Modal Dengkul, Perkawanan, Printer: Wahana Arsip sebagai Pembangkangan Historis

Catatan ini merefleksikan pameran arsip sejarah gerakan perempuan, sebuah kolaborasi antara Arungkala dan Perempuan Mahardhika, dalam “Panggung Merdeka 100%” yang berlangsung di Jakarta pada 17 Agustus 2025.

Pertengahan bulan Juli 2025, beberapa aktivis dari Perempuan Mahardhika menghubungi kami. Mereka menceritakan bahwa tanggal 17 Agustus, Perempuan Mahardhika akan menggelar “Panggung Merdeka 100%”, sebuah inisiatif untuk merefleksikan kemerdekaan bersama jejaring masyarakat sipil. Beberapa kawan dari Perempuan Mahardhika menawarkan sebuah ajakan: “Kami mau ngajak Arungkala untuk kolaborasi bikin pameran arsip sejarah gerakan perempuan”.

Tanpa pikir panjang, kami langsung menyetujui tawaran itu. Kebetulan sudah beberapa tahun terakhir kami melakukan kerja-kerja pengarsipan partikelir, mulai dari mengumpulkan kliping hingga mendokumentasikan ingatan warga dalam skala desa. Kami juga cukup getol mencari arsip-arsip yang berhubungan dengan sejarah gerakan perempuan. 

Toh, kebanyakan arsip dalam berbagai periode sejarah bisa diakses dengan mudah lewat skema akses terbuka (open access). Kami tak mengalami banyak kesulitan soal akses pada arsip. Namun memang, beberapa arsip khusus kami dapatkan dengan usaha yang juga khusus.

Misalnya, arsip notulensi kongres perempuan yang diadakan di Yogyakarta pada tahun 1928, kami temukan arsip itu di sebuah museum tua. Belum lagi majalah Api Kartini dari Gerwani dan beberapa kliping surat kabar Harian Rakjat yang berisi resep makanan, hingga esai-esai intelektual gerakan perempuan. Kami menghabiskan waktu yang tak singkat untuk mencari, menemukan, melobi, dan mengakali jalan menuju arsip tersebut. 

Kegetolan kami mengumpulkan arsip-arsip tentang gerakan serta pemikiran perempuan tidak semata-mata lahir dari ‘keisengan’ sebagai PENGACARA (alias pengangguran banyak acara). Namun, kami memiliki sebuah platform diseminasi untuk sejarah alternatif bernama Walk The Past. Melalui platform tersebut, kami menggelar rangkaian tur berjalan yang memiliki ragam isu dan tema. Awalnya, yakni serial “Tur Sejarah Gerakan Perempuan” menjadi serial “Membajak Museum”. 

Seperti namanya, kami memang membajak narasi museum-museum bentukan Orde Baru yang ada di Yogyakarta, antara lain: Museum Pergerakan Wanita Indonesia dan Museum TNI AD Dharma Wiratama.

Melalui serial tur di atas, kami membongkar narasi bagaimana rezim Orde Baru mendepolitisasi gerakan-gerakan perempuan seperti Gerwani dan Kowani.

Kemudian, juga lewat kegiatan jalan-jalan kami membayangkan ide demiliterisasi Museum TNI dengan mendiseminasi publik tentang narasi-narasi sejarah orang biasa dalam bentangan sejarah: ibu-ibu di dapur umum, perawat, kurir makanan, penjahit baju.

Kami belum sempat memikirkan bahwa arsip-arsip gerakan perempuan yang dikumpulkan mampu disalurkan ke medium pameran hingga kawan-kawan Perempuan Mahardhika mengajak.

Arsip-arsip yang terkumpul kemudian dibagi dalam empat babak periode gerakan perempuan: 1915-1930; 1940-1960; 1970-1990; dan 1990 hingga sekarang. Para aktivis isu gender dan politik dari Perempuan Mahardhika melakukan penulisan kolektif secara naratif. Sebab kami merasa mereka yang berhak mengungkap sikap dan posisi soal masa lalu hingga masa depan gerakan perempuan, justru bukan kami—karena, kami membayangkan posisi Arungkala sebagai kawan pada wilayah artistik dan pengarsipan. Organisasi gerakan perempuan itu sendiri yang berhak menulis riwayatnya sendiri. 

Tadinya, Fadli Zon sang Menteri Kebudayaan akan meluncurkan buku sejarah “resmi” dalam rangka 17 Agustus tahun 2025. Namun karena gonjang-ganjing historiografis itu belum usai, mereka menundanya dan akan meluncurkan proyek egois itu pada 30 November nanti. Mahardhika dan Arungkala padahal sudah siap menyambut momen peluncuran itu dengan menetapkan 17 Agustus sebagai tanggal pameran arsip.

Memang, melawan proyek gigantis dalam skema produksi pengetahuan negara adalah proyek napas panjang.

Hari ini mereka membuat buku sejarah resmi dan entah berapa tahun atau belasan tahun lagi, kita masih saja kecipratan imbasnya. Ya, perjuangan bernapas panjang semacam ini perlu digiatkan banyak pihak. Bahkan, untuk menggagalkan proyek gigantis itu, petisi dan audiensi dalam parlemen yang diperjuangkan oleh simpul masyarakat sipil seakan tak digubris. 

Perjalanan anti-tur Arungkala bersama Perempuan Mahardhika dan Paduan Suara Dialita (dok. Beni)

Bagaimana Kita Menjahit Sejarah yang (akan dan sebentar lagi) Dihapus?

Kita disuguhi akrobat retorik ala Fadli Zon, dengan menyebut “tone positif dalam penulisan sejarah” hingga akal busuknya menyoal istilah “massal” dalam segudang fakta soal pemerkosaan massal 1998. Kita disuguhi line up ratusan sejarawan yang dikontrak dengan tanda tangan basah untuk jadi nahkoda bangsa, menuju lautan pengetahuan sejarah yang penuh darah. Kita disuguhi akrobat kelabakan dari penyelenggaraan proyek gigantis ini, tiba-tiba diseminasi tanpa demokratisasi pengetahuan, tiba-tiba launching tanpa penjelasan, dan masih banyak lagi. 

Dalam rezim historiografi dominatif ini, apa yang tersisa bagi kami? Petisi. Petisi. Juga, arsip-arsip alternatif. Kami mendukung petisi, kami mendukung inisiasi luar biasa berbagai simpul masyarakat sipil untuk memprotes kebijakan kelakuan soal penulisan sejarah problematik ini. Namun, bagi kami yang tak punya apa-apa sebagai daya tawar untuk parlemen—bahkan surat notaris saja kolektip amatir nan ngawur semacam kami ini tak punya—membuat sebuah pameran arsip adalah jalan yang paling bisa ditempuh. 

Tanggal 10-16 Agustus, kami tinggal di Jakarta. Melalui bantuan yang  sangat banyak oleh teman-teman Perempuan Mahardhika, kami merangkai arsip, memilih skema presentasi yang sesuai, membuat sketsa, cetak-tempel-cetak-tempel, dan memasang instalasi arsip. 

Tepat tanggal 14 Agustus, tiga hari menjelang pameran arsip, kami mengikuti Aksi Kamisan depan Istana Negara. Hari yang juga bertepatan dengan pasukan berkuda, pengibar bendera, dan tentara berlatih untuk upacara 17 Agustus. Kami menyoraki pawai itu, mengarah pada tentara-tentara yang lewat (tentu dengan memaki juga).

Menurut kami, penulisan sejarah ala Fadli Zon sama buruknya dengan berbagai kejahatan HAM, kejahatan industrialistik, dan kejahatan lainnya yang dilakukan negara.

Pengaburan fakta sejarah yang krusial pada struktur naratif periode 1965-1969, 1998, 2000, dan lainnya adalah kejahatan epistemik.

Kami ingat betul ketika bertemu Dolorosa Sinaga dalam momen Kamisan, membicarakan orasi Usman Hamid tentang menolak diajukannya Soeharto sebagai pahlawan nasional. Lalu, bagaimana posisi kerja-kerja pengarsipan? Pada akhirnya, berbincang tentang arsip dan sejarah adalah bicara soal hari ini—bagaimana ingatan dihapus, pencucian dosa politik, dan kurikulum pendidikan sejarah akan didikte sesuai buku “resmi” itu. 

Pada titik nadir kemarahan inilah, pameran arsip bersama Perempuan Mahardhika adalah juga menghimpun amarah bersama. Arsip yang dipilih, bagaimana arsip dipresentasikan, bagaimana gestur kepenontonan dipilih, semua adalah bagian dari kemarahan dan pembangkangan epistemik. 

Aspek paling kentara adalah aspek pembuatan karya, pemasangan, dan soal-soal kecerdasan mengakali. Oleh sebab pameran ini adalah inisiatif gerakan, maka sudah pasti biaya produksi harus serba diakali, tapi hal ini justru membuat kreativitas membuncah—situasi yang agak berlawanan dengan festival seni dan gegap-gempita pasar seni rupa kontemporer di Yogyakarta. Ya, kami serba pas-pasan, hanya bermodal sebuah printer tua dan kertas-kertas sisa yang jadi “benteng terakhir” untuk melawan historiografi negara. 

Kami memulai proses pembuatan karya di sebuah sudut rumah kos yang apa adanya, lalu proses pemasangan karya dilakukan sampai subuh di YLBHI Jakarta. Namun, semua yang estetik jadi serba meledak-ledak, serba spontan, serba bottom-up, jauh berbeda dengan situasi serba Indonesiana, serba terukur, dan serba matang—rasanya kami ikut meledak-ledak, bahkan jika ada Fadli Zon pada saat kami display, mungkin beliau segera pensiun dini, saking meledaknya suasana estetis-politis yang terjadi. 

Situasi ini membuat perhelatan “lebaran seni” di Yogyakarta yang gemerlap itu jadi terasa tak ada apa-apanya, dibandingkan kerja-kerja partikelir lintas wahana, lintas wacana, lintas identitas, dan lintas bidang semacam ini. Interaksi organik, serba situasional, dan spontanitas adalah moda estetika yang jarang kami rasakan pada suasana profesionalistik dalam kesenian Yogyakarta hari-hari ini. Bahkan, dalam arus seni yang mengklaim dirinya serba menjangkar dan menjadi garda terdepan bagi estetika bernyawa kritis, kebanyakan tetap masih terkungkung konvensi estetik nan sempit dan penuh patronase. 

Memangnya, Apa yang Lebih Berharga dari Sejarah?

Foto-foto pameran arsip yang kamu lihat pada halaman ini kemudian hanya sebagian kecil, ia secara visual hanyalah representatif. Sebab, perasaan dan gagasan yang mengitarinya terlalu banyak untuk dijelaskan satu demi satu. 

Pada momen 17 Agustus di “Panggung Merdeka 100%” itu, kawan-kawan Mahardhika menggelar diskusi dari siang hingga sore. Pameran arsip dipenuhi pada sela-sela diskusi, yang datang silih berganti, ada yang duduk membaca kliping dari tahun 1928, ada yang berdiri mengamati arsip Gerwani—membaca panjangnya sejarah perlawanan perempuan sejak dulu. Diskusi digelar, beberapa kali kami mendengar suara lantang: “Free Palestine, Papua bukan tanah kosong, hidup perempuan, hidup buruh”. Diskusi berganti topik, dari satu topik ke yang lain, dari hak-hak masyarakat adat, hak kawan-kawan transpuan untuk mengakses pekerjaan, isu agraria, isu buruh, dan semua yang terus diabaikan lalu dihapus sejarah “resmi”.

Pukul lima sore, Sukatani bermain musik dan bernyanyi. Kawan-kawan mengibarkan bendera One Piece, ada yang mengibarkan bendera pelangi, dan hati kami merasa penuh—sebab, hari itu seluruh sudut Jakarta telah dipenuhi bendera nasional dan kami bahagia untuk tak ikut merayakan nasionalisme. Kemudian, Paduan Suara Dialita bernyanyi, banyak kawan menyanyi, banyak kawan menangis—merayakan hidup dan perlawanan bersama sejak dulu kala hingga hari depan. Menggema sebuah lirik:

“Bagai gunung karang di tengah lautan, tetap tegar didera gelombang
Salam Harapan, untukmu Kawan!”

Kami sering bertanya, memangnya apa yang spesial dari sejarah? Apa yang berharga dari arsip? Mungkin, dari momen bersama Perempuan Mahardhika, kami menemukan satu keping jawaban tegas. Bahwa, yang lebih berharga dari sejarah adalah dengan siapa kamu merayakannya. Juga, pada posisi seperti apa kamu melihat sejarah?

Untuk menyelipkan kisah lain, kami akan merangkum sedikit kisah dari tanggal 18 Agustus. Sehari setelah pameran arsip, kami melakukan anti-tur bersama dua sosok hebat dari Paduan Suara Dialita dan juga kawan-kawan Perempuan Mahardhika. Kami berjalan ke beberapa titik situs ingatan, dari kantor DPP Gerwani hingga bekas Penjara Bukit Duri tempat para tahanan politik perempuan ditahan pada setelah Oktober 1965. Seorang Ibu yang pernah ditahan di Bukit Duri mengisahkan pengalamannya, kami mencatat dan mengingat.

 

Tampak belakang bekas area Penjara Bukit Duri, lahan belakang penjara dahulu dipakai sebagai kebun oleh para tahanan politik perempuan, lahan itu bagian dari Sungai Ciliwung (dok. Beni)

Saat Fadli Zon dan para sejarawan ingin menulis buku “tone positif” tentang 1965, Ibu yang bertahun-tahun jadi tahanan politik itu terus bercerita pada kami:

Saya bersyukur, kalian anak-anak muda tetap mau mendengar. Saya tak akan pernah lupa apa yang terjadi dulu, tapi saya tak ingin terus mengingat-ingat”—pada titik ini apakah kamu pernah merasa, bahwa sebuah kisah hidup bisa membakar endapan demi endapan dalam hatimu?

Pengalaman ini membuat kami semakin jelas merasakan, bahwa sejarah tidaklah penting lagi, bahwa yang lebih penting adalah dengan siapa kamu merayakan sejarah, dengan siapa kamu merayakan masa lalu dan terus berjuang untuk mampu bertahan hingga kini—juga, dengan siapa kamu bergandengan tangan menatap hari ini dan esok. Sebab sejarah tak lagi penting, maka yang “menggerakkan sejarah” adalah yang lebih penting—mereka dan kita semua yang berupaya terus untuk terus berusaha merebut hari ini, merebut masa lalu, merebut masa depan.


Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Beni

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Wafaq, 'Liberation Corpse', dan 'Reconciliation Philanthropy': Two State Solution Hanyalah Omong Kosong!

Next Article

Pendidikan yang Berisik

Related Posts