“Warisan kerap diasosiasikan sebagai modal bagi ahli warisnya. Yang dianggap kurang produktif tidak akan diwariskan, melainkan dikesampingkan hingga menjadi borok atau usang.” – Manifesto Sekolah Pemikiran Perempuan tentang Waris
Kata “waris” barangkali perlu diperiksa ulang. Kata itu seolah menentukan siapa yang berhak mewariskan dan siapa yang terseret secara tiba-tiba menjadi ahli waris. Warisan sebagian besar diterima tanpa pertanyaan: mengapa justru warisan buruk seperti kolonialisme, kapitalisme, krisis iklim, dan hal lain yang mengandung unsur destruktif, malah disalurkan kepada banyak pihak?
Mengapa akibat buruk dari konflik antarelit, perang antarnegara, dan persaingan bisnis oligarki harus kami terima dengan kepala tertunduk? Mengapa kami dipaksa menyingkir dari dunia yang kami tinggali sejak lama? Barangkali itulah gugatan Sekolah Pemikiran Perempuan yang tertuang dalam manifesto tentang Waris. Manifesto ini dibacakan di festival Etalase Pemikiran Perempuan, sebuah festival yang memberikan ruang bagi siapa saja untuk merayakan pemikiran perempuan Nusantara lintas generasi, budaya, disiplin, dan wilayah.
Festival ini berlangsung pada tanggal 18-20 Juli 2025 dan dilaksanakan secara hybrid. Lokasi luar jaringan berada di Tempuran Space, Yogyakarta. Beragam rangkaian program yang menekankan prinsip keberpihakan pada kelompok terpinggirkan, solidaritas feminisme transnasional, dekolonialisasi pengetahuan, dan prinsip lainnya diselenggarakan di festival ini, salah satunya adalah program Riwayatmu, Puan.
Riwayatmu, Puan hendak menelusuri kembali warisan pengetahuan dari pemikir puan masa lalu yang bergerak di bidang seni budaya dan pemikiran feminisme di Indonesia. Hasil buah pikir para puan kemudian dituturkan ulang oleh para perempuan dari generasi berbeda yang sedang menggeluti keilmuan serupa. Pemikiran dan jejak aktivisme Umi Sardjono diriwayatkan oleh Ruth Indiah Rahayu. Upaya Salomi Rambu Iru untuk melawan praktik kawin tangkap di Sumba dikisahkan oleh Martha Hebi dan Yustina Dama Dia. Tulisan-tulisan kritik seni Oei Sian Yok ditelisik untuk kemudian dipaparkan oleh Brigitta Isabella.
Tulisan ini akan lebih jauh membahas kiprah Oei Sian Yok dalam dunia kritik seni di Indonesia. Ia barangkali adalah seorang kritikus seni paling produktif dalam rentang tahun 1956-1961. Selama lima tahun, ia telah menulis 129 artikel di majalah Star Weekly untuk rubrik bertajuk “Pembantu Seni Lukis Kita”. Saat itu, ia menulis semua pameran penting yang pernah diselenggarakan di Jakarta.
Tak hanya pameran dari seniman kondang, Oei Sian Yok juga mengulas pameran mahasiswa, karya seni anak-anak, hasil kerajinan tangan perempuan seperti selendang atau kipas bambu, dan segala bentuk seni lainnya yang dianggap remeh. Ia mengempaskan dikotomi seni tinggi dan seni rendah. Di tangannya, semua karya seni ditempatkan sejajar dan dianalisis secara serius. Sayangnya, seperti yang disampaikan oleh Brigitta, nama Oei Sian Yok dilupakan sebagai seorang perempuan kritikus seni Indonesia yang menghasilkan banyak artikel. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Sejarah Seni Indonesia yang Sesak akan Wacana Nasionalisme-Heroisme-Maskulin
Brigitta Isabella, seorang pengajar Fakultas Desain dan Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menjelaskan mengapa publik tidak mengenal banyak perempuan seniman, perempuan pekerja seni, termasuk perempuan kritikus seni. Lebih khusus perempuan seniman, Brigitta mengutip tulisan Mia Bustam yang membeberkan fakta bahwa pendidikan seni di Indonesia masih begitu patriarkis. Contohnya adalah pelajaran mengenai melukis anatomi di sanggar-sanggar. Para pelukis laki-laki lebih banyak melukis perempuan telanjang. Hal inilah yang menjadi hambatan bagi perempuan yang sedang menempuh pendidikan seni.
“Untuk menjadi seniman saja dari segi pendidikan seni yang secara spesifik sudah ada hambatan. Apalagi untuk menjadi seniman, ditambah dunia yang sangat patriarkis secara umum, ucap Brigitta Isabella saat diwawancarai Sudut Kantin Project.
“Dunia seni itu kan replika kecil dari dunia yang sesungguhnya. Jadi ketika di dunia umum masih ada patriarki, dunia seni belum tentu dia lebih bebas atau teremansipasi dari patriarki,” tambah Brigitta.
Saat membahas soal sejarah seni, Brigitta menyoroti salah satu permasalahan yang menyertai sejarah seni yang seringkali tidak mencatat perempuan seniman: nasionalisme. Sejarah seni, menurutnya, harus dihubungkan dengan wacana nasionalisme Indonesia yang bercorak heroisme maskulin. Akibatnya, karya-karya seni yang berseberangan dengan wacana tersebut akan hilang dari peredaran kuratorial sejarah seni.
Lukisan penuh jargon revolusioner seperti “Boeng, Ajo Boeng” karya Affandi atau guratan tegas pada ragam wajah laki-laki yang menjadi objek lukisan Sudjojono berjudul “Kawan-kawan Revolusi” akan disertakan pada penulisan lintasan sejarah seni Indonesia.

“Ketika perempuan menggambarkan kehidupan sehari-hari yang damai dan tenang, mereka menggambar bunga, menyulam buat anaknya, itu dianggap nggak nasionalis. Nggak revolusioner. Jadi bahkan dalam konsep revolusioner pun ada gendernya,” ungkapnya.
Menganggap kerajinan tangan, seperti menyulam sebagai seni yang berada di posisi bawah dari seni lukis sesungguhnya adalah akibat dari dominannya pandangan modern yang menuntut kebaruan dan kreativitas. Kerajinan tangan dianggap tidak kreatif dan repetitif.
Brigitta menekankan bahwa dalam seni modern yang dibawa dari Barat yang cenderung patriarkis, akses terhadap alat produksi seni semacam cat minyak, cat lukis, dan kanvas sebagian besar hanya bisa diakses oleh laki-laki. Sehingga, perempuan mencari material yang lebih dekat dengan mereka untuk mengekspresikan kreasi seni mereka, seperti menciptakan anyaman bambu, menenun, atau membikin selendang. Perspektif feminis diperlukan untuk membentuk framework baru dalam memandang kesenian, khususnya sejarah seni Indonesia.
Menurut Brigitta, ada tiga hal yang perlu dibongkar, yaitu nasionalisme, modernitas, dan kolonialisme.
Terakhir, karena membincangkan Oei San Yok, persoalan ras/etnis juga menjadi salah satu hal yang menyebabkan nama perempuan-perempuan seniman etnis Tionghoa tidak dimuat dalam sejarah seni Indonesia.
“Ketika kita ngomongin perspektif feminis, artinya bukan cuma identitas siapa pelakunya, tapi juga cara atau metode yang dimiliki dari pengalaman perempuan, tapi bukan hanya pengalaman perempuan. Dari pengalaman dan perspektif peremuan, mereka punya cara untuk memandang dunia dan mengubahnya. Itulah perspektif feminis,” terangnya.
Riwayat Samar Kehidupan Oei San Yok dan Sumbangan Teoritis Bagi Kritik Seni di Indonesia
Untuk mengetahui riwayat hidup Oei San Yok bukanlah perkara yang mudah. Bahkan, keluarga besarnya pun mengingat kehidupan Oei San Yok secara samar saja. Ia dilahirkan di Magelang tahun 1926. Ia menempuh studi seni rupa di Universitet Guru Gambar yang merupakan institusi pendidikan yang di kemudian hari berubah nama menjadi FSRD ITB. Ia berkuliah seni rupa dari tahun 1949 hingga 1953. Kemudian ia lanjut menekuni studi sejarah seni di Belanda secara informal dan setelah selesai menyelesaikan studinya ia beranjak kembali ke Indonesia dan mulai menulis kolom seni rupa di Star Weekly.
Tulisan-tulisan Oei San Yok telah dibukukan pada tahun 2019 berjudul Bunga Rampai Tulisan Oei Sian Yok 1956-1961 yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Penerbit Gang Kabel. Buku ini memiliki tebal 568 halaman yang memuat 129 tulisan Oei Sian Yok di majalah Star Weekly selama 5 tahun ia menulis. Oei Sian Yok merupakan kritikus seni yang tekun menganalisis segala bentuk karya seni dengan kerangka teoritis yang sejajar.
“Oei Syan Yok bisa ngomongin seni grafis Italia dengan seni lontar Bali. Jadi dia memperlakukannya secara setara. Kamu bayangin aja misalnya karyanya Anusapati dihadap-hadapkan dengan karya pengrajin rotan atau kayu itu dalam sekali hembusan artikel, dianalisis bersama itu keren banget,” terang Brigitta.
Brigita juga menangkap bahwa Oei Sian Yok mengadaptasi pendekatan formalisme ketika ia sedang menulis kritik seni. Formalisme mengaplikasikan konsep keindahan estetika formalis Kantian yang berasal dari modernitas Barat. Namun, Oei Sian Yok tidak terbatas menggunakan pendekatan formalisme. Ia berusaha mengontekstualisasikannya dengan tempat di mana ia tinggal, dengan kata lain, formalisme Oei Sian Yok adalah formalisme yang tersituasikan.
Ia juga lihai mengombinasikan teori seni dengan sejarah seni yang mampu membandingkan karya seni Barat dengan karya seni yang dihasilkan dari Amerika Latin, Tiongkok, atau Indonesia itu sendiri. Barat otomatis tidak menjadi pusat analisisnya. Menurut Brigitta, Oei Sian Yok telah memberikan sumbangan teoritis bagi teori seni Indonesia.
Sosok Oei San Yok juga kerap mencatat nama-nama perempuan seniman beserta karya-karyanya. Sebut saja Attika, Betsy Lucas, Siti Rulijati, Srijani Hudjinoto, dan Judith Waworuntu.
Nama-nama ini tidak bisa secara cepat diingat oleh publik, tidak seperti mengingat nama-nama seniman laki-laki yang begitu familiar: Affandi, Sudjojono, Hendra Gunawan, dan lain-lain.
Dalam tulisannya untuk pameran pelukis Salim pada tahun 1956, Oei Sian Yok mengajukan kekesalannya karena begitu sedikit jumlah pengunjung perempuan di pameran lukisan tersebut. Kritik Oei Sian Yok ini, dalam tafsiran Brigita, mempertanyakan pihak mana yang sebenarnya “pantas” dilibatkan dan diajak dalam dunia seni Indonesia?
Oei Sian Yok menulis kritik seni dalam bentuk surat. Surat bukanlah bentuk tulisan yang hendak memapankan posisi kritikus sebagai pihak yang memiliki otoritas untuk berbicara mengenai apa pun. Oei Sian Yok sedang menyapa pembaca untuk selanjutnya mengajak diskusi mereka dalam tulisan-tulisannya, sehingga muncul pemikiran lain yang akan lebih menarik jika dieksplorasi lebih jauh.
Dalam esainya, Brigitta berpendapat bahwa metode penulisan kritik seni dalam bentuk surat seperti yang dilakukan Oei Sian Yok adalah upayanya untuk mendekatkan kembali seni rupa yang cenderung asing bagi pembaca awam, lebih khusus perempuan.
Sayangnya, karier Oei Sian Yok sebagai kritikus seni terpaksa terhenti karena majalah Star Weekly dibredel oleh pemerintah. Star Weekly dikenal sebagai media yang aktif menggugat politik rasial Orde Baru yang menyasar etnis Tionghoa. Oei Sian Yok pun akhirnya hanya bisa meneropong gelanggang seni dari kejauhan, sembari dengan rajinnya ia mengkliping tulisan-tulisan yang berkaitan dengan kesenian.
Berkat ketekunannya mengumpulkan kliping, seorang kritikus seni terkenal, Sanento Yuliman, berhasil menyusun disertasi tentang kritik seni di Indonesia. Ia menggunakan kliping-kliping yang telah dikumpulkan oleh Oei Sian Yok untuk merampungkan disertasinya.
Mempertanyakan kembali makna “warisan” seperti yang dituliskan oleh Sekolah Pemikiran Perempuan adalah langkah yang tepat. Oei Sian Yok dan deretan nama perempuan seniman lainnya dipinggirkan oleh tiga warisan rusak yang terus diperbaharui hingga sekarang: kolonialisme, patriarki, dan politik rasial.
Seni bukanlah milik segelintir orang yang mencecap begitu banyak privilese. Seni tidak perlu memunculkan figur dominan yang menyingkirkan banyak orang, dalam hal ini perempuan yang menggeluti dunia seni masih disamarkan, dilupakan, dan yang lebih menyakitkan, terlupakan.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Sesarini
