Menghadiri sebuah festival musik tak ayal menjadi sebuah ibadah tersendiri bagi para skenawan dan skenawati. Bagi hadirin festival musik sekalian, kegiatan musik-musikan diamini sebagai suatu kebutuhan dasar penyegaran jiwa demi kewarasan menghadapi realita. Di sisi lain, ada musisi yang membutuhkan apresiator baru bagi musik-musik mereka sehingga menerima undangan panggung festival adalah sebuah kemutlakan.
Guna mewujudkan pertemuan keduanya, hadirlah sang promotor dan tim penyelenggara festival sebagai jembatan yang mempertemukan. Perputaran ini yang akhirnya menjadi benang merah yang mengikat tiap-tiap pihak yang terlibat dalam festival musik. Cherrypop 2025 menjadi satu nama yang merengkuh ketiganya: musisi, promotor-tim penyelenggara, dan umat skena.
Cherrypop 2025 merupakan festival pertama yang saya hadiri. Saya memang cenderung kurang kalcer sehingga penyelenggaraan festival musik, termasuk Cherrypop, belum lah menjadi ibadah skena tahunan saya. Namun, pengalaman pertama ini justru merupakan jendela baru yang mempertontonkan perputaran ekonomi musik-musikan.
Berikut kisah dan analisis amatiran saya terhadap jalannya ekonomi musik-musikan dalam Cherrypop 2025.

Penonton dan Penampil
Musisi tentunya membutuhkan panggung dan pendengar. Ada kebutuhan rohani yang dimiliki dalam diri setiap musisi untuk merengkuh pendengar melalui musiknya. Satu hal yang dapat mendatangkannya adalah kehadiran musisi di atas panggung.
Jika sebelumnya pendengar hanya bisa dijumpai melalui gawai dalam bentuk statistik angka, panggung menyediakan pertemuan antarmata yang menciptakan letupan harmoni. Panggung tersebut menjadi pacuan bagi musisi untuk mencurahkan segala energinya demi memuaskan pendengar lama dan menggaet pendengar baru.
Fungsi panggung bagi musisi ini, bisa hadir secara maksimal dengan adanya festival musik. Dalam festival musik, akan ada kemungkinan bagi ribuan pasang mata yang datang untuk dipuaskan dengan musik-musik yang belum pernah ditemukan.
Saya akan menggunakan diri saya sebagai contoh. Melalui Cherrypop 2025, saya dapat bertemu Sssalt dan Toconoma, dua band yang sebelumnya tidak saya ketahui habitatnya. Tiba-tiba saya bertemu mereka di atas panggung sana, mengajak saya untuk berdansa dan menganggukkan kepala mengikuti ritmis. Saya juga bertemu dengan HIVI, band yang lagu-lagunya menjadi obat ‘tolaktidur’ kala mengerjakan tugas-tugas kuliah. Sebagai pengunjung, ini adalah bentuk kepuasan.
Pengunjung Cherrypop 2025 datang untuk berfestival. Mereka mengenakan pakaian ter-skenanya, menumpahkan energi bahagia akhir pekan, menghapus sementara beban-beban kenyataan untuk menyongsong musik-musik yang memberkati telinganya.
Demi merayakan hal ini, mereka rela mengocek nominal yang cukup lumayan untuk UMR Jogja. Meski begitu, ini adalah upaya untuk membeli kebahagiaan.
Lebih dari itu, pengunjung festival adalah tokoh utama bagi keberlangsungan Cherrypop di masa-masa mendatang. Tanpa pengunjung yang membeli tiket, Cherrypop 2025 tak akan ada artinya. Sehingga kritik dan saran yang disampaikan adalah catatan yang harus dibawa untuk mengusung Cherrypop di tahun-tahun yang akan datang.
Roda Ekonomi yang Terus Berputar
Mewujudkan pertemuan kedua stakeholder di atas adalah peran yang diemban oleh promotor. Dalam Cherrypop 2025, tugas ini diemban oleh Swasembada Kreasi. Produk utama yang dijual oleh promotor adalah narasi.
Cherrypop 2025 membentuk dirinya sebagai sebuah gelanggang yang mempertemukan unsur-unsur pop kalcer. Berbagai kegiatan publik dilakukan guna meyakinkan calon pengunjung bahwa festival ini merupakan perayaan pop kalcer anak muda yang menjadi bagian dari kebudayaan dunia. Masifnya peran media sosial adalah salah satu pendorong keberhasilan penjualan produk narasi Cherrypop 2025 ini.
Idiom “ibadah skena” akhirnya meluas dan diamini anak-anak muda yang menjadi pasar utama dari penyelenggaraannya.
Pembentukan narasi yang terbilang sukses, mengingat banyaknya muda-mudi yang menghabiskan uang dan waktu demi beribadah skena tersebut.
Penyelenggaraan Cherrypop 2025 adalah satu bentuk bisnis. Ada satu transaksi timbal balik yang diharapkan dan dijanjikan masing-masing pihak. Musisi yang memproduksi karya menginginkan lebih banyak pendengar sehingga berjanji untuk melakukan yang terbaik atas undangan panggung Cherrypop 2025.
Promotor yang menginginkan kedatangan pengunjung, mendistribusikan visinya melalui narasi-narasi yang diciptakan di media sosial maupun mulut ke mulut. Pengunjung Cherrypop 2025 menangkap narasi tersebut dan berharap betul untuk mendapatkan ruang berkalcer ria sehingga sebagai gantinya akan membayar berapapun harga karcis yang diberikan.

Selain pihak-pihak yang terlibat secara langsung di atas, ada banyak pihak yang berdampak dan terdampak dalam penyelenggaraan Cherrypop 2025. Dalam Cherry Market ada berbagai UMKM yang memanfaatkan kesempatan pula untuk bertemu pelanggan-pelanggan baru. Hadirnya UMKM ini juga menjadi amunisi utama yang menjaga tenaga para pengunjung festival.
Penjaja rilisan-rillisan fisik dan merchandise band juga turut menyapa penggemar band-bandan yang hadir di Cherrypop 2025. Di luar arena festival, ada juga penjual yang menjajakan merchandise tidak resmi dari idola-idola pengunjung. Ada juga yang menarik bagi saya yaitu penjual bandana scarf yang membantu pengunjung supaya senantiasa berpenampilan ‘skena nan kalcer’.
Melihat dampak yang luar biasa secara perputaran ekonomi dari hadirnya Cherrypop 2025 kemarin, saya meyakini bahwa festival ini tidak hanya hadir sebagai ruang untuk berbagi kesenangan, tapi juga ruang untuk saling menyejahterakan. Transaksi yang diberikan dapat berupa barang dan jasa yang berputar dalam kerangka ekonomi kreatif. Tak bisa dipungkiri ini adalah roda perputaran ekonomi kreatif yang lumayan menjanjikan di tlatah Yogyakarta dan sekitarnya.

Sebagai kota dengan branding kota budaya, tentu pop kalcer harus menjadi satu pandangan kebudayaan juga yang patut diupayakan eksistensinya. Pemangku kebijakan harapannya turut menjaga perputaran ini dan menyadari betul bahwa subkultur apapun yang ada dalam anak muda sekarang adalah kebudayaan yang layak untuk dilestarikan. Perlu disadari bahwa, dukungan yang secara langsung menyukseskan penyelenggaraan festival musik seperti Cherrypop ini akan menyediakan harapan baru bagi pegiat-pegiat pop kalcer di akar rumput.
Cherrypop 2025 adalah perputaran ekonomi kreatif yang lahir dari kebutuhan estetika. Sehingga suksesnya diukur dari bagaimana kepuasan setiap pihak yang telah disebutkan di atas dalam merayakan musik-musikan. Penyelenggaraan tahun ini tentu tidak terhindar dari berbagai kekurangan, salah satu yang paling menonjol adalah permasalahan sound.
Tentu catatan ini mesti ditebalkan promotor supaya kepuasan musisi dan pengunjung sebagai produsen dan konsumen bertambah untuk penyelenggaraan Cherrypop selanjutnya. Kepuasan ini sejatinya adalah parameter yang menumbuhkan kepercayaan bagi pihak-pihak yang akan berperan dalam Cherrypop selanjutnya.
Sinergi antara pemangku kebijakan, pegiat kreatif, dan UMKM masyarakat sekitar adalah penentu kesuksesan paling utama dalam perputaran ekonomi kreatif.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Official Dokumentasi Cherrypop 2025
