Pembiasaan Kegiatan Belajar di Era New Normal

Keberadaan pandemi corona yang hingga saat ini belum menunjukkan grafik penurunan secara nasional mengakibatkan banyak sektor kehidupan bersiasat mencari solusi terbaik. Adanya pandemi menuntut masyarakat untuk mampu bertahan hidup di luar rutinitas yang biasa dilakukan.

Salah satu sektor yang paling terkena dampak pandemi tersebut adalah bidang pendidikan. Wabah corona menyebabkan pembelajaran tatap muka menjadi hal yang mustahil diterapkan. Mengingat bahwa sebelum corona pun dunia pendidikan negeri ini masih diwarnai segudang permasalahan klasik, kemunculan corona mendorong pemerintah, guru, siswa, hingga orang tua siswa bersiap menjalankan pola belajar yang baru. Pendidikan menjadi salah satu aspek yang penting sebab wajah dari suatu bangsa tercermin dari tingkat edukasi yang telah ditempuh masyarakatnya.

Semenjak akhir Maret 2020, peraturan dari pemerintah yang melarang adanya pembelajaran di sekolah dan mengalihkan dengan pembelajaran di rumah menjadi episode baru dunia pendidikan yang dikomandoi oleh Nadiem Makarim. Pembelajaran di rumah menuntut adanya sistem pendidikan yang sama bagusnya dengan yang diterapkan di sekolah pada era sebelumnya.

Pembelajaran di rumah membutuhkan persiapan peralatan elektronik yang menunjang program tersebut. Pembelajaran di rumah juga memerlukan terjalinnya komunikasi yang baik antara guru sebagai pendidik, siswa sebagai pelaku yang mengenyam pendidikan, serta orang tua sebagai pihak yang turut memantau jalannya proses belajar siswa dari rumah. Hal ini menimbulkan tantangan baru di beberapa aspek.

Aspek yang pertama berkaitan dengan aplikasi atau software yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pada umumnya sekolah menggunakan Google Classroom dan Microsoft 365 guna menunjang proses edukasi. Guru mengajar melalui media tersebut, sebaliknya dalam belajar dan mengerjakan tugas pun siswa juga menggunakan aplikasi yang sama. Penggunaan aplikasi yang relatif baru di dunia pendidikan, terlebih bagi sekolah yang berada di wilayah pelosok, tentu memerlukan persiapan yang matang. Jangan sampai proses transfer of knowledge terhambat karena guru atau siswa mengalami gagap teknologi.

Hal tersebut berkelindan dengan penggunaan ponsel dan laptop sebagai media vital dalam proses pembelajaran via online. Persoalan mengenai tidak semua siswa memiliki ponsel atau laptop pribadi sempat mengemuka dalam obrolan di masyarakat. Hal ini dapat diantisipasi dengan cara penggunaan laptop secara kolektif. Misalnya dengan cara antar siswa yang tinggal berdekatan dapat bergabung menggunakan satu laptop yang sama. Ini berguna untuk membantu siswa yang tidak memiliki laptop agar mampu tetap mengikuti proses pembelajaran dengan lancar.

Langkah ini juga memiliki sisi positif yakni untuk menanamkan sikap simpati, empati, dan saling menolong antar siswa. Konsep gotong royong dalam hal sosial ini secara tidak langsung membangun karakter siswa dengan sendirinya. Pendidikan karakter yang dicanangkan di era milenium menjadi bekal berharga bagi siswa kelak ketika menjalani kehidupan di fase berikutnya.

Aspek yang kedua berkaitan dengan target pembelajaran. Proses pembelajaran online mengisyaratkan adanya durasi belajar yang dipangkas. Sebagai ilustrasi, proses pembelajaran offline di SMA yang umumnya berlangsung dari pukul 07.00-14.30 berubah menjadi pukul 08.00 hingga 12.15. Pemotongan durasi ini saya paparkan berdasarkan peraturan dari pemerintah yang membahas seputar jam belajar siswa. Dipotongnya durasi jam belajar ini dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal seperti tingkat kesehatan mata yang berjam-jam menatap ponsel atau layar laptop dan tingkat konsumsi kuota atau paket data internet yang akan semakin menguras isi kantong orang tua siswa apabila per harinya dijalankan dalam waktu yang lama.

Pemotongan durasi proses pembelajaran berbanding lurus dengan berkurangnya intensitas jam belajar tiap mata pelajaran per pekannya. Meskipun demikian, target belajar siswa tetap sama. Jumlah Kompetensi Dasar (KD) tiap mata pelajaran yang harus ditempuh tidak mengalami perubahan karena edukasi yang baik hendaknya berjalan secara kronologis dan holistik.

Hal ini menuntut kecermatan siswa dalam memanajemen waktu. Proses pembelajaran online yang berupa pemaparan materi oleh guru yang diikuti dengan kegiatan diskusi, latihan soal, hingga berkreasi, tidak jarang memunculkan tugas-tugas di luar jam pelajaran yang diberikan guru guna memenuhi kewajiban penilaian di tiap KD-nya.

Siswa yang tidak mampu mengatur waktu dengan baik akan keteteran selama kegiatan belajar di rumah berlangsung. Akibatnya adalah tugas tidak segera dikerjakan, semakin lama semakin menumpuk, dan ketika tenggat waktu telah tiba siswa mengerjakan dengan Sistem Kebut Semalam (SKS) yang rentan berakibat negatif pada tingkat kesehatan siswa tersebut. Latihan memanajemen waktu ini dipandang sebagai hal yang positif mengingat kelak di jenjang perkuliahan mereka akan dihadapkan pada hal serupa. Oleh karenanya pembiasaan di jenjang SMA ini juga berkontribusi besar bagi persiapan mental dalam studi lanjut di jenjang berikutnya.

Aspek yang ketiga berkaitan dengan tingkat kedisiplinan siswa. Salah satu keunggulan dari pembelajaran offline yang sering dikemukakan masyarakat adalah keberadaan sekolah sebagai institusi yang menggembleng siswa secara langsung. Guru mata pelajaran, guru BK, tim tata tertib (tatib), dan wali kelas menjadi instrumen penting yang membuktikan bahwa sekolah menjadi kawah candradimuka dalam mendidik dan mengajar siswa.

Jika aspek pengajaran lebih mengarah pada proses pemahaman siswa terhadap hal-hal akademis, maka aspek pendidikan berkisar pada pembentukan mental dan kepribadian siswa. Absennya kegiatan tatap muka di masa pandemi corona ini menyebabkan kontrol sekolah terhadap siswa berpotensi tidak sekuat biasanya.

Akibat yang mungkin terjadi adalah munculnya pelanggaran kedisiplinan. Gejala yang dapat ditemui misalnya siswa terlambat bergabung di proses pembelajaran online atau siswa yang mematikan mode video saat pembelajaran berlangsung karena diam-diam nyambi makan, rebahan, atau bermain gadget lainnya. Faktor penyimpangan lain yang dapat terjadi misalnya siswa merasa “tidak tertantang” untuk mengerjakan tugas tepat waktu sebab tidak adanya hukuman tambahan jika terlambat dalam pengumpulan tugas seperti halnya saat dihukum untuk belajar di luar kelas saat pembelajaran offline, sehingga kemudian siswa tergoda untuk mengikuti pembelajaran dengan seenaknya sendiri.

Potensi siswa berambut gondrong atau siswi yang rambutnya dicat dengan warna pirang juga memungkinkan terjadi. Kondisi psikologis siswa yang merasa terlalu santai (santuy) karena tidak berjumpa dengan guru mata pelajaran, wali kelas, tim tatib, dan guru BK di dunia nyata menjadi hal yang perlu disoroti dengan sungguh-sungguh. Dalam menyikapi hal ini, kesadaran siswa dalam berdisiplin sangat diperlukan guna menunjang lancarnya proses pendidikan. Tanggung jawab siswa dalam belajar sepenuhnya berada di pundak siswa tersebut. Berhasil atau tidaknya siswa bergantung pada kedisiplinan siswa dalam belajar.

Guru dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua siswa dalam lingkup membantu mengoordinir agenda siswa, membantu mengingatkan ketika terdapat indikasi sikap yang mengarah ke hal negatif, serta melaporkan ketika terjadi tindakan indisipliner. Proses pendidikan secara online memang menyodorkan banyak tantangan. Selama kita berkomitmen tinggi untuk melaksanakan kegiatan belajar dengan serius maka kegiatan bersekolah di rumah akan berlangsung dengan baik dan menghasilkan buah-buah yang positif.

Seperti kata pepatah yang berbunyi “orang bisa karena terbiasa”, proses pendidikan online ini awalnya memang terlihat meragukan untuk ditempuh. Yang perlu dilakukan adalah keyakinan untuk melakukan langkah pertama yang akan membiasakan langkah kedua, ketiga, dan seterusnya menjadi terbiasa dengan jalan baru ini.

 

*) Opini karya Christianto Dedy Setyawan, juara 3 dalam Sayembara Penulisan Sastra “Bersama Lawan Corona” Bengkel Sastra Universitas Sanata Dharma, 2020.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts