya bagian awal dari siklus.

Selama proses berlangsung, dimasukan sebuah kecerdasan baru. Kecerdasan menumpuk pada kecerdasan, kemampuan pada kemampuan perubahan kecepatan sampai pada makin cepat. Bayangkan penggenapan instan potensi dari manusia dan potensi manusia baru.

Ini akan menjadi amplifikasi dari individu memperbanyak individu, eksistensi paralel individu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dan peristiwa dan evolusi manusia hari ini bisa secara dramatis berlawanan. Evolusi tua itu dingin, itu steril. Itu efisien. Itu peristiwa masyarakat beradaptasi…”

3. Dialog Pemimpi

Sebuah percakapan di Rel kereta, Protagonis sedang berjalan. Lalu seseorang dengan kaos hitam (David Martinez) melompat dari gerbong.

Apa kau seorang pemimpi? Aku tidak melihat terlalu banyak akhir-akhir ini. Sesuatu yang sulit untuk bermimpi. Mereka berkata mimpi sudah mati. Tidak ada lagi. Itu tidak mati. Hanya dilupakan. Dihapus dari bahasa kita. Tidak ada yang mengajarkan itu, jadi tak ada yang tahu kalau itu ada. Si pemimpi dibuang pada ketidakjelasan.

Aku mencoba untuk mengubah hal itu. Aku harap kau begitu, bermimpi setiap hari, bermimpilah dengan tangan dan pikiran kita. Planet kita menghadapi masalah besar yang pernah dihadapi. Begitulah. Jadi janganlah merasa bosan. Ini adalah waktu yang tepat untuk kita bisa berharap hidup.

Lalu apa yang membedakan mimpi dan realitas? Apakah realitas berpengaruh pada mimpi? Dari pandangan neurosains sendiri, mimpi menunjukkan fungsi otak yang terjadi seperti halnya keadaan sadar dalam kondisi mimpi. Dalam kerangka psikiatri, mimpi menjadi pembebasan atas tekanan yang terjadi pada jiwa seseorang dari ketenangan-ketenangan material kehidupan nyata.

Sebagian orang berkata bahwa mimpi hanyalah bunga tidur. Sebuah gambaran atas suatu peristiwa saat kita sedang tertidur. Entah itu kejadian yang menyenangkan atau buruk. Saat kita bermimpi dan terbangun, kita hampir tak pernah tahu di bagian awal-mulanya. Atau terkadang kita tak sepenuhnya mengingat keseluruhan kejadian dalam mimpi.

Sigmund Freud mengatakan bahwa mimpi adalah representasi nyata dari hal-hal yang tersimpan di dalam alam bawah sadar manusia. Manusia adalah makhluk yang mencari kesenangan, dan cenderung mengabaikan hal-hal yang tidak ia sukai. Kejadiaan atau hal yang tidak kita sukai akan tersimpan dalam alam bawah sadar kita yang kemudian muncul dalam mimpi.

Ketika menonton film Waking Life, mungkin kalian bisa mencomot beberapa penggalan dialog untuk dijadikan ssebagai caption di Instagram. Tapi untuk apa kata-kata dalam film? Apakah menonton film adalah hiburan? Mencari-cari alasan untuk tindakan-tindakan yang kita lakukan?

Meskipun provokatif, dialog-dialog yang ada dalam film tersebut bukanlah dogma untuk dihafal. Tidak ada jawaban pasti. Hanya pertanyaan dan introspeksi diri. Filsafat bukanlah tentang hasil, namun proses. Setelah kalian menonton Waking Life, kalian tidak akan langsung bisa memahami dunia dengan lebih baik, tapi kalian akan lebih penasaran dengan kemungkinan yang ditawarkan oleh dunia.

Atau mungkin setelah kalian menonton, kalian akan berpikir untuk tidur dan berharap menemukan pencerahan dalam mimpi. Lalu kalian mencoba untuk bangun tapi justru malah terbangun dalam mimpi yang lain. Satu hal yang mungkin bisa diambil dari film Waking Life adalah jangan pernah menetap di kepastian, hidup seperti dalam mimpi di manapun dan apapun bisa terjadi jika kamu menginginkan atau bahkan tidak menginginkannya sekalipun.

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts