Kami Generasi Z Mengeja Mia Bustam

Pameran Arsip Mia Bustam di Biennale Jogja 18 mengajarkan kami generasi Z mengeja sejarah Mia Bustam yang terlewat.

Sudah hampir separuh hari Yogyakarta diselimuti hujan. Menempuh perjalanan dari Pandega Satya menuju Museum Benteng Vredeburg menjadi tantangan sebab harus memilih rute yang lebih efisien di saat hujan dan jam pulang kerja. Di jalan, kendaraan lalu-lalang lebih pelan dibanding saat sedang terik matahari. Belum lagi harus membanting stir dengan memutar jalan lain sebab diberlakukannya Selasa Wagen (18/11) yang menutup jalan utama Malioboro.

Hujan tak benar-benar berhenti ketika saya sampai di parkiran museum. Di selasar Gedung Sultan Agung, orang-orang mulai berkumpul. Sebagian besar adalah mahasiswa Psikologi dari Universitas Sanata Dharma angkatan 2022 dan 2023. Mata kuliah Psikologi Seni mengantar mereka untuk belajar mengamati ragam seni, salah satunya apa yang ditampilkan dalam perhelatan “KAWRUH: Tanah Lelaku” Biennale Jogja 18 (BJ 18) sepanjang Oktober hingga November 2025. Sore itu, ada semacam pembelajaran di luar kelas yang kemudian menjadi forum diskusi bersama.

Selepas pukul 6 sore, sekumpulan orang tadi sudah memenuhi sisi depan ruang Pameran Arsip Mia Bustam. Perwakilan mahasiswa Psikologi, Bertha Aurelia Floriana Riwoe dan Jovelyn Chavelle, ditemani oleh ⁠⁠Ngurah Arya Taruna Darma yang menggendong piano keyboard mini duduk di kursi pada panggung kecil di sudut ruangan. Mereka memainkan lagu Ujian milik Dialita sebagai tembang pembuka, sebuah lagu yang mengantar isi kepala kami penuh dengan cerita-cerita di balik jeruji besi. Dialita, paduan suara para penyintas 1965, sebuah kelompok yang terhubung langsung dengan kisah hidup Mia Bustam. Denting piano mulai berbunyi, seisi ruang menyaksikannya, dan kami semua telah duduk di atas tikar sambil mengatur napas. Setelahnya adalah sesi diskusi yang sederhana.

Rasanya, Mia Bustam bukanlah nama yang mudah ditemukan oleh generasi Z atau sebagian yang tumbuh setelah Reformasi. Ia tidak muncul di buku pelajaran sejarah, namanya mungkin sempat disebutkan dalam ranah kesenian yang terselip. Namanya kerap didefinisikan sebagai seorang pelukis, penulis, dan penyintas politik 1965. Selama lebih dari 13 tahun dari balik jeruji, Mia Bustam berkarya meski hidupnya dibayang-bayangi negara.

Wajar saja jika Gen Z harus mulai membaca tentang Mia Bustam dari ruang gelap: minim rujukan, minim arsip, minim akses, dan bahkan tidak diceritakan oleh negara. Sebab itulah Pameran Arsip Mia Bustam di BJ 18 hari itu terasa seperti sebuah jendela kecil yang membawa udara segar.

Sesi diskusi berjalan dengan sederhana, tapi percakapan di dalamnya tak pernah sesederhana itu. Di atas panggung, dua mahasiswa tampil sebagai pembicara pertama. Ngurah Arya Taruna Darma dan⁠ ⁠⁠Adinda Kayla Ayu, bercerita tentang pengalaman menyaksikan arsip-arsip Mia Bustam beberapa hari sebelumnya.

Kejujuran mereka begitu polos: nama Mia Bustam absen dari imajinasi generasi mereka. Namun dari pameran itu, mereka menemukan potongan-potongan kisah yang baru. Potongan yang membuat mereka bertanya lebih jauh tentang perempuan yang membesarkan lima anak putra dan tiga putri seorang diri, tentang perempuan yang melukis meski hidup dalam pengawasan, tentang perempuan yang dipenjara karena keyakinannya. Saya dan mereka adalah Gen Z yang sedang belajar mengeja kembali sebuah nama: Mia Bustam.

Sri Nasti, anak kandung Mia, menjawab apa yang menjadi pertanyaan mereka. Dari atas panggung yang sama, Sri Nasti menceritakan kehidupan rumah tangga yang sederhana bersama ibu dan saudara-saudaranya. Dari kamar ke dapur, ke meja kerja, ke hari-hari ketika ibunya mencoba menyeimbangkan dunia seni dan dunia seorang ibu.

Dengan jujur, Sri Nasti menceritakan bagaimana ibunya pernah begitu mencintai kesenian dan pergerakan hingga melepaskan sejenak rutinitas anak-anaknya. Ada yang timpang, tetapi kehidupan memang tak selalu berjalan mulus. Cerita-cerita semacam ini barangkali tak selalu tertulis dalam dokumen. Cerita itu hidup di tubuh seseorang yang masih mengingat getarannya.

dok. Aji Gilang Prabowo

Kemudian Astrid Reza mengambil giliran. Sebagai salah satu dari tim peneliti Pameran Arsip Mia Bustam, ia bercerita sebagai perempuan Tionghoa yang keluarganya terdampak kerusuhan 1998; ia harus melanjutkan pendidikan di Australia, membawa pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah dijawab oleh negara.

Dari luka itu, ketertarikannya pada sejarah tumbuh. Bukan hanya sebagai disiplin akademik, melainkan sebagai upaya mencari penjelasan atas hidupnya sendiri sebagai manusia di antara manusia lainnya. Ceritanya membuat saya paham bahwa barangkali setiap orang yang belajar sejarah sebenarnya sedang mencari sesuatu yang dirampas dari dirinya.

Apa yang dilalui oleh Mia Bustam dan kawan-kawannya, justru jadi penguat Astrid Reza untuk menghadapi segala tantangan di kehidupan keluarga maupun di masyarakat. Pameran arsip ini diakui Astrid Reza sekaligus jadi bentuk solidaritas terhadap Mia Bustam.

Terakhir, Kemala Hayati, seniman muda yang merespons arsip Mia Bustam menjadi rajutan benang pada lembaran kain yang menggantung di tengah ruang pamer. Ceritanya sama seperti mayoritas kami yang datang pada diskusi hari itu: belum mengenal Mia Bustam sebelumnya. Justru dari ketidaktahuan itulah proses kreatifnya dimulai, membaca ulang fragmen-fragmen, menafsir ulang, lalu memberi tubuh baru pada ingatan yang sebelumnya hanya tersimpan di balik lembaran arsip menjadi karya seni.

Di ruangan kecil itu, berbagai generasi datang dengan latar berbeda tetapi bertemu pada satu nama yang sama: Mia Bustam. Saya merasa sejarah tidak sedang dibacakan (atau didikte) kepada kami, tetapi sedang disusun ulang, dieja, dirawat, dan dihidupkan kembali.

dok. Aji Gilang Prabowo

Menebalkan Memori Kolektif

Mencatat masa lalu rasanya bukan hanya untuk mengingat hari ini, tetapi untuk menjaga masa depan nanti. Memori kolektif bukan hadiah; ia harus diperjuangkan. Kata-kata itu terasa menempel lama di kepala saya. Apa yang berlangsung di ruangan itu mengingatkan kita bagaimana memori kolektif bekerja dan bagaimana ia bisa hilang bila tak dirawat. Menebalkan memori kolektif berarti merawat kewarasan publik.

Memori kolektif dapat terus hadir melalui tutur maupun objek-objek yang ditampilkan kembali. Bayangkan saja jika segala karya seni dan arsip dalam Pameran Arsip Mia Bustam bukan sekadar benda estetik belaka, tetapi terhubung dengan konteks sejarah dan posisinya hari ini di masyarakat.

Tanpa ingatan bersama, kita akan mudah digiring untuk percaya bahwa hitam itu putih dan sejarah hanyalah urusan kementerian bersama pemerintah semata. Mulai dari tragedi 1965 yang selama puluhan tahun dibungkam atau Reformasi 1998 yang terus dipertarungkan maknanya, terutama bagi mereka yang hidup sebagai korban langsung maupun tak langsung.

Bayangkan, situasinya seakan mengulang apa yang terjadi pada generasi-generasi setelah 1965 pada masa itu—mereka (atau kita) tumbuh tanpa akses atas cerita yang mestinya menjadi bagian dari ingatan bersama pada waktu itu. Pengulangan itu kini hadir ketika kita tak mampu mengeja sejarah Mia Bustam dengan jelas.

Bahwa setiap peristiwa yang tercerabut dari sejarah adalah penghilangan paksa atas hak-hak sipil untuk mengenal dirinya sendiri. 

Dalam konteks itulah pameran semacam ini menjadi penting, ia bekerja sebagai ruang kecil yang menambal sobekan-sobekan ingatan, sebuah upaya merawat memori kolektif agar kelak tak mudah dipermainkan oleh siapa pun yang merasa berkuasa menulis ulang sejarah.

Sebelum sesi diskusi yang sederhana dengan percakapan yang tak sesederhana itu berakhir, Albertus Harimurti dosen Psikologi Universitas Sanata Dharma menyerahkan buku “Utopia Estetis Mia Bustam” dalam dua jilid kepada para pembicara. Jilid pertama ataupun jilid kedua merupakan kumpulan tulisan yang ditulis oleh delapan belas mahasiswa Psikologi atas respons pengalaman diri menyaksikan Pameran Arsip Mia Bustam.

dok. Aji Gilang Prabowo

Albertus Harimurti menuliskan dalam pengantar bahwa, ‘Mia Bustam’ tidak sekadar menjadi subyek, melainkan juga menjadi proyek panjang yang berresonansi dan membentuk emotional echo-chamber dan empati kolektif dalam perdebatan seni rupa maupun sejarah perempuan Indonesia.

Arsip, apapun bentuknya, bukan sekadar kumpulan dokumen, melainkan bentuk perlawanan. Foto-foto Mia Bustam, lukisan di dinding, tulisan tangannya, kesaksian keluarga, karya seni, delapan belas tulisan mahasiswa Psikologi, bahkan denting piano di awal acara—semuanya adalah cara kita menolak lupa. Cara kita menolak masa lalu yang dibengkokkan karena kepentingan mereka yang berkuasa.

Hujan akhirnya reda juga bersamaan dengan berakhirnya diskusi. Kami pulang, masing-masing berjalan menuju parkiran. Apa yang terjadi selama diskusi setidaknya mengajarkan kami bahwa kami tidak sendiri menebalkan memori kolektif.


Foto sampul: Aji Gilang Prabowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

When Noise Feels More Human than Pop: Romantika Kegelapan Pelteras dalam 'Krisan'

Next Article

Film ‘Pangku’ (2025): Kelambu yang Melindungi Sartika dari Tatapan Maskulin dan ‘Saru’

Related Posts