Film ‘Pangku’ (2025): Kelambu yang Melindungi Sartika dari Tatapan Maskulin dan ‘Saru’

Walaupun ditempatkan dan dipertemukan dalam tradisi patriarki, rasanya mudah melihat bagaimana perempuan menggerakkan cerita film ‘Pangku’ melalui keputusan-keputusannya.

Pangku (2025) adalah salah satu film yang paling aku nantikan tahun ini. Film ini merupakan debut penyutradaraan dari aktor ternama Indonesia, Reza Rahadian. Premis film ini tak pernah kubayangkan akan jadi bagian dari film-film komersial. Bersama Felix K. Nesi sebagai penulis, Reza bercerita tentang Sartika (Claresta Taufan), seorang perempuan muda yang tengah hamil besar terdampar di jalur Pantura. Sepanjang jalan Pantura terhampar deretan warung kopi pangku, lengkap dengan karaoke gemerlap dan bilik-bilik sempit. Mungkin akibat iba, Bu Maya (Christine Hakim), si pemilik warung,  menawarkan Sartika tumpangan di rumahnya.

Ada salah satu adegan yang bagiku paling menarik perhatianku dengan caranya yang amat sederhana. Bu Maya menyuruh suaminya, Pak Jaya (José Rizal Manua), untuk pindah dari dipan kayu lalu tidur di lantai. Ia lantas menyuruh Sartika tidur di dipan sembari menjanjikan ketenangan dan rasa aman, “Udah tua, udah enggak bisa ngapa-ngapain,” begitu ujarnya kepada Sartika. Kemudian ia menarik kelambu hingga tertutup.

Dok. Gambar Gerak Film

Mengapa menutup kelambu jadi bermakna begitu besar? Bagiku, tindakan Bu Maya menutup kelambu tak sekadar transisi malam ke pagi hari. Ia menutup kelambu untuk melindungi tatapan maskulin. Meskipun ia tahu Pak Jaya betul-betul “udah enggak bisa ngapa-ngapain”, hal itu diyakinkannya kepada Sartika dalam satu bentuk tindakan sederhana untuk menegaskan bahwa perlindungan telah tersedia di rumah itu.

Sementara itu, kita sebagai penonton seringkali ditempatkan pada posisi tatapan maskulin (male gaze), bahkan tanpa kehendak kita. Film Pangku rasanya enggan sengaja menempatkan penontonnya dalam posisi demikian. Kelambu justru bertindak memperlakukan perempuan dengan begitu hormat, dan Bu Maya menjadi penggerak yang memberi keputusan pada hal tersebut. Bukan Pak Jaya, bukan Hadi (Fedi Nuril), dan bukan tokoh laki-laki lainnya.

Dari sini aku tahu, meskipun tema dan alur cerita tak mungkin keluar dari jalur yang sarat dengan aspek sensualitas, perempuan akan tetap diberi kehendak bebas untuk memutuskan bagaimana tubuh dan keputusannya mengambil peran.

Dok. Gambar Gerak Film

Dari potongan adegan yang menyiratkan makna akan kelambu ini, aku teringat dengan tradisi buka klambu dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Dalam novel tersebut, calon penari ronggeng harus menjalani tradisi buka klambu yang dianggap sebagai ritual sakral. Ketubuhan perempuan direduksi sebagai kelambu yang dapat dengan mudah disibak melalui patriarki yang kapitalistik.

Namun, Reza Rahadian menempatkan agensi pada kelambu, dan sosok siapa yang menutup kelambu menjadikannya semakin bermakna. Bu Maya sebagai pemilik warung tentu akrab dengan praktik kopi pangku sebagai industri yang patriarkal. Namun, Bu Maya menutup kelambu untuk melindungi Sartika dari tatapan maskulin, sebuah gestur dari perempuan yang satu ke perempuan yang lain, dari pengalaman ketubuhan yang satu dan memutusnya agar tak menjadi pengalaman ketubuhan yang lain.

Saru

Sedari awal cerita, kita tak pernah tahu asal-usul Sartika. Ia muncul begitu saja di bangku penumpang, lalu diturunkan sopir truk di wilayah antah-berantah. Saat ia tengah hamil delapan bulan, ia menyusuri gang-gang gelap sebelum akhirnya berhenti untuk istirahat di warung Bu Maya. Hingga Bayu (Shakeel Fauzi) lahir dan tumbuh besar, dari mana asalnya dan bagaimana ia hadir masih menjadi misteri. Pertanyaan Bu Maya pun dijawab dengan kebisuan, “Diusir atau kabur?”

Alih-alih mencecar, Bu Maya justru menutup kelambu Sartika malam itu. Ia ingin menutup keingintahuan dunia dan memberi ruang privasi bagi Sartika dan masa lalunya. Ada hal-hal yang tak perlu ditanyakan karena sifatnya invasif, saru, dan tak elok, seperti  mengulik-ulik masa lalu orang lain yang kita ketahui pasti pedih.

Dok. Gambar Gerak Film

Lagi-lagi, Bu Maya mengambil kehendak dan agensinya untuk melindungi memori tubuh perempuan yang telanjur terluka. Aku sebagai penonton pun ditunjukkan batas tentang apa yang bukan milikku untuk aku ketahui. Hampir seperti ditegur seorang ibu, “Ssssh, saru tanya-tanya begitu.” Kita tak diajari untuk bergosip dan membenci latar belakang perempuan melalui perilaku misoginis yang terinternalisasi, tetapi kita harus menghormati privasinya.

Walaupun ditempatkan dan dipertemukan dalam kondisi demikian karena tradisi patriarki, rasanya mudah melihat bagaimana perempuan menggerakkan cerita film Pangku melalui keputusan-keputusannya. Proses keputusan ini, saat dipegang oleh para perempuan, selalu berangkat dari perhatian dan kasih sayang. Bu Maya menerima Sartika di rumahnya dan memberikan rasa aman, Sartika selalu tampil sebagai ibu yang melindungi Bayu dari industri yang patriarkal. Rumah kontrakan mungil tersebut adalah chosen family bagi para perempuan di dalamnya, dan kelambu menjadi alat yang sakral untuk melindungi pengalaman perempuan.


Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto Sampul: Gambar Gerak Film

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Kami Generasi Z Mengeja Mia Bustam

Next Article

Dari Kios Diorama ke Omah Samin: Melepas Bentuk dan Tumbuh Bersama

Related Posts