
Mata-Mata Prasangka: Kumpulan Puisi Febriana
Kumpulan puisi ini: Attitude Hilang dari Radar, Gegana, dan Mata-Mata Prasangka. Ditulis oleh Febriana, seorang ibu satu anak dan penulis narasi event musik arus pinggir di Solo Raya dan sekitarnya. Aku datang bersama hujanDeras menderu di satu petang Kuparkir kendaraan roda duaku berdampingan dengan sebuah motor buatan negeri Paman Sam..Dari kota tempatku tinggal, hanya berjarak satu jam.…

Tidak Ada Jalan Pintas di EP ‘Jalan Pintas’ Yanuar Sastra
EP ‘Jalan Pintas’ Yanuar Sastra, semacam mini album yang mengemas hal-hal yang nampak remeh temeh, tapi sebenarnya begitu dekat dan lekat dengan apa yang ada di sekitar kita.

Waktu: Kumpulan Puisi Angela Ardhika Sinthawati
Kumpulan puisi ini: Terlambat, Terjadi, dan Terhenti ditulis Angela Ardhika Sinthawati. Satu bahkan tiga atau lima tahun yang akan datangMungkin saja kita akan berpikir tentang andai yang tak tersampaikanBarangkali hari itu kita lakukan, barangkali kita bisa melawan, dan banyak lagi lainnyaNamun semua itu hanya menjadi angan yang tak pernah dilakukan Tak ada yang tahu perihal kejadian…

Asrama Dara (1958): Tenang dalam Tegangan
Menonton “Asrama Dara” rasanya seperti arena konflik tafsir antara masa lalu dan masa kini, daripada sekadar merayakan sejarah sinema dan keberhasilan merestorasinya.

Tubuh yang Menulis Sejarah: Sebuah Historiografi Maritim dari Bawah
Buku “Hidup Bersama Laut” karya Safar Nurhan lebih dari sekadar kumpulan esai, tetapi sebuah intervensi historiografis dan politikal.

Sumatra: Krisis Global di Kapitalisme Pinggiran
Bencana yang terjadi di Aceh dan Sumatra membuka mata kita bahwa yang terjadi bukan saja tentang bencana alam.

Pertunjukan Panjang: Perayaan Dua Tahun ‘Sambutlah’ dan Dasawarsa Pertama The Jeblogs
The Jeblogs siapkan pertunjukan panjang dalam enam babak, merayakan album ‘Sambutlah’, dan kolaborasi bersama musisi seperjalanan.

‘Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan’: Perjalanan Mencapai Titik Tuju?
Membaca “Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan” karya Herry Sutresna, seperti menimbang kembali bagaimana musik, pertemanan, dan pengetahuan bekerja sebagai api kecil yang perlu terus dirawat.

Malam Gelap di Benteng Vastenburg: Katarsis Dari Rock In Solo 2025
Rock In Solo 2025 telah usai, namun kesan gelapnya masih menghantui kita pasca merayakannya 23 November 2025 kemarin.

Atas Nama Estetika: Paranoid Reading, Biennale di Periferi Dunia, dan Motif Kritik Kita
Mungkinkah kita mengoperasikan bentuk biennale yang lebih relasional?

Srawung Sastra: Merayakan Puisi di Piwulang Padepokan Sastra dan Seni
Kegiatan Srawung Sastra mempertemukan kami dengan Evi Idawati berbincang tentang merawat nafas sastra.

Di Bawah Bayang Ulin: Kumpulan Puisi Oktavius Ekapranata
Kumpulan puisi ini: Di Bawah Bayang Ulin, Neptunus, Tarian Ngerangkau, dan Seperti dalam Suatu Masa. Ditulis Oktavius Ekapranata, seorang penyair muda dari Kalimantan. Di antara tungku batu yang tinggal bara, seorang ibu memintal sunyi seperti mengenang kekasihnyadi dalam keluasan desir rimba aku tak dapat menjelajahi kesedihannya. Ibu genggamlah mandau tua itu, bukan untuk perang,tetapi untuk menahan gemetar hatimuyang rapuh seperti akar menjelang…
Dukung Sudut Kantin Project tetap ada.











