Menyemai Benih di Kaki Menoreh

Tak seperti kebanyakan anak muda desa lainnya, menjadi petani di pegunungan Menoreh adalah kebebasan atas pilihan yang dimiliki Deni dan Eka.


Malam itu kami memulai perjalanan dari Yogyakarta dengan menyusuri sepanjang Pegunungan Menoreh. Sepanjang jalan yang terlihat hanya hamparan hutan dan perkebunan warga. Perjalanan malam itu dipandu oleh Deni dan Eka. Mereka menunjukkan jalan menuju tujuan terakhir kami, kediaman Deni.

Deni merupakan seorang pemuda desa di pinggiran Pegunungan Menoreh yang masih berusaha bertahan mengolah lahan di desa kelahirannya, Kaligesing. Desa tempat tinggalnya ini terletak di sebelah barat deretan pegunungan yang membentang di antara tiga wilayah, yakni Kulonprogo, Magelang dan Purworejo.

Kamu harus melewati jalan berliku dan deretan hutan perkebunan sebelum sampai di sebuah desa yang terkenal dengan komoditas duriannya. Bila musim panen tiba, durian Kaligesing akan dicari oleh banyak tengkulak untuk dijual ke luar kota, ataupun dijual langsung sendiri oleh petaninya.

Menurut data Badan Pusat Statistika (BPS) Kabupaten Purworejo, pada tahun 2023, jumlah pohon durian di Kaligesing yang dipanen sendiri oleh pemiliknya berjumlah sekitar 3.315 pohon durian. Jumlah itu lebih banyak daripada kecamatan lain di Purworejo. Bagelan misalnya, hanya berjumlah 918 pohon durian, Bruno 517 dan Kecamatan Gebang dengan jumlah 370 pohon durian yang dipanen sendiri oleh petaninya.

Selain durian, tanah Kaligesing juga menyimpan berbagai hasil alam yang beraneka rupa. Kontur tanahnya yang pegunungan membuat pertanian di sana cenderung memakai sistem Argoforest. Sistem pertanian itu menggabungkan berbagai pohon dan semak belukar dengan tanaman pertanian yang beragam dalam satu lahan yang sama. Tujuannya agar tanaman tersebut saling menguntungkan satu sama secara produktivitas.

dok. Atikah Nurul Ummah

Keesokan harinya, Deni memulai hari dengan memberi pakan kambing-kambingnya, sebelum melanjutkan aktivitas di salah satu kebun yang ia kelola. Mereka biasanya familiar menyebut dengan sebutan ‘alas’. Alas itu terletak di daerah atas rumah Deni. Jaraknya sekitar 1 kilometer menaiki jalanan yang menanjak menggunakan kendaraan roda dua.

Kontur tanah Kaligesing cenderung berliku dan pegunungan. Sepanjang jalan kanan-kiri jalan setapak itu adalah rumah warga, kebun,dan jurang. Sesampainya di kebun miliknya, Deni bergegas menyatukan dua pucuk tanaman kopi miliknya. Penyatuan pucuk itu dimaksudkan untuk memperbaiki klon atau kualitas kopinya.

Kopi yang ia tanam merupakan jenis kopi robusta. Sudah setahun kopi ini mereka tanam. Ini adalah buah pertamanya. Buahnya maish hijau dan kemungkinan dipanen masih sekitar 3 bulanan lagi. “Ini baru pertama kali berbuah,” jelasnya singkat.

Selain kopi terlihat tumbuh subur juga pohon kakao, durian, kemukus, kelapa, dan cengkeh peninggalan kakeknya. Ia menjelaskan, di kebun itu dibiarkannya pohon-pohon besar tumbuh, asal tidak menghalangi pertumbuhan tanaman kopi dan kakaonya.

Tumbuhan besar seperti Albasiah memiliki model adaptasi lingkungan dengan menggugurkan daunnya di musim kemarau untuk mengurangi penguapan. Daun yang berguguran itu akan menjadi pupuk kompos bagi tanaman di bawahnya. Sehingga akan menyuburkan tanah dan menjadi tempat hidup yang baik untuk hewan komposer seperti cacing. Kehidupan bertani, menurut Deni, cukup mengubah cara pandang di hidupnya dalam memandang tanah, pekerjaan dan lingkungan.

Pahit-Manis Jadi Petani Muda

Sudah sekitar tujuh tahun ia kembali ke desanya menekuni dunia pertanian. Setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi dengan penuh kesadaran. Deni bercerita, bagaimana gejolak perasaannya sebagai petani muda yang kerap dihadapkan dengan berbagai persoalan.

Menjadi petani adalah perjalanan getir yang mengubah hidupnya, sekaligus menjadi penawar atas tujuan hidupnya untuk membangun pondasi di masa tuanya. Hanya ada satu hal alasannya bertani: ia selalu takut kapitalisme dan orang kaya merangsek masuk ke desanya suatu saat dan meluluhlantakkan apa yang ada di depannya. Melihat maraknya pengalihfungsian lahan menjadi pemukiman, cafe, tambang, bahkan sawit yang dicintai Prabowo.

dok. Atikah Nurul Ummah

“Ada kekhawatiran, suatu saat pertanian akan menjadi lahan bisnis orang kaya. Dan itu sangat mengerikan, dan akan disikat habis,” ucap Deni di Kedai Rakyat Kopi miliknya. Kekhawatirannya bukan omong kosong belaka. Ia menyaksikan perlahan desanya sepi penghuni dan hanya dihuni sekelompok lansia. Sementara pemudanya pergi merantau.

“Menyakitkan sekali. Aku harus menyaksiksan temenku yang merantau, sementara aku gak bisa menyalahkan dan menghalangi mereka,” ucap Deni getir.

Bagaimana rasanya kamu melihat satu persatu teman sepermainanmu di kampung pergi meninggalkanmu, berbondong-bondong menuju ke kota. Sementara yang tersisa, hanyalah kamu, orang-orang tua, dan desamu yang sepi perlahan? Itu yang Deni rasakan.

“Makanya kita bertahan di desa. Wong ndeso yang gak punya konsep pertanian yang matang akan lebih mudah dikuasai orang kaya yang eksploitatif,” lanjutnya getir.

Deni juga tidak bisa memaksakan apa yang ia alami dan rasakan, pasalnya ia sendiri cukup kelimpungan menjalani hidup sebagai petani dengan aneka masalah yang mengancam.

“Kadang jadi gak bisa memaksakan, kamu harus mengikuti jejakku bertani. Karena emang sekompleks itu, dan ya balik lagi kita gak bisa ngejamin hidup orang,” jelas Deni.

Menurut Deni, kalau membicarakan tentang sistem pertanian di masyarakat di desa, mereka selalu terhimpit dengan berbagai persoalan. Setidaknya ada 3 pesoalan di desa, yang sejujurnya kalau dirunut adalah gara-gara negara. Negara tidak hadir untuk membersamai petani dengan serius.

Permasalahan pertama, ialah ada beberapa pemuda desa tidak bertani lantaran ia bahkan orang tuanya tidak memiliki lahan, yang kedua ia mungkin punya lahan, tapi tidak diberikan akses penuh untuk mengelolanya lantaran masih diurus orang tuanya bahkan kakeknya, dan hal ini lumrah terjadi di desa. Orang dianggap mapan, kalau-kalau ia sudah menikah dan akan bisa diberikan kepercayaan penuh untuk mengelola lahan.

dok. Atikah Nurul Ummah

“Problem awal, kita tak punya kendali atas tanah. Bahkan ketika kita punya kendali, kita tidak punya kendali atas harga pasar,” jelasnya.

Terkadang, petani sudah mengharapkan harga yang tinggi ketika panen, namun ketika waktu panen tiba, harganya ambruk. Pemerintah, seharusnya ikut andil atas upaya penyejahteraan terhadap petani. Selain para petani harus berupaya mengelola lahan dengan baik dan fokus mengembangkan pengolahan yang berdaya jual.

“Pemerintah kaya gak niat, bikin petani maju,” keluhnya sambil menghisap rokoknya berkali-kali.

Pemerintah, melalui statement Menteri Pertanian, Andi Arman Sulaiman, dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (16/12), menyebut jumlah petani milenial  mencapai 416 ribu orang dengan pendapatan per bulan mencapai Rp.20 juta rupiah. Deni membaca berita itu sambil menyesap rokoknya dalam-dalam, dan meringis. Lalu mengumpat, “Jangan percaya pemerintah.”

Itu bisa saja terjadi, menurut Deni. Namun, kalau pemerintah memberikan akses pendidikan yang baik, membantu pengolahan, membantu menstabilkan harga pasar dan membantu akses kepemilikan lahan.

Deni dan Eka adalah salah satu anak muda yang cukup beruntung, pasalnya mereka diberi kebebasan dan kepercayaan mengurus lahan miliknya sendiri. Yang mana, kebebasan itu tidak dimiliki oleh banyak anak muda di desa. Namun, mereka mendapatnya tidak dengan tangan kosong. Ia menyebut, harus meyakinkan orang tuanya berkali-kali agar ia diberikan akses mengelola lahan. Selain itu, kuncinya mereka mulai dengan “pengolahan”.

Bertahan di Tengah Ketidakpastian Menjadi Petani

dok. Atikah Nurul Ummah

Sama seperti Deni, dilema bertahan hidup di desa juga dialami oleh Eka, kekasihnya. Hidup di desa, bertani, menghirup udara yang segar, tidak terikat bekerja dengan orang lain, adalah angin segar yang barangkali didambakan oleh banyak orang. Namun, masyarakat menganggap sesuatu yang berhasil adalah seseorang yang pergi merantau dan bisa menghasilkan sesuatu dengan cepat.

Keputusan untuk menetap di desa dan memilih bertani sembari membesarkan kedai kopi miliknya, kadang ia mempertanyakan jalan yang ia pilih. Pada akhirnya, mereka memilih bertahan menghadapi pergolakan batinnya, dengan mencoba membangun sistem pengolahan. Ini jadi salah satu cara yang efektif, menurut pasangan itu untuk meyakinkan banyak orang soal menjadi petani.

Di Purworejo, Deni dan Eka terbiasa menanam kopi, membuat coklat dan menjaga kedai. Keinginannya sederhana, mereka ingin hasil pertanian yang mereka kelola bisa diolah dengan baik, sehingga memiliki daya jual yang lebih tinggi. Kesadaran itu yang membuatnya bertahan untuk membuat cokelat yang berasal dari biji kakao yang ia tanam.

Mereka mencoba membangun sistem pengolahan yang mengedepankan kualitas, bukan kuantitas. Misalnya, mereka mencoba membuat siklus penanaman dan peternakan. Kandang ternak kambing di belakang kedai kopi miliknya, bukan sekedar kandang ternak biasa. Setiap satu bulan sekali, mereka akan mengambil kotoran kambing yang telah terkumpul di wadah bagian bawah kandangnya untuk dijadikan pupuk organik.

Tak hanya kambing, mereka mengelola pupuk organik dari kumpulan kulit buah yang ada di desanya juga. Pupuk itu nantinya akan disebar ke kebun miliknya untuk memupuk aneka tanaman, seperti kopi dan kakao. Benih tanamannya juga mereka produksi sendiri dari biji yang disemai di polibag kecil sebelum dipindahkan ke kebun. Begitu, terus siklus berjalan.

Setelah kopi dan kakao siap panen, mereka akan menuju kebun dan memanen tanaman tersebut satu persatu. Buah kakao akan dipanen setelah fase penanaman selama enam bulan. Setelah dipanen, mereka akan mengambil bijinya untuk dipisahkan dengan kulitnya dan difermentasi. Proses fermentasi itu membutuhkan waktu satu minggu. Biji kakao akan diletakkan dalam wadah kedap udara dan dibiarkan.

dok. Atikah Nurul Ummah

Setelah itu, akan dijemur di bawah sinar matahari langsung, sebelum akhirnya berakhir di mesin penyangrai Kakao. Kakao disangrai sampai mendapatkan warna dan rasa yang sesuai untuk diolah menjadi cokelat. Cokelat yang sudah jadi akan dipasarkan di kedai miliknya, atau melalui acara-acara yang diselenggarakan komunitas. Namun, saat ini, cokelat produksi mereka sudah mempunyai reseller yang akan mengambil dan memasarkan sendiri.

Kopi yang mereka produksi juga sama. Kopi yang telah dijemur akan mengalami proses penyangraian dan setelah jadi biji kopi akan di-packing ke dalam berbagai ukuran. Tak jarang, mereka menjual langsung berupa biji kopi, atau kopi siap seduh, kopi yang siap minum, cake kopi, di kedai miliknya. Cara pengolahan tersebut pelan-pelan mereka sebarkan ke pemuda desanya. Dengan harapan suatu saat tidak berhenti dengan menjual hasil pertanian mentah, namun bisa dijual dengan nilai yang lebih baik dan harganya tidak mati ditangan tengkulak.

Selain itu, ada satu hal lain yang setidaknya Deni inginkan dalam hidup, yakni menyeleding sudut pandang kebanyakan orang. Ia meyakini bahwa menjadi petani bukan masuk dalam list pilihan terakhir.


Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto Sampul: Atikah Nurul Ummah


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Musik Keras untuk yang Lemah Lembut: Impresi Menyaksikan Mayhem di RIS 2025

Next Article

Halaman Rumah: Kumpulan Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

Related Posts