Panggung prosenium disulap bak ruang rias. Dipenuhi oleh manekin, wig beraneka model, kostum warna-warni, cermin, dan lemari kosmetik. Dari kejauhan, sayup-sayup melantun lagu dari sebuah radio. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang waria bernama Pandan duduk di atas sofa, asyik membaca buku dengan penampilan yang polos. Rambutnya kusut dan busana yang ia kenakan ala kadarnya. Lamunannya dihiasi oleh para model yang memadati panggung, berpose bak bintang iklan. Itulah dunia impian Pandan, sebuah khayalan yang diam-diam ia idam-idamkan.
Namun, khayalan itu seketika hancur ketika dari sudut lain muncul Bernadette dengan penampilannya yang sama sekali kontras. Dandanannya menor, busananya glamor, dan rambutnya tersisir rapi. Dengan kotak riasan di tangan, Bernadette berteriak memecahkan kesunyian, “Katanya mau cantik! Sebenarnya apa sih maumu? Oh, Pandan, semua orang ingin terlihat cantik dan menarik!”
Inilah adegan awal pertunjukan teater “Ruang Rias” oleh Teater Manekin di Gedung Kesenian Jakarta dalam ajang Festival Teater Jakarta 2025. Sejak awal, lakon ini sudah langsung menancapkan konfliknya dengan tajam. Bernadette, dengan keyakinannya yang nyaris dogmatis, mendesak Pandan untuk mengubah penampilannya. Bagi Bernadette, dunia ini telah berubah menjadi medan pertempuran citra. “Pencitraan adalah panglima,” katanya. Kecantikan adalah alat untuk menaklukkan dunia, sementara buku-buku dan pemikiran kritis hanyalah hal usang yang tak lagi relevan.
Pandan awalnya menolak. Ia takut, ragu, dan merasa tak perlu mengubah diri untuk diterima. Namun Bernadette tak mudah menyerah. Dengan pinset, pil, bedak, lipstik, dan lakban, ia memaksakan transformasi itu seolah-olah sedang membongkar dan menyusun ulang identitas Pandan.
Setiap jeritan Pandan membuncah dari mulutnya, langsung dijawab dengan retorika Bernadette yang pedas, “Sakit? Lebih sakit lagi politisi yang hobi membohongi rakyat!”

Di balik topeng riasan tebalnya, Bernadette ternyata menyimpan luka masa lalu. Luka itu telah membuatnya menyerah pada tekanan sosial, dan kini, sialnya, ia malah meminta Pandan untuk melakukan hal yang sama. Lalu perubahan pun terjadi. Pandan perlahan terbuai oleh pesona dirinya yang baru. Kulitnya halus, wajahnya bersinar, ia merasa percaya diri. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Riasan itu tak lagi sekadar riasan, ia menjadi semacam kutukan. Tubuh Pandan mulai terasa asing, kaku, seperti boneka. Hingga akhirnya, dalam sebuah adegan yang mencekam, Pandan berubah sepenuhnya menjadi manekin. Cantik sempurna, tapi tak bernyawa.
Pertentangan dua karakter ini (Bernadette dan Pandan) di atas panggung selanjutnya tidak lagi terasa sebagai konflik personal, melainkan metafora dari pertarungan antara nilai intrinsik dan ekstrinsik dalam diri manusia, khususnya dalam komunitas waria yang sering dijadikan objek semata dalam pandangan masyarakat kebanyakan. Naskah ini menggunakan pendekatan realisme distorsif, di mana realitas tidak disajikan secara utuh, melainkan dibengkokkan untuk menyoroti keganjilan-keganjilan sosial. Dia menyentuh ruang itu dengan telak.
Dalam adegan penyiksaan rias, dimana Bernadette mencabut bulu hidung Pandan, memaksanya menelan pil, dan menempelkan lakban, kita menyaksikan bagaimana kecantikan dipaksakan sebagai bentuk kekerasan simbolis. Bernadette bukan hanya merias Pandan, ia sedang “mencetak” tubuhnya agar sesuai dengan standar yang ditetapkan “mereka”. Siapakah yang dimaksud sebagai “mereka” ini? Tak lain adalah sebuah entitas tak kasat mata yang merepresentasikan kekuasaan, uang, dan hegemoni budaya.
“Mereka” dalam naskah ini adalah sistem kapitalistik yang mengkomodifikasi tubuh dan identitas. Ketika Bernadette berkata, “Dengan uang mereka bisa mengubah puisi yang basi menjadi seharum bunga mawar,” ia sedang menunjuk pada bagaimana uang dan kekuasaan mampu mendikte apa yang dianggap pantas, layak, dan indah.
Ruang rias ini yang seharusnya menjadi tempat pemberdayaan dan ekspresi diri, justru dihadirkan sebagai laboratorium di mana tubuh queer disiksa, dicetak, dan dinetralisir agar sesuai dengan standar kecantikan heteronormatif. Cahaya lampu rias yang terang benderang menciptakan atmosfer ambivalensi antara keinginan untuk dilihat dan trauma menjadi objek tontonan. Ini adalah metafora untuk pengalaman hidup banyak orang queer yang terperangkap di antara keinginan untuk diterima dan pemberontakan terhadap norma yang menindas.
Adegan saat Bernadette secara paksa mencabut bulu hidung Pandan, menempelkan lakban, dan memaksanya menelan pil menjadi adegan yang paling visceral dan mengganggu. Adegan ini tidak lagi terasa sebagai hiperbola teatrikal melainkan kritik tajam terhadap “feminitas wajib” yang dipaksakan kepada tubuh queer, khususnya waria.

Dalam komunitas waria, sering ada tekanan internal dan eksternal untuk melakukan “passing”, untuk terlihat dan diakui sebagai perempuan sedemikian rupa sehingga tidak terdeteksi sebagai laki-laki yang berpakaian perempuan. Proses untuk mencapai “passing” ini seringkali menyakitkan, mahal, dan penuh kekerasan, baik secara fisik (seperti operasi, hormon) maupun psikologis.
Transformasi Pandan dari seorang yang “awut-awutan” menjadi “manekin cantik” adalah puncak ironi dari naskah ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia dan percaya diri. Di sisi lain, ia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Tubuhnya menjadi kaku, terasing, dan akhirnya berubah menjadi boneka. Sebuah simbol dari hilangnya identitas di bawah tekanan standar kecantikan.
Manekin itu mewakili keberhasilan sekaligus kegagalan. Keberhasilan dalam memenuhi standar kecantikan, tetapi kegagalan total dalam mempertahankan kemanusiaan. Pandan tidak menjadi “dirinya yang lebih baik”, ia justru berhenti menjadi “diri” sama sekali. Ia menjadi komoditi, sebuah objek estetika yang sesuai dengan selera pasar. Dalam konteks queer, ini berbicara tentang dilema asimilasi. Apakah dengan berusaha keras untuk “blend in” dan diterima oleh masyarakat arus utama, kita justru harus mengorbankan keunikan, keotentikan, dan jiwa kita?
Adegan penutup, di mana Bernadette tersungkur menangis di hadapan Pandan yang telah menjadi manekin, hadir sebagai klimaks yang tragis. Bernadette menyadari bahwa apa yang dilakukannya bukanlah penyelamatan, melainkan pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Ia telah menjadi bagian dari mesin yang ia kritik. Bernadette, yang awalnya bersikap dominan, kini terperangkap dalam teror hasil karyanya sendiri. Ia menjerit, menangis, dan tersungkur lemas. Cita-citanya menciptakan kecantikan justru berakhir dengan kehancuran. Di sisi lain, Pandan yang ingin diterima, malah kehilangan dirinya sendiri.
Membaca Metafora Tubuh di Bawah Hegemoni Kecantikan
Dalam era kapitalisme yang terus bergulir, industri kecantikan telah bertransformasi melampaui entitas ekonomi. Ia kini berfungsi sebagai alat ideologis yang melakukan hegemoni atas pemahaman masyarakat tentang tubuh, gender, dan nilai estetika. Standar kecantikan yang digaungkan oleh media dan industri kosmetik menciptakan sebuah gambaran tubuh ideal yang seringkali mustahil dicapai, sekaligus memaksa individu untuk terus berusaha menyesuaikan diri. Lebih dari itu, standar ini sama sekali tidak netral. Ia adalah sebuah mekanisme kontrol sosial yang bersifat menindas, khususnya terhadap kelompok marginal seperti waria atau transpuan, yang identitasnya seringkali tidak masuk dalam kotak gender biner yang kaku.
Dalam konteks inilah, pertunjukan “Ruang Rias” oleh Teater Manekin menemukan relevansinya yang paling mendalam. Yang membuat pertunjukan ini unik adalah para pemainnya sendiri. Mereka adalah waria yang dalam kesehariannya mengelola salon kecantikan dan menjadi pengusaha di bidangnya. Pilihan casting ini bukanlah kebetulan. Selain menjadi medium untuk menyoroti respons komunitas waria terhadap tekanan hegemoni kecantikan, pertunjukan ini juga merupakan sebuah upaya pemberdayaan, yang memanfaatkan teater sebagai alat advokasi dan ekspresi bagi kelompok waria.
Sebagai kelompok marginal, waria sering menjadi sasaran eksploitasi ganda. Mereka dituntut untuk memenuhi standar estetika tertentu, sambil terus mengalami marginalisasi secara sistematis. Konflik ini terwujud dengan nyata dalam karakter Pandan. Ia terperangkap dalam dialektika antara mempertahankan jati dirinya dan tunduk pada tuntutan masyarakat agar memenuhi standar kecantikan yang dominan. Identitas Pandan bersifat dinamis dan kompleks, menolak untuk dikategorikan secara simplistik ke dalam dikotomi maskulin-feminin.
Transformasi paksa yang dialami Pandan, melalui ritual rias dan modifikasi tubuh, adalah cerminan dari bagaimana identitas queer sering mengalami tekanan dan marginalisasi dalam masyarakat yang mendewakan keseragaman gender. Namun, penting untuk dicatat bahwa perlawanan Pandan tidak pernah benar-benar padam. Ekspresi dirinya yang unik dan berbeda tetap menjadi bentuk pembangkangan tersembunyi.

Dengan kata lain, tubuh Pandan adalah medan pertarungan ideologis antara keinginan untuk tetap otentik dan tekanan untuk konformis. Melalui kekerasan simbolis inilah terlihat jelas bahwa standar kecantikan bukanlah persoalan individu belaka, melainkan bagian dari struktur sosial yang lebih luas, di mana gender dan estetika dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan dan dominasi.
Bernadette, sebagai karakter yang telah “berhasil” melalui proses ini, menjadi agen dari sistem yang sebenarnya menindasnya. Ia mereproduksi kekerasan yang pernah dialaminya kepada Pandan. Ini menggambarkan siklus trauma dalam komunitas marginal, di mana korban bisa berubah menjadi pelaku untuk bertahan hidup. Karakter Bernadette adalah jantung tragedi ini. Dia bukan antagonis murni, melainkan korban yang telah teralienasi. Dia begitu dalamnya percaya pada dogma “cantik untuk menaklukkan dunia” sehingga dia tidak melihat bahwa dia hanyalah penjaga gerbang penjara yang ia tempati sendiri.
Pada akhirnya, “Ruang Rias” meninggalkan sebuah pertanyaan yang menggantung dan mengusik. Dalam upaya kita (queer atau bukan) untuk diterima dan diakui, sudah sejauh mana kita, seperti Bernadette, menjadi algojo bagi diri sendiri dan sesama, yang dengan rela mengorbankan jati diri di altar penerimaan sosial? Maka, lakon ini bisa juga dimaknai sebagai potret suram tentang bagaimana penyerahan pada hegemoni bukannya membebaskan, melainkan justru mengubah kita menjadi manekin-manekin cantik yang diam, kaku, dan kehilangan nyawa.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Festival Teater Jakarta/Yose R
