LASTKISSTODIEOFVISCEROTH Terlahir Kembali, Termenung Merayakan Luka

Kembali dengan nama penuh, LASTKISSTODIEOFVISCEROTH, merilis EP “self-titled” dengan termenung merayakan luka.

Saya berdiri tegak di antara kerumunan penonton. Tangan terlipat menutupi dada, kepala mengangguk perlahan, sesekali ikut berteriak mengikuti alunan musik yang menghantam seisi ruangan. Teriakan khas sang vokalis menggema pada malam kelabu sebelum turunnya hujan. Sesekali, ia membalikkan badan, membelakangi para penonton, lalu meneriakkan spoken word yang telah ia ramu selama beberapa bulan sebelum tampil layaknya sebuah doa yang tak pernah dikabulkan.

Di sela-sela set pertunjukan, sang vokalis terkadang terduduk lesu, menarik napas panjang sebelum memulai kembali. Tak banyak bicara, tanpa basa-basi, tanpa sambutan, hanya diam membisu. Sekali waktu, personelnya mengisi kekosongan dengan berbincang kepada para penonton.

Malam itu Sabtu (03/05), JRNY Coffee & Records menjadi saksi digelarnya album launching party “Whispering in Silence Release Party. Peluncuran EP bertajuk “self-titled” dari LASTKISSTODIEOFVISCEROTH (LKTDOV) sekaligus menandai aktifnya kembali mereka setelah vakum selama beberapa tahun. Perayaan ini turut dimeriahkan oleh Noire, Det-Plag-Lust, dan Postumpartum. 

LASTKISSTODIEOFVISCEROTH, kini telah menginjak usia ke-17, kembali mengusung nama asli mereka seperti di awal setelah sebelumnya hanya menggunakan singkatan “LKTDOV”. Menghadirkan formasi awal mulai dari Justiawan Yudha “Bogek” (gitar), Ariyo Pancala “Penyok” (drum), Indra Menus (vokal), dan Aditya Fauzan Adrian (bass) yang menggantikan Okta yang kini fokus di Cloudburst. Selain itu juga, dilengkapi dua personel sebelumnya dari debut album “All We Have Left is a Memory of Yesterday” mulai dari Wisang (lead guitar) dan disusul kembali masuknya Wahyu Septian (synth).

Rilisan EP “self-titled” LASTKISSTODIEOFVISCEROTH (dok. Memori Records)

Empat hari sebelumnya, saya bertemu Indra Menus untuk mengenang kembali terbentuknya LASTKISSTODIEOFVISCEROTH. Ia bercerita, pada tahun 2008 silam, semuanya bermula dari satu tongkrongan yang sama di Kedaulatan Rakyat (KR) Music Corner. Dari kebiasaan nongkrong bareng, obrolan mengalir, dan tanpa rencana yang muluk, mereka mulai ngeband bersama.

“Sebenarnya LASTKISSTODIEOFVISCEROTH itu band side project, masing-masing personil punya bandnya sendiri. Kalau lagi pengen main, ya main bareng. Kalau enggak, ya fokus masing-masing aja gitu,” ujar Menus.

Setelah melakukan proses workshop selama beberapa bulan, LASTKISSTODIEOFVISCEROTH akhirnya merampungkan EP “self-titled” mereka yang menghasilan tiga buah lagu baru dengan memasukkan elemen selain skramz dan post-rock yang selama ini menjadi identitas mereka, mulai dari “Is This Still Worth Putting Our Lives On Hold For?“, “In The Silence, I Whispered Your Name“, dan “Like A Distance, Memory Swallowed Everything”. 

Sebagai pelengkap, mereka juga menyisipkan satu lagu tambahan berupa versi akustik dari album “All We Have Left is a Memory of Yesterday” berjudul Joy, Lie, Nor Desire yang dimainkan hanya dengan memakai gitar kopong seadanya.

Sementara itu, lirik diserahkan kepada Indra Menus yang masih berkisah seputaran hal-hal personal mengenai dari the beauty of death sampai ke memori masa lalu yang kerap menghantui. Dalam sesi rekaman awalnya, Menus hanya berteriak secara spontan, tanpa menggunakan lirik pasti, karena ia memiliki semacam kumpulan (bank) lirik pribadi yang biasanya akan disesuaikan dengan karakter aransemen.

Setelah menulis lirik, Menus akan menyimpannya terlebih dahulu, lalu mencocokkannya dengan ritme dan dinamika lagu yang telah dibuat oleh para personel lainnya. Mulanya, Menus akan memasukkan vokal menjadi bagian yang sama dengan instrumen lainnya. Namun, pendekatan tersebut menuai protes dari personel lainnya. Sejak saat itu, posisi lirik dan vokal pun mulai diberi ruang lebih dalam struktur musik mereka.  

“Jadi waktu rekaman itu aku masih ke rumah sakit beberapa hari sebelumnya karena harus ada yang aku urus. Total rekaman itu ada tiga kali. Rekaman pertama dan kedua itu aku cuman datang tok, nggak ngapa-ngapain, soalnya nggak dapet feel-nya sama sekali. Terus rekaman ketiga itu udah agak enak lah, karena semua urusan udah selesai,” jawab Menus.

Pada lagu Like A Distance, Memory Swallowed Everything, terdapat sebuah kutipan dari puisinya Pablo Neruda yang diambil dari bagian penutup dua puluh kumpulan puisi yang berjudul Twenty Love Poems and a Song of Despair.

Jika dua puluh puisi cinta sebelumnya dipenuhi oleh semangat, perayaan, gairah, dan kemegahan cinta, maka A Song of Despair justru hadir sebagai antitesisnya. Dalam A Song of Despair sang penyair mengenang kembali masa-masa bahagia bersama kekasihnya, namun perlahan suasana berubah menjadi kelam pada saat malam tiba, ingatan berubah menjadi rasa sakit dan usaha untuk menerima rasa sakit akibat perpisahan yang ia alami dengan kekasihnya.

LASTKISSTODIEOFVISCEROTH selalu menghadirkan pengalaman patah hati yang tidak biasa. Sebuah katarsis patah hati yang meledak-ledak. Kesedihan, amarah, dan pilu dilampiaskan secara utuh melalui raungan distoris gitar, hentakan drum bertempo cepat, dan vokal scream yang melampiaskan kemarahan nan juga kesedihan.

Saya mengamati pekikan vokal Indra Menus selalu menggambarkan kesedihan yang ia ingin perlihatkan dalam lagu-lagu mereka. Nada-nada dalam melodi gitar, ditambah dengan alunan synth yang sunyi namun tetap menghantui dalam pikiran mampu membawa siapa pun yang mendengarnya larut dalam perasaan yang gelap, sepi, dan perlahan tergerus.

Sudah menjadi kebiasaan dari grup band side project ini untuk selalu membagikan tisu andalan yang dicap dengan logo band berwarna coklat sebagai bagian dari simbol persatuan #wongkalahan kepada para penonton. 

Set list dan tisu yang dibagikan Indra Menus (dok. X/IndraMenus)

Berlanjut pada lagu In The Silence, I Whispered Your Name, LASTKISSTODIEOFVISCEROTH mengajak Hervina Orelia (vokalis Noire) untuk mengisi spoken word yang dibalut dengan backing vocal dari Indra Menus sendiri. Ketika saya mendengarkannya sendiri, saya merasa adanya perbedaan karakter vokal Hervina dengan yang biasanya ia lantunkan di Noire. Mungkin hal ini terjadi karena perbedaan pendekatan teknik vokal dari suatu band.

“Kan LASTKISSTODIEOFVISCEROTH itu band yang udah lama juga. Terus aku coba ngajakin band baru yang masih kenal satu sama lain. Aku seneng si Hervina punya karakter vokal yang khas banget gitu,” ucap Menus.

Sementara itu, LASTKISSTODIEOFVISCEROTH menggandeng Yogi Obluda untuk menggarap visual artwork yang menampilkan sosok maskot rusa sedih yang merupakan representasi visual dari aktivitas melamun sembari menyeruput kopi botolan di kursi depan minimarket. Tentu dari kita sudah mengetahui meme tersebut, entah itu sekadar jajan atau sambil merenungi hidup yang tidak tau akan dibawa kemana, tanpa harus memikirkan soal outfit apa yang akan digunakan. 

“Jadi kalau ke coffee shop sendirian tuh sering diliatin orang-orang. Sementara di Indomaret sesantai itu,” jawab Menus mengenai alasan dibalik artwork EP.

Artwork EP “self-titled” LASTKISSTODIEOFVISCEROTH

Ketika saya mendengarkan EP “self-titled”, jujur saja, saya tidak terlalu mencermati lirik mereka secara mendalam. Yang saya alami justru lebih merasa musikalitas yang mereka bangun seakan langsung menghantam titik nadi. Teriakan Indra Menus yang menyayat urat nadi, hentakan drum Penyok yang meledak-ledak, dan raungan distorsi gitar Bogek dan Wisang yang ikut mendingingkan seluruh amarah. Ditambah lagi dengan featuring vokal Hervina yang lirih.

Menurut saya, kesedihan tidak selalu harus disampaikan lewat kata-kata. Tidak semua rasa bisa dikemas dalam bahasa verbal. Terkadang, tangisan atau bahkan teriakan bisa jadi cara yang paling jujur untuk menyampaikan duka. LASTKISSTODIEOFVISCEROTH mampu menyampaikan hal tersebut, tak melulu soal vokal yang jelas, melainkan melalui teriakan dan musikalitas yang mampu membawa pendengar untuk berbicara jujur perihal kesedihan yang ia alami.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: arsip LASTKISSTODIEOFVISCEROTH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Forensik Synthesis: Catatan Ihwal Synthesizer Indonesia di Gaung RTFM 2025

Next Article

Satu Tahun 'Jalaran Sadrah' Barasuara: Membaca Hidup Lewat Imajinasi

Related Posts