Di tengah maraknya gigs dan acara musik independen, muncul satu inisiatif yang berangkat bukan hanya dari satu nama, melainkan dari banyak kepala: Worst Generation Tour. Tur ini melibatkan musisi hip-hop, sineas, hingga penulis, yang sepakat untuk berjalan bersama dari satu kota ke kota lain.
Dimulai sejak bulan Juli hingga Agustus 2025, Worst Generation Tour mendatangi 15 titik di pulau Jawa dan Bali. Aktivitas pemutaran film dan diskusi buku dibersamai sepuluh nama penampil dari skena hip-hop dari beberapa daerah
Tur ini membawa banyak MC dari skena hip-hop di beberapa wilayah, seperti Deritanama (Sumedang), Terapi Minor (Tangerang), Willhound (Cicaheum), Badbob (Bandung), Breakdown (Cirebon), Alli Musyaffa (Cirebon), Dirayha (Tangerang Selatan), Scoobydoomz (Bandung), dan Squirtword (Jakarta Timur). Rangkaian tur di beberapa kota pun turut dibersamai oleh aktivitas pemutaran film dan diskusi buku.
Pada Jumat malam, 15 Agustus 2025, acara ini ditangani secara langsung oleh Noirlab Collective di Social Coffee, tak jauh dari Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor. Di titik kesepuluh ini, saya berkesempatan berbincang dengan Rio a.k.a Terapi Minor–penampil asal Tangerang–untuk menelisik lebih jauh tentang cerita di balik inisiatif Worst Generation Tour, tantangan yang mereka hadapi di jalan, hingga semangat One Piece dalam pergerakan.
Selamat membaca!

Boleh jelasin tentang Worst Generation Tour?
Worst Generation Tour itu sebenarnya tur yang digagas bareng-bareng. Ada sekitar delapan sampai sepuluh kepala yang berkontribusi. Awalnya saya mau bikin tur sendiri, tapi rasanya kurang pas. Waktu ngobrol sama teman-teman Bandung dan Sumedang, akhirnya kami sepakat: mending bareng aja sekalian, biar saling support dan bisa mengenalkan karya masing-masing.
Sebelum mulai tur, aku juga sounding ke teman-teman jaringan di kota lain, termasuk Bali. Mereka antusias banget dan menunggu kedatangan kami.
Siapa saja yang ikut berkontribusi di dalam tur ini?
Mayoritas dari delapan sampai sepuluh orang itu adalah anak hip-hop: ada produser, DJ, rapper. Selain itu ada juga tiga orang sineas yang ikut mengenalkan film mereka tentang kritik sosial di Sumedang.
Boleh spill sedikit tentang film itu?
Judulnya Lenyap Seketika, karya rumah produksi Milang Pictures (Sumedang) dan tiga orang yang terlibat adalah Rijal Uddien, Khrisna Refiaji, dan Deritanama–Deri ini juga nge-rap.
Selain musik dan film, ada apa lagi? Apakah semua kota menampilkan keseluruhan aktivitas?
Ada juga pembahasan buku puisi dari aku, Pesta Pora Kegagalan (Penerbit Semut Api/Ohara Books) dan temanku Sondang Manuputty, judulnya Dari G-d’spee (Rise Above Media). Tapi nggak semua titik menampilkan semuanya, kami menyesuaikan tempat aja, sih. Di Jogja, Jember, Sidoarjo, dan Jombang misalnya lengkap: musik, film, dan puisi. Di Bali dan Bogor: fokus ke penampilan hip-hop aja.
Setelah Bogor, kemana lagi tur ini berlanjut?
Setelah Bogor, lanjut Depok, lalu Jakarta dengan tiga titik (Kios Ojo Keos, House of Killah di Jakarta Timur, dan penutup di WestWew), sebelum berakhir di Banten.
Tujuan apa yang ingin dicapai dari tur ini?
Intinya silaturahmi. Ibarat kain dengan benang yang kendor, tur ini seperti menjahit ulang pertemanan. Worst Generation bukan soal individu atau manajer, tapi milik bersama.
Kami juga membuktikan bahwa acara bisa jalan tanpa pemodal besar—cukup “do it with your friend”.
Makanya, aku sangat berterima kasih untuk teman-teman di manapun yang udah mau nongkrong dan berbagi apapun dengan kami.
Bagaimana ceritanya memilih nama “Worst Generation”?
Nama itu hasil voting. Ada juga usulan “Tur Aliansi Bajak Laut”, tapi yang menang “Worst Generation.” Nama ini sebenarnya sudah familiar di ranah sastra: menggambarkan karya yang melawan kaidah baku. Kami merasa itu relate dengan keadaan sekarang. Kebetulan juga nyambung dengan One Piece—kisah tentang bajak laut yang melawan ketidakadilan.
Di acara ini kami kebanyakan adalah gen z, yang menurutku dipandang dengan stigma negatif. Kami memakai Worst Generation bukan secara harfiah diartikan sebagai generasi terburuk, tapi inginnya dimaknai sebagai orang-orang yang punya kacamata berbeda.
Ngomongin One Piece, kenapa anime itu penting buat kalian?
Aku sangat senang dengan One Piece yang tengah dipropagandakan oleh banyak kalangan. Karena isunya mirip dengan realita kita: rasisme, korupsi, penguasa lokal yang otoriter, sampai pembungkaman kritik. Cuman mungkin perbedaanya, One Piece itu gambar atau virtual, dan kita nyata, kita asli.
Makanya, kalau kembali ke realita kehidupan kita saat ini, menurut saya, cerita One Piece ada dalam tubuh masyarakat Pati. Kemarahan mereka itu adalah sesuatu yang terjadi secara organik. Ketika kebijakan pemerintah soal kenaikan pajak bumi dan bangunan dibuat semena-mena, masyarakat di sana tegas menunjukkan respons yang sepatutnya dilakukan tanpa perlu ditahan-tahan.
Seakan sudah waktunya bagi mereka untuk marah.

Lirik kalian banyak mengangkat isu sosial politik. Lalu, bagaimana menilai pemerintahan Prabowo di hari ke-300 ini?
Aku coba jawab tanpa pake izin, ya. Karena kalau ngomongin izin itu pasti hubungannya dengan siap, pak/siap, ndan. Terus terang, orang-orang yang memilih Prabowo itu bodoh karena menutup mata pada rekam jejak pelanggaran HAM-nya. Program makan siang gratis juga problematis: dana 15 ribu per anak, tapi nyampenya paling cuma 8 ribuan. Yang diuntungkan bukan anak sekolah, tapi penyelenggara. Dan banyak dapur mundur karena pembayaran nggak jelas—itu sudah cukup menunjukkan, sih.
Kembali ke laptop. Jadi, kesulitan apa yang paling terasa selama tur ini?
Kesulitan itu pasti ada, misalnya, perbedaan pendapat di antara banyak kepala.
Maka disiasati dengan demokratis, melakukan pemilihan suara untuk menentukan keputusan, dan saling menerima hasil dari keputusan yang demokratisasi tadi. Itu yang paling sederhana.
Tapi yang paling rumit itu soal keuangan. Kita sudah buat skema pengeluarannya, sudah prediksi ongkos kendaraan, pangan, dan kebutuhan lainnya, tapi ternyata di lapangan gak sesuai perhitungan kami–di situ yang bikin bingung.
Metode pendanaannya bagaimana?
Kami itu bisa dibilang patungan, bisa juga dibilang nggak. Misalnya, perjalanan Jawa-Bali kami pakai kereta, semua beli tiket sendiri. Begitu masuk Jabodetabek, skemanya mulai ribet karena nggak pakai kereta lagi.
Dari mana titik awal tur ini dimulai?
Titik kumpul kita di Bandung, Stasiun Kiara Condong. Tapi itu gak semua, karena beberapa ada yang kejauhan kalau harus ke Kiara Condong. Jadi, mereka yang kejauhan langsung ke lokasi.
Bagaimana dengan desain poster tur?
Untuk mewakili core tur ini, pengennya mau menggambarkan aliansi seperti bajak laut di One Piece. Semua anak-anak yang ikut tur juga suka anime itu, cuman, kebetulan aja saya yang paling vokal. Dan untuk desain posternya itu dibuat oleh salah satu anak Bandung, namanya Isan. Dia punya nama pena, Flesh From The Acid. Desainnya keren lah, saya suka.
Apa harapan ke depan untuk acara ini?
Semoga terus ada ruang kumpul dan bikin acara bersama. Menurut saya, impaknya bisa terasa bahkan 10 tahun ke depan. Dan karena saya masih di mazhab sastra: ketika ingin abadi, harus menulis. Dan harapannya juga, kegiatan ini bisa diteruskan ke generasi berikutnya supaya mereka nggak merasa sendirian dan nggak mulai dari sendirian lagi. Mereka punya cerita yang bisa diingat dan dimanfaatkan sebaiknya.

Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Gilbert Natanael Pardosi
