Tiga Obrolan yang Takkan Tercatat, Kalau Bukan Aku yang Mulai: Kabar-Kaburan Vol.2

Kabar dari skena musik Bogor, sesi wawancara bersama Luthfi ‘Kabar-Kaburan’, grup band Wish, dan Pineline.

Rabu malam, pertengahan Juli, ponsel di meja bergetar tiga kali. Saya sengaja tak langsung membukanya karena belum lama mencoba menjauh dari candunya. Setelah satu jam sibuk dengan hal lain, saya akhirnya menoleh kembali. Sebuah pesan masuk via Instagram, dari kawan baru yang rambut keritingnya teringat jelas. 

Kami bertemu tanpa sengaja di sebuah acara musik di Ciangsana, garapan Noirlab Collective. Pesan darinya sederhana: undangan menghadiri acara musik yang ia gagas bersama kawanan. “Frenn, kalo ada waktu luang, dateng dong. Kali aja ada yang bisa ditulis.”

Poster Kabar-Kaburan Vol.2 segera ia kirim setelah saya menanyakan detail: acaranya 26 Juli 2025 di Cafe Kemenady, Bogor. Begitu mengecek maps, hati saya langsung nyeletuk: Wah, satu jam perjalanan—belum termasuk macet, nih. Esok sore, setiba di lokasi, saya langsung menemui Luthfi, sang pengundang. Kami berbincang sebentar tentang acara dan band-band yang akan tampil. 

Ketika malam datang, di lantai tiga yang cukup sempit, distorsi gitar dan dentuman drum memanaskan udara. Seru, meski melelahkan. Untungnya sebelum baterai sosial habis, saya sempat mencatat obrolan dengan dua band penampil, lalu melanjutkan dengan obrolan bersama Luthfi via WhatsApp keesokan harinya.

Selamat membaca!

Obrolan Bersama Luthfi (Kabar-Kaburan)

(dok. Kabar-Kaburan Vol.2)

Bisa kenalin dulu, Kabar-Kaburan itu apa?

Halo, gua Luthfi, di Kabar-Kaburan kebetulan jadi visual director sekaligus pengurus acara. Kabar-Kaburan itu semacam gigs musik kabupaten, lahir dari bocah-bocah yang doyan nongkrong di warung remang-remang. Intinya hiburan buat orang-orang yang penat, tanpa sekat atau kotak apa pun. Yang harapannya, bisa jadi pertemuan hangat yang terus berdiri.

Apa yang mendorong kalian bikin acara ini? 

Awalnya dari keresahan alumni SMA Kabupaten Bogor yang bosan sama acara reuni. Isinya nongkrong, mabuk, liwetan. Dari situ kepikiran bikin acara musik, kebetulan pas jamannya orang-orang pake baju band Dongker dan MORFEM. Akhirnya, lahirlah Kabar-Kaburan.

Ada momen khusus yang jadi pemantik?

Sebenernya nggak ada. Mungkin cuma koneksi perasaan aja. Grup WhatsApp alumni yang lama sepi tiba-tiba hidup, dan dari sana muncul antusiasme buat bikin acara ini.

Kenapa tahun kedua pindah ke Kota Bogor?

Kami nggak punya pertimbangan geografis yang ribet. Lebih ke soal jarak, biaya, dan koneksi. Dari hasil riset tipis-tipis, ngeliat di Google Maps, kebetulan ketemu tempat ini yang ramah buat acara kecil kayak kami.

Apa bedanya vol.1 dengan vol.2?

Panitia lebih sedikit, bahkan terpotong setengah. Tahun pertama semua band main gratis, tapi di vol.2 kami kehilangan beberapa teman karena sibuk. Jadi, mau nggak mau, band yang tampil ikut kontribusi lewat registrasi berbayar.

Ada syarat buat band yang tampil?

Kalau soal karya atau genre, nggak ada syarat apa pun. Cuma khusus di vol.2 kemarin, dengan berat hati, kami minta partisipasi registrasi berbayar.

Aktivitas ke depan, ada rencana bikin zine atau kolaborasi lain?

Kami masih awam banget di dunia gigs. Harapannya sih acara ini bisa ada sampai 10 tahun, bahkan lebih. Untuk sekarang, kami ingin ada kolaborator yang lebih besar, supaya acara bisa berkembang dan kami juga bisa belajar.

Terakhir, bagaimana tanggapan soal ekosistem musik Bogor saat ini? 

Cukup oke, tapi jelas belum sebaik kota-kota lain. Di Kabupaten sendiri susah banget cari tempat yang mau nerima gigs kayak kami. Kalau pun ada, tarifnya mahal buat ukuran kolektif. Misalnya, di kabupaten kita ini banyak café yang sediain rooftop, gitu. Tapi, matok harganya bisa dua sampai tiga juta. Mungkin karena mereka belum tau gimana treatment dengan komunitas yang mau ngadain musik. Makanya kami memilih ke kota. Di kota, banyak café yang bahkan udah dikenal band-band luar daerah soal kerjasama, misalnya tur band.

Obrolan Bersama Wish

(dok. Gilbert Natanael Pardosi)

Boleh kenalin band Wish dan personelnya?

Eri: Halo, gua Eri (gitar), ada Dasha (vokal/gitar), Aldo (drum), dan Udan (bass). Kami semua masih sekolah di Kota Bogor, kebanyakan kelas 11, kecuali Udan yang kelas 12. Wish terbentuk di awal 2025.

Katanya Wish awalnya proyek solo Dasha. Gimana ceritanya bisa jadi band?

Dasha: Awalnya gua proyek solo, rekaman sendiri. Tapi kerasa harusnya ini format band. Akhirnya nyari anggota, ketemu sama Eri di sekolah. Eri lalu ngajak Aldo dari SMA lain, dan ngajak Udan yang satu sekolah tapi kakak kelas. Udan baru-baru ini masuk gantiin bassist lama yang nggak bisa ngikutin jadwal. Dan sebenarnya, mulai dari kelas 9 SMP, tiga lagu di EP Wish itu buat proyek solo, satu lagu di antaranya ada trek instrumental. Tapi pas rekaman, gua ngerasa lebih cocok ngeband. Akhirnya bikin lagu baru ‘Sincere’ buat ganti trek instrumental itu.

Formasi Wish sekarang sudah solid?

Eri: Udah lumayan. Cuma Udan agak sibuk karena jadi koordinator acara di sekolahnya. Tapi semoga setelah itu dia bisa fokus ke Wish.

Bisa cerita tentang EP perdana kalian?

Eri: Isinya tentang percintaan di masa sekolah. Salah satunya tentang pacar Dasha sekarang.

Dasha: Proses rekaman EP ini di studio kerabat gua, dan mixing mastering dibantu temannya ayah, Bambang Iswanto.

Kiblat musik kalian ke mana?

Dasha: Lebih ke Britpop: Ride, Teenage Fanclub, The Cure.

Eri: Kalau dari Indonesia, Rumahsakit dan Pure Saturday.

Apa Kabar-Kaburan jadi panggung perdana bawain EP?

Dasha: Kabar-Kaburan jadi panggung pertama kami untuk bawain EP secara penuh. Sebelumnya-sebelumnya kami main di Pasar Malam Kolektif, tapi cuma dua-tiga lagu. Menariknya, dari acara pasar malam itu kami kenal band Selirik Surilang, yang akhirnya jadi pintu buat kami main di acara lain, termasuk Kabar-Kaburan ini.

Menurut kalian, gimana kehidupan musik di Kota Bogor?

Eri: Belum banyak ngulik, sih. Tapi yang kami tahu musik di Kota Bogor itu hidup.

Obrolan Bersama Pineline

(dok. Gilbert Natanael Pardosi)

Bisa perkenalan dulu?

Egy: Halo, kami Pineline. Ada Bobby (gitar/vokal), gua Egy (gitar/vokal), Abim (drum), dan Ale (bass).

Cerita awal terbentuknya gimana?

Egy: Awalnya ketemu Ale di Kabar-Kaburan Vol.1, lihat dia jago main, langsung gua ajak. Bobby awalnya pegang drum, lalu Ibra di gitar. Tapi akhirnya Bobby pindah ke gitar/vokal, Ibra jadi additional, dan Abim masuk di drum. Kami resmi kebentuk di bulan April 2025.

Kenapa pilih nama Pineline?

Egy: Terinspirasi dari lagu Beat Happening, ‘Pinebox Derby’. Mau dipakai, tapi kepanjangan. Jadinya ‘Pineline’.

Bobby: Gua sempat searching, ternyata Pineline itu detergen juga. Hahaha. Tapi, yang kami yakini dari nama itu–Pine Line itu kan garis pinus, jadi filosofinya: pohon pinus itu menurut gua tahan badai dan terik—punya kesan long life.

Genre kalian lebih ke mana?

Bobby: Alternatif. Bisa masuk shoegaze, indie rock, punk, emo—semua lah.

Influensi kalian siapa aja?

Egy: Beatles, khususnya John.

Abim: The Milo, terutama pas bikin riff.

Bobby: Kalau gua lebih banyak musik Jepang: math rock, jazz, punk. Paling ngaruh buat gua itu Ayano Kaneko dan Toe.

Sudah punya berapa lagu?

Egy: Empat lagu matang. Belum rilis, tapi bulan depan rekaman single ‘Time’, semoga keluar tahun ini.

Rencana rilisnya gimana?

Egy: Single dulu buat perkenalan, lalu digabung jadi EP.

Q: Lagu ‘Time’ ngomongin apa?

Egy: Tentang nggak enaknya beranjak dewasa. Semoga relate sama yang ngalamin fase ini.

Sudah berapa panggung kalian main?

Bobby: Pernah dijadwalkan di Pasar Gratis dan Bogor Calling, tapi batal tampil. Jadi, panggung pertama yang berhasil itu di Pakuan, Pelataran FISIB. Kabar-Kaburan jadi yang kedua.

Siapa anggota paling lucu?

Ale: Bobby!

Abim: Dia bisa bikin hal-hal absurd yang bikin ketawa.

Egy: Contohnya nih–kayak kita lagi nongkrong, tiba-tiba dia melet gitu. Kan jadi ketawa, kita.

Penting nggak peran kolektif buat band baru?

Abim: Penting banget! Kolektif ngasih ruang, koneksi, dan support. Memudahkan buat presentasi karya kita ke umum. Ngenalin kita ke band-band yang lain.

Egy: Kalau bukan mereka, siapa lagi yang mau nerima band rintisan kayak kita?

Gimana kalian lihat skena musik Bogor sekarang?

Abim: Gua mulai kenal dari 2022, nonton The Jansen, di Jakarta. Terus, Asbun Collective di 2023, mereka kompak banget waktu main di Synchronize 2024. Dari situ gua yakin skena Bogor lagi hidup, bahkan sekarang hampir tiap minggu ada acara—seru banget.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Kabar-Kaburan Vol.2

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Antara Panggung Meriah dan Ruang yang Tak Terlihat di Cherrypop 2025

Next Article

Wafaq, 'Liberation Corpse', dan 'Reconciliation Philanthropy': Two State Solution Hanyalah Omong Kosong!

Related Posts