Sulit Move On dari Jogja itu Nyata dan ini Alasannya

Kereta kuda jogja

Pascawisuda, banyak mantan mahasiswa yang merantau ke Jogja kembali ke kampung halaman. Beberapa di antaranya pergi berpetualang ke kota lain, salah satunya saya. Meskipun benar-benar beranjak pergi dari Jogja, kami pura-pura move on dari tempat yang nyaman ini.

Saat mulai memasukkan barang-barang ke dalam kardus, saya merasakan sesak di dalam dada. Saya menangis hampir setiap kali menghitung hari sampai kereta membawa saya meluncur ke Ibu kota. Saat kamar indekos sudah mulai kosong, terasa kekosongan yang sama di dalam hati saya.

Baca juga: 5 Cara Mengungkapkan Perasaan Anti Mainstream

Tidak mengada-ada, rasanya seperti putus dengan pacar yang sangat saya sayangi. Hal yang wajar saya rasa. Enam tahun di Jogja membuat saya terlalu cinta. Mungkin, ini alasan bahwa susah move on dari Jogja itu bukan sebuah hiperbola.

Tempat Pertama Merasakan Kebebasan

Sejak masih duduk di bangku SD, saya sudah punya keinginan untuk pergi merantau ketika kuliah. Saya sungguh menantikan masa-masa lulus SMA dan beranjak pergi dari rumah. Saat tiba waktunya, saya memilih untuk tinggal di Jogja dan saya sangat bersemangat untuk memulai kehidupan baru di sana.

Untuk pertama kalinya, saya merasakan kebebasan yang tidak pernah saya miliki sebelumnya. Saya punya kamar sendiri, sementara di rumah saya berbagi kamar dengan adik. Saya bisa bangun kapan saja di hari libur, tidak ada teriakan dari Ibu yang menyuruh saya menyapu, belanja, atau mencuci piring.

Saya bisa pulang dan pergi kapan saja karena tidak ada jam malam dari orang tua. Saya bisa membeli buku yang saya mau dan membacanya kapan saja. Hal ini tidak bisa saya lakukan di rumah karena Bapak tidak membolehkan saya membeli buku, terutama novel.

Kebebasan ini membuat saya berkembang. Saya bisa bekerja paruh waktu untuk menambah uang jajan. Saya bisa membeli ukulele dan belajar memainkannya. Saya bisa ikut kegiatan apa saja dan nongkrong di mana saja tanpa perlu meminta izin dari orangtua.

Saya yang dulu adalah anak rumahan, berubah menjadi anak doyan dolan dan petualang. Saya tidak menyia-nyiakan masa-masa di Jogja. Pergi ke pantai atau ke air terjun adalah memori paling indah yang saya punya. ARTJOG, Sekaten, dan juga Pasar Kangen menjadi perayaan yang salalu saya nantikan setiap tahun.

Baca juga: ARTJOG 2020 Resilience, Kreativitas Nggak Ada Matinya!

Ketika kedai kopi mulai bermunculan di setiap jalan di Jogja, saya pun menikmatinya. Setiap mahasiswa punya tempat ngopi favorit. Saya sendiri sangat suka pergi ke kedai kopi ketika sedang ingin sendirian, mengerjakan skripsi, atau berbicara dari hati ke hati dengan orang lain.

Rasanya menyenangkan memiliki kendali penuh terhadap hidup saya sendiri. Jogja mengajarkan saya untuk bertanggung jawab dalam kebebasan yang saya nikmati ini.

Lebih Terasa Rumah Dibandingkan dengan Rumah

Rumah bagi saya adalah tempat di mana jiwa dan raga bisa menjadi dirinya sendiri. Rumah adalah tempat di mana hati merasa hangat karena cinta dan perhatian. Jogja adalah tempat yang membuat saya bisa mendapatkan itu semua.

Saya bisa rajin dan malas, nakal dan baik, tertawa dan menangis dengan bebas. Jogja yang berisi sahabat-sahabat terbaik bisa menerima saya. Bagaimanapun keadaan saya, mereka selalu ada untuk mengisi dan menemani.

Keluarga mungkin juga bisa menerima terang dan sisi gelap saya. Namun, tidak sampai hati menunjukkan sisi gelap kepada orangtua yang punya harapan-harapan baik untuk saya. Sementara sahabat, mereka mampu menerima apapun yang melekat di saya dan saya tidak berbeban untuk berbagi kepada mereka.

Hal-hal ini yang membuat Jogja terasa lebih rumah daripada rumah. Kenyamanan ini membuat saya betah dan selalu sedih ketika harus pergi meninggalkan Jogja. Bahkan ketika harus pulang ke kota asal untuk beberapa hari.

Saya bertemu banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka sama seperti saya, jauh dari rumah. Karena itulah kami saling menjaga dan menerima. Tidak lama sampai kami bisa akrab dan menjadi sahabat yang lebih terasa seperti keluarga.

Tentu saja tidak hanya kebaikan yang saya rasakan. Ada masa-masa saya merasakan pahitnya berpisah dengan mantan pacar, harus mengulang mata kuliah, merasa ditinggalkan, atau terjerumus dalam gelap yang sangat pekat.

Namun, saya sudah bisa tertawa mengingat masa-masa itu. Kini yang tertinggal adalah kepribadian yang sudah berubah menjadi lebih kuat dan bijak.

Kami bertumbuh dari remaja yang sangat polos menjadi dewasa muda yang pernah menelan luka. Kami berekspresi menunjukkan diri. Belajar dari kesukaan dan kesusahan yang mewarnai hari-hari. Jogja pernah dan akan selalu menjadi rumah kami.

Baca juga: Rekomendasi Film untuk Para Jomlo Menghadapi Valentine

Sudah hampir empat bulan saya ada di Jakarta tapi rasanya sudah lama sekali saya pergi. Saya tahu bahwa saya tidak akan bisa berkembang jika terus berada di tempat yang nyaman. Itu berarti saya harus meninggalkan rumah saya dan merasakan benar-benar merantau di kota metropolitan ini.

Luka karena meninggalkan Jogja tak lagi terasa. Mungkin, ini karena ada perasaan bahwa saya akan selalu diterima di Jogja. Namun, perasaan itu justru memunculkan rindu. Rasa rindulah yang mendorong saya untuk menulis hingga sepanjang ini.

Saya berharap suatu hari saya bisa kembali tinggal di Jogja. Entah untuk menjadi mahasiswa pascasarjana, bekerja, atau menikmati hari tua. Perantau lainnya mungkin memiliki pemikiran yang sama. Kota ini terlalu baik untuk dilupakan begitu saja.

Saya pun menjadi kurang yakin. Apakah sesungguhnya kami tidak benar-benar mau move on dari Jogja?

 

Editor: Endy Langobelen

Foto: Kabrina Rian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts