Lirih Suara Kita Pun Luruh: Kumpulan Puisi Butuhbacaan

Kumpulan puisi ini: Sampai Kapan Kita Memaklumi Hidup yang Belingsatan Ini?Lirih Suara Kita Pun Luruh, dan Rentetan Derita Pekerja. Ditulis oleh butuhbacaan, nama pena dari seorang perempuan yang kerap menulis untuk menuangkan keresahannya.


Sampai Kapan Kita Memaklumi Hidup yang Belingsatan Ini? 

1.
nelangsa kesepian karang
dalam derai dentuman kereta listrik
yang menghanguskan nikel
mengorbankan lahan warga

tiada kesepian abadi
pusaran manusia lalu-lalang ditindas
kau mungkin akan dicekik kemudian
balutan canvas menjadi lalu

alas kaki bernoda kegamangan
saat menginjak usia 20-an
hidup sebetulnya begini saja
terlihat “I can handle anything”

aku berlari mengejar
memang harus dikejar—karir
upah di kota monarki kering kerontang
gemuk untuk sultan 

2.
dilematis pergi ke monas
jam empat harus minggat
moda transportasi kurang
ruang publik terbatas

celana yang kau silet secara mandiri
baju crop top yang kupakai
dilarang dosen perguruan tinggi
bukankah, itu mengekang kebebasan berekspresi? 

kucing stasiun sudah kuberi makan
ia menyukai wetfood kesukaan
yang kubeli di kantor NGO samping city light bundaran

“mengapa NGO menjual wetfood?”
“usaha sambilan salah satu buruh di sana”
“apakah upahnya sangat kecil sampai harus bekerja sambilan?”
“miris, upah di bawah UMR. jam kerja bungsrut, job desk asal catut”
“padahal di NGO”
“sama saja, Nir”
“sama saja apa? 
“sama saja menindas”

Lirih Suara Kita Pun Luruh

hiruk pikuk Jakarta
disertai kemacetan dan bau keringat pekerja
yang diperas haknya
hak asasi, hak bersuara, dan hak bercinta.

menengok kanan kiri di ujung jalan
berdesakan tanpa rasa kasihan
orang menengadahkan tangan meminta makan
sisanya sibuk urus baliho di perlintasan

melihat sepasang kekasih dimabuk kepalang
nona, kalau saja saya punya banyak uang
apakah mau dipinang?
kan kuberikan kau cinta, walau tak ada uang

tuan, lebih baik kau bekerja
supaya cepat kaya
dan bisa menjadi mereka
apalah kita hanya rakyat biasa

bu, untuk dapat uang harus ke mana?
kebanyakan bertanya, tindakan tidak ada
seperti politisi gila kuasa
mengemis suara demi kesenangannya

Rentetan Derita Pekerja

perusahaan itu memberi upah besar
berserikat malah dijerat
perusahaan itu memberi liburan setiap bulan
tapi, kerudungku dihempas

kemarin, bapak tua di-PHK sepihak
padahal umurnya masih 50-an
anaknya masih di kandungan
istrinya butuh asupan

dosen perempuan sedang hamil tua
memohon cuti lahiran kepada birokrat
sampai di penghujung bulan 
malah diberi surat peringatan

upah hanya cukup membayar kontrakan
meminta kenaikan
perusahaan mengabulkan tuntutan 
ultimatum berdengung meringkus


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Agustinus Seco Kus Demas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Perjalanan Kontemplatif Sederhana Menelusuri Album 'Larasati' karya Gardika Gigih

Next Article

Efek Rumah Kaca 'Bersemi Sekebun': Suara Perlawanan yang Terus Tumbuh

Related Posts