Wafaq, ‘Liberation Corpse’, dan ‘Reconciliation Philanthropy’: Two State Solution Hanyalah Omong Kosong!

Jika batu dan molotov telah dilemparkan, syair sudah dilantunkan, keffiyeh telah dikenakan, apakah kisah yang dirangkai Wafaq tentang gerakan rakyat Palestina dapat menjadi cambukan bagi zionis?

Unit Hardcore punk simpatisan Intifada asal Padang, Sumatra barat, bernama Wafaq tidak bisa dianggap sepele meski umurnya baru seumur jagung. Dalam kurun waktu singkat, mereka menyita perhatian di skena Hardcore punk dengan membawakan narasi isu gerakan rakyat yang cukup kuat, mulai dari Chiapas, Gaza, hingga Papua.

Secara musik, unit ini memiliki formula mutakhir dengan menggabungkan elemen HC/Punk, Dbeat, Sludge, dan juga Death Metal, live performance-nya pun memberikan peringatan kepada—bangsat-bangsat—zionis dan enabler-enabler penindasan yang masih tetap tak acuh terhadap kondisi yang terjadi. 

Kala tulisan ini dibuat, unit yang digawangi Ghoul (vokal), Syaitonirojeem (gitar), Gluzar (bass), dan Obayda (drum), tengah melakukan tur 14 titik di delapan provinsi dan dua pulau bertajuk Syiar For Decolonization Tour 2025. Tur yang berlangsung 29 Juni–27 Juli 2025, dilakukan dengan semangat kemandirian yang diamini spirit Hardcore punk. 

Mengenang Nakba, Mengigat Sejarah

Wafaq merilis EP perdana bertajuk Liberation Corpse, tepat 76 tahun tragedi Nakba, yakni pada tanggal 15 Mei 2024. Sebelumnya, mari kembali ke tahun 1948, tepatnya pada tanggal 14 Mei. Hari itu adalah hari dimana Israel bentukan David Ben-Gurion mendeklarasikan diri. Sehari setelahnya, pecahlah Perang Arab-Israel pertama. 

Bagi rakyat Palestina, tanggal 15 Mei 1948, dikenal sebagai ‘Nakba’ yang berarti bencana–merujuk pada pengusiran dan eksodus orang-orang Palestina selama Perang Arab-Israel 1948. Perang yang berlangsung selama 10 bulan ini mengakibatkan 530 kota dan desa hancur. 700.000 warga Palestina dipaksa meninggalkan kampung halaman dan mengungsi ke negara tetangga seperti Suriah, Lebanon, dan Jordania. 

Liberation Corpse memuat satu narasi panjang tentang peristiwa yang terjadi di Palestina dengan lima track berjudul “Manifesto”, “First Wave”, “Tit-for-tat aggression”, “Funeral Field”, dan “Second Wave”. 

Artwork Liberation Corpse (dok. Wafaq)

Setiap track disusun berdasarkan kronologi peristiwa, sehingga membentuk alur yang saling terkoneksi. Misalnya “First Wave” yang menjadi representasi titik tolak waktu dan peristiwa. Lalu disambung dengan “Tit for Tat Aggression” yang menggambarkan peristiwa di masa First Wave. 

Meski dalam EP Liberation Corpse menceritakan tentang Palestina, namun Wafaq juga mendedikasikan karya pertama mereka untuk para korban keganasan para tiran, perampasan ruang hidup, dan penjajahan. 

Semangat intifada yang mereka bawa melampaui batas-batas geografis, intifada sebagai ruh untuk melawan zionisme, kolonialisme, dan penindasan di berbagai tempat, Myanmar, Lebanon, Kongo, Papua Barat, Pancoran, Dago Elos, Air Bangis, Wadas, Pakel dan wilayah lain yang masih berjuang mempertahankan ruang hidupnya. Semua perjuangan atas ketidakadilan harus dikabarkan dan digaungkan. 

Hantaman Untuk Para Zionis

Setelah setahun merilis EP Liberation Corpse pada 15 Mei 2025, Wafaq kembali dengan album penuh bernama Reconciliation Philanthropy. Reconciliation Philanthropy berisi sembilan track, mulai dari “Havoc”, “Human Explosive”, “Prayer For Deliverance”, “Illusory Peace”, “Third Wave”, “Catastrophe”, “Human Knife”, “Embers Of Death”, hingga  “The Worlds Mounth, The Voice Of War”.

Album itu menjadi kelanjutan dari kisah yang telah dibangun dalam EP sebelumnya. Namun, yang menjadi pembeda adalah, dalam Reconciliation Philanthropy menghadirkan romansa gerakan rakyat Palestina dalam mempertahankan tanah dan ruang hidup yang telah dijaga lintas generasi. 

Sosok legenda masyarakat lokal Palestina bernama St.George menjadi alegori utama dalam album Reconciliation Philantrhopy. Sosok St.George menjadi representasi simbol keberanian, kemenangan atas kejahatan, dan kekuatan fisik serta spiritual. 

Wafaq memercayai kisah legenda St.Geogre sebagai kekuatan dan keyakinan rakyat Palestina dalam memperjuangkan tanah airnya. Hingga suatu hari nanti, rakyat Palestina akan kembali memeluk tanah dan kehidupan yang dirampas oleh zionis Israel, dan Gerbang Lod (Bad Lud) akan bersaksi, bahwa kejatahan tak selamanya abadi. 

Artwork Reconciliation Philanthropy (dok. Wafaq)

Kesembilan track dalam album Reconciliation Philanthropy menawarkan keragaman musikalitas yang sangat bervariasi dan eksploratif, menyelami jurang-jurang gelap dengan sajian riff-riff old school Death Metal yang kental, part doom yang menghantui serta elemen harsh noise. 

Misal pada track pembuka “Havoc”. Mendengarkannya akan langsung dihantam dengan suara geraman sonic noise sembari dibuka oleh sampel dari spoken word Ministri of Dubkey berjudul “Palestine”, dilanjutkan dengan fragmen sludging yang berat, sebelum akhirnya meledak dalam dentuman cepat ala Gulch.

Dalam obrolan bersama teman, kami mencoba mengurai makna dari potongan spoken word tersebut (koreksi jika saya salah), tapi kurang lebih potongan tersebut membicarakan seperti dibawah ini:

“Di dunia ini apa pentingnya arti kehidupan / Bau roti di pagi hari / Perempuan berlindung kepada laki-laki / Kami sering meniru segerombolan makhluk / Diatas dunia ini / Pemilik dunia ini / Ibu dari awal dan Ibu dari akhir / Keadaannya seperti di Palestina / Rahasia itu ada di Palestina”

Beralih ke track kedua berjudul “Human Explosive”, Wafaq menyuguhkan pola drum stomping yang sangat menghantam, membuat rasa ingin menendang keras para zionis enabler dan tentara IDF tepat di kepalanya membuncah. Riff-riff Death Metal yang tajam nan brutal ikut menusukan belati berkali-kali tepat di jantung Benjamin Netanyahu.

Melompat ke track kelima, “Third Wave”, Wafaq menyisipkan potongan lagu neo-folk karya Zeinab Shaat berjudul “The Urgent Call of Palestine”. Suara merdu Zeinab akan terdengar di awal, rasa sedih dan pilu ikut perlahan menyeruak. Namun, suasana itu tak bertahan lama, karena akan langsung dihantam sonic noise dan Wafaq mengubah kesedihan tersebut menjadi amarah. 

ketika mendengarkan “Third Wave”, secara spontang langsung membayangkan kehidupan rakyat Palestina yang sebelumnya tenang, damai, hangat, dan aman, tiba-tiba dibombardir oleh bom, senjata dan tank zionis Israel. Tanah yang sebelumnya jadi ruang hidup, kini berubah puing-puing yang berserakan. 

Kemudian, berlanjut pada track keenam “Catasthrope”. Track itu mengingatkan pada salah satu band Bandung, Hark! It’s Crawling Tar-tar, serta beberapa band Doom/Sludge seperti OM, Windhand, dan Electric Wizard. Wafaq membuka  track ini dengan melodi petikan khas musik Timur Tengah, lalu dipadukan dengan kebisingan harsh noise wall serta glitch modular yang disatukan dengan blackened doom.

(dok. Wafaq)

Terakhir, pada track penutup “The World’s Mouth, The Voice of War”, Wafaq membuka dengan petikan gitar oud atau gitar gambus yang kental nuansa Timur Tengah disertai potongan spoken word: “Fight for your land, Fight for your home, Fight for your country.” 

Tak lama setelahnya, kebisingan deru harsh noise pun kembali menyala disertai dentuman dan gedebuh perang, seakan mengajak pendengar untuk merebut kembali tanah yang dirampas dan rumah yang telah dihancurkan.

Untuk urusan artwork album, Wafaq bersama Diabolic Of Death menghasilkan sebuah karya visual bertajuk Azimat Intifada (Ta‘wīdhah al-Intifāah) yang secara harfiah berarti tubuh terbelah, jiwa melawan.

Artwork album Reconciliation Philantrhopy digarap Wafaq bersama Diabolic of Death, yang menghasilkan karya visual bertajuk Azimat Intifada (Ta‘wīdhah al-Intifāah). Azimat Intifada (Ta‘wīdhah al-Intifāah) berarti tubuh terbelah dan jiwa yang melawan. 

Karya visual itu menggabungkan estetika tradisi rajah atau jimat (zimat) dengan citra simbolik perlawanan. Sosok utama yang mewakili semangat intifada digambarkan memegang sebilah saif (pedang) seraya menginjak dan mencengkram erat seekor naga. Naga adalah bentuk dari representasi kekuatan zionis yang menindas dan meluluhlantahkan Palestina. 

Tentunya, jika batu dan molotov telah dilemparkan, syair sudah dilantunkan, keffiyeh telah dikenakan, apakah kisah yang dirangkai Wafaq tentang gerakan rakyat Palestina dapat menjadi cambukan bagi zionis enabler yang masih ada di skena Hardcore punk atau di sekitar kita? 


Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: dok. Wafaq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Tiga Obrolan yang Takkan Tercatat, Kalau Bukan Aku yang Mulai: Kabar-Kaburan Vol.2

Next Article

Modal Dengkul, Perkawanan, Printer: Wahana Arsip sebagai Pembangkangan Historis

Related Posts