Tahun ini Pelteras hadir dengan Krisan, dan ingin menyampaikan sebuah pengakuan, dalam dunia yang terus dikelilingi oleh AI dan algoritma, manusia dengan seluruh cacatnya masih layak didengar. Sebelumnya, unit post-punk/deathrock dari Jakarta ini mencatatkan album debutnya bertajuk Peranjakan (2023).
Peranjakan mengajak pendengarnya mengarungi keramaian kota bak mesin yang menelan manusia, dan pergulatan individu dengan lanskap urban yang tak pernah memberi ruang istirahat. Kini, dengan formasi baru lima orang dan rasio instrumen yang diperluas, Krisan bergerak bukan hanya menyoroti tentang kota, tapi juga relasi antarmanusia, rindu, kehilangan, dan kecamuk yang tak tertangkap kamera.
Sebelum ke Krisan, mari kembali sejenak ke Peranjakan. Dalam album debutnya, Pelteras tampak sudah terbiasa menyusun lirik tentang kota yang menindas, dan manusia yang terlupa.
“Gesa langkah kejang berselang / Muat petak pejal bersisa
Laju melintasi jalur terbenam gaduh di titik temu”
Dari salah satu bait di atas, menunjukkan bagaimana mereka menaruh tubuh dan ruang sebagai medan. Di Krisan, topik itu bergeser menjadi ruang antarkata, antartubuh, dan antarrasa. Bila dulu kota terasa antagonis, kini keheningan yang kita bawa sendiri, rindu yang tak terucap, dan sahabat yang tinggal jauh yang telah menjadi antagonis. Sebagaimana bassisnya, Adam Bagaskara menyebut bahwa dalam Krisan mereka “lebih banyak bicara soal hubungan interpersonal”.
Bunyi mereka tetap berakar pada estetika post-punk dan deathrock, tapi kali ini lebih intim seperti The Cure yang kehilangan romansa, atau Joy Division yang tumbuh di Jakarta Selatan. Dari lagu ke lagu, Krisan terasa seperti proses berkabung yang tidak mau selesai.
Judulnya sendiri mengacu pada bunga krisan. Simbol kematian di banyak budaya, tapi juga lambang keteguhan dalam menghadapi musim yang berubah. Di tangan Pelteras, krisan menjadi metafora, bagaimana manusia bertahan dalam dunia yang semakin kehilangan perasaan. Seperti yang mereka katakan dalam wawancara, mini album ini berisi “romantika kegelapan”, semacam pengakuan bahwa kadang kita hanya bisa mencintai sesuatu dengan cara kehilangan.
Krisan mematangkan apa yang sudah dimulai di Peranjakan. Peranjakan adalah peta jalan kota bising, keras, dan berdebu dan Krisan adalah kamar sempit setelahnya. Tempat seseorang menyalakan rokok, membuka ponsel, tapi tak tahu harus menghubungi siapa. Ada sense kesendirian yang baru, tapi juga kehangatan yang lebih subtil.
Yang menarik, Pelteras tidak terdengar retro atau revivalis. Mereka menanamkan kejujuran, perlawanan terhadap estetika kemasan. Dalam era AI, yang bahkan vokal manusia bisa disintesis, Pelteras justru menekankannya. Di sini, noise menjadi bentuk perlawanan terhadap homogenisasi rasa.
Pelteras memanfaatkan DIY ethos karena kesadaran politik, bahwa suara yang independen tidak boleh diatur oleh algoritma. Keputusan untuk membiarkan distorsi yang tidak rapi atau transisi yang kasar adalah sikap artistik. Ia menolak standarisasi audio yang membuat semua musik terdengar “benar”, tapi kehilangan kepribadian.
Album dibuka dengan “Lintasan”, sebuah perenungan atas tubuh yang terus bergerak tanpa arah:
“Kau menangkan kendali untuk lari / terus melaju menghantam besi dan lubang,”
Mencerminkan paradoks manusia modern. Kita merasa mengendalikan hidup, padahal sebenarnya sedang dikendalikan oleh keharusan untuk bergerak. Dalam dunia yang menuntut produktivitas, rasa takut justru berubah menjadi bahan bakar.
“Rasa takutmu telah menjadi aku.”
Di sinilah lirik Pelteras menelanjangi bagaimana rasa takut telah menjadi identitas kolektif generasi kita.
“Lintasan” membuka album dengan suasana resah yang membentang panjang. Seperti langkah seseorang yang sudah terlalu lelah tapi esok masih harus hidup. Di sini terasa jelas noise yang mereka ciptakan adalah empati terhadap kebisingan yang kita semua alami.
“Krisan” lagu penutup di album ini, menjadi semacam doa. Di antara “Pasir hitam Pererenan” dan “kawat membentang sejengkal di atas kepala,” ada lanskap yang kontras: antara keindahan dan bahaya, antara laut dan jeruji, antara hidup dan kematian yang pelan-pelan diterima. “Menatap rangkaian krisan yang kuserahkan / untuk dentum dan nada,” lirik ini semacam pengakuan bahwa satu-satunya cara untuk berdamai dengan hidup adalah dengan mengakui bahwa segalanya akan hilang.
Krisan terasa lebih personal dan politis sekaligus. Personal karena ia berbicara tentang kehilangan, rindu, dan relasi yang hancur; politis karena di balik itu, ada perlawanan terhadap logika modernitas yang menuntut kita untuk selalu utuh, selalu produktif, selalu “baik-baik saja.” Dalam dunia di mana AI bisa menciptakan suara sempurna dan meniru kesedihan, Pelteras memilih untuk tetap terdengar goyah. Dalam ketidakrapian itulah kejujuran mereka hidup.
Akhirnya, Krisan terasa seperti bunga yang tumbuh di puing-puing: rapuh tapi keras kepala. Di era ketika pop makin steril, Pelteras hadir dan mengatakan bahwa kebisingan juga bisa menjadi bentuk cinta, cinta yang tidak butuh algoritma untuk terasa nyata.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Juan Akbar

