Thalasemia.: Kumpulan Puisi Brigitta Globin Angela

Kumpulan puisi ini: Thalasemia., Jendela, dan 2:02 ditulis oleh Brigitta Globin Angela.


Thalasemia.

Kau menatap layar ini.
Menerka mengapa aku menulisi alamat rumahmu.
Sesekali, aku ingin mengetuk pintu.
Menanggalkan jubah besar, merengek-rengek 
Menjadi diriku yang sering kutemui dalam bayangan di cermin dua ribu seratus sembilan puluh hari lalu.
Hampir mati aku ingin menangis di antara flora fauna rumahmu;
yang kini entah seperti apa bentuknya.
Karena aku tidak lagi ingin bercinta di luar angkasa
dan menukar nyawa dengan kesempatan menelanjangimu

nyeri ini ku biar, 
ku rawat, 
sesekali ku jemput;
di antara hujan es yang pecah mengenai tubuhku
agar ku pulang, mengingat bagaimana aku bermula
dan menepi atas hidup yang berjalan tidak sesuai rencana

kau berjala entah kepada siapa
ku tebak kepada setiap cara yang menjauhkan dirimu pada kesendirian
padanya kutitipkan hardik
yang mengenai kulitmu agar kau eling
bahwa suwung juga perang yang menelantarkan janji nabi-nabi pada pohon yang mencium ajalnya;
saat manusia memakan kemanusiaannya demi tuhannya

maka aku adalah kucur darah yang mengenai rongga hidungmu
mengeras, terkelupas, anyir
sesaat, 
asat,
meresap,
menyelinap, menyelundup, menukar nasib;
berkhayal kau dirawat semesta,
dan baik-baik saja.
Selebihnya kita adalah keras kepala yang pernah saling jatuh pada tanah basah;
Menyembah gerimis,
Agar kau datang, jujur padaku.

Jendela

Aku berdiri di antara kata 
Yang kau simpan dengan nyawa
Agar kau dapat memotretku 
Kebingungan dan tanpa arah
Dibingkai jendela

Aku berjongkok di antara sejarah 
Yang disiksa dengan tanah
Yang dijejal dalam mulut 
Dan dikunci rapat agar kau bisa memaksaku menyerah 
Agar kau dapat mencela gadis kecil penuh tanya
Yang bercita-cita menutup jendela
dengan cermin  2 x A2;
yang dibeli di Gondomanan,
selepas menelan arak di tepian jalan 

2:02

Aku muntah.
Hidup adalah embalming pesan;
Sedang kita sementara.

Kau meminjamkan kalimat;
kini tinggal azimat
Kerongkonganku berasap
Menelan cairan asam lambung;
Ketika kekasihmu lewat, mencuri baksoku

Kau pengecut yang berlindung pada takdir laki-laki
dan bicara soal-soal dunia 
sedang kau sibuk menabung kekasih.


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Brigitta Globin Angela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Senandung Kebun #3: Singgah Sebentar di Konser Musik Intim, Magis, dan Kontemplatif

Next Article

Dari Sukatani, Mahasiswa Seharusnya Belajar untuk Membunuh Narsisme dalam Gerakan

Related Posts