Buku portofolio lukisan cat air Fredericus Jacobus van Rossum du Chattel berjudul Mooi Indië door Fred. J. Du Chattel yang terbit pada tahun 1930 ditandai oleh Aminuddin T.H. Siregar sebagai hulu dikenalnya istilah “Mooi Indie” atau “Hindia Molek” (Siregar1, 2021).
Pada tahun 1937, S. Sudjojono, salah satu pendiri Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) menggunakan istilah “Mooi Indie” sebagai kritik terhadap para pelukis pribumi yang masih terjebak dalam aliran Romantisisme (Utari2, 2020, 167). Sudjojono mengartikulasikan lukisan Mooi Indie sebagai lukisan romantik yang menghadirkan sisi indah dari alam dan manusia Indonesia (Setyowati & Aman3, 2019, 49).
Mooi Indie lahir sebagai produk politik pariwisata kerajaan Belanda. Dalam Mooi Indie, kekejaman kolonialisme dan kesengsaraan kaum terjajah di Hindia-Belanda disembunyikan di balik keindahan dan ketenangan. Mooi Indie menghadirkan daya tarik eksotis (secara temporal dan geografis) dari lingkungan alam yang tampak hampir punah di Eropa, terutama setelah kengerian Perang Dunia I (Protschky4, 2011, 15).
Dengan gambar-gambar lanskap Hindia-Belanda pada masa kolonial akhir, Mooi Indie mengalihkan perhatian masyarakat Eropa dari realitas ekspansi kolonial yang penuh kekerasan dan perlawanan pribumi Hindia-Belanda yang semakin keras (Protschky, 2011, 15). Dengan demikian, penulis dapat mengartikulasikan konsepsi Mooi Indie sebagai “ketersembunyian realitas sosial di balik imaji kealaman yang dibuat sublim”.
Persagi kerap dinarasikan sebagai antitesis terhadap Mooi Indie. Meski demikian, validitas dari narasi tersebut masih banyak dipertimbangkan kembali dalam berbagai diskursus. Menggeser sejenak relasi Mooi Indie-Persagi, justru ada potensi yang unik perihal ke-pasca-an terhadap Mooi Indie dalam dua karya yang disajikan pada publik tidak begitu lama sebelum tulisan ini dikerjakan, yaitu Domestic Landscape (2024) oleh Theresia Agustina Sitompul dan Post Mooi Indie (2023) oleh Pidi Baiq.
Domestic Landscape (2024) merupakan sebuah seri yang terdiri dari dua karya (Domestic Landscape #01 dan Domestic Landscape #02) yang masing-masing berdimensi 90 x 150 cm (Kiniko Art Management5, 2024, 20-21). Theresia menggunakan teknik cetak karbon dalam penciptaan karya ini (Sitompul6, 2024). Cetak karbon sendiri merupakan sebuah teknik cetak grafis yang menggunakan kertas karbon sebagai alternatif dari tinta cetak (Sitompul & Rahman, 2019, 21).
Theresia menggunakan istilah “Post-Mooi” untuk menjelaskan orientasi artistiknya pada karya ini, yaitu penyajian realitas keseharian urban yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat kontemporer (Sitompul, 2024). Pada karya ini, tergambar pemandangan alam ala Mooi Indie lengkap dengan “Trimurti”-nya: gunung, sawah, dan pohon.
Namun, alih-alih digambarkan secara naturalis seperti pada Mooi Indie, imaji kealaman tersebut dibangun menggunakan objek-objek domestik kontemporer seperti sarung tangan, kaus kaki, dan pakaian dalam, dengan bantuan pastel sebagai pelengkap. Dengan teknik cetak karbon, Theresia memanfaatkan objek-objek rumah tangga tersebut sebagai plat yang disusun sesuai dengan posisi yang ia inginkan untuk membentuk gambar yang dituju, seperti gunung, jalan, dsb.
Hal menarik dari ke-pasca-an yang diterapkan Theresia pada karya ini adalah bahwa alih-alih memalingkan pandangan sama sekali dari alam Mooi Indie dan menggambarkan realitas lain pada-dirinya-sendiri, Theresia justru menghadirkan realitas lain tersebut sebagai distorsi terhadap alam Mooi Indie.
Realitas keseharian masyarakat kontemporer dalam karya ini hadir secara bersamaan dengan bentuk-bentuk kealaman ala Mooi Indie, membuka diskusi mengenai “yang megah” dan “yang indah” sembari mempertemukan “yang lampau” dengan “yang sekarang”. Dengan membentuk lanskap ala Mooi Indie menggunakan objek-objek domestik, Theresia ingin merayakan kehidupan dan identitas masyarakat kontemporer (Sitompul, 2024).
Realitas “medioker” tersebut menurut Theresia selayaknya dapat dipandang sebagai hal yang indah, sama indahnya dengan pemandangan alam yang digambarkan secara megah dalam Mooi Indie(Sitompul, 2024).
Distorsi alam Mooi Indie juga terlihat dalam lukisan Pidi Baiq yang judulnya cukup menjelaskan orientasi artistik dari sang seniman, yaitu “Post Mooi Indie”. Karya triptych yang dibuat pada tahun 2023 ini merupakan hasil kolaborasi Pidi Baiq dengan pelukis dari kampung Jelekong, Bandung (Hayati7, 2024).
Dalam karya ini, terlihat pemandangan alam yang digambarkan secara naturalis, tidak jauh berbeda dengan Mooi Indie. Namun, dalam lanskap tersebut digambarkan berbagai objek yang asing dari tendensi kealaman Mooi Indie, seperti dinosaurus, bendera Korea Selatan, dan berbagai objek kontemporer seperti mobil, bendera Slank, poster kampanye, hingga karakter-karakter fiksi dan fragmen-fragmen budaya populer kekinian.
Seperti halnya Domestic Landscape (2024) karya Theresia, menurut penulis Post Mooi Indie (2023) karya Pidi Baiq seolah mempertanyakan kembali konsep kemegahan dan keindahan, serta menciptakan kontradiksi yang harmonis antara masa lalu dan masa kini.
Siregar (2021) memaparkan bahwa menurut Dikdik Sayahdikumullah, seorang pelukis dan peneliti seni rupa, Mooi Indie sulit dikategorikan sebagai gaya lukis. Kesulitan tersebut menurut Sayahdikumullah disebabkan oleh natur Mooi Indie yang merangkum berbagai aktivitas dan kecenderungan seni lukis (Siregar, 2021).
Namun, tanpa menegasikan kompleksitas tersebut, sejatinya target ke-pasca-an terhadap Mooi Indie terlihat cukup jelas dan spesifik. Kritik awal terhadap Mooi Indie adalah mengenai sifat romantiknya, sebuah kritik yang dilayangkan oleh Sudjojono. Berangkat dari Domestic Landscape (2024) karya Theresia dan Post Mooi Indie (2023) karya Pidi Baiq, sifat romantik tersebut tampaknya masih digunakan sebagai titik tolak untuk menawar Mooi Indie.
Namun, apakah merespons romantisisme saja sudah cukup untuk mewujudkan ke-pasca-an terhadap Mooi Indie yang tepat sasaran?
Apabila seorang seniman melukiskan fenomena masyarakat apa-adanya, sebagai bentuk kontra terhadap sublimitas kealaman Mooi Indie, bukankah ia sebatas menerapkan realisme sebagai pilihan estetiknya?
Apa yang dilakukan Theresia dan Pidi Baiq cukup unik, keduanya tidak sebatas kontra terhadap sublimitas kealaman Mooi Indie dan memanifestasikan ke-kontra-an tersebut dengan meninggalkan seluruh kecenderungan yang dibawa oleh Mooi Indie.
Ke-pasca-an terhadap Mooi Indie yang terbentuk dalam karya kedua seniman tersebut tidak hanya berangkat dari penegasian absolut terhadap Mooi Indie. Melampaui itu, Theresia dan Pidi Baiq melibatkan fragmen-fragmen Mooi Indie dan mengelaborasinya dengan elemen-elemen yang dekat dengan masyarakat kontemporer, sehingga terbentuk “Mooi Indie yang baru”.
Alih-alih menegasikan suatu realitas dan hanya menggambarkan realitas yang lain, Theresia dan Pidi Baiq mempertemukan kedua realitas tersebut sehingga terbentuk realitas yang lain lagi.
Seandainya akan benar-benar ada kristalisasi kecenderungan estetik penawar Mooi Indie yang dinamakan “Pasca-Mooi Indie”, “Post-Mooi Indie”, “Neo-Mooi Indie”, atau entah apa istilah-istilah sejenisnya, ke-pasca-an yang diterapkan Theresia dan Pidi Baiq dapat menjadi referensi yang menjanjikan.
Dengan berbagai praktik fusi dan eksperimentasi, Pasca-Mooi Indie yang berangkat dari karya Theresia dan Pidi Baiq bukan lagi berbentuk antitesis, melainkan sudah mencapai sintesis.
Daftar Pustaka
- Siregar, G. (2021). Menimbang Asal-Usul Seni Rupa Modern Indonesia: Di Seberang Persagi dan Mooi Indië. Komunitas Salihara Arts Center. Diakses 25 Januari 2025 dari https://salihara.org/menimbang-asal-usul-seni-rupa-modern-indonesia-di-seberang-persagi-dan-mooi-indie/ ↩︎
- Utari, S. D. (2020). Mooi Indie dalam Lingkar Seni Lukis Modern Indonesia (1900-1942). Jurnal Dimensi Sejarah, 1(1), 157-174. ↩︎
- Setyowati, R. R., & Aman. (2019). Mooi Indie: Menyampaikan Budaya Agraris Nusantara melalui Lukisan. Jantra, 14(1), 47-54. ↩︎
- Protschky, S. (2011). Images of the Tropics: Environment and Visual Culture in Colonial Indonesia. KITLV Press. ↩︎
- Kiniko Art Management. (2024). Art Jakarta 2024 Booth A19 (Katalog Pameran). Kiniko Art Management. ↩︎
- Sitompul, T. A., & Rahman, D. (2019). Eksplorasi Kertas Karbon sebagai Alternatif Pengganti Tinta Cetak pada Karya Seni Grafis (Laporan Penelitian Artistik). Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. ↩︎
- Hayati, I. (2024, 8 Agustus). Musisi Bandung Pamerkan Karya Lukisannya, Kanvas Pidi Baiq Paling Jumbo. Tempo. Diakses 28 Januari 2024 dari https://www.tempo.co/teroka/musisi-bandung-pamerkan-karya-lukisannya-kanvas-pidi-baiq-paling-jumbo–28426 ↩︎
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Artnet.com
