Pemuja Harry Roesli dan Pengalaman Mengoleksi Rilisan Fisik bersama Rifkki Arrofik

Ketertarikan Rifkki Arrofik terhadap rilisan fisik mengantarnya mengoleksi rilisan Harry Roesli dan mengarungi harta karun rilisan fisik.


Malam itu (23/6) cuaca kota Jogja terasa tanggung; mendung, tapi tidak hujan. Motor-motor berbaris rapi pada suatu lorong. Sesekali terdengar dentuman musik dari dalam ruangan. Ruang itu bernama MES56. Susunan tape deck, pre amplifier, seperangkat speaker beserta gulungan kabel, dan sebuah microphone tersusun rapi di salah satu sudut ruangan. Kain hias dengan corak penuh warna menempel di dinding bertuliskan “Tonjo Ria”, sebuah program spekulasi pencarian dana Tonjo Foundation melalui permainan.

Digagaslah Tonjo Sharing, salah satu wahana permainan dengan konsep lokakarya home taping (merekam lagu atau suara) dengan tajuk Bagimu Playlistmu, Bagiku Playlistku. Malam itu adalah malam ketiga yang berlangsung di Ruang MES56. Rifkki Arrofik duduk mencorat-coret sebuah kertas. Mahasiswa Jurusan Seni Murni, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta ini sedang menunggu giliran untuk belajar merekam kaset pita.

Sembari menghisap sebatang rokok, lelaki yang kerap dipanggil Rofik itu megusap layar gawai untuk kembali membaca pilihan lagu yang akan direkam nantinya. Tak lupa, Rofik menghitung ulang durasi keseluruhan lagu pilihannya, sebab kaset pita C60 hanya mampu menyimpan kurang dari 60 menit saja.

Di penghujung acara, Sudut Kantin Project berbincang dengan Rofik mengenai pengalamannya mengoleksi rilisan fisik.

Sejak kapan mulai tertarik mengoleksi rilisan fisik?

Awalnya dari latar belakang keluarga. Sejak kecil, saya selalu dengerin musik kalau orang tua nyetel rilisan fisik di rumah atau ketika berpergian. Mungkin karena ayah saya dulunya bercita-cita ingin punya band sama teman-temannya, walaupun gagal. Selanjutnya saya masuk pondok pesantren. Ketika pulang ke rumah, hal itu sudah gak ada semua. Di situ seperti ada rasa yang hilang.

Lalu saya mencari ke gudang, akhirnya menemukan beberapa koleksi. Seperti Guns N’ Roses, Pink Floyd, dan band-band rock lama lah. Paling kagum sih mungkin ketemu album God Bless. Karena bapak pengagum Ahmad Albar. Dari situ saya mencari ke pasar loak untuk mencari alat pemutarnya lagi. Awalnya dari Walkman, lama-kelamaan kok ini gak puas. Akhirnya pindah ke compo.

Berjalannya waktu, saya ketemu lagi koleksinya bapak yang Pink Floyd. Lalu tertarik ngulik musik 70-an, lama-kelamaan tertarik musik seperti ini. Lalu perlahan coba ngulik di Indonesia juga ada gak sih musik seperti ini? Lalu ketika masuk kuliah, ketemu sama seorang teman, dikenalinlah sama musiknya Harry Roesli. Kalau kata temen, ini Frank Zappa-nya Indonesia. Hahaha

Apa yang menarik dari Harry Roesli?

Ketika ngulik-ngulik tentang Harry Roesli, saya belajar dari kehidupannya. Misal mengembangkan musik rock dicampur etnik. Karena kalau lihat sejarahnya, di era Soekarno musik-musik mulai difilter dan dicampur dengan budaya lokal, lalu di Orde Baru cenderung musiknya seperti yang masih bisa kita nikmati sekarang. Tapi ternyata di era itu malah banyak hal-hal yang tidak disangka. Seperti kolaborasi musik. Nada etnik kita ternyata punya warna musik yang beragam dan menarik. Dari situ saya melihat Harry Roesli seperti, ini sangat menarik, karena pasti punya tantangannya sendiri untuk mengkolaborasikan berbagai instrumen itu.

Lebih tertarik rilisan fisik yang mana?

Saya sempat ketika SMK nyoba ngoleksi vinyl. Tapi ternyata kurang worth it buat saya, mungkin karena masih sekolah dan kebutuhan yang lain masih banyak. Akhirnya saya jual dan ganti bentuk mengoleksi kaset tape. Tapi tetep fokusnya rilisan Indonesia.

Kenapa rilisan Indonesia?

Karena belum tentu album-album lama bakal dirilis ulang. Ya seperti albumnya Harry Roesli, sementara ini baru sekitar 2-3 album yang dirilis ulang.

Masih ingat kaset pertama yang dibeli?

Kaset pertama yang saya beli kelas 2 SMK, dapat dan belinya di Pasar Gamping. Kebetulan dekat rumah. Yaitu The Wall (1979) nya Pink Floyd.

Selama berburu rilisan fisik, pernah punya pengalaman menarik?

Pernah. Saya pernah membeli rilisan fisik tanpa ragu-ragu meskipun harganya mahal. Awalnya saya beli kaset itu dari salah satu penjual di Bandung. Si penjualnya juga kaget, kok tertarik sama kaset beginian, harganya juga mahal, trus musisinya juga gak musisi-musisi banget. Itu kaset Remy Sylado, judulnya Bromocorah dan Putrinya (1977). Beliau memang dikenal sebagai seorang penyair, tapi juga ternyata punya arsip lain dalam bidang musik. Itu saya beli di tahun 2018 dengan harga 150rb. Karena semakin akrab sama penjualnya, malah sering dapat bonus kaset lainnya.

Masih dengan penjual yang sama, suatu ketika dia sempat bertanya ke saya punya kaset Harry Roesli berapa? Saya jawab waktu itu belum punya. Setelah seminggu percakapan itu, tiba-tiba di rumah ada paket datang. Ternyata dikirimi kaset Harry Roesli yang rilisan lama, salah satunya album Titik Api (1976), favorit saya. Pokoknya saya matur suwun sanget. Hingga kini saya masih ngumpulin rilisan Harry Roesli yang lain, saya sudah mengoleksi 5 album, masih ada target 4 album lainnya.

Pengalaman lain, saya pernah membeli rilisan fisik dengan harga 300rb, namun ketika sampai rumah ternyata isinya beda. Yang saya beli itu harusnya Kelompok Kampungan, tapi isinya malah Iwan Fals. Setau saya harusnya yang merilis kaset itu dari Akurama Records, pas saya buka kok isinya label Musica? Cover-nya sih tetep Kelompok Kampungan, tapi kok isinya beda. Kelompok Kampungan itu band dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dan sempat dicekal di era Orde Baru karena materi lagunya. Ketika saya tahu isinya salah, itu selama dua minggu rasanya berat banget.

Setelah saya complain, akhirnya penjual mau tanggung jawab. Selama dua minggu saya nungguin, rasanya ya udah ikhlasin aja. Ternyata pas dikirimin lagi, akhirnya bener dan sesuai dengan pesanan.

 

Siapa influence terbesar?

Ya Harry Roesli. Dari Harry Roesli saya nemuin progressive rock yang kerasa Indonesia banget, seperti Benny Subarja, Kantata Takwa, dan lainnya. Kalau band-band sekarang, saya kurang begitu mengikuti. Hehehe

Kenapa tadi tertarik untuk belajar home taping?

Di rumah, setelah sekian lama akhirnya saya berhasil ngumpulin satu per satu alat pemutar seperti ampli, tape deck, dan speaker juga. Lalu bapak pernah bercerita, dulu waktu zaman bapak kalau bikin demo ya cuma begini pakai alat ini. Direkam langsung dari tape deck. Dari situ saya tertarik.

Kalau malam ini, saya nyoba untuk alihwahanakan lagu-lagu versi digital kembali ke kaset.

Lagu-lagu apa yang dipilih?

Tadi kebetulan saya rekam satu album Harry Roesli yang Tiga Bendera (1980). Hahaha

Ya mungkin karena saya masih kesusahan mencari rilisan tersebut. Jadi bisa sedikit ngobatin saya kalau mau menikmati musiknya dengan rilisan kaset. Ini juga jadi momen kalau saya pernah pingin sekali punya kaset album ini. Ya paling nggak besok-besok bisa jadi kenangan ketika sudah punya albumnya yang asli.

Sebagai penikmat musik lawas, bagaimana kamu melihat musik zaman sekarang?

Ini saya tidak menyimpulkan, karena saya juga masih belajar mendengarkan. Namun, seiring perjalanan saya bertemu dengan banyak teman-teman, sebenarnya banyak yang punya materi bagus tapi mungkin belum mampu memasarkan sehingga belum dikenal banyak orang.

Saya sempat main ke Bandung, ketemu seorang teman yang punya rilisan fisik. Dia ngenalin saya dengan salah satu rilisan. Saya juga agak lupa namanya. Kata teman saya, kaset ini cuma dirilis, lalau tidak salah hanya 50 copies. Saya akui ini musiknya bagus banget. Lagu-lagu di dalamnya menurut saya mudah didengar pendengar sekarang, tapi juga ada unsur khasnya, ya identitas Indonesia-nya nggak hilang.

Seberapa penting musik bagi hidupmu?

Dari musik, saya merasa punya telinga.

 

Editor: Agustinus Rangga Respati

Koleksi foto: Rifkki Arrofik

Total
12
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts