Kretek dan Cara Kota Kecil Menulis Sejarahnya Sendiri

Melihat kota Kudus lebih jauh bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi belajar tentang cara bertahan.

Sejarah tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Sering kali ia tumbuh dari hal-hal yang nyaris diabaikan: cap pos yang mulai retak, surat dagang yang dilipat berkali-kali, angka-angka kecil yang ditulis tangan di kertas tipis. Benda-benda itu tidak pernah berniat menjadi sejarah. Ia dibuat agar usaha bisa berjalan, agar barang sampai tujuan, agar uang kembali.

Dari situlah pameran Jejak Dagang PR Delima yang dilakukan oleh teman-teman Cerita Kudus Tuwa (CKT) Kudus akhir November lalu bermula. Di Moesioem Ketjil H.M. Ashadie, Kudus, arsip-arsip dagang itu tidak diperlakukan sebagai peninggalan heroik. Tidak ada kisah besar yang dipaksakan. Arsip dibiarkan berbicara dengan suaranya sendiri. Kadang lirih, kadang terputus, sering kali tidak lengkap. Tetapi justru di situlah sejarah bekerja: tidak rapi, tidak selesai, namun jujur.

Sebagai kurator, saya tidak datang untuk menghidupkan arsip. Saya datang untuk mendengarkan. Arsip dagang memiliki kejujuran yang tidak dimiliki dokumen lain. Ia tidak dibuat untuk dikenang, tidak disusun untuk dipamerkan. Ia dibuat agar sebuah usaha bisa bertahan. Di dalamnya tersimpan kegelisahan, perhitungan, dan harapan pelaku ekonomi rakyat. Kudus membaca dirinya sendiri lewat arsip semacam ini.

dok. Cerita Kudus Tuwa

Pertanyaan itu hampir selalu muncul: mengapa PR Delima? Mengapa bukan pabrik-pabrik besar yang lebih dulu dikenal dalam sejarah kretek Indonesia? Justru karena PR Delima tampak biasa. Ia bukan raksasa industri. Ia tidak berdiri sebagai simbol tunggal kejayaan. PR Delima adalah industri rumahan yang tumbuh perlahan, membangun jejaring dagang lewat surat-menyurat, nota, dan kepercayaan. Dari arsip-arsipnya, kita melihat bagaimana ekonomi rakyat bekerja dalam bentuk paling telanjang.

Sekilas tentang PR Delima adalah pabrik rokok (PR) yang didirikan oleh Haji Mas (HM) Ashadi di Kudus. Berdiri pada 1916 dengan nama awal “Terong”, pabrik berskala kecil ini memiliki arti penting bagi masyarakat Kudus. Dikelola oleh seorang bumiputera pada masa ketika industri masih banyak dikuasai pihak lain, PR Delima tumbuh menjadi ruang hidup bagi ribuan orang, mempekerjakan tenaga kerja dalam jumlah besar dan memproduksi jutaan batang rokok klobot setiap harinya. Ia bukan sekadar pabrik, melainkan denyut ekonomi dan sosial yang ikut membentuk wajah Kudus pada zamannya.

Pameran yang digagas oleh Cerita Kudus Tuwa (CKT), sebuah komunitas yang menaruh perhatian pada sejarah sosial kota Kudus ini menghadirkan kembali kisah-kisah tentang kerja keras, kisah yang lahir dari lorong kampung, ruang produksi sederhana, dan ketekunan yang dijalani hari demi hari.

Lebih dari sekadar cerita tentang kerja, pameran ini menyingkap keberanian dan kreativitas dalam membangun sebuah “peradaban kecil” yang dampaknya terasa luas. Di ruang museum yang intim, pengunjung diajak berhenti sejenak, menyimak fragmen-fragmen sejarah yang nyaris terlupakan, lalu bercermin: membaca masa lalu bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk memahami ke mana arah masa depan akan dituju.

Dari lebih dari dua ribu dokumen dagang yang ditemukan, sebagian besar tidak mencatat keberhasilan. Ia mencatat keterlambatan kiriman, pembayaran yang tertunda, negosiasi harga, dan penyesuaian terus-menerus. Tidak ada glorifikasi. Yang ada adalah upaya bertahan.

Memilih PR Delima adalah pilihan kuratorial yang sadar. Ini adalah upaya membongkar cara lama membaca sejarah ekonomi yang hanya memberi tempat bagi pemenang besar. Padahal, kota seperti Kudus justru hidup dari usaha-usaha kecil yang bekerja dalam senyap, tanpa perayaan. PR Delima memperlihatkan bahwa modernitas tidak selalu lahir dari pusat. Ia bisa tumbuh dari pinggiran, dari dapur rumah, dan dari kerja tangan yang sabar.

dok. Cerita Kudus Tuwa

Membaca arsip dagang bukan pekerjaan romantik. Banyak dokumen rusak. Tulisan tangan sulit dibaca. Konteks sering hilang. Namun justru karena itu arsip ini penting. Nama-nama kota muncul berulang: Semarang, Surabaya, Batavia, Cirebon, Tegal, Pekalongan. Lalu meluas ke Kalimantan, Sulawesi, Lombok, hingga Sumatra. Dari Kudus, sebuah kota kecil, barang bergerak lintas pulau.

Temuan ini mematahkan anggapan lama bahwa usaha kecil selalu berpikir lokal. Arsip PR Delima menunjukkan sebaliknya. Para pelaku usaha di Kudus telah memahami logistik, ritme distribusi, dan kepercayaan lintas wilayah jauh sebelum kata “modern” menjadi jargon. Modernitas di Kudus tidak pernah menyebut namanya sendiri. Ia hadir sebagai praktik.

Dalam narasi sejarah nasional, kota-kota kecil sering muncul sebagai catatan kaki. Kudus pun kerap dibaca sebatas kota santri atau kota industri rokok. Arsip-arsip dagang PR Delima menunjukkan lapisan lain: Kudus sebagai kota kerja.

Sejarah kota ini tidak ditulis oleh kekuasaan besar, melainkan oleh kerja sehari-hari. Oleh surat yang dikirim berulang. Oleh kepercayaan yang dirawat lintas kota. Oleh kesediaan mengambil risiko tanpa jaminan. Di titik ini, pameran Jejak Dagang PR Delima bukan lagi soal arsip. Ia menjadi cara membaca ulang Kudus, lebih jauh, cara membaca Indonesia dari pinggiran.

Sejarah Indonesia terlalu lama ditulis dari pusat. Dari ibu kota, dari institusi besar, dari nama-nama yang berhasil menguasai narasi. Kota-kota kecil hadir sebagai latar kadang disebut, sering dilupakan. Kudus adalah salah satunya.

Padahal, jika kita sungguh-sungguh membaca arsip dan berjalan di kotanya, Kudus bukan pinggiran. Ia adalah simpul. Sejak awal abad ke-20, kota ini menjadi ruang tempat kerja tangan, jaringan dagang, dan etos religius bertemu. Dari sini, kretek bukan sekadar produk, melainkan cara hidup.

Pameran Jejak Dagang PR Delima dan walking tour Smara saya posisikan sebagai kritik sunyi terhadap cara lama membaca sejarah. Bukan dengan berteriak, melainkan dengan menunjukkan. Dengan arsip. Dengan langkah kaki. Dengan membiarkan kota kecil berbicara lewat jejaknya sendiri.

dok. Cerita Kudus Tuwa

Moesioem Ketjil H.M. Ashadie bukan ruang netral. Ia adalah sikap. Museum kecil memaksa kita mendekat. Ia tidak memberi jarak aman antara pengunjung dan arsip. Tidak ada vitrin tinggi yang mengukuhkan hierarki antara yang melihat dan yang dilihat.

Di ruang sempit ini, arsip PR Delima hadir setinggi mata. Pengunjung tidak bisa tergesa. Setiap benda menuntut perhatian. Cap pos yang retak, surat yang terlipat, angka-angka yang ditulis tangan semuanya meminta dibaca dengan sabar.

Pilihan pada museum kecil adalah kritik terhadap cara negara dan institusi besar memamerkan sejarah: megah, monumental, dan sering kali menjauh dari kehidupan sehari-hari. Sejarah ekonomi rakyat tidak membutuhkan gedung besar untuk menjadi penting. Ia membutuhkan kedekatan.

Di Kudus, museum kecil justru memungkinkan sejarah bekerja secara utuh. Arsip tidak ditinggikan. Ia dihadapkan langsung ke masa kini. Kita tidak melihatnya dari atas, tetapi berdiri sejajar dengannya. Di titik ini, museum berhenti menjadi etalase dan berubah menjadi ruang dialog.

Sejarah tidak hanya dibaca dengan mata. Ia juga dibaca dengan tubuh. Itulah mengapa walking tour Smara menjadi bagian penting dari proyek ini. Berjalan kaki adalah cara paling jujur membaca kota. Ia memaksa tubuh merasakan jarak. Gang sempit tidak bisa disingkat. Rumah tua tidak bisa dilewati tanpa disadari. Langkah kaki memperlambat pikiran dan di situlah cerita lama kembali terdengar.

Walking tour ini bukan wisata. Ia adalah metode. Cara membaca Kudus sebagai teks panjang yang ditulis oleh banyak tangan: pedagang santri, buruh linting, jurnalis pengelana, dan keluarga-keluarga pengusaha kecil. Setiap langkah menghubungkan arsip dengan lanskap yang melahirkannya.

Dalam konteks kritik narasi pusat, berjalan kaki adalah tindakan politis. Ia menolak logika “destinasi” dan “highlight”. Ia memilih proses. Kota kecil tidak dipahami melalui ringkasan, melainkan melalui pengalaman.

Nama Parada Harahap penting bukan karena ia tokoh besar, melainkan karena cara melihatnya. Dalam laporan-laporan perjalanannya pada dekade 1930-an, Parada tidak datang ke kota-kota kecil sebagai pengamat dari atas. Ia berjalan, mencatat, dan mendengarkan.

dok. Cerita Kudus Tuwa

Dalam catatannya tentang Kudus, Parada tidak terpukau oleh angka produksi semata. Ia mencatat manusia. Ia melihat pedagang santri yang membangun industri kretek dari dapur rumah. Ia memahami bahwa modernitas di Kudus tidak datang dari kebijakan kolonial, tetapi dari kerja kolektif.

Parada melihat Kudus sebagai contoh kebangkitan ekonomi pribumi. Sebuah kota kecil yang mampu membangun jaringan dagang lintas wilayah tanpa kehilangan akar sosial dan religiusnya. Cara melihat semacam ini jarang diwarisi dalam penulisan sejarah nasional.

Hari ini, ketika kota sering dinilai dari investasi dan infrastruktur, etika melihat ala Parada menjadi relevan kembali. Ia mengajarkan bahwa kota kecil tidak membutuhkan belas kasihan pusat. Ia membutuhkan pembacaan yang adil.

Jika Kudus adalah kota kretek, maka Langgardalem adalah dapurnya. Wilayah di timur Menara Kudus ini pernah menjadi pusat produksi dan distribusi. Rumah-rumah besar berdiri berdampingan dengan gang sempit. Langgar kecil hidup berdampingan dengan ruang kerja. Batik, doa, dan kretek menyatu dalam satu lanskap sosial.

Di sini, ribuan buruh linting bekerja dari pagi hingga sore. Tangan mereka bergerak dalam ritme yang nyaris seperti doa. Parada Harahap mencatat suasana ini sebagai potret unik: industri modern yang tumbuh dari etos religius, bukan dari pemisahan keduanya.

Hari ini, banyak jejak itu tampak biasa. Bangunan tua kehilangan fungsi. Gang-gang sunyi. Namun jika kita berjalan pelan, Langgardalem masih menyimpan denyut masa lalu. Ia mengingatkan bahwa peradaban tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan. Ia bisa tumbuh dari kampung.

Langgardalem adalah argumen paling kuat bahwa Kudus adalah kota kretek yang sebenarnya. Bukan karena merek-merek besarnya, tetapi karena ekosistem yang melahirkannya. Kota ini tidak meniru pusat. Ia membangun jalannya sendiri. Narasi pusat cenderung melihat kota kecil sebagai penerima. Arsip PR Delima menunjukkan sebaliknya. Dari Kudus, barang bergerak. Jaringan dibangun. Kepercayaan dirawat lintas pulau.

Kudus bukan sekadar lokasi produksi. Ia adalah pusat pengetahuan praktis tentang distribusi, relasi dagang, dan kerja kolektif. Ia tidak bersuara keras, tetapi bekerja efektif. Mengabarkan Kudus sebagai kota kretek yang sebenarnya bukan romantisasi. Ini adalah koreksi. Koreksi terhadap cara kita memahami memberi nilai pada sejarah. Kota kecil tidak selalu mengikuti. Kadang, ia memimpin dengan caranya sendiri.

Di balik arsip PR Delima, ada dua nama yang tidak menonjol, tetapi menentukan: Moeslich dan Atmo. Mereka bukan tokoh besar dalam sejarah nasional. Tidak ada patung. Tidak ada jalan raya atas nama mereka. Namun justru pada sosok-sosok semacam inilah etika kota kecil bekerja.

Moeslich dan Atmo tidak membangun pabrik raksasa. Mereka membangun kepercayaan. Bisnis dijalankan dengan kesabaran, ketekunan, dan hubungan personal yang dirawat lintas generasi. Dalam arsip, hal ini terlihat sederhana: tulisan tangan yang rapi, catatan yang konsisten, surat yang dijawab tepat waktu.

Di tengah dunia usaha hari ini yang gemar merayakan kecepatan dan ekspansi, etika semacam ini terdengar kuno. Padahal, dari situlah ekosistem kretek Kudus bertahan lama. Ia tidak tumbuh dengan melompat, tetapi dengan mengakar. Kretek di Kudus bukan hanya soal produksi. Ia adalah ekosistem sosial. Dari petani tembakau dan cengkeh, buruh linting sebagian besar perempuan hingga pedagang kecil dan jaringan distribusi antar kota.

Ekosistem ini bekerja karena ada keseimbangan. Keuntungan tidak sepenuhnya ditarik ke pusat. Ia berputar di kota. Upah buruh menghidupi rumah tangga. Keuntungan usaha menopang langgar, sekolah, dan kegiatan sosial. Ekonomi dan kebudayaan tidak dipisahkan.

Pameran Jejak Dagang PR Delima memperlihatkan bagaimana ekosistem ini pernah berfungsi dengan rapi. Bukan tanpa konflik, tentu. Tetapi ada kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan lebih penting daripada lonjakan sesaat. Di titik inilah, kretek Kudus berbeda dari industri modern yang tercerabut dari konteks sosialnya. Ia tumbuh dari kota, untuk kota, dan bersama kota. Bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari ritme hidup.

dok. Cerita Kudus Tuwa

Menyebut Kudus sebagai kota kretek sering terjebak pada label. Logo, slogan, festival. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Kota kretek bukan identitas yang ditempel, melainkan pengalaman yang dijalani. Walking tour Smara dan museum kecil di Langgardalem menawarkan cara lain: membaca kota sebagai proses. Menghubungkan bangunan tua dengan cerita kerja. Mengaitkan gang sempit dengan jaringan dagang lintas pulau.

Dalam pendekatan ini, kota tidak dipoles. Ia dibuka apa adanya. Retak-retak sejarah dibiarkan terlihat. Justru dari sanalah makna muncul. Kota kecil tidak perlu tampak sempurna untuk menjadi penting.

Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari Kudus? Pertama, bahwa sejarah tidak selalu harus ditulis dari pusat. Kota kecil memiliki kecerdasan sendiri. Ia tahu bagaimana bertahan, beradaptasi, dan bekerja dalam diam. Kedua, bahwa ekonomi tidak harus memutus hubungan sosial. Kretek Kudus menunjukkan bahwa industri bisa tumbuh tanpa menghilangkan etika, solidaritas, dan nilai religius.

Ketiga, bahwa kebudayaan bukan pelengkap. Ia adalah fondasi. Tanpa budaya kerja yang sabar dan kolektif, arsip PR Delima tidak akan pernah ada. Kudus memberi kabar yang sederhana tetapi penting: kemajuan tidak selalu datang dari percepatan. Kadang, ia datang dari ketekunan yang diwariskan pelan-pelan.

Pameran, museum kecil, dan walking tour ini mungkin tampak remeh dalam peta kebudayaan nasional. Namun justru dari ruang-ruang kecil semacam inilah narasi alternatif lahir. Kudus tidak sedang meminta pengakuan. Ia sedang menunjukkan. Bahwa kota kecil bisa menulis sejarahnya sendiri—dengan arsip, dengan langkah kaki, dan dengan etika hidup yang konsisten.

Di tengah hiruk-pikuk narasi besar, barangkali Indonesia perlu lebih sering menoleh ke kota-kota kecil. Bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk belajar tentang cara bertahan. Dari Kudus, kita mendapat kabar itu.


Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Cerita Kudus Tuwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Tugu Gong Si Bolong: Memori yang Melekat di Persimpangan 

Next Article

Musik Keras untuk yang Lemah Lembut: Impresi Menyaksikan Mayhem di RIS 2025

Related Posts